
"Bos Hamzah!"
Seorang wanita berkuncir kuda dengan memakai topi koboi sedang membersihkan kotoran kambing. Dia adalah Zora. Terlihat wajah berbinar dan senang kala Zora melihat mantan bosnya. Setelah dipecat dari perusahaan 'JAYA GROUP' , Zora terpaksa bekerja di peternakan milik pak Ujang. Tidak ada pilihan lain, karena setelah keluar dari perusahaan milik keluarga Hamzah, Zora mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Barang-barang kebutuhan kian naik, dengan terpaksa dia harus mencari pekerjaan untuk melangsungkan kehidupannya. Karena kedua orang tuanya yang berada di luar negeri di penjara karena kasus penyelundupan barang illegal. Jadi, dia terpaksa mengais rezeki sendiri dan menghidupi adik laki-lakinya yang masih di bangku SD.
"Zora? Kamu bekerja di sini. Saya mau bertemu dengan pak Ujang dan saya malas untuk meladeni kamu dan jangan mencari-cari perhatian di depan saya lagi."
Dengan nada jutek, Hamzah bertanya kepada Zora mengenai keberadaan pak Ujang. Hamzah hanya ingin bertemu dengan pak Ujang dan ingin membeli kambing untuk berlangsung nya acara aqiqah tidak lebih dari itu.
"Iya, Bos. Sebentar saya panggilkan pak Ujang. Bos bisa duduk di batu besar itu jika lelah. Zora akan segera memanggil pak Ujang."
Dengan senyum ramah Zora mulai memanggil pak Ujang. Sikap Zora berubah seratus persen dari Zora yang dikenal Hamzah saat bekerja di perusahaannya dahulu. Raut wajahnya biasa saja dan terkesan tidak genit. Tetapi entahlah, isi hati orang siapa yang tahu. Zora berjalan memasuki sebuah pintu yang terbuat dari besi berwarna hijau di sebelah samping peternakan. Dia langsung masuk ke dalam pintu tersebut.
Hamzah yang masih berdiri mulai menengok ke arah batu besar yang terlihat seperti tempat duduk. Dan batu itu memang bisa untuk bersandar menghilangkan rasa penat di punggung seseorang yang menduduki batu tersebut. Di sekeliling batu tersebut terdapat tanah lapang yang agak luas dan tumbuh rumput hijau yang subur.
Sungguh pemandangan yang mempesona. Terdengar bunyi alunan musik 'Reggae' dari arah rumah minimalis yang terkesan antik tersebut. Itulah rumah pak Ujang. Rumah yang bernuansa legendaris meniru gaya orang-orang barat pada sekitar tahun 90-an.
Sekilas, Hamzah membayangkan mempunyai rumah seperti apa yang dimiliki pak Ujang. Bercanda ria di tanah lapang dengan anak dan istri sambil menggembala kambing dan mendengarkan musik 'Reggae'.
Sekilas, lamunannya terhenti saat seorang bapak-bapak berkumis berperawakan tinggi kurus dan juga memakai topi koboi berkemeja coklat dan celana jeans berjalan ke arahnya.
Dia berjalan cepat menghampiri Hamzah Anggara. Setelah sampai, pak Ujang berkata,
"Mas Hamzah! Mari kita ke dalam rumah saya!"
Pak Ujang terkejut kala melihat yang datang adalah sang CEO. Pak Ujang adalah teman bisnis Fauzan, ayah dari Hamzah. Mereka sudah seperti teman dekat dan bahkan seperti keluarga karena terjalin hubungan yang baik. Waktu muda dulu, pak Fauzan sering latihan berkuda dengan pak Ujang di tanah lapang tersebut. Bahkan, kudanya pun masih ada dan kandangnya berada tepat di sebelah kandang peternakan kambing.
__ADS_1
Lalu Hamzah mulai mengekor pak Ujang yang mempersilakan masuk ke dalam rumahnya. Tidak lama, Hamzah sudah duduk di kursi dan terbuat dari batu yang terdapat ukir-ukiran indah buatan tangan pengrajin. Saat itu Hamzah berkata,
"Pak Ujang saya ke sini mau membeli dua ekor kambing yang rencananya keluarga kami akan mengadakan aqiqah anak saya yang pertama."
Dengan segera Hamzah mengutarakan tujuannya datang ke situ. Saat itu, tiba-tiba muncul seorang wanita dengan rambut ikal dan memakai baju kaos panjang berwarna merah hati dan rok sebatas lutut berumur sekitar 40 tahun sedang membawa nampan yang di atasnya terdapat poci dan dua cangkir unik yang berwarna hitam dan terdapat lukisan bunga yang indah serta pisang goreng satu piring yang akan disuguhkan kepada tamunya yakni Hamzah Anggara.
Di rumah pak Ujang penuh dengan karya seni rupa yang terdapat dalam perkakas rumah tangganya. Mungkin keluarga mereka pecinta seni.
"Teh hijaunya silakan diminum. Semoga Anda suka."
Lalu wanita itu meletakkan cangkir, poci dan suguhan berupa pisang goreng di atas meja kayu yang berbentuk unik. Dengan senyum manis wanita itu mengucurkan teh hijau yang masih mengepul tersebut ke dalam dua cangkir unik tersebut. Lalu wanita itu ikut duduk Di samping pak Ujang.
Aroma wangi khas teh hijau menguar di hidung dan membuat Hamzah ingin segera meminumnya. Karena baru kali ini dia disuguhkan oleh Tuan Rumah dengan minuman teh hijau.
"Terima Kasih, Bu. Oh. Iya. Ini Tante Karmila ya? Istri dari pak Ujang?" tanya Hamzah yang mencoba mengingat memori lalu bahwa yang menyuguhkan minuman spesial untuknya adalah istri dari pak Ujang.
Hamzah saat itu masih kuliah dan pernah diperkenalkan oleh ayah tentang istri pak Ujang. Yang waktu itu, Fauzan sengaja berkunjung untuk bersilaturahmi ke rumah pak Ujang.
Lalu Hamzah mulai menyeruput teh hijau itu secara perlahan-lahan. Sungguh nikmat sekali rasanya. Lalu pak Ujang dan istrinya berdiri untuk menuju ke peternakan. Hamzah mengikuti mereka berdua karena akan memilih kambing yang terbaik. Lima menit kemudian, mereka sampai di area peternakan. Di situ terdapat dua jenis kambing yakni kambing domba dan kambing jawa. Hamzah akan membeli dua kambing jawa yang sehat dan gemuk.
Saat di peternakan, Zora sudah tidak berada di peternakan tersebut mungkin dia melakukan pekerjaan lainnya di sekitar rumah pak Ujang.
Setelah beberapa lama memilih, akhirnya Hamzah sudah menemukan kambing yang diinginkan. Lalu Hamzah berkata,
"Pak Ujang, saya mau membeli dua kambing yang berada di sudut paling utara sana. Dia terlihat sehat dan gemuk. Berapa harganya ya?"
Dengan raut wajah senang, Hamzah menunjuk arah kambing yang akan dibelinya dan menanyakan harga kambing tersebut kepada pak Ujang.
__ADS_1
"Harganya lima juta rupiah saja. Ini termasuk kambing jawa super jadi kambingnya besar dan gendut. Untuk orang yang sudah kenal dekat saya beri murah saja," jawab pak Ujang kepada Hamzah mengenai harga kambing yang akan dibeli oleh Hamzah.
Pak Ujang merupakan peternak kambing dan peternak kuda yang sukses. Dia termasuk saudagar kaya namun murah hati. Kepada pelanggannya dia tidaklah memberi harga jual terlalu tinggi kepada kalangan atas maupun bawah.
Sama rata kepada siapa pun. Kebetulan yang membeli adalah Hamzah anak seorang temannya yang paling akrab maka, dia mendiskon harga jual kambing tersebut. Untuk seorang saudagar kaya, dia tidak pernah rugi dalam masalah perdagangannya.
"Baiklah pak Ujang, terima kasih atas pemberian harga jualnya. Dan ini uang senilai lima juta rupiah. Dan saya akan segera kembali ke rumah karena istri saya pasti akan mencarinya. Karena waktu sudah hampir maghrib."
Akhirnya Hamzah Anggara berhasil membeli dua kambing jantan yang sehat dan gendut. Dia berharap keluarganya akan senang. Tidak lama dia pamit dan segera menggiring kambing-kambing itu ke atas mobil 'Pick up' hitamnya.
Setelah kambing itu berhasil dinaikkan di mobil dan di ikat kuat di tiang mobil dengan dibantu oleh pak Ujang, Hamzah menuju tempat untuk mengemudikan mobil. Tidak lama, Hamzah sudah berada di dalam mobil.
Mesin pun dinyalakan dan Hamzah segera mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang karena melewati jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Hamzah melewati pegunungan untuk mencapai rumahnya. Karena rumah pak Ujang berada di atas bukit dan terdapat hutan yang harus dilewatinya.
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar. Pertanda hujan akan segera tiba. Langit yang tadi tampak cerah kini berubah menjadi hitam pekat. Dan terasa hawa sangat dingin saat itu. Terpaksa dia harus berhenti di pinggir jalan untuk memasang atap tenda di belakang mobilnya agar saat hujan nanti, kambing itu tidak kehujanan.
Hamzah mulai turun dari mobil dan dilanjutkan untuk memasang tenda. Saat itu rintik-rintik hujan mulai turun dan semakin lama hujan itu semakin deras. Namun, Hamzah bersusah payah untuk segera menyelesaikan tenda yang dipasangnya. Tujuh menit kemudian, tenda sudah berhasil dipasang. Jadi, kambing-kambing itu tidak jadi kedinginan.
"Tolong, tolong, tolong! Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!"
Saat Hamzah hendak turun dari mobil bagian belakang, Hamzah mendengar suara orang meminta tolong dan menangis kencang. Hamzah tidak menghiraukan dirinya yan basah kuyup oleh hujan, Lalu dia mencari-cari ke sumber suara. Dan arah suara tersebut mengarah ke gubuk reyot yang tidak jauh dari mobilnya berhenti.
Gubuk itu berada tepat di bawah bukit di pinggir jalan yang sepi dan dibawahnya terdapat pohon karet yang besar. Hamzah penasaran lalu terpaksa dia mendekat ke arah gubuk reot tersebut.
Beberapa detik kemudian, Hamzah mulai mendekati gubuk itu dan ternyata pintunya terbuka sedikit. Dibalik pintu Hamzah melihat ada nenek-nenek yang rambutnya panjang sekali dan sedang mengunyah sebuah pinang dan sedang mencambuk seorang wanita dengan tambang hingga tangan dan kaki wanita tersebut memar dan terluka.
Dan di samping nenek itu terdapat wadah kendi dan baskom yang berisi air berwarna merah yang berisi kembang mawar. Saat di cambuk tersebut wanita itu mengerang kesakitan. Dan Hamzah terpana saat tahu siapa wanita itu. Dia adalah Zora.
__ADS_1
'Sedang apa Zora bersama nenek itu? Apakah saya harus menolongnya?'
Hamzah bertanya-tanya dalam hatinya. Hamzah bimbang. Apakah ini jebakan atau beneran Zora disakiti oleh nenek tersebut. Terlihat itu luka yang tidak dibuat-buat. Alat yang digunakan untuk mencambuk juga bukan alat main-main. Yakni tambang yang panjang dan dicambuk dengan keras ke area tangan dan kaki Zora dalam keadaan terikat.