
Pak Umar dan Hamzah mengejar Annisa yang berlari menuju jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalir air sangat deras. Padahal waktu itu hampir maghrib. Akhirnya mereka menemukan Annisa yang berjalan menuju jembatan yang sangat sepi. Jembatan itu sepi karena menghubungkan dengan daerah perbukitan yang jarang ditempati oleh penduduk. Terlihat Annisa akan mencoba melakukan bunuh diri karena dia sudah frustasi menjalani hidup.
"Nak, kamu jangan berbuat nekat karena masa depan kamu masih panjang. Berilah Ayah satu kesempatan untuk tinggal bersama dan merewat kamu, Nak. Ayah sangat menyayangi kamu."
Pak Umar berusaha menghentikan aksi anaknya yang akan berusaha untuk bunuh diri. Annisa sudah memposisikan dirinya berdiri di tepi jembatan. Dan tinggal selangkah lagi dia bisa jatuh ke sungai yang arus airnya sangat deras.
"Sudah terlambat. Ayah dan Mas Hamzah jangan mencoba untuk mendekat maka, Annisa akan segera melompat!"
Annisa mengancam kedua pria dewasa tersebut agar tidak mendekatinya karena dia benar-benar ingin bunuh diri dan bukan modus belaka. Dia merasa hampa hidup dalam bayang-bayang cinta yang semu.
Hamzah dan pak Umar mundur beberapa langkah dan menuruti kemauan wanita nekat tersebut. Mereka tidak mau Annisa terjun bebas ke sungai tersebut dan hati mereka dilanda cemas dan was-was.
"Baik, kami akan mundur tetapi urungkan hal konyol itu, Annisa! Apa kamu tidak takut dengan dosa seorang yang melakukan bunuh diri? Belum tentu kamu di alam sana akan merasakan bahagia. Annisa ayolah pulang! Ayah sangat mengkhawatirkan kamu."
Air mata menetes dari mata sang ayah. Dia bingung dalam kondisi seperti ini. Raganya lunglai, jiwanya gemetar, setelah istrinya meninggal, kini anaknya yang kemudian berulah.
"Annisa tidak ingin membebani Ayah dengan keadaan saya yang seperti ini. Mungkin dengan saya pergi, Ayah dan Mas Hamzah akan tenang dan tidak risau melihat tingkah saya yang selalu membikin keributan. Selamat tinggal Ayah, selamat tinggal Mas Hamzah. Aku mencintai kalian."
Byur!
Terucap kata terakhir dari bibir Annisa yang mungil. Annisa telah nekat melompat terjun ke sungai yang arus airnya sangat deras. Umar mengacak rambutnya dan pukirannya tidak karuan. Beberapa warga yang tidak sengaja melihat dan lewat di kejadian tersebut, tidak bisa tenang dan berusaha menyelamatkan Annisa dari serangan arus. Mereka turin dari jembatan dan berlari menuju arah Annisa yang kebawa arus.
__ADS_1
Hamzah segera menelepon tim penyelamat yang ahli dalam mencari orang yang tenggelam di arus air yang sangat deras seperti yang tengah dialami oleh Annisa.
Sepuluh menit kemudian, tim penyelamat mulai datang dan segera mencari keberadaan Annisa yang terbawa arus. Mereka berharap Annisa masih bisa diselamatkan.
"Ya Tuhan, kenapa kau uji hamba dengan ujian yang seberat ini. Salah apakah hamba?"
Pak Umar mencoba turun dari jembatan menyusul para warga dan berlari ditepi sungai untuk mencari Annisa yang terbawa arus. Annisa terlihat mengapung di atas air dan belum tenggelam. Tim penyelamat dengan perahu karetnya berusaha mengejar Annisa yang terbawa arus dan berusaha menyelamatkannya.
Melihat anaknya terbawa arus dia bersimpuh dan menangis dia merasa batinnya seperti ditindih oleh batu yang berat.
"Pak Umar harus sabar ya? Mudah-mudahan Annisa bisa selamat dan ditemukan oleh petugas. Kita berdoa saja kepada Tuhan. Ini sudah maghrib, baiknya kita ke masjid untuk sholat berjamaah agar hati kita lebih tenang."
Hamzah menenangkan dam menepuk pundak Umar agar tidak ngedrop. Hamzah memahami apa yang dirasakan pak Umar saat ini. Lalu pak Umar menuruti apa kata Hamzah yakni bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.
Setengah jam kemudian, mereka telah selesai melaksanakan sholat maghrib dan isya secara berjamaah di masjid. Mereka langsung pulang ke rumah keluarga pak Umar sambil menunggu tim penyelamat datang memberi kabar.
Setelah sampai di ruamh, mereka disambut oleh nenek Rumi dan Elizia dan kedua orang tua Hamzah yang masih setia menunggu dan sudah menghidangkan beberapa makanan dan minuman.
"Umar, kamu yang sabar ya? Kami sudah mendengar kabar dari warga mengenai Annisa. Sungguh ini adalah suatu ujian yang diberikan kepada kamu. Kamu harus tegar menghadapi ujian ini. Kami akan selalu ada untuk kamu. Pokoknya kamu tidak boleh ngedrop! Kamu keponakan satu-satunya yang masih ada di keluarga ini."
Lalu Umar mulai menangis di depan nenek Rumi. Nenek Rumi adalah penyemangat para keponakannya jika sedang dilanda masalah dan musibah. Nenek Rumi selalu ada dalam tengah-tengah keluarga pak Umar jika terdapat suatu masalah.
__ADS_1
"Iya, Nek. Terima kasih semangatnya. Nenek selalu ada di saat keluarga kami mulai terpuruk. Saya berjanji dalam hati saya, apa pun keadaannya saya harus legawa dan ikhlas kepada Sang Pencipta. Ini sudah malam, Nenek Rumi beserta keluarga lainnya bermalam di sini saja. Ada beberapa kamar yang masih kosong untuk ditempati dan jangan sungkan."
Begitulah ungkapan dari pak Umar seorang ayah yang tegar dan sabar menghadapi anak dan istri yang bersifat nekat dan keras kepala. Pak Umar menyarankan kepada keluarga nenek Rumi untuk bermalam di situ karena waktu sudah malam. Akhirnya mereka menyetujui sembari menunggu kabar dari Annisa yang tak kunjung datang. Mereka lalu bergegas ke kamar yang telah di arahkan oleh pak Umar. Kini Elizia dan Hamzah bisa istirahat sejenak.
"Elizia, maaf Mas tadi lama. Mas sedang berusaha membantu dan meringankan beban pak Umar yang sedang dilanda musibah. Percayalah, Mas akan setia denganmu."
Hamzah berdiri di dalam kamar milik keluarga pak Umar dan segera memeluk Elizia karena kangen setelah seharian tidak memperhatikan istri yang dicintainya. Kini mereka saling beradu dalam obrolan secara intens.
"Tidak apa-apa, Mas. Ini 'kan keluarga kita jadi sewajarnya kita harus membantu sebisa kita. Aku turut bersedih atas musibah yang menimpa keluarga pak Umar. Mbak Annisa begitu nekat untuk bunuh diri. Saat sore tadi, kami yang berada di rumah merasa ketar-ketir sampai makan pun tidak berselera. Dan ternyata mbak Annisa nekat meloncat ke sungai. Kami sekeluarga menangisi Mbak Annisa, Mas."
Mata Elizia berkaca-kaca karena baru kali ini dia mengalami musibah yang begitu menegangkan. Walaupun Elizia hanya seorang keluarga jauh dari Annisa tetapi dia ikut merasakan kesedihan yang dialaminya. Dia sedikit pun tidak mempunyai rasa benci terhadap Annisa.
"Semoga saja Annisa segera ditemukan dan dalam keadaan selamat. Kita berdoa saja."
Hamzah menggenggam erat tangan Elizia yang dingin karena mungkin dia masih memikirkan tentang Annisa. Hamzah begitu menyayangi Elizia hingga tangannya bergetar saat menyentuh istrinya.
"Aamiin. Mas, hawa malam ini begitu dingin. Elizia jadi merinding. Yuk, kita duduk bersandar bersama di sini dan berdzikir serta berdoa dalam hati supaya mbak Annisa cepat ditemukan dan dalam keadaan selamat."
Elizia mengajak suaminya menyenderkan punggung di ranjang tidur sambil berdoa dan istirahat. Elizia tidak mau tidur sebelum mendapat kabar dari Annisa. Hatinya berdebar-debar tidak karuan.
Lima menit kemudian, terdengar ketukan keras di pintu depan. Lantas, Hamzah segera keluar dari kamar dan mencoba membuka pintu tersebut siapa tahu dari tim penyelamat. Saat keluar dari kamar, pak Umar juga segera keluar dan akan membuka pintu depan rumahnya. Jadi, Hamzah mengekor pak Umar yang sedang membuka pintu. Tidak lama pintu telah dibuka.
__ADS_1
"Kami dari petugas tim penyelamat akan memberitahukan kabar Annisa yang terlibat aksi bunuh diri. Kami telah menemukan korban dalam keadaan tak sadarkan diri dan sekarang kami larikan ke rumah sakit "Siaga Mediga" tepatnya di ruang UGD. Kami belum tahu secara pasti kondisi nyawa Annisa. Salah satu dari pihak keluarga akan kami bawa ke sana!"
Petugas tim penyelamat memberitahukan tentang Annisa yang telah berhasil mereka temukan dan belum pasti kondisi nyawanya karena segera dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya pak Umar dan Hamzah akan ke rumah sakit dan berpamitan kepada semua kerabat yang berada di rumah pak Umar.