
Terlihat dokter yang yang menangani suaminya kini telah pergi setelah menyampaikan kondisi Hamzah Anggara yang belum sadar karena mengalami tekanan batin sehingga mengganggu sistem otaknya yang butuh penanganan medis. Saat itu Elizia sedang menangis mengetahui kondisi suaminya yang sedang sakit. Terlihat Aslam sedang menanyakan perihal mamanya yang sedang menangis.
"Mama menangis karena terharu sayang. Doakan ayah cepat sembuh ya? Yuk, kita tunggu Ayah di ruangan ini."
Elizia menghapus air matanya karena Aslam mengetahui bahwa dirinya sedang menangis.
"Ma. Nanti Ayah bisa sembuh 'kan? Aslam kangen sama Ayah."
Sambil duduk di bangku panjang, Aslam menanyakan kondisi ayahnya kepada mamanya yang kini duduk membersamainya.
"Iya. Kita berdoa kepada Alloh saja ya? Semoga Ayah cepat sembuh. Aslam tidak boleh sedih ya? Oh. Iya. Aslam lapar? Yuk kita beli bakso di depan sana. Mau gak?"
Elizia mengetahui bahwa tadi pagi hingga sampai saat ini pukul 09.00 pagi Aslam belum sarapan maka, dia akan makan bakso bersama di kantin yang disediakan di rumah sakit. Para sopir masih setia menunggu di ruang tunggu maka Elizia berkata,
"Pak Nino. Saya titip berjaga sebentar ya. Soalnya kami akan ke kantin. Tadi Aslam belum sarapan. Nanti gantian Bapak yang sarapan."
Elizia berpamitan kepada sopirnya karena dia akan ke kantin untuk mengisi perut yang kosong.
"Siap, Nyonya."
Sopir itu siap untuk berjaga di ruang tunggu
karena siapa tahu dokter akan memanggilnya dan mungkin Hamzah akan segera tersadar dari sakitnya.
Tidak lama, Elizia mengajak anaknya untuk ke kantin. Beberapa menit kemudian, Elizia dan Aslam sampai di kantin. Elizia segera memesan bakso dua mangkok dan dua gelas teh manis. Setelah pelayan kantin memberikan menu pesanan, Elizia dan Aslam segera melahap bakso tersebut.
"Nak, baksonya segera dimakan gih. Nanti jika kurang bisa nambah lagi."
Elizia tersenyum saat melihat anak nya makan dengan lahap.
"Ini sudah cukup. Ma. Aslam sudah kenyang. Baksonya gede-gede sih," jawab Aslam dengan polosnya. Satu porsi bakso untuk seumuran Aslam memang sudah terasa kenyang. Beda dengan orang dewasa, yang pecinta bakso satu mangkok pasti kurang dan pengen nambah, apalagi dalam keadaan lapar.
__ADS_1
Saat itu, Elizia akan mengusap mulutnya dengan tisu, tiba-tiba mata Elizia menangkap seseorang yang dia kenal. Dia adalah dokter Rama Andhika yang juga sedang makan bakso sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun. Dia berada di sudut kantin yang berjarak beberapa kursi dari tempat Elizia dan Aslam duduk. Saat menoleh ke kanan, sontak, dia juga terkaget, melihat Adelia istri dari Rama juga makan bakso di situ tetapi dia juga sendiri dan tidak duduk bersama. Wajah mereka terlihat kusut dan tidak bergembira.
'Aneh, pengantin baru kok makannya sendiri-sendiri. Apa mereka sedang ada masalah ya? Ah, sudahlah. Bukan urusan saya. Laki-laki memang misterius dan membuat kepala Elizia berdenyut,' batin Elizia lirih.
Seketika, Elizia mulai tetsadar dari lamunannya. Kini ia dan Aslam segera bertransaksi dan akan membayar makanan dan yang telah dipesannya.
"Total pesanan yang kami pesan berapa ya, Mbak?" tanya Elizia ingin membayar menu yang dia pesan.
"Pesanan Mbak nya sudah dibayar lunas oleh seseorang, Kak. Jadi Kakak tidak perlu
membayar kembali," jawab seorang karyawan kasir yang memakai pakaian rapi dan berlesung pipit tersebut. Ternyata bakso dan minuman yang telah dipesan sudah dibayar lunas oleh orang entah siapa itu.
"Oh. Begitu. Maaf, tapi siapa ya yang membayar pesanan bakso dan minuman yang kami pesan, Mbak?"
Elizia ingin mengetahui siapa yang telah membayar menu bakso pesanannya tadi.
"Maaf, Mbak. Orang yang membayar bakso Anda tidak ingin diketahui oleh Mbak. Maaf saya tidak bisa memberi tahu," jawab karyawan kasir itu dengan ramah.
"Oh. Tolong sampaikan terima kasih kepadanya sudah membayarkan menu pesanan kami," ujar Elizia kepada karyawan tersebut agar menyampaikan rasa terima kasih kepada orang baik tersebut.
Lalu Elizia dan Aslam beranjak pergi dari kantin tersebut sambil memikirkan siapa yang membayar menu baksonya saat ini. Tetapi, Elizia tidak mau ambil pusing. Dia dan Aslam segera berjalan ke arah di mana suaminya kini dirawat. Saat sampai di ruangan tunggu pasien, sopirnya masih berada di situ dan terlihat wajah panik.
"Nyonya sudah kembali?" tanya Sopir itu yang masih duduk di ruang tunggu dan seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Iya. Ada apa Pak? Apakah ada informasi penting mengenai suami saya?" tany Elizia menyelidik.
"Anu, Nyonya. Bos Hamzah dipindahkan ke ruangan ICU. Tadi, saya sempat masuk ke dalam ruang rawat inap Bos Hamzah. Tadi Bos kejang-kejang dan hidungnya banyak mengeluarkan d*rah. Kondisinya kini semakin kritis, Nyonya," jawab sopir yang bernama Nino itu dengan wajah murung.
"Ya, Tuhan. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan suamiku. Yasudah. Pak, jika Anda lapar bisa sarapan dulu. Kami tadi sudah selesai membeli bakso."
Elizia kini terlihat panik dan Aslam yang berdiri di samping Elizia merasa cemas dan khawatir juga mendengar penuturan dari sopirnya tersebut.
__ADS_1
Akhirnya, sopir yang bernama Nino mulai ke kantin juga akan sarapan. Setelah sopirnya pergi, dokter Rama Andhika berjalan cepat ke arahnya dan berkata,
"Elizia. Saya turut prihatin atas dirawatnya suami kamu. Saya siap membantu kamu jika membutuhkan sesuatu. Hai. Aslam. Kamu capek ya? Jika capek, kamu boleh sama Om istirahat di ruang sana. Kebetulan jam kerja saya sudah selesai."
Dokter itu sudah mengetahui bahwa Hamzah Anggara sedang sakit. Dia menawarkan Aslam untuk pergi bareng bersama sang dokter.
"Om. Dokter ya? Saya sama Mama saja. Aslam pengen lihat ayah. Aslam sayang ayah. Aslam pengen main lahi bersama ayah, Om. Aslam tidak mau pisah dengannya," jawab bocah kecil itu dan menolak ajakan Rama Andhika. Dia lebih memilih untuk bersama mamanya menunggu sang ayah tersadar dari sakitnya.
"Oh. Baiklah. Kamu memang anak baik dan pintar Aslam. Yasudah Om ke ruang dinas dulu. Jika ada sesuatu bisa hubungi saya!"
Dokter itu mengusap rambut Aslam sebentar. Seketika, dia melenggang pergi akan menuju ruang khusus tempat dia melakukan aktifitasnya. Karena rumah sakit tersebut di bawah kendali seorang Rama Andhika. Jadi, dia bisa mengatur segalanya tentang rumah sakit tersebut. Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Hamzah Anggara datang dan berjalan ke arah Elizia. Dia berkata,
"Ini dengan keluarga Mas Hamzah Anggara?" tanya dokter itu dengan tatapan hangat.
"Benar, Dokter. Bagaimana kondisi suami saya, Dok? Apakah dia sudah membaik?" tanya Elizia dengan cemas.
"Kondisi pasien masih lemas dan memanggil nama Aslam. Dia sekarang ingin bertemu dengan orang yang bernama Aslam. Pihak keluarga sudah diperbolehkan untuk menjenguk pasien," jawab dokter itu dengan tegas.
"Saya dan anak saya Aslam akan segera menemui suami saya, Dok."
Dokter itu mengangguk pertanda dia memperbolehkan pasien dijenguk oleh keluarganya. Lalu Elizia dan Aslam mengekor dokter itu untuk memasuki ruang ICU yakni ruangan di mana Hamzah Anggara sedang tergolek lemah di situ.
Dokter itu mulai membuka pintu ruangan tersebut dan sontak, Hamzah Anggara sudah tidak berada di ruang tersebut namun, terdapat selang infus yang tertinggal dan ada ceceran d*rah di lantai yang membuat dokter tersebut panik.
"Nona. Suami Anda sudah tidak berada di ruangan ICU. Kami menduga bahwa ada orang jahat yang membawa paksa pasien. Pihak keluarga diharapkan tenang dan kami akan melihat CCTV dan menyelidikinya."
Dokter itu langsung pergi untuk ke ruang CCTV dengan langkah cepat agar pasien segera ditemukan.
"Mama, ayah di mana? Kok, di tempat tidur itu tidak ada? Mama, Aslam pengen lihat ayah. Hik hik."
Saat Aslam memasuki kamar ruangan tersebut, Aslam tidak menemukan ayahnya dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Kamu jangan nangis ya, sayang. Kita doakan ayah cepat kembali."
Elizia sangat penasaran dan bingung dengan suaminya yang tiba-tiba menghilang. Dibawa oleh siapa suaminya tersebut. Sungguh malang nasib Hamzah saat ini.