
Siang itu, tepatnya setelah dzuhur, Hamzah Anggara yang masih berbincang dengan wanita bernama Annisa mulai teringat dengan Elizia istrinya. Lalu dia berkata,
"Elizia, belanjanya sudah belum? Kamu sini deh?"
Hamzah Anggara memanggil Elizia yang masih sibuk memilih barang-barang. Lalu dia menuruti perintah dari suaminya seraya mendekatinya.
"Sudah, Mas."
Elizia mencoba memasang tampang kalem dan tersenyum di hadapan suaminya walaupun sebenarnya hatinya masih dilanda rasa cemburu.
"Liz, perkenalkan ini Annisa sepupu jauh aku. Dia cucu dari adik Nenek Rumi jadi, dia termasuk keluarga kita."
Hamzah yang masih berdiri di mini market memperkenalkan sepupu perempuannya dengan Elizia. Ayah dari Annisa adalah orang keturunan Arab sedangkan ibunya asli orang Indonesia. Jadi, Annisa berwajah campuran Indonesia dan Arab.
"Oh. Iya. Perkenalkan saya Elizia. Istri dari Mas Hamzah."
Elizia bersalaman dengan Annisa secara hangat dan merasa lega ternyata wanita tersebut adalah sepupu dari suaminya. Dia sempat berprasangka buruk terhadap suaminya sendiri namun, prasangka tersebut sudah hilang setelah mengetahui bahwa Annisa adalah kerabat dari suaminya.
"Saya Annisa, sepupunya Mas Hamzah. Kamu cantik sekali? Maaf kemarin saya tidak bisa datang di acara resepsi pernikahan kalian karena saya sedang bersama ayah saya di Negara Arab beberapa hari."
Annisa berkenalan dengan Elizia dengan senyum ramah. Ternyata dia adalah wanita yang ramah tidak seperti apa yang Elizia pikirkan.
"Mbak juga cantik kok. Anda sedang berbelanja?" tanya Elizia meyelidik.
"Benar, saya akan membeli beberapa bahan pokok dan daging karena stok makanan di dapur saya menipis. Saya duluan ya Liz, jangan lupa mampir ke rumahku. Mas Hamzah sudah paham di mana rumah saya berada."
Annisa bergegas untuk segera melanjutkan belanjanya sambil membawa troly yang sengaja dia ambil di sudut ruangan mini market tersebut. Annisa berpawakan tinggi semampai dengan jilbab yang menjuntai panjang dan terlihat anggun mempesona. Elizia merasa iri dengan penampilan wanita keturunan Arab tersebut.
"Iya, Mbak, terima kasih. Mbak Annisa juga mampir ke rumah nenek Rumi. Saya tunggu kedatangannya."
Elizia mengangguk dan tersenyum kepada Annisa. Kemudian Elizia mengajak Hamzah untuk segera ke kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Sini trolynya Mas yang bawa dan akan saya bayar semua belanjaan ini."
Hamzah lalu mengambil troly yang awalnya dibawa oleh istrinya menuju kasir. Di belakang Hamzah terdapat Elizia yang mengikuti sambil melihat gawainya yang penuh dengan pesan WA dari teman-temannya.
Tiba-tiba mata Elizia melihat sebuah bingkai kota seperti dompet terjatuh di lantai. Dia bingung mau mengambil benda tersebut atau tidak.
__ADS_1
Tidak lama dia segera mengambil benda tersebut dan segera membukanya. Seketika Elizia terkejut dan segera menyimpan benda itu ke dalam tas tentengnya karena suaminya hampir selesai melakukan transaksi.
"Istriku, kamu kok melamun? Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Hamzah kepada Elizia dengan penasaran.
Hamzah melihat istrinya sedang berdiri dan memikirkan sesuatu. Hati Hamzah mulai bertanya-tanya lalu dia segera menepuk pundak istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Yuk, kita segera pulang takutnya nenek Rumi mencari kita."
Setelah suaminya menepuk pundaknya, Elizia mulai tersadar dari lamunannya karena sedang memikirkan isi di dalam dompet bingkai tersebut. Setelah dibuka, ternyata terdapat foto Annisa dan Mas Hamzah yang ditempel menjadi satu yang mengenakan seragam SMA. Di situ tertulis tulisan "Annisa mencintai Hamzah Anggara". Setelah mengetahui isi bingkai tersebut, Jantung Elizia berdegup kencang dan perasaannya mulai bergemuruh. Ternyata suaminya dikagumi oleh beberapa wanita.
Di dalam hatinya, Elizia bertanya-tanya apakah dulu saat SMA suaminya mempunyai hubungan spesial dengan Annisa. Elizia tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu. Dia akan menelusuri dan jika sudah tepat waktunya dia akan menanyakan perihal foto tersebut kepada Hamzah Anggara.
"Baik. Ayo, kita pulang. Mas juga mengkhawatirkan nenek Rumi."
Elizia dan Hamzah mulai berjalan menuju parkiran mobil. Mereka segera naik dan Hamzah mulai menyalakan mesin dan segera tancap gas.
Di jendela mobil, tidak sengaja Elizia melihat Annisa sedang duduk di jok mobil depan sambil menangis yang membuat Elizia semakin kacau pikirannya.
"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi diam. Mas jadi galau nih?"
"Mas, tadi aku sekilas melihat Mbak Annisa nangis di mobil kenapa ya? Aku jadi penasaran gitu sama Mbak Annisa."
Akhirnya Elizia membeberkan rasa penasaran terhadap Annisa kepada suaminya.
Degh!
Hamzah mulai kaget. Ternyata istrinya mengamati Annisa yang sedang menangis. Padahal Hamzah berusaha untuk menutupi agar jangan sampai Elizia melihat Annisa menangis.
"Mungkin dia banyak masalah di rumahnya jadi bawaannya pengen menangis terus," jawab Hamzah dengan tenang."
"Oh. Mbak Annisa itu nikah atau belum sih Mas?" tanya Elizia seketika. Dia semakin penasaran dengan Annisa.
"Belum," jawab Hamzah dengan ekspresi datar.
Lalu Hamzah mulai menambah kecepatan mobilnya secara tiba-tiba hingga membuat Elizia kaget.
"Mas, pelan-pelan dong? Elizia takut."
__ADS_1
Elizia ketakutan karena suaminya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah Elizia merasa ketakutan, Hamzah segera mengurangi kecepatan mobilnya kembali.
"Maaf, sayang. Aku ingin segera sampai ke rumah."
Mereka kemudian saling terdiam karena Hamzah sedang fokus menyetir mobil. Sepuluh menit berkendara, akhirnya mereka sampai di depan rumah. Akhirnya mereka turun dari mobil dan menuju dalan rumah nenek Rumi.
Rumah nenek Rumi sepi pertanda nenek Rumi masih tidur.
Lalu Elizia menuju kamarnya. Sedangkan Hamzah masih di ruang keluarga melepas penat. Elizia mulai mengganti pakainnya dengan gaun selutut berwarna jingga kesukaannya. Setelah rapi dia segera melihat foto bingkai tersebut dan mengamati.
'Fotonya kok tidak barengan sih? Apa Annisa sengaja mengambil foto Mas Hamzah secara diam-diam? Apakah Annisa mencintai Hamzah sejak lama?' gumam Elizia di dalam hatinya.
Elizia masih penasaran dengan makna foto tersebut. Walaupun kini Mas Hamzah tidak ada hubungan apa-apa dengan Annisa namun, hati Elizia masih tidak karuan.
Tanpa sadar, Hamzah sudah masuk ke dalam kamar dan berkata,
"Sayang, kamu sedang apa?"
Hamzah mendekati Elizia dan memeluk istrinya dari belakang. Lantas, Elizia terkejut dan segera menyelipkan foto tersebut di bawah ranjang tidurnya.
"Eh, Mas Hamzah? Sejak kapan Mas masuk ke sini?" tanya Elizia malu-malu.
Elizia khawatir jika suaminya melihat bingkai tersebut karena dia ingin menyelidiki terlebih dahulu ada hubungan apa antara Hamzah dengan Annisa.
"Baru saja sayang. Liz, Mas kepengin. Lagi yuk?"
Hamzah berkata manja kepada istrinya. Dia sudah kecanduan dengan kenikmatan yang diberikan oleh istrinya.
"Kepengin apa sih, Mas?" tanya Elizia pura-pura tidak tahu karena geli sendiri.
Elizia menyibakkan rambutnya yang panjang. Aroma rambutnya membuat Hamzah mabuk kepayang. Dengan seketika Hamzah langsung menidurkan istrinya di ranjang. Dia memberikan satu ciuman nakal yang mendarat di bibir mungil milik Elizia.
Seketika Elizia tidak bisa berkutik. Hamzah sudah mulai memanas serta nafasnya sudah mulai tidak beraturan. Tanpa basa-basi dengan gesit Hamzah mulai menuruni dua gunung indah milik Elizia dan meremasnya dengan lembut. Di situ Sang Suami mulai menyelami kenikmatan dunia yang tiada terkira.
"Bagaimana sayang? Mau diteruskan?" Hamzah berhenti sejenak dan memberi kode untuk berbuat hal yang lebih. Elizia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa dan dia hanya bisa mengangguk.
Hamzah mulai membuka kancing resetlingnya dan dengan sigap tongkat saktinya memasuki goa sempit milik Elizia. Kini mereka saling beradu peluh untuk mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1