
Tepatnya pukul 17.00 sore, Hamzah masih berada di tempat yang tidak jauh dari masjid. Dia ditampar oleh pria bertato yang tidak dikenalnya. Pria tersebut menampar Hamzah dengan alasan bahwa kekasihnya yang bernama Sarah telah didekati oleh Hamzah.
Hamzah kebingungan siapa itu Sarah? Tiba-tiba datang seorang wanita berumur sekitar 30 tahun mendekati pria bertato itu seraya berkata,
"Mas, jangan lukai Mas Hamzah dia tidak bersalah! Dia malah yang membantu keluarga kami yang tengah kelaparan, tetapi kamu malah melukai orang baik seperti dia!"
Terlihat seorang wanita yang dilihat Hamzah tadi pagi dan mempunyai tiga orang anak memarahi pria bertato tersebut. Ternyata yang
bernama Sarah itu adalah ibu-ibu yang membantu memasak dan beres-beres di acara aqiqah keluarga Hamzah Anggara.
"Sarah, kamu membela dia? Seharusnya kamu meminta bantuan itu kepada saya. Mentang-mentang dia orang kaya, kamu lebih membela dia dari pada kekasihmu ini!"
Pria itu masih membela dirinya. Seakan-akan dia tidak bersalah.
"Apa meminta bantuan kepada kamu? Kamu urus saja istri muda kamu yang matre. Kamu sekarang bukan suami saya lagi dan jangan anggap aku kekasihmu! Suami punya tiga anak malah menikah lagi, dasar lelaki edan!"
Wanita yang bernama Sarah itu berbicara ceplas ceplos dan tidak sadar menceritakan hubungannya dengan pria bertato tersebut. Dan ternyata pria bertato tersebut adalah mantan suami dari wanita yang bernama Sarah.
"Sudah jelas apa yang dikatakan ibu itu kepada kamu! Saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan dia. Jadi, kamu jangan menuduh sembarangan tentang saya. Saya tidak mempunyai waktu banyak untuk berurusan dengan kamu. Saya sudah mempunyai istri di rumah yang sedang menantikan kehadiran saya!"
Dengan tegas Hamzah berucap kepada pria bertato tersebut. Hamzah akan segera melanjutkan pulang karena dia tidak mau larut dalam urusan orang lain. Saat akan pulang, Sarah berkata,
"Mas Hamzah, maafkan perbuatan keji mantan suami saya. Dia memang seperti itu. Sebelumnya saya tidak menyangka jika mantan suami saya akan menampar Mas Hamzah saat ini."
Wanita yang bernama Sarah itu meminta maaf kepada Hamzah karena dirinya merasa tidak enak. Saat itu, Sarah memakai pakaian yang sangat ketat dan ber make up tebal. Padahal saat di rumah Hamzah tadi dia memakai pakaian longgar dan berkerudung.
"Tidak masalah. Anggap saja ini kesalah pahaman. Ibu tidak usah menyalahkan diri sendiri karena Ibu tidak bersalah. Oke, saya harus buru-buru pulang karena pasti istri saya sedang menunggu."
Sebelum banyak orang yang melihatnya, Hamzah akan segera pulang. Dia tidak mau ribut-ribut dengan orang yang tidak jelas seperti apa yang baru saja dia temui. Pipinya sakit sedikit tidak apa-apa, yang terpenting adalah dia tidak mau orang-orang tahu jika pria bertato itu ribut dengannya.
__ADS_1
"Iya, Mas Hamzah. Silakan."
Sarah menyilakan Hamzah untuk pergi pulang ke rumahnya. Sementara pria bertato tersebut masih berdiri tidak jauh dari Hamzah sambil menatap ke arah Hamzah dengan tatapan tidak suka. Hamzah mulai berbalik arah untuk pulang dan tidak menggubris pria bertato tersebut.
Sepuluh menit kemudian, Hamzah Anggara mulai pulang. Terlihat Elizia sedang menggendong Aslam yang sudah mulai terbangun dari tidur.
"Hai, anak ayah sudah bangun ya? Duh, imutnya anak Ayah."
Ketika sampai di ruang tengah, Hamzah melihat istri dan anaknya seketika dia langsung mengecup pipi Aslam yang semakin hari semakin gembul. Sakit di pipinya tidak dia hiraukan kala melihat istri dan anaknya sehat.
"Dari tadi sudah bangun. Mas, pipi kamu kenapa kok memar? Seperti habis ditampar orang? Apa ada orang jahat yang sedang menjahili Mas?"
Elizia melihat pipi suaminya memar langsung cemas dan penasaran. Dia tidak mau suaminya terluka gara-gara ulah orang lain yang jahat. Sudah banyak ujian yang diberikan kepada Elizia dan Hamzah. Jadi, Elizia merasa was-was dengan keadaan suaminya.
"Tidak apa-apa kok Liz. Hanya tadi Mas sempat terjatuh karena di depan Mas ada batu jadi, pipi ini memar."
"Oh. Kasihan sekali suamiku. Lain kali hati-hati, ya? Eliz ambilkan air hangat untuk mengompres ya?"
Elizia percaya dengan omongan suaminya. Lantas dia ke dapur untuk mengambil handuk kecil dan air hangat untuk mengompres pipi suaminya yang memar. Elizia yang menggendong Aslam sambil menenteng baskom berisi air hangat. Suaminya keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan celana panjang training berwarna hitam.
"Sayang, kamu 'kan lagi mengurus Aslam jangan repot-repot bawain air hangat buat Mas? Sebentar lagi juga sembuh."
Hamzah tidak mau merepotkan istrinya yang sedang mengurus Aslam. Namun, Elizia bersikeras mengambilkan air hangat untuk suaminya karena suaminya sedang mengalami musibah kecil. Lalu Elizia mendekat ke arah suaminya yang sedang duduk di ruang keluarga lalu dia duduk di sampingnya dan mulai mengompres pipi suaminya yang memar.
"Mas, diam dulu gih. Eliz mau mengompres pipi Mas yang memar ini."
Elizia mulai mengompres pipi suaminya secara perlahan-lahan agar tidak perih. Aslam yang berada di pangkuan Elizia tidak menangis dan itu sangat menguntungkan bagi Elizia. Karena tadi Aslam sudah minum ASI teramat lama.
"Liz, geli. Sudah ya? Mas bisa sendiri. Mana tanduknya. Istri Mas sama Aslam saja."
__ADS_1
Hamzah mengambil handuk kecil yang digunakan untuk mengompres pipinya dari tangan Elizia karena dia merasa geli dikompres oleh istrinya.
"Em. Mas manja deh. Yasudah Mas saja yang ngompres. Eliz mau menaruh Aslam di kamar soalnya dia sudah tertidur."
Tidak lama Elizia berjalan menuju kamarnya untuk menidurkan bayinya yang sudah tertidur. Setelahnya Elizia mau ke dapur untuk memasak pecel lele yang ternyata di kulkas masih ada stok ikan lele dua kilo.
Saat di dapur dia melongok ke arah lemari tempat meletakkan bumbu dan ternyata stok kacang tanahnya habis.
'Perasaan kemarin masih ada kacang tanah deh. Dan ternyata sudah habis. Em. Eliz mau beli di warung bu Tuti dulu,' gumam Elizia dalam hati.
Tidak lama, Elizia mengambil uang di dompet kecilnya dan akan meminta izin kepada suaminya untuk ke warung bu Tuti.
Saat sampai di ruang keluarga, suaminya masih mengompres luka memarnya. Elizia kini berkata,
"Mas, Eliz izin ke warung bu Tuti dulu ya? Stok kacang tanah untuk membuat pecel lelenya habis."
Elizia yang berdiri di depan suaminya meminta izin untuk ke warung bu Tuti.
"Boleh, tapi hati-hati ya?"
Suaminya mengizinkan Elizia untuk pergi ke warung bu Titi walau hati Hamzah sedikit khawatir jika akan terjadi hal yang tak diinginkan. Namun, warung bu Tuti tidaklah jauh pun di depan komplek banyak warga jadi Hamzah mengizinkan istrinya untuk pergi.
"Siap!"
Tidak perlu lama karena takut Aslam bangun kini Elizia beranjak pergi ke warung bu Tuti. Beberapa menit, Elizia sudah berada di depan gerbang rumahnya. Lalu dia berjalan menuju warung bu Tuti. Saat itu dari arah yang berlawanan terlihat mobil 'Avanza' berwarna hitam mendekat ke arah Elizia. Seorang pria bertubuh jangkung berwajah tampan dan memakai kemeja putih turun dari mobil.
"Elizia, kamu mau ke mana?"
Pria itu sedang membawa beberapa bingkisan dan menatap Elizia dengan senyum dan menyapanya.
__ADS_1