Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Tangisan Aslam


__ADS_3

Di malam yang pekat, Hamzah Anggara masih beradu dengan para penjahat yang ingin merampas aset kekayaan perusahaannya. Dia tidak menyerah begitu saja melawan mereka. Anak buahnya pun geguoap gembita melawan serangan yang bertubi-tubi dari kawanan penjahat tersebut. Satu per satu penjahat berbaju hitam tersebut jatuh tersungkur karena mendapat serangan dari anak buah Hamzah yang pandai bermain karate.


Walau pun anak buah Hamzah tidak memakai senjata tajam, tapi jangan dianggap remeh keahlian karate dan bela diri bisa diacungi jempol dan bukan kaleng-kaleng semata.


"Ampun. Kami menyerah. Kalian memang lawan yang sulit kami kalahkan."


Masih ada satu tersisa dalang dari penjahat itu meminta ampun kepada Hamzah dan anak buahnya. Mereka mengaku kalah dan menyerahkan diri.


Saat itu, turunlah mobil 'Ranger' yang di dalamnya terdapat beberapa orang berseragam kepolisian. Dengan gagah mereka meyergap para penjahat itu sambil menodongkan pistol 'revolver' kepada para penjahat yang sudah mengaku kalah tersebut.


"Angkat tangan dan jangan bergerak. Kalian kami tangkap dan jangan coba-coba untuk kabur."


Dengan tegas polisi itu berdiri pada posisi tegap dan menodongkan pistol mereka untuk menakut-nakuti para penjahat agar tidak kabur. Akhirnya mereka angkat tangan dan menyerah. Usaha untuk mengambil aset keluarga Hamzah pupus seketika karena mereka kalah. Tidak perlu waktu lama, penjahat tersebut dibawa ke kantor polisi untuk ditahan karena bukti sudah jelas.


"Terima kasih Pak Polisi, kalian sudah datang tepat waktu. Semoga mereka cepat ditahan karena akan meresahkan warga yang tidak bersalah dan semoga mereka jera."


Dengan langkah tertatih dan beberapa luka di tangan dan kakinya, Hamzah mendekati pak polisi yang sudah meringkus para penjahat tersebut.


"Sama-sama, Mas. Dengan adanya perlawanan dari kalian, penjahat kelas kakap seperti yang sudah kami tangkap ini, semoga tidak ada kejahatan yang meresahkan warga kembali. Kalau begitu kami akan segera ke kantor polisi. Kalian harus tetap waspada. Kejahatan selalu datang tiba-tiba."


Begitulah nasihat dari salah satu komandan polisi yang berumur sekitar 40 tahun. Mereka berbalik dan segera membawa komplotan penjahat tersebut untuk menaiki mobil. Tidak lama mobil dengan tanda kepolisian tersebut melesat pergi dengan cepat.


Hamzah kini mulai berjalan memasuki perusahaannya. Dia akan mengobati luka bagian tangan dan kakinya di pos jaga agar saat pulang nanti, istrinya tidak khawatir dan merisaukan tentang dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih, Bos. Dengan bantuan Bos dan anak buah yang Bos panggil, kami selamat dari para penjahat itu, tetapi Bos malah terluka. Mari, kami obati Bos."


Salah satu satpam berkulit sawo matang berterima kasih kepada Hamzah karena telah membantu mereka dari kejahatan para bandit tidak tahu diru itu.


"Baik. Ini kaki saya sangat sekali."


Para satpam dan anak buah Hamzah mengobati luka Hamzah yang terkena parang tajam. Perlahan-lahan luka itu dibersihkan dengan air hangat lalu diberi obat antiseptik dan setelah itu luka dibalut dengan perban. Setelah dirasa selesai, para satpam tersebut melanjutkan pekerjaannya kembali yakni menjaga perusahaan 'JAYA GROUP' dengan dijaga oleh anak buah Hamzah untuk mewaspadai serangan susulan dari penjahat yang masih tersisa.


Hamzah memutuskan untuk segera pulang. Tidak lama, Hamzah sampai di parkiran mobil dan segera menyalakan mesin dan melajukan mobil dengan cepat karena dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumahnya.


Tidak perlu waktu lama, akhirnya Hamzah sampai di rumahnya. Lalu Hamzah segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke kamar istrinya. Namun, di kamarnya, Hamzah tidak melihat Elizia dan Aslam. Hamzah cemas dan berbalik arah menuju ruang tengah. Dan terlihat Elizia sedang menggendong Aslam.


"Liz, kok kamu ada di sini?" tanya Hamzah dengan perasaan cemas. Hamzah mendekati istrinya dan memastikan kondisi Aslam dalam keadaan baik-baik saja.


"Aslam demam, Mas. Tiba-tiba badannya mendadak panas. Mama Fatimah sudah beberapa kali membantu mengompres Aslam namun, demamnya malah masih tinggi."


"Hamzah, kamu sudah pulang? Kok wajah kamu ada kasa bekas luka? Kamu baru saja berkelahi ya?" tanya Fatimah dengan nada menyelidik.


"Ehm. Benar, Ma. Tadi ada penjahat yang mengancam para satpam. Tapi alhamdulilah mereka sudah diringkus polisi. Saya berusaha menyembunyikan hal ini agar kalian tidak panik. Saya dan anak buah sempat adu tempur dengan para penjahat, jadi Hamzah sedikit kena parang dari penjahat tersebut. Liz, Ma, jika Aslam semakin tinggi demamnya, sebaiknya kita bawa ke dokter, bagaimana?"


Baru setelah permasalah dengan para penjahat selesai, Hamzah berterus terang dengan keluarganya. Namun, kini saat sampai di rumah, bayi tercintanya sakit demam. Hamzah menyarankan Aslam segera dibawa ke dokter. Dia tidak mau bayinya terjadi apa-apa.


"Iya, Mas. Kita ke dokter yang buka dua 24 jam. Kasihan Aslam, dari tadi juga tidak bisa tidur dan menangis terus," kata Elizia menyetujui saran suaminya.

__ADS_1


"Mama ikut, ya? Mama juga sangat mengkhawatirkan Aslam," sahut Fatimah yang tidak tenang dengan kondisi cucu satu-satunya yang sedang dilanda demam.


"Oke. Ayo kita segera siap-siap. Jangan terlalu lama karena kasihan Aslam."


Hamzah tidak mau menunggu terlalu lama, lantas, dia ikut membantu Fatimah menyiapkan sesuatu yang akan dibawa ke dokter. Setelah semuanya siap, mereka langsung menuju mobil.


Beberapa menit kemudian, semua anggota keluarga Hamzah sudah berada di mobil, Hamzah segera menyalakan mesin dan tancap gas. Mobil tersebut berjalan dengan cepat.


Saat di perjalanan, anehnya saat itu terjadi macet di sepanjang jalan raya.


"Kok tumben macet sih? Padahal Aslam segera membutuhkan pertolongan."


Hamzah sedikit dongkol kala mengetahui di jalan raya sedang terjadi macet yang panjang.


Oek, oek, oek!


Terdengar Aslam menangis sangat kencang. Panasnya semakin tinggi dan Elizia yang mengetahui kejadian itu kini menangis. Dia tidak tega melihat bayi tampannya kesakitan.


"Tenang, ya sayang. Sebentar lagi sampai. Aslam harus kuat!" ujar Hamzah menenangkan bayi dan istrinya sambil menunggu jalan raya yang tidak macet.


Di dalam kondisi yang seperti Itu, sebagai suami, Hamzah harus bersikap tenang dan tidak terbawa emosi. Dia menunggu dengan sabar kemacetan yang terjadi. Tak henti-hentinya dia berdoa kepada Tuhan agar tangis dan demam Aslam segera mereda.


Kemacetan jalan raya tak kunjung reda. Terpaksa Hamzah dan keluarga harus menunggunya dengan kesabaran.

__ADS_1


"Liz, kamu jangan menangis ya? Pasti Aslam sembuh kok. Aslam, jangan menangis lagi ya? Oma ada di sini. Cup, cup."


Fatimah mencoba angkat bicara dan menenangkan hati Elizia dan juga Aslam walau dalam hatinya juga merasa khawatir dan was-was. Cucu satu-satunya yang sangat dicintai kini terkulai lemah dalam keadaan demam. Ujian hidup silih berganti dari berbagai hal. Walau pun keluarga mereka kaya namun, ujian selalu saja ada. Begitulah dunia.


__ADS_2