
Dokter Rama membuka pintu masuk ruangan kamar rawat inap pasien yang bernama Elizia. Seorang perawat cantik berkerudung biru berdiri di depan dokter Rama lalu dia berkata,
"Dokter Rama, saya ke sini mau menyampaikan bahwa pasien yang bernama Hamzah Anggara sudah sadar dan memanggil nama istrinya yakni Elizia. Itu saja yang saya sampaikan. Permisi, Dokter."
Perawat tersebut memberi tahu kepada dokter Rama mengenai pasien yang bernama Hamzah Anggara telah sadar kembali. Setelah urusannya selesai, perawat itu segera kembali untuk melanjutkan tugasnya. Namun, dokter Rama berkata,
"Baik, nanti saya akan segera ke kamar pasien bernama Hamzah Anggara," jawab dokter Rama datar kepada perawat tersebut.
Lalu dokter Rama segera kembali ke kamar pasien Elizia. Dan masih ingin bertanya mengenai pertanyaan yang sempat tertunda. Dia mendekat di samping Elizia dan berkata,
"Maaf, Nona. Agar saya tenang cepat katakan, Anda dahulu tinggal di Panti Asuhan yang bernama apa?"
Dokter itu mendesak Elizia untuk segera menjawab pertanyaan darinya.
"Saya dari Panti Asuhan "Kasih Ibu" yakni Panti Asuhan yang terkenal di kota ini. Sudah jelas 'kan? Dokter, perawat tadi ada keperluan apa ya? Apakah ada kabar mengenai suami saya?"
Elizia sudah menjawab pertanyaan dari dokter tersebut. Dan Elizia memastikan perawat yang tadi datang siapa tahu memberi tahu tentang kondisi suaminya. Elizia ingin segera bertemu dengannya.
Degh!
Seketika dokter Rama mematung. Dugaannya tidak salah, Elizia adalah orang yang selama ini dia cari. Mamanya seorang direktur di Panti Asuhan Kasih Ibu, berusaha tidak memberi tahu perihal Elizia pergi ke mana. Dan ternyata Elizia sudah menikah oleh pengusaha kaya raya bernama Hamzah Anggara.
Dulu sebelum menjadi dokter, Rama sering datang ke Panti Asuhan dan melihat Elizia dari kejauhan yang sedang mengaji di surau. Hatinya bergetar kala mendengar lantunan ayat suci yang merdu darinya. Dari itu, dokter itu mengagumi Elizia.
Tetapi siapa sangka, gadis pujaannya disembunyikan jati dirinya oleh mamanya sendiri. Karena waktu itu, Rama diperintah oleh mamanya untuk sekolah di universitas luar negeri di Fakultas Kedokteran dan harus fokus pada karirnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah pulang dari luar negeri, di Panti Asuhan tersebut Elizia sudah tidak ada. Dia berusaha mencari keberadaan Elizia namun, tidak pernah ditemui hingga dia frustasi. Dan baru malam ini, dia melihat Elizia yang terbaring lemah di rumah sakit karena korban kecelakaan dan mobil yang dia tumpangi rusak total.
Beruntungnya mobil tersebut tidak terbakar. Para warga yang melihat langsung melarikan diri dua sejoli tersebut ke rumah sakit terdekat yakni rumah sakit "Kasih Ibu" yang didirikan olah Rama Andhika setelah pulang dari London.
Dia kecewa kepada mamanya karena tidak memberi tahu bahwa Elizia telah menikah. Hanya harapan semu kini tinggal di hatinya. Dia berkemungkinan sedikit untuk mendapatkan seorang Elizia.
"Dokter, kenapa Anda diam seperti patung? Anda sakit atau saya seperti hantu?"
Elizia heran melihat tingkah dokter itu. Hatinya merasa tidak enak, dokter itu memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oh. Maaf. Elizia. Sekarang suami Anda sudah sadar, tetapi dia harus butuh istirahat banyak. Sedangkan kondisi tubuh Anda juga masih lemas, besok pagi saya antarkan kepada suami Anda! Elizia, kamu kenal Bu Zahra Ibu Panti?"
Seketika dokter itu memastikan bahwa dia kenal dengan mamanya atau tidak.
Jiwa Elizia mulai tergelitik karena dokter tersebut mengetahui nama Direktur panti di mana dia tinggal dulu.
"Elizia, Bu Zahra adalah Mama saya! Dan kamu adalah wanita yang selama ini saya cari. Diam-diam, saat kamu dulu mengaji di surau saya mengamati kamu dari kejahuan. Saya mengagumi karena kamu membacakan lantunan ayat suci terdengar sangat merdu. Tetapi, tidak lama, saya mendapat perintah dari Mama untuk kuliah di luar negeri, saat pulang ke dalam negeri, saya sudah kehilangan jejak darimu."
Dokter tampan itu menjelaskan secara jelas jati dirinya kepada Elizia. Sudah tidak ada lagi yang harus ditutupi karena Elizia adalah gadis pujaan hatinya. Hati dokter tersebut sedikit bahagia karena sudah menemukan wanita yang dicintainya walau dia sudah menikah.
"Apa? Anda anaknya Ibu Zahra?"
Elizia dikejutkan dengan penuturan dokter bak artis Korea tersebut. Dia sadar namun seperti di dalam mimpi. Dia merasa dunia itu samgat sempit. Di mana-mana selalu ada orang yang berkaitan dengan hidupnya. Dan dia sangat tidak menyangka bahwa dokter Rama Andhika adalah anak dari ibu panti.
"Iya Elizia. Ini buktinya!"
__ADS_1
Dia memperlihatkan photo keluarganya kepada Elizia. Photo itu selalu dia bawa di mana pun dia berada karena untuk mengenang almarhum papanya yang sudah tiada.
Rama sangat mencintai papanya yang seorang mantan Letnan Jendral Tentara yang gugur saat berperang membebaskan Irian Barat di ujung timur Indonesia sana. Nama papanya terkenang di lubuk hati nan dalam. Dia bangga mempunyai papa yang seorang pahlawan negeri tercintanya yakni Indonesia.
"Maaf, saya belum bisa mampir di Panti Asuhan "Kasih Ibu" karena saya juga belum sempat. Saya berjanji, jika kami sudah sembuh akan menyempatkan untuk singgah di Panti Asuhan milik keluarga Anda."
Elizia tidak menyangka yang berdiri di sampingnya adalah orang yang penting di dalam hidupnya. Dia merasa bersalah, selama menikah dia tidak sempat berkunjung ke Panti Asuhan "Kasih Ibu".
"Tidak apa-apa Liz, saya paham kok. Pasti kamu sangat sibuk dengan keluarga kamu. Yasudah, kamu tidur saja, besok pagi nanti tim perawat akan mengantar Anda di ruang di mana suami berada."
Dokter tampan itu menyuruh Elizia segera tidur. Tidak lama memang Elizia sangat lelah dan segera tertidur. Anehnya, dokter itu tidak keluar, dia masih menemani Elizia di samping ranjang tidurnya. Dia menatap Elizia lama sekali dan hatinya merasa ingin memilikinya.
'Elizia, sungguh kecantikan kamu memang alami. Kamu semakin cantik, tetapi sayang, kamu sudah menjadi milik orang lain. Tetapi hati aku selalu ada untuk kamu jika kamu membutuhkan dirimu. Liz, bertahun-tahun aku mencarimu,' gumam dokter itu dalam hatinya.
Tanpa sengaja, dokter Rama tertidur di samping Elizia dan menggenggam erat tangan wanita malang itu. Mereka sama-sama lelah dan tertidur sampai pagi.
Pagi itu, tepatnya pukul 06.00 WIB, Hamzah Anggara mulai pulih keadaannya. Dia ingin segera melihat Elizia. Dia sudah diberi tahu ruangan di mana istrinya berada.
"Suster, tolong saya antarkan ke ruangan istri saya! Saya ingin melihat keadaannya!"
Hamzah meminta bantuan kepada suster untuk mengantarkannya di ruangan istrinya. Lalu suster itu menuruti pasiennya. Hamzah duduk di kursi roda dengan didorong oleh perawat menuju ruangan Elizia.
Sepuluh menit kemudian, dia sampai di depan ruangan di mana Elizia berada. Lalu suster mulai membuka pintu ruangan tersebut. Dan terbukalah pintu ruangan kamar rawat inap yang di tempati Elizia.
Mereka lalu perlahan-lahan masuk ke ruangan tersebut. Hamzah Anggara sontak merasa kaget melihat Elizia bersama dengan dokter yang sudah menangani dirinya.
__ADS_1