
Tepatnya pukul 10.00 pagi, di rumah Hamzah Anggara kedatangan tamu seorang yang mengaku sebagai 'Baby Sitter' yang diperintah oleh mamanya Hamzah untuk membantu Elizia jika kerepotan yang sebentar lagi akan melahirkan karena mertua Elizia sangat sibuk mengurusi perusahaan dan pondok pesantren. Tamu itu mengaku bernama Siti. Kini Siti sudah berada di ruang tamu bersama dengan Hamzah Anggara yang sedang menginterogasi Siti. Beberapa menit kemudian, Elizia muncul dari arah ruangan belakang. Elizia berkata,
"Dia siapa, Mas? Tiba-tiba kok ada tamu?"
Elizia dikejutkan dengan seorang wanita yang berdandan norak dan duduk di ruang tamu bersama suami tercintanya.
"Eh, sayang. Ayo, duduk di samping Mas. Dia mengaku bahwa dia adalah orang yang diperintahkan mamaku untuk bekerja di sini sebagai calon 'Baby Sitter' agar kamu tidak merasa kerepotan dalam mengurus bayi dan melakukan pekerjaan rumah. Menurut kamu bagaimana, Liz?"
Hamzah Anggara sebenarnya malas meladeni seorang janda seperti yang bernama Siti tersebut namun, itu perintah dari mamanya maka, dia meminta pertimbangan dari isrinya.
"Oh, nama kamu siapa ya?" tanya Elizia kepada wanita yang lebih tua darinya itu dengan nada menyelidik.
"Saya Siti, tetangganya Bu Fatimah," jawab wanita itu sambil tertunduk malu.
Elizia mulai mengamati wanita itu dari atas sampai bawah. Beberapa menit kemudian dia berkata,
"Kamu sungguh ingin bekerja di sini?" tanya Elizia kembali.
Elizia ingin mewawancarai wanita itu agar tidak salah memilih seorang ART.
"Iya. Saya sungguh-sungguh ingin bekerja dengan serius," jawabnya dengan kepala masih menunduk seperti orang grogi.
Padahal saat berbicara dengan Hamzah tadi wanita itu memperlihatkan wajah berani dan mengerlingkan wajah nakal.
"Oh. Jika kamu serius bekerja di sini maka, kamu harus mentaati peraturan saya. Apakah kamu setuju?"
Elizia memberi syarat kepada Siti agar mentaati peraturan yang dibuat oleh Elizia agar Siti tidak berbuat macam-macam dengan suaminya maupun dengan dirinya.
"Memang syaratnya apa ya? Ngomong-ngomong nama Anda Elizia ya?" tanya Siti mulai memberanikan diri bertanya tentang nama Elizia.
Siti memastikan untuk memanggil calon majikannya dengan sebutan apa Karena Elizia masih sangat terlihat muda dari dirinya yang sudah berusia 30 tahun.
"Ya. Saya Elizia. Syaratnya kamu tidak boleh dandan secara berlebihan, tidak boleh memberi racun kepada keluarga kecil kami dan satu lagi, jangan pernah berusaha untuk menjadi perebut suami saya! Jika Mbaknya melanggar syarat-syarat tersebut maka, secepatnya harus meninggalkan rumah ini dan tanpa digaji dan diberi uang pesangon, setuju?"
Itulah syarat-syarat yang diberikan oleh Elizia yang sudah duduk di sofa sambil menatap serius ke arah Siti.
__ADS_1
Degh!
Hati Siti merasa tersindir seketika karena tujuannya di rumah tersebut tidak lain hanyalah untuk mendapatkan pundi-pundi kekayaan dari keluarga Hamzah dan merebut CEO tampan milik Elizia.
Kekayaan keluarga Hamzah Anggara sudah terkenal di kotanya. Jadi, banyak janda muda yang gila dunia yang ingin dipersunting oleh Hamzah Anggara apa pun caranya termasuk Siti. Namun, masih di garis awal, Siti sudah dikejutkan dengan persyaratan yang membuatnya terkejut karena syarat yang diberikan Elizia adaĺah salah satu dari tujuannya. Dengan terpaksa, Siti berkata,
"Saya setuju, Nyonya. Saya akan memenuhi syarat tersebut."
Sambil tertunduk, Siti terpaksa menyetujui persyaratan tersebut, namun hati kecilnya masih pada pendiriannya. Dia akan merebut CEO tampan tersebut. Karena baru awal melihatnya saja, Siti merasa berbunga-bunga. Dia melihat pesona Hamzah Anggara yang jutek dan kalem mempesona. Bagaimana tidak, hidung mancung, paras rupawan dan bertubuh atletis, itulah ciri-ciri seorang Hamzah Anggara yang membuatnya dimabuk asmara. Lalu Hamzah Anggara meninggalkan ruangan tamu tersebut dan akan ke dalam ruangan entah mau apa pria dewasa tersebut.
Terlihat Elizia sedang diam sejenak dan akan menyampaikan hasil keputusannya. Seraya dia berkata,
"Oke, saya memberi kamu kesempatan kerja mulai dari sekarang. Ayo, aku tunjukan kamar kamu. Nanti kamu ganti pakaian yang lebih tertutup ya? Dan jangan pake make up? Setuju?"
Sambil berjalan, Elizia memberi nasihat kepada ART barunya. Dia ingin menguji Siti apakah dia sanggup menjadi wanita sederhana yang tidak neko-neko. Jika dia tidak sanggup memenuhi perintah dari Elizai itu tandanya ART tersebut bukan wanita baik-baik dan siap-siap hengkang dari rumah tersebut.
"Setuju, Nyonya."
Siti tersebut berpura-pura setuju dan memasang wajah kalem. Untuk memulai rencananya Siti harus bermain pintar dari majikannya.
Elizia menyuruh Siti untuk memakai pakaian yang menutup aurat agar menjaga diri dan tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Lalu Siti menuruti perintah majikannya. Dia lalu berganti pakaian yang longgar dan tidak memakai make up. Setelah selesai berpakaian, dia mulai membuka pintu dan ternyata Elizia masih berdiri dan menunggu Elizia keluar.
"Nyonya masih di sini? Sekarang tugas saya apa ya?" tanya Siti yang masih dengan wajah kalemnya.
"Iya. Tugas kamu sekarang temani saya untuk berbelanja di warung bu Tuti. Saya akan menunjukan di mana letak warung bu Tuti agar kamu tidak kebingungan jika akan membeli bahan masakan di esok hari."
Elizia ingin ke warung untuk membeli sayur dan buah karena stok di kulkas akan habis. Siti mengangguk tanda setuju. Mereka lalu berjalan menuju warung bu Tuti.
Tujuh menit kemudian, dia telah sampai di warung bu Tuti.
"Eh. Eliz. Mau beli apa? Tumben bawa teman. Memangnya siapa dia?" tanya bu Tuti penasaran.
Bu Tuti melihat-lihat wajah Siti dengan tatapan menyelidik dan lama memandanginya.
"Saya mau beli buah mangga yang sudah ranum sekilo, sayur bayam satu ikat dan cabainya setengah kilo. Sudah itu saja. Bu, kenapa Anda memandang Siti seperti itu ya?"
__ADS_1
Elizia menyampaikan bahan masakan yang akan dibelinya dan penasaran dengan bu Tuti yang sedang memandang ke arah Siti.
"Itu namanya Siti? Dia mirip dengan teman kerja saya dulu yang bekerja di perumahan elit milik majikan saya dulu. Namanya tetapi bukan Siti tetapi Markonah. Dan dipanggil Onah. Dia itu tukang tikung majikan saya. Sampai-sampai dia dipecat gara-gara main serong dengan juragan pria saya dulu."
Bu Tuti mulai penasaran dengan Siti karena wajahnya teramat mirip dengan teman kerjanya dulu saat masih bekerja sebagai ART. Bu Tuti memang tidak salah melihat. Nama lengkap Siti adalah Siti Markonah. Dan saat menjadi ART dia dikenal dengan sebutan Onah.
"Saya Siti, Bu. Bukan Markonah. Di dunia ini memang banyak orang yang mirip," jawab Siti membela diri.
Siti berusaha menyembunyikan identitas aslinya yang sebenarnya. Nama sebenarnya yang diberikan oleh orang tuanya adalah Siti Markonah, namun saat pulang kampung, namanya sudah tercemar maka, dia mengubah nama KTP-nya menjadi Siti Mei Sarah.
"Sudahlah, Bu. Dia itu Siti bukan Markonah. Jika Ibu Tuti belum percaya, coba Siti, keluarkan KTP kamu?"
Seketika Elizia menyuruh Siti untuk mengeluarkan KTP-nya yang entah dia bawa atau tidak.
"Ini, Bu."
Dengan berpura-pura memasang wajah polos, Siti mengeluarkan KTP yang sudah dia perbaruinya kepada bu Tuti. Hati Siti kini mulai tersenyum penuh kemenangan, karena dia berhasil menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Ada gunanya juga dia dulu mengubah nama KTP-nya.
"Oh. Ternyata kamu bukan Siti yang saya maksud, maaf ya?"
Dengan wajah malu bu Tuti meminta maaf kepada Siti. Namun, dia tidak bisa memungkiri, wajah dan cara berbicaranya persis dengan Markonah. Wanita yang suka membuat ulah.
"Iya. Tidak apa-apa, Bu. Ibu tidak bersalah karena kata Ibu memang saya mirip dengan Siti yang Ibu maksud," jawab Siti dengan nada bicara yang dibuat setenang mungkin agar tidak dicurigai oleh siapa pun.
"Yasudah. Ya, Bu. Kami pamit pulang dulu. Semoga laris dagangannya."
Setelah Elizia membayar seluruh belanjaannya. Dia dan Siti mulai pulang. Tujuh menit kemudian, mereka sampai di rumah. Dan bahan masakan tersebut dia letakkan di kulkas.
"Siti, kamu bisa langsung masak apa saja kesukaan kamu. Kebetulan di dalam tudung saji hanya ada rendang sapi. Jika kamu ingin masak sayur, masak saja! Aku mau ke kamar dulu!"
Elizia mengambil sebuah apel merah di kulkas dan mencucinya untuk dia makan. Dia akan mencari suaminya di kamar. Namun, suaminya tidak dijumpai. Lantas, Elizia mengurungkan niat untuk ke kamarnya. Dia akan mengintai Siti. Apakah dia menjalankan perintah sesuai dengan prosedur.
Beberapa detik kemudian, Elizia sudah sampai di dapur. Lantas die terkejut karena terlihat Suaminya berada di dapur bersama dengan Siti. Lalu Elizia semakin mendekat ke arah mereka berdua. Terlihat Siti sedang menggenggam erat tangan suaminya di tempat cuci piring.
"Mas, Siti, kalian sedang apa?"
__ADS_1
Dengan hati panas dan terbakar api cemburu, Elizia membentak Hamzah dan Siti.