
Siang itu tepatnya pukul 13.00 siang, Hamzah mendengar seorang bocah berumur sekitar delapan tahun meminta sepotong kue. Bocah tersebut adalah anak dari ibu-ibu tetangganya yang ternyata adalah janda berumur 30 tahun. Hamzah tidak tega melihat anak tersebut sehingga dia mendekati anak itu dan berkata,
"Nama adik-adik ini siapa ya? Adik pengen kue?"
Hamzah sambil berjongkok memanggil dan menyapa bocah laki-laki itu sambil tersenyum dan mengusap lembut wajah anak itu.
"Saya Fikri, Om. Ini adik saya namanya Dito dan Dino. Iya Fikri dan adik-adik saya pengen kue," jawab bocah itu dengan polosnya.
"Ayo ikut Om. Dan ajak kedua Adik kamu itu masuk juga ya? Om nanti akan kasih kamu kue enak sekali. Mau?"
Hamzah dengan senyum manis kepada ketiga bocah tersebut menawari kue kepada mereka. Kebetulan di kulkas ada beberapa kue yang masih segar dan layak dimakan.
"Mau, Om."
Ketiga bocah tersebut secara serentak menjawab tawaran dari Hamzah Anggara. Terlihat raut berbinar dari wajah ketiga bocah tersebut. Dengan segera Hamzah dan ketiga bocah tersebut masuk ke dalam rumah dan memasuki ruang keluarga.
Hamzah mengambil kue tart yang ada di kulkas dan diberikan kepada ketiga bocah tersebut. Sedangkan ibu dari ketiga bocah itu mengekor dari belakang sambil tersenyum.
"Adik-adik, kalian duduk di sini ya? Ini kue tartnya dimakan ya? Eh, Bu, ayo sekalian makan dengan anak-anak Ibu. Jangan sungkan-sungkan untuk makan di rumah kami. Atau mau saya ambilkan nasi beserta lauknya?"
Hamzah meletakkan kue tart di ruang keluarga dan menyuruh ketiga bocah serta ibu dari anak-anak tersebut. Hamzah juga menawari mereka masakan dan lauk pauk.
"Terima kasih, Mas Hamzah. Kami makan kue nya saja. Mas Hamzah tidak perlu repot-repot."
Ibu dan anak itu kemudian mulai memakan kue tart yang sudah dipotong-potong di atas piring oleh Hamzah Anggara. Terlihat wajah senyuman yang terukhir di wajah mereka. Melihat keadaan itu, Hamzah terenyuh dan tersenyum.
"Bu, saya tinggal sebentar untuk menemui istri saya. Nanti saya ke sini lagi."
__ADS_1
Hamzah akan ke kamarnya untuk menengok istrinya. Lima menit kemudian, Elizia terlihat sedang memberi ASI kepada Aslam.
"Sayang, Aslam lagi minum ASI ya? Mas tadi habis melayani beberapa orang tamu yang sedang memakan kue tart yang ada di kulkas. Kasihan dia anak yatim dan hanya tinggal bersama ibunya dan dia ibu yang tadi membantu memasak dan beres-beres di rumah ini. Boleh Kan?"
Hamzah mulai duduk di samping istrinya dan mengecup kening istrinya dengan mesra. Dia memberi tahu kepada Elizia tentang kedatangan ketiga bocah kecil dan ibu mereka yang sedang memakan kue tart.
"Oh. Iya. Boleh, kok. Elizia malah senang."
Elizia yang berbaring dengan posisi menyamping sambil memberikan ASI kepada Aslam mengangguk dan setuju jika suaminya memberikan kue tart kepada anak yatim tersebut.
"Oke, sayang. Mas tidak tega melihat mereka kelaparan karena meminta sepotong kue. Sudah dulu ya? Mas mau menengok mereka."
Elizia menoleh dan mengangguk ketika Hamzah akan menengok bocah yatim tersebut. Tanpa lama, Hamzah menuju ruang keluarga dan ternyata ketiga bocah beserta ibunya sudah tidak berada di ruangan tersebut.
Namun, terlihat secarik kertas berwarna putih dan tertera sebuah tulisan.
Itulah isi sebuah surat yang tertulis di secarik kertas tersebut. Ternyata ibu dan anak-anak itu hanya memakan kue tart yang ada di piring, selebihnya mereka tidak memakannya.
'Ibu-ibu itu mau bekerja di mana ya? Ini 'kan sudah sore,' batin Hamzah dalam hatinya.
Hamzah bertanya-tanya mengenai pekerjaan yang dilakukan ibu tersebut karena waktu sudah sore hari. Mungkin saja bekerja shift sore. Tetapi di dekat wilayahnya tidak ada perusahaan yang mempekerjakan karyawan shift pada sore hari. Hamzah mulai penasaran. Namun, hal itu tidak terlalu dipikirkankannya. Dia hanya berusaha membantu orang-orang yang sedang kesusahan.
Beberapa jam kemudian, Kumandang adzan ashar mulai tiba. Hamzah akan segera ke masjid untuk melaksanakan sembahyang ashar secara berjamaah.
Saat di kamarnya dan sudah berwudhu, Hamzah berpamitan dengan istrinya untuk pergi ke masjid.
"Sayang, Mas mau pergi ke masjid dulu ya? Kamu hati-hati di rumah. Dedek Aslam jangan rewel ya?" tanya Hamzah kepada istrinya untuk berpamitan menuju masjid untuk sholat ashar.
__ADS_1
"Iya. Mas hati-hati ya? Aslam tidak rewel kok Ayah, tenang saja. Mas, kamu cakep banget memakai baju koko seperti itu."
Elizia sangat senang jika suaminya pergi ke masjid secara berjamaah ditandai dengan senyum yang terpancar dari wajah Elizia. Hamzah tampak memakai baju koko berwarna putih dan memakai kopiah dan sarung berwarna hitam sehingga pesona Hamzah terlihat sangat mempesona.
Hamzah mulai berjalan menuju ke masjid setelah berpamitan dengan istrinya dan menyapa bayi mungilnya. Dengan langkah cepat Hamzah menuju masjid. Tujuh menit kemudian, dia sudah sampai di masjid. Hamzah langsung bergabung dengan para jamaah yang sudah datang.
Tidak lama, iqomah pun mulai berkumandang. Hamzah segera menempatkan diri bersama jamaah lainnya dan mulai melaksanakan sembahyang secara berjamaah. Tujuh menit kemudian, Hamzah telah selesai melakukan sembahyang ashar.
Sholat ashar di masjid pun telah selesai dilaksanakan oleh Hamzah. Setelah bersalaman dengan para jamaah Hamzah segera pulang ke rumahnya.
Sebelum sampai di rumahnya, Hamzah ditepuk pundaknya oleh seseorang dari arah belakang. Hamzah segera menoleh ke belakang. Terlihat seorang pria berumur sekitar 35 tahun dan berwajah garang. Pria tersebut bertubuh jangkung dan berperawakan kurus dengan tato bergambar tengkorak di bagian lengan tangannya.
Plak, plak!
Pria jangkung bertato itu menampar pipi kanan dan kiri seorang Hamzah Anggara sampai memerah. Hamzah merasa tidak tahu tentang masalah apa hingga dia ditampar oleh pria tersebut.
"Hai pria sok alim! Jangan pernah mencari perhatian kepada Sarah, kekasihku! Jika sampai aku mengetahui hal ini, kamu akan saya beri pelajaran. Camkan itu!"
Dengan mata yang memelotot dan kedua tangan yang mencekal kerah baju koko milik Hamzah, pria tersebut mengancam Hamzah agar tidak mendekati wanita yang bernama Sarah.
"Jangan menuduh saya sembarangan hai pria tidak tahu diri! Saya pun tidak mengenal wanita yang bernama Sarah! Kamu lancang sekali menampar saya!"
Hamzah mulai emosi karena tiba-tiba dirinya ditampar dengan tamparan yang teramat keras oleh pria misterius. Dia tidak menyangka akan terjadi hal buruk seperi ini.
"Halah, jangan pura-pura tidak tahu. Orang kaya saja belagu!"
Pria itu masih menyudutkan Hamzah dan masih menghinasang CEO. Hamzah sangat kebingungan dengan wanita yang disebutkan oleh pria itu.
__ADS_1