Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Bertemu Sang Ceo


__ADS_3

Pagi yang cerah. Suara burung pipit yang bertengger di dahan pohon mulai bersenandung dengan merdu. Pagi itu setelah sarapan pagi, Elizia dan nenek Rumi sedang berada di ruang keluarga. Elizia sedang mempersiapkan untuk membuat surat lamaran pekerjaan.


"Nenek tahu alamat perusahaan Mas Hamzah tidak?" tanya Elizia kepada neneknya.


"Tenang saja, Nenek punya banyak kartu nama dari Hamzah dan di situ sudah tertera alamat lengkap perusahaan dia. Saya ambilkan dulu!"


Nenek lalu pergi ke suatu ruangan khusus dan masuk ke dalamnya. Beberapa menit kemudian, nenek kembali ke ruang keluarga bersama Elizia dan membawa kartu nama Hamzah.


"Ini, Nak kartu nama cucu saya. Memangnya kamu sudah membuat lamaran pekerjaan?" tanya nenek penasaran.


"Ini saya sedang membuatnya sekarang. Doain saya ketrima ya, Nek?" tanya Elizia penuh harap. Elizia mulai menulis surat lamaran pekerjaan dengan fokus. Dia ingin membuktikan kepada semuanya bahwa dia juga mempunyai kemampuan.


"Jika kemampuan kamu sesuai apa yang kamu lamar, kamu pasti diterima kok. Kalau kamu tidak diterima nanti Nenek akan bertindak!" jawab nenek tegas.


"Nenek bisa aja. Yasudah, Elizia mau ganti pakaian dulu untuk siap-siap." Akhirnya Elizia selesai membuat surat lamaran kerja. Lalu Elizia memasuki kamar yang ditempatinya dan segera berganti pakaian.


Elizia memakai kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam dan dihiasi kerudung segitiga berwarna hitam yang membalut wajahnya dengan anggun. Dia memoles bedak secara tipis-tipis dan mengoleskan pencerah bibir berwarna kalem sehingga membuat tampilannya mendekati sempurna.


Setelah dirasa rapi, dia langsung ke luar kamar untuk berpamitan dengan neneknya.


"Nek, saya berangkat dulu, ya? Nenek hati-hati di rumah." Elizia mencium takzim tangan nenek Rumi.


"Kamu nanti naik apa?" tanya nenek Rumi sambil mengernyit karena mencemaskan Elizia.


"Elizia naik 'Grab' saja agar cepat. Yasudah, Elizia berangkat dulu." Lalu Elizia berjalan ke arah luar untuk menuju jalan depan dan memesan. 'Grab'.


Mata Elizia melihat Zafian sedang berjalan ke arahnya dan matanya menangkap Elizia yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Elizia? Ngapain kamu di sini dan pakaian kamu rapi sekali?" tanya Zafian penasaran terhadap mantan istrinya.


"Apa pedulimu, Mas? Aku mau pergi ke mana pun kamu tidak perlu tahu, karena kamu bukan siapa-siapa lagi! Urus saja pacar kamu yang manja itu. Oh. Ya cepat urus surat perceraian kita agar hubungan kita tidak menggantung dan aku mempunyai surat sah atas perceraian kita!" jawab Elizia dengan nada ketus.


"Sombong sekali kamu, Elizia. Tenang saja, sebulan lagi surat perceraian kita akan datang. Aku juga sudah muak hidup dengan perempuan garing seperti kamu!"


Karakter Zafian yang dulu lembut dan menghargai wanita kini hilang berubah seratus persen saat Zafian bertemu dengan Rihana mantan kekasihnya dulu yang kini mereka menjalin hubungan asmara kembali.


Seketika Elizia seperti dicekik karena karakter Zafian yang dulu lembut dan menghargai wanita, kini hilang berubah seratus derajat persen. Saat Zafian bertemu dengan Rihana mantan kekasihnya, kini mereka berhubungan kembali dan saling memadu kasih tanpa memiliki rasa malu sesikit pun terhadap Elizia.


"Sudahlah. Jangan banyak menghina saya! Saya mau pergi! Jangan ganggu kehidupanku lagi!" bentak Elizia kepada Zafian tanpa memandang itu siapa karena dia yang dulu lembut terhadap suaminya kini berubah menjadi wanita garang saat hatinya dilukai.


Lalu 'Grab' segera datang, Elizia mulai membonceng dan tidak lama, 'Grab' itu segera tancap gas dan melaju dengan cepat.


Lima belas menit kemudian, Elizia sampai di perusahaan milik Hamzah Anggara. Lalu dia berjalan ke pintu masuk gedung perusahaan 'JAYA GROUP' yang megah. Tidak lama Elizia menemui petugas kantor yang tidak jauh dari pintu utama dan berkata,


"Oh. Ya. Kamu bisa menunggu di ruangan tersebut." Elizia lalu berjalan menuju ruang tunggu yang tidak jauh dari petugas tersebut.


Tidak lama datang seorang pria berumur sekitar 27 tahunan berjalan mendekatinya seraya berkata,


"Nama kamu Elizia?" tanya pria jangkung berwajah bersih tersebut.


"Benar, saya Elizia," jawab Elizia dengan senyum dan sopan.


"Ayo kamu ikut ke ruangan yang saya tunjukan!" Pria itu berjalan menuju ruangan ber-AC dan terlihat beberapa orang duduk dan menghadap komputer.


"Silakan kamu membuat tugas seperti yang ada di contoh lembar kertas ini dan hitung jumlah total pendapatan gaji pegawai sesuai dengan divisi yang tertera di keterangan tersebut! Jika sudah selesai segera temui saya di bangku sana!" Pria itu menyuruh Elizia membuat tugas dokumen 'spreadsheed' pengolah angka dan menghitung total gaji para karyawan.

__ADS_1


"Baik." Lalu Elizia segera berjalan menuju komputer yang sudah disediakan. Dia mulai duduk dan segera mengerjakan tugas sesuai arahan dari pria tadi.


Setelah dua puluh menit, dia berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Sebelum beranjak dari tempat tersebut, dia mengoreksi tugasnya secara teliti. Setelah dirasa benar, lalu Elizia berdiri dan berjalan untuk menemui petugas tadi.


"Kak, saya sudah mengerjakan tugas yang Anda perintahkan." Elizia berdiri di samping pria tadi dan memberi tahu kepada pria tersebut jika dia sudah menyelesaikan tugas.


"Oke, ayo sekarang ikut aku!" Pria itu berjalan ke arah komputer yang digunakan untuk mengerjakan tugas Elizia seraya mengoreksinya. Elizia berdiri di samping pria tersebut dan menunggu keputusan.


Sepuluh menit kemudian, pria itu selesai mengoreksi tugas yang dikerjakan Elizia dan berkata,


"Elizia, ayo segera ke ruangan sana!" Pria itu berdiri dan berjalan cepat menuju sebuah ruangan dan Elizia mengekor di belakangnya.


Setelah sampai, mata Elizia melihat pemuda yang tidak asing baginya yaitu Hamzah Anggara. Dia duduk di kursi yang tertera nama CEO di papan kayu mini dan mengenakan jas berwarna abu-abu dan terlihat tampan dan gagah.


Pria itu menyodorkan berkas dan membisikkan kata sesuatu pada CEO tersebut. Sedangkan Elizia masih melihat CEO itu tanpa berkedip hingga dia disapa olehnya.


"Elizia ayo silakan duduk!" Hamzah memerintahkan Elizia untuk segera menempati bangku dihadapannya.


"I-iya," jawab Elizia seketika dengan terbata-bata dan gugup.


"Kamu gugup begitu kenapa, Nona? Saya Hamzah, teman kamu, jadi kamu bersikap biasa saja," ungkap Hamzah yang sepertinya mengetahui perasaan jiwa Elizia yang berdebar tidak karuan.


"I-iya, Mas. eh Bos," ucap Elizia yang kikuk mau memanggil Hamzah dengan panggilan apa.


"Panggil saja saya, Mas. Seperti biasanya. Kamu tidak perlu sungkan." Hamzah tersenyum melihat kegugupan wanita tersebut.


"Baik, Mas Hamzah. Jadi bagaimana keputusan hasil dari lamaran kerja saya?" tanya Elizia dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


__ADS_2