Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Zafian Mencari Kediaman Elizia


__ADS_3

"Elizia, kamu sudah datang? Nanti kalau kamu sudah sholat, makan dan membersihkan diri, kamu bisa gabung bersama kami di sini. Karena ada hal penting yang mau dibicarakan dengan kamu."


Di sore itu tepat pukul 16.30 WIB nenek Rumi menyapa Elizia yang baru saja pulang dari rumahnya karena bekerja. Nenek Rumi sangat senang jika Elizia pulang cepat karena kedatangan tamu berjumlah tiga orang ingin bertemu dengan Elizia.


"Sudah, Nek. Siap. Maaf tadi Elizia agak lama pulangnya karena mampir di mini market untuk membeli ikan kakap. Selamat sore Tante, Om dan Mas Hamzah, Elizia ijin ke kamar dulu untuk mengganti pakaian dan mandi sekalian."


Elizia lalu berjalan sambil membungkukkan badannya karena ada tamu yang datang sebagai tanda untuk menghormati mereka. Lalu Elizia mulai memasukkan ikan kakap yang dia beli ke dalam 'freezer'. Setelahnya dia segera mandi untuk mengguyur badannya yang terasa penat dan bau asam.


Setelah mandi, Elizia segera melakukan sholat ashar. Beberapa menit kemudian, Elizia menuju ruang makan untuk segera makan karena perutnya terasa keroncongan.


Lalu Elizia membuka tudung saji makanan. Di situ dia melihat berbagai masakan lengkap dengan lauknya. Padahal dia berencana akan memasak menu spesial ikan kakak pedas asam manis untuk nenek Rumi tetapi dia malah sudah menyiapkan menu masakan yang lumayan banyak.


Elizia mengambil sayur lodeh dan lauk pauk berupa tempe dan tahu. Dia berdoa untuk mengawali makan dan perlahan-lahan dia mulai mengunyah makanan tersebut. Beberapa menit kemudian dia telah menghabiskan satu porsi makan sorenya.


Elizia dengan kalem melangkahkan kaki sampai di ruang tamu yang terdapat beberapa tamu.


"Elizia. Ayo duduk di samping Nenek. Saya mau memperkenalkan beberapa tamu istimewa kita. Ini Fatimah dan ini Fauzan mereka adalah kedua orang tua cucu saya yakni Hamzah Anggara."


Nenek Rumi memperkenalkan kedua oran tua Hamzah Anggara di hadapan Elizia yang sedang duduk di sofa di sebelah nenek Rumi.


"Iya Tante, Om. Saya Elizia teman masa kecilnya Mas Hamzah Anggara."


Elizia menjawab secara kalem dan disertai senyum yang mengembang. Dia agak berdebar hatinya karena tumben kedua orang tua yang kaya raya mau bertamu di rumah sederhana milik nenek Rumi. Dan tidak ada tanda-tanda wajah sinis atau pun sombong di antara mereka.


Beda dengan mantan ibu mertua dan kakak iparnya dulu. Sebelum nikah saja sudah terpampang wajah yang tidak suka.


"Iya kami sudah paham. Elizia, saya Papa dari Hamzah ingin mengatakan sesuatu boleh?"


Tuan Fauzan memancing pembicaraan agar Elizia mendengarkan serius hal penting yang akan mereka utarakan. Mereka tidak mau kedatangan mereka ke rumah nenek Rumi gagal menyampaikan tujuan penting mereka.


"Tuan mau menyampaikan hal penting apa? Silakan saja saya akan mendengarkan dengan senang hati."

__ADS_1


Elizia duduk terdiam kalem dan mulai mendengarkan pembicaraan dari ayah Sang CEO yakni Fauzan. Jantung Elizia berdetak lebih kencang dan tidak karuan. Hamzah juga begitu dia mulai keluar keringat dingin di dahinya karena was-was bercampur cemas. Beda halnya dengan nenek Rumi yang duduk di sofa bersebelahan dengan Elizia.


Nenek Rumi malah memperlihatkan wajah sumringah dan sedikit-sedikit nyengir sambil membenahi kaca mata tebalnya yang kadang akan jatuh. Nenek Rumi memang terlihat kocak namun jiwanya pemberani dan tegas.


Dan terakhir, Fatimah, mama dari Hamzah terlihat tenang sambil melihat-lihat layar pipihnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Biasalah, emak-emak jaman sekarang yang diajak curhat HP, bukan suami atau kerabat dekatnya. Karena keluarga dan kerabat juga sibuk pada gawainya sendiri-sindiri. Memang lucu kalau dipikir-pikir.


"Ehem. Elizia maukah kamu menikah dengan anak saya yang bernama Hamzah Anggara? Kemarin dia mendesak saya dan istri saya untuk meminang Anda agar tidak kalah cepat dipinang oleh pria lainnya. Hamzah Anggara sangat mengagumi Anda sejak kecil. Terlihat sampai sekarang dia sangat peduli dengan Anda. Kami mohon jawaban jelasnya agar kami tidak was-was."


Dengan tegas ayah dari Hamzah mengutarakan maksudnya dan tidak ada kata yang tertinggal sedikit pun.


Degh!


Jantung Elizia serasa mau berhenti berdetak. Dia sebenarnya belum siap untuk menaruh hati kepada pria mana pun. Dia sadar, setelah dicampakkan oleh mantan suaminya 'Zafian', dia masih sulit untuk membuka hati. Namun, dia sangat dilema. Selama ini keluarga Hamzah Anggara baik kepadanya. Sungguh suatu pilihan yang paling sulit.


"Maaf. Sebelumnya. Saya sangat senang mendengar tawaran dari Tuan, tetapi izinkan saya memikirkannya terlebih dahulu. Saya juga baru saja selesai dari masa iddah. Satu atau dua hari lagi saya akan menyimpulkan jawaban hati saya."


Elizia menjawab pertanyaan dari keluarga Zafian dengan jawaban yang sekiranya tidak menyakitkan hati di antara semuanya. Elizia tidak mau mempunyai masalah baru yang lebih berat lagi. Secara, dirinya baru saja meniti karir dari nol.


Keluarga Hamzah memang pengertian. Elizia menghirup napas lega. Setidaknya nanti atau besok Elizia bisa merenung untuk mengambil keputusan yang terbaik. Zafian yang berusaha tenang menghadapi jawaban dari Elizia. Dia juga sedikit lega namun, hatinya masih bertanya-tanya karena Elizia belum menjawab menerina atau tidak. Hamzah akan menerima dengan legawa apa pun keputusan dari Elizia.


Saat itu, dia sangat tenang karena wanita pujaan hatinya ada di dekatnya. Mengurangi rasa galau di dalam hatinya. Ayahnya memang sangat bijak dalam menangani sebuah masalah. Membuat dirinya semakin semangat untuk meraih cinta dari Elizia.


"I-iya, Ayah. Saya memahami apa yang dirasakan Elizia. Saya menunggu keputusannya kapan pun waktunya. Saya akan menunggunya sampai dia angkat bicara."


Dengan terbata terlontar jawaban dari Hamzah Anggara. Dia sedikit gugup karena masalah ini adalah masalah hati dan pernikahan. Tidak bisa diputuskan secara cepat dan tanpa pertimbangan dari kedua belah pihak. Namun, Hamzah merasa puas karena keluarganya dengan suka rela membantunya untuk memperlancar urusan hati tersebut.


"Nek, Om, Tante pada makan belum? Kalau belum aku masakin ikan kakap pedas asam manis mau tidak?"


Tiba-tiba Elizia angkat bicara dan menawarkan untuk membuat masakan yang bahannya dari ikan kakap. Elizia sangat hobi memasak. Apa pun yang dia kerjakan pasti hasilnya baik dan tidak mengecewakan.


Sebelum keluarga itu menjawab pertanyaan dari Elizia, ada seseorang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok, tok, tok!


Lalu nenek Rumi penasaran dan ingin membuka pintu tersebut. Beberapa menit kemudian, pintu pun terbuka. Seorang pria rupawan, berperawakan tinggi jangkung dan beralis tebal bertamu di rumah nenek Rumi.


"Kamu siapa anak muda?" tanya nenek Rumi penasaran. Nenek Rumi melihat penampilan pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Nek. Benarkah Elizia ada dan tinggal di sini?"


Pria itu menanyakan keberadaan Elizia.


"Benar. Ada keperluan apa dengan Elizia?" tanya nenek Rumi dengan nada menginterogasi karena nenek Rumi merasa curiga akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Siapa sih, Nek. Kok tidak dipersilakan masuk?" Hamzah mulai penasaran dan berjalan menghampiri neneknya.


Hamzah kaget melihat yang datang adalah mantan suami dari Elizia.


"Kamu, ada keperluan apa datang ke mari? Kalau tidak penting silakan pergi!"


Hamzah merasa jiwanya meradang melihat pria pecundang itu masih mencari-cari Elizia. Lalu dengan cepat Zafian masuk ke dalam rumah nenek Rumi tanpa menghiraukan Tuan Rumah yang berdiri di depannya.


"Elizia. Ini Zafian mantan suami kamu. Saya mohon, aku mau rujuk dengan kamu. InsyaAlloh aku akan adil. Dan aku akan memberikan uang sebanyak apa pun yang kamu mau."


Tanpa rasa malu dan dengan rasa percaya diri Zafian berjalan menuju ruang tamu nenek Rumi. Dan akhirnya dia menemukan Elizia sedang duduk di sofa bersama dengan tamu yang tidak dikenalnya.


Dia mengungkapkan kata manis dan penyesalan kepada Elizia. Bahkan, parahnya lagi Zafian ingin segera rujuk setelah beberapa hari dia menikah dengan Rihana.


Hamzah yang mendengar ucapan dari Zafian, langsung terbakar emosi. Dengan reflek dia mendaratkan bogem ke wajah Zafian.


Bugh!


Tanpa diduga Zafian hilang keseimbangan sehingga dia jatuh terseunggur dan wajahnya terlihat memar dan hidungnya terluka karena bogem yang diberikan oleh Sang CEO tersebut sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2