
"Jangan ya, Nek. Roti itu untuk Elizia. Nenek buahnya saja ya?"
Zora masih bersikeras untuk tidak boleh memberikan roti tersebut kepada nenek Rumi.
"Zora, dari tadi kamu melarang nenek saya untuk tidak boleh memakan roti itu tetapi Elizia boleh. Jangan-jangan kamu mau meracuni Elizia? Benar 'kan?"
Hamzah mulai curiga dengan Zora karena dari gelagatnya sangat mencurigakan. Apalagi yang boleh memakan roti tersebut hanya Elizia.
"Ya. Tidaklah, Bos. Saya tidak memberi racun pada roti itu. Saya hanya ingin Elizia memakan roti itu sebagai penebus kesalahan saya."
Zora tampak kaget dan sedikit gugup hingga membuat Hamzah semakin curiga. Jika seperti ini Hamzah tidak bisa diam begitu saja. Dia tidak mau istri dan neneknya keracunan.
"Benar, kamu tidak memberi racun pada roti itu? Jika benar, coba kamu makan sedikit saja roti itu maka aku dan Elizia akan memaafkan kesalahan kamu. Jika kamu tidak mau memakan sedikit saja roti itu, maka kamu dinyatakan telah memberi racun dalam roti yang kamu buat tersebut dan saya akan melaporkan kepada pihak kepolisian!"
Hamzah menggeram, masih saja Zora belum kapok atas ancaman akan dipecat jika dia masih menjahili Elizia. Kini, Hamzah tidak tanggung-tanggung untuk bertindak tegas kepada Elizia.
"Baiklah, saya akan memakan roti lapis legit tersebut."
Zora kemudian membuka bungkus roti tersebut dengam tangam gemetar. Dia bingung akan memakan roti beracun itu atau tidak. Jika dia tidak mau makan pasti dia akan dijebloskan ke dalam penjara dan akan dipecat dari pekerjaannya. Dengan terpaksa dia mencoba memakan roti itu sedikit.
"Nona, ayo dimakan jangan hanya sedikit, tapi beberapa potong, jika terbukti aman, kami akan ikut makan juga."
Nenek Rumi menyuruh Zora untuk memakan roti tersebut dalam jumlah lebih banyak agar mereka yakin bahwa roti tersebut aman untuk dikonsumsi.
Elizia yang sedang diam sebenarnya dia mengamati gelagat Zora yang mencurigakan. Dia sedikit merasa curiga kepada Zora dan tidak mau begitu saja menerima roti pemberiannya.
"Baik. Saya akan memakan beberapa potong roti lapis legit itu."
Zora memakan beberapa potong roti lapis legit tersebut. Beberapa menit kemudian, raut wajah Zora memerah dia kemudian menggaruk-garuk tubuhnya karena gatal dan panas.
"Kamu kenapa Zora? Wajah kamu berubah kemerahan dan badan kamu bentol-bentol. Ternyata benar, kamu memberi obat racun pada roti itu 'kan? Jangan mencoba menyangkal lagi!"
__ADS_1
Hamzah kini tidak ragu-ragu lagi bahwa Zora memang menaruh racun ke dalam roti lapis legit itu.
"I-iya saya memang menaruh obat racun ke dalam roti lapis legit itu. Maafkan saya. Haduh, semua badan saya terasa gatal dan panas."
Dengan terbata akhirnya Zora mengakui bahwa dia telah menaruh racun dalam roti lapis legit yang awalnya dia ingin memberikan roti itu kepada Elizia agar wajahnya rusak dan buruk rupa.
"Jahat sekali kamu Zora! Kamu sendiri 'kan yang terkena karmanya, memang kamu menganggap kami ini bodoh? Sekarang saya akan melaporkan kamu ke kantor kepolisian! Kamu telah berusaha melakukan aksi kejahatan dengan mencoba untuk meracuni seseorang."
Hamzah mengancam dan menakut-nakuti Zora untuk melaporkannya ke kantor kepolisian agar dia jera.
"Ampun, Bos. Jangan laporkan saya ke kantor polisi. Saya khilaf dan menyesal dan saya tidak akan berbuat jahat kembali dengan Elizia."
Zora lalu menangis. Kali ini dia benar-benar menyesal dan tidak menyangka akan berbuat sejahat itu terhadap Elizia. Lalu dia mendekati Elizia sembari menangis dia meringkuk di hadapan Elizia yang sedang duduk menyaksikan kejadian tersebut.
"Oke. Cukup! Sekarang kamu saya pecat dari kerjaan kamu. Saya akan memberi kesempatan satu kali lagi untuk tidak saya laporkan ke kantor polisi namun, jika kamu berbuat jahat kembali saya akan langsung menelepon polisi!"
Hamzah memecat Zora dalam waktu itu juga. Namun, dia masih merasa iba dengan wanita itu. Jadi, dia tidak melaporkan ke kantor polisi karena dia sudah berusaha menagakui kesalahannya.
"Baik, kalau begitu saya akan segera pulang. Wajah saya semakin terasa panas dan saya takut wajah saya menjadi buruk rupa."
"Untung saja saya belum sempat memakan roti itu! Huft. Anak jaman sekarag memang aneh-aneh mungkin banyak makan micin itu anak! Nenek jadi pusing sendiri. Yasudah Nenek mau istirahat. Kalian juga harus lebih waspada dan hati-hati jika ada tamu seperti Zora itu."
Nenek Rumi memijat pelipisnya karena dia tidak jadi makan roti kesukaannya lalu dia ingin segera ke kamarnya untuk mencairkan pikiran.
"Sayang. Alhamdulillah kamu selamat dari kejahatan. Hampir saja kita tertipu oleh Zora. Aku tidak rela kamu disakiti oleh siapa pun."
Lalu Hamzah memeluk Elizia dengan erat sambil mengecup keningnya. Hatinya bergetar karena istrinya selalu dijahili oleh beberapa orang. Dia sangat takut jika istrinya akan terjadi hal yang buruk.
"Tenang, Mas. Tuhan itu tidak tidur. Kita berdoa saja dan selalu meminta perlindungan dari Sang Pencipta niscaya kita akan selamat dari bahaya apa pun."
Elizia berusaha menenangkan jiwa suaminya yang gemetar. Lalu Elizia terharu dan menitikkan air mata kembali.
__ADS_1
"Benar, sayang. Semoga kita selalu diberi keselamatan oleh Sang Pencipta di mana pun berada dan dalam keadaan apa pun."
Hamzah yang masih duduk di sofa panjang bersama istrinya berharap kepada Tuhan untuk sealalu diberi keselamatan dari orang-orang yang berusaha berbuat jahat.
"Mas, aku izin mau beli sesuatu di mini market. Kebetulan stok bahan makanan hampir habis."
Elizia meminta izin kepada suaminya untuk ke mini market sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk sangat dekat di sampingnya.
"Aku antar ya? Aku takut Zafian akan mengganggu kamu."
Zafian tidak akan membiarkan istrinya pergi sendiri. Karena Elizia kini sudah menjadi milik Hamzah seutuhnya.
"Boleh. Ayuk, Mas. Tapi aku minta izin Nenek tidak ya?"
Elizia meminta saran kepada suaminya.
"Tidak usah. Biarkan Nennek istirahat. Pasti dia paham kalau kita sedang pergi sebentar."
Hamzah menyarankan untuk tidak perlu berpamitan dengan nenek Rumi karena akan takut mengganggu istirahatnya. Lalu Elizia mengangguk dan menuruti saran suaminya. Lalu mereka menuju parkiran mobil. Tidak lama mereka segera menaiki mobil dan Hamzah segera menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian, Hamzah segera tancap gas.
Saat berada di depan rumah bu Widya terdapat banyak orang sehingga mobil Hamzah sulit keluar dari gang agak sempit tersebut.
"Ada apa sih Liz, kok rame banget di rumah kaluarga Zafian? Mobil ini tidak bisa lewat dong?"
Hamzah penasaran dan hatinya berkata-kata tidak jelas karena di ruamah Zafian sedang ada bapak dan ibu berkerumun banyak seperti hampir satu RT.
Lalu mobil Hamzah mulai menepi dan segera mematikan mesin mobil. Lalau mereka segera keluar dari mobil. Lalu Hamzah segera bertanya kepada salah satu warga.
"Pak, maaf. Ada apa ya di rumah Zafian kok banyak orang? Maaf kami ketinggalan info."
Hamzah mencoba bertanya kepada bapak-bapak berkumis yang masih memakai sarung seperti baru saja bangun dari tidurnya. Sebelum bapak itu menjawab pertanyaan dari Hamzah seseorang ada yang berteriak.
__ADS_1
"Hei Elizia! Sialan kamu!"
Rihana tiba-tiba melihat Elizia dengan mata membola seperti sedang marah dan berkacak pinggang dan berteriak kepada Elizia.