Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Di peternakan


__ADS_3

Sore itu, tepatnya pukul 15.00 WIB, Siti berhasil disidang oleh para warga dan dia terbukti sebagai pelaku pencemaran nama baik keluarga Hamzah. Para ibu-ibu yang mengetahui hal tersebut tidak mau diam mengetahui kelakuan Siti yang tidak terpuji tersebut. Ibu-ibu tersebut ingin memberi pelajaran kepada Siti.


"Ayo kita lempar pakai telur dan kita arak keliling kampung ini dan kita laporkan ke pihak kepolisian!"


Ibu-ibu berdaster dan berambut panjang berteriak dan setuju jika Siti diberi pelajaran yang setimpal atas perbuatannya. Dia tidak mau di komplek perumahan yang dia tinggali ada calon 'pelakor'. Karena dia takut suaminya akan direbut oleh 'pelakor' tersebut.


"Setuju!"


Semua warga bilang setuju. Tanpa berpikir panjang, Siti diarak oleh warga setempat dan dilempari dengan telor. Tanpa rasa kasihan warga tersebut melakukan aksi penggiringan seorang 'pelakor' agar jera. Saat itu Siti sudah tidak bisa berkutik lagi.


Siti menangis saat diarak oleh warga. Tangisannya kini adalah tangisan yang tidak dibuat-buat. Namun, keluarga Hamzah maupun warga sudah tidak percaya lagi dengan tangisan Siti. Bagi mereka, segala gerak gerik Siti akan dinilai buruk oleh warga karena dia sudah mencoreng nama baik keluarga Hamzah dan berbuat kericuhan.


Setelah warga puas mengarak Siti maka, Siti akan dibawa ke kantor polisi oleh pak Fauzan dan bu RT sebagai saksi agar masalah tersebut cepat terselesaikan. Hamzah tidak ikut ke kantor polisi karena sudah ada Fauzan yang mewakili sebagai saksi.


Satu jam kemudian, setelah Siti dibawa ke kantor polisi, para warga berduyun-duyun untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka sudah puas memberi pelajaran kepada Siti.


Terlihat di rumah keluarga Hamzah, Elizia dan Fatimah sedang cemas menunggu Hamzah dan Fauzan. Lima menit kemudian datanglah Hamzah Anggara menemui Elizia dan Fatimah yang sedang berada di rumah.


"Ma, Eliz, Hamzah datang. Kalian sedang apa?" tanya Hamzah dengan raut wajah senang karena Siti sudah berhasil diamankan jadi, tidak ada lagi yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan."


Dia merasa lega karena dia selalu diselamatkan dari segala masalah dan mempertahankan Elizia yang sangat dia cintai.


"Sedang menunggu kamu dan Ayah. Ayah ke mana kok tidak ikut dengan kamu? Bagaimana dengan Siti? Apakah dia sudah berhasil ditangani oleh para warga?"


Fatimah penasaran dengan suaminya yang tidak ikut dengan Hamzah yang sudah pulang. Selain itu, Fatimah juga penasaran dengan keberadaan Siti yang beberapa hari sempat membuat kericuhan.

__ADS_1


"Tenang saja, Mama. Ayah sedang berada di kantor kepolisian karena akan menjadi saksi atas perilaku buruk Siti yang membuat keluarga kita hampir saja terkena masalah besar dan warga tetangga dibuat marah karena ulah Siti."


Hamzah mulai duduk di sofa dan menjelaskan keberadaan Fauzan dan Siti. Dia mulai beristirahat sambil berbincang-bincang dengan keluarganya.


"Syukurlah. Kamu makan dulu gih. Elizia sudah memasak sup ayam dan sambal terasi. Kamu pasti lapar 'kan?"


Fatimah yang juga duduk di sofa bersebelahan dengan Elizia menawarkan Hamzah untuk segera makan karena seharian keluarga mereka sibuk mengurusi masalah Siti yang tidak kunjung reda.


"Iya, Ma. Kebetulan Hamzah juga lapar. Oh. Ya. Aslam bobok ya? Kok Eliz gak sama dedek bayi?"


Sebelum Hamzah ke ruang makan, dia menanyakan buah hatinya yang sangat dia sayangi. Karena Hamzah sangat senang sekali memiliki bayi laki-laki yang tampan dan gendut.


"Iya. Aslam tidur. Baru saja tadi minta ASI. Setelah setengah jam dia tertidur dan Eliz menemui Mama di sini dan berbincang-bincang. Mas tenang saja, Aslam baik-baik saja."


Elizia memberi penjelasan kepada suaminya tentang anak mereka. Tidak perlu ada yang dicemaskan karena Aslam sedang tertidur pulas. Setelah mengetahui keadaan bayinya dalam kondisi baik-baik saja dan aman, Hamzah mulai mendekati ruang makan. Bau sup ayam yang menggugah selera serta sambel terasi yang membuatnya ngiler.


Saat itu, Hamzah mulai menikmati makanan yang dibuat oleh istrinya sendiri. Ketika itu, Elizia datang dan bergabung dengannya. Lalu Elizia berkata,


"Mas, jika masih lapar, nambah lagi saja. Kami sudah makan tadi jadi, jangan sungkan-sungkan ya? Mas 'kan habis kerja capek dan mengurusi berbagai masalah jadi, saya kira Mas harus makan yang banyak supaya tenaganya pulih kembali. Eliz buatkan kopi ya?"


Elizia menasihati suaminya agar makan banyak dan ingin membuatkan kopi untuk suaminya sebagai tanda baktinya kepada suami karena setelah beberapa pekan dia sibuk dengan pekerjaannya mengurus bayi dan tidak sempat melayani suaminya dengan maksimal.


"Boleh, tetapi jika kamu capek istirahat saja. Mas bisa buat kopi sendiri. Kamu 'kan lagi punya dedek bayi?"


Hamzah tidak mau merepotkan istrinya karena saat ini dia sedang disibukkan dengan bayi yang masih berumur beberapa hari.

__ADS_1


"Elizia tidak capek kok. Sebentar ya, aku buatin kopi."


Elizia beranjak dari tempat duduknya dan segera membuat secangkir kopi. Lima menit kemudian, kopi sudah jadi dan di letakkan di depan meja tepat di hadapan Hamzah.


"Hem, kopinya manis. Semanis kamu Liz. Tiada duanya," kata Hamzah yang memuji kopi buatan istrinya sambil menyesap kopi itu secara perlahan-lahan karena masih panas.


Menguar bau kopi yang harum menambah kenikmatan tersendiri bagi Hamzah yang sedang meminum kopi tersebut.


"Mas sekarang pintar ngegombal ya?" sahut Elizia sambil mengerlingkan tatapan manja kepada suaminya tersebut.


"Saya tidak menggombal, sayang. Memang kopi ini manis. Dan kebetulan kamu juga orangnya manis. Kata ngegombalnya di mana coba?" jawab Hamzah yang tidak terima jika dia disebut sebagai orang yang suka menggombal.


"Iya, deh. Eliz percaya kok jika Mas Hamzah orangnya tidak suka ngegombal. Eh, Mas. Bagaimana jika besok kita mengadakan aqiqoh untuk anak kita?"


Tiba-tiba Elizia berencana ingin mengadakan syukuran aqiqah untuk Aslam karena dia ingin berbagi dengan tetangga karena dia merasa mampu untuk melakukan aqiqah dan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan karena sudah dikarunia anak yang sehat dan tampan.


"Oke. Nanti Mas akan segera ke peternakan kambing untuk membeli dua kambing jantan yang sehat."


Hamzah menyetujui usulan istrinya karena itu merupakan sesuatu hal yang baik.


"Iya, tetapi jika lelah, membeli kambingnya besok saja," jawab Elizia yang mengkhawatirkan kondisi suaminya.


"Tidak, Liz. Mas harus ke peternakan sekarang. Mas pamit ya? Dan bilang sama Mama juga jika Mas sedang ke peternakan untuk membeli kambing."


Beberapa menit kemudian, Hamzah sudah berada di mobilnya untuk segera menyalakan mesin dan mulai berkendara dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Dua puluh menit berkendara, akhirnya, sampailah Hamzah di peternakan milik pak Ujang. Setelah mematikan mesin mobil dan turun daei mobil, dia berjalan mendekati peternakan tersebut. Terlihat seorang wanita sedang menyapu membersihkan kotoran kambing.


Hamzah semakin mendekatinya. Dan saat dia semakin dekat dan terlihat jelas wajah wanita itu, dia kaget dan terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu dia kembali.


__ADS_2