Istri Lusuh Yang Kau Abaikan

Istri Lusuh Yang Kau Abaikan
Elizia Terkejut


__ADS_3

Pagi itu, pukul 09.00 WIB, Hamzah mulai memasuki ruangan yang terdengar gaduh. Tampak Annisa dan pak Umar sudah berada di ruang keluarga. Pak Umar sedang duduk di sofa dengan raut wajah sedih sementara Annisa sedang duduk di sofa dengan kaki lurus ke depan dengan mata melotot tajam ke arah Elizia. Di samping bawah lantai terdapat pecahan vas bunga yang berserakan.


Annisa baru saja memecahkan vas bunga karena melihat Elizia masih berada di rumahnya. Annisa tidak bisa mengendalikan emosinya karena sedang dilanda tekanan batin yang kuat.


Plak!


Terpaksa pak Umar berdiri dari duduknya dan tiba-tiba dia menampar pipi anaknya yang dalam kondisi masih sakit. Dia sudah lehilangan kesabarannya dan sudah berusaha menasihati anaknya dengan baik, namun tetap malakukan hal kasar. Dia malu keluarga besarnya melihat tingkah anaknya yang seperti psikopat. Mungkin ini efek dari Annisa yang selalu dimanja oleh almarhum mamanya yakni Zulaika.


"Annisa! Kamu sungguh wanita yang tidak mempunyai etika! Ayah tidak pernah mengajarkan hal kasar ini kepadamu! Hentikan semuai tindakan kasar yang kamu perbuat itu! Elizia itu tidak bersalah!"


Melihat kejadian tersebut, pak Umar menampar Annisa karena dia sudah kelewatan hingga Annisa menangis.


Terlihat juga Nenek Rumi, beserta kedua orang tua Hamzah tersebut dengan raut wajah panik dan cemas karena melihat kejadian yang tidak terduga tersebut. Mereka tidak menyangka, Annisa memiliki sifat kasar seperti itu.


Sepuluh menit kemudian, Hamzah datang dan sudah berdiri di tengah-tengah keluarga pak Umar. Lalu Annisa menoleh ke arah Hamzah dan berkata,


"Mas Hamzah, akhirnya Mas sudah datang ke sini. Izinkan saya menjadi istri kedua Mas Hamzah karena saya sangat mencintai dirimu. Jika saya menikah dengan Mas Hamzah maka, saya akan menjadi teman baik Elizia dan saya tidak akan membencinya lagi."


Bersamaan dengan itu, Hamzah datang dan tanpa rasa malu, Annisa berbicara kepada pria dewasa tersebut untuk meminta menjadi istri kedua. Hamzah tidak menggubris pertanyaan dari Annisa dan langsung berkata,


"Ayah, Mama dan pak Umar, Hamzah izin pulang bersama Elizia dan nenek Rumi ya? Kita sudah dua hari di sini dan berusaha peduli dengan keluarga pak Umar. Setelah Annisa berhasil selamat dan bisa di rumah lagi, kita merasa senang dan bersyukur. Saya rasa urusan saya dengan keluarga pak Umar sudah selesai."


Hamzah Anggara meminta diri untuk segera pamit pulang. Dia merasa urusannya dengan keluarga pak Umar sudah selesai. Namun, ketika pak Umar mulai angkat bicara, Annisa menyela dan berkata,


"Mas Hamzah! Jawab dulu pertanyaan dariku? Apakah kamu mau menikahi aku walau hanya nikah siri aku akan tetap setuju. Aku anggap diriku ini seperti patung 'kah? Apakah Mas tidak memiliki perasaan sedikit pun tentang hati ini?"


Annisa mengulang kembali pertanyaannya sembari meneteskan air mata. Annisa hanya ingin menikah dengan Hamzah Anggara walau hanya nikah siri dia tetap menerima karena dia sudah dibutakan oleh rasa cinta yang membara. Melihat Annisa keras bagai batu akhirnya Elizia angkat bicara,


"Mas Hamzah, tolong nikahi Annisa. Saya akan menerima semua ini dengan ikhlas agar masalah ini cepat selesai dan kasihan Mbak Annisa dia sangat mencintai Mas Hamzah."


Akhirnya dengan kelembutan hati Elizia, dia meminta suaminya untuk menikahi Annisa. Dia tidak tega melihat tekanan batin yang dialami Annisa.


"Istriku, kamu kok tega bilang begitu? Mas tidak mau sedikit pun melukai hati lembut kamu. Mas hanya mencintai kamu dan Mas tidak sanggup jika harus mendua."

__ADS_1


Hamzah kecewa dengan ucapan Elizia yang tidak bisa mempertahankan cinta mereka berdua. Hamzah sangat dilema dan mengacak rambutnya. Lantas, suasana menjadi hening seketika.


Elizia kini menahan tangis dan di sampingnya nenek Rumi sedang merangkul pundaknya dan dia juga menangis karena keluarga mereka sedang mengalami tragedi rumah tangga yang mengharukan. Sebenarnya, di dalam lubuk hati paling dalam, dia menjerit tidak akan sanggup jika harus berbagi dengan seorang madu.


"Tidak, Liz. Saya tidak akan menikahi Annisa! Ayo kita segera pulang! Ayo, Nek."


Hamzah penggamit tangan Elizia dan memberi kode kepada nenek Rumi untuk segera pulang. Nenek Rumi hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah Hamzah Anggara. Nenek Rumi juga kurang setuju jika Hamzah menikah dengan Annisa.


Tidak lama mereka segera menaiki mobil Alphard Hitam. Hamzah segera menyalakan mesin dan langsung tancap gas dengan kecepatan sedang.


Dua puluh menit berkendara, mereka sampai di rumah. Mereka segera turun dari mobil setelah sampai di depan garasi mobil. Keempat satpam keluaraga Hamzah sudah berdiri dan membawakan barang untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


Akhirnya mereka sampai di rumah mereka dengan keadaan selamat dan mereka beristirahat di ruang keluarga.


"Nenek, jika sangat lelah tidurlah, biar Elizia dan saya yang ada di sini. Kasihan Nenek selama dua hari belum istirahat. Nanti Hamzah bisa pesan makanan online, pasti Nenek lapar ya?"


Hamzah iba dengan nenek kesayangannya dan akan memesankan makanan online untuk nenek dan keluarganya.


Nenek sudah makan bakso tadi pagi dan akan segera beristirahat karena keadaannya yang sudah tua jadi mudah lelah. Hamzah mengangguk atas jawaban yang nenek berikan sementara Elizia masih terdiam menyimak obrolan antara nenek Rumi dan suaminya.


Nenek berjalan menuju ranjang tidurnya. Kini tinggal Elizia dan Hamzah yang sedang berada di ruang keluarga.


"Liz, akhirnya kita sampai di rumah juga. Aku sangat merindukanmu, sayang. Nanti kita makan bareng ya setelah pesanannya datang?"


Hamzah memeluk istrinya dengan mesra. Hati Hamzah sangat tenang jika dekat dengan Elizia.


'Liz, andai kamu tahu di dalam lubuk hatiku, diriku sangat menyayangi kamu. Aku tidak akan menodai pernikahan kita. Jiwaku satu denganmu sejak dahulu. Aku ingin bersamamu dan kini Tuhan menyatukan kita maka, aku tidak akan mengingkari keputusan Tuhan. Dia menitipkan bidaari yang harus aku jaga setiap waktu,' desis Hamzah di dalam hatinya yang masih memeluk istrinya dengan erat.


Hamzah tidak mau menodai pernikahan mereka berdua karena hatinya sudah bertekad sejak dahulu jika dia bisa menikahi Elizia maka dia tidak akan mendua walaupun godaan rumah tangga itu sangat berat dan silih berganti.


Lima menit kemudian, pesanan makanan telah tiba yang diantarkan oleh kurir dan diberikan kepada satpam yang berjaga. Pak Joni mengetuk pintu dan segera dibuka oleh Hamzah. Setelah pesanan sudah di tangan Hamzah lalau dia mendekati istrinya.


"Sayang, pesanannya sudah datang, Yuk, kita makan bersama."

__ADS_1


Mereka akhirnya makan bersama. Kebahagiaan yang mereka lakukan adalah sederhana. Cukup makan bareng dengan makanan sederhana dan saling menyuapi. Sungguh ada rasa bahagia yang tiada terkira.


Saat mereka tengah asik menikmati makanan, ada yang megetuk pintu dengan keras. Lantas, Elizia segera membuka pintu.


"Bu Tuti, Bu Ratih. Ayo silakan masuk!"


Ternyata anggota Gengster yang datang. Lalu dengan Ramah Elizia mempersilakan tamunya di ruang tamu.


"Iya, Liz. Kamu baru saja tiba di rumah ya? Beberapa hari ini saya dengar dari satpam, kalian sedang pergi ya? Saya ke sini mau mengajak kamu menjenguk seseorang."


Bu Ratih angkat bicara dan ingin mengajak Elizia menjenguk seseorang.


"Benar, ibu-ibu. Kami sedang menjenguk keluarga nenek Rumi yang sakit tapi kami sekarang sudah pulang. Jika boleh tahu menjenguk siapa ya, Bu?" tanya Elizia dengan nada penasaran.


Elizia menjelaskan kepergiannya di dua hari yang lalu sambil duduk di ruang tamu di sebelah Hamzah yang sudah berada di ruang tamu sedang menyimak pembicaraan istri dan ibu-ibu tersebut.


"Ayo, pokoknya kamu ngikut saja! Karena kondisi sengat darurat. Kami tidak banyak waktu untuk berbicara."


Ibu-ibu itu tidak sempat memberi tahu Elizia siapa yang sedang sakit. Lalu Elizia menengok ke suaminya untuk memberikan kode apakah diizinkan pergi atau tidak. Lalu Hamzah mengangguk pertanda dia mengizinkan.


"Bu, saya mengizinkan istri saya pergi, tapi saya nitip Elizia dijaga ya?"


Hamzah angkat bicara supaya anggota Gengster tersebut menjaga dan melindungi Elizia.


"Tenang saja Mas ganteng. Elizia aman bersama kami."


Lala bu Ratih menggandeng tangan Elizia. Dan mereka segera pergi dengan naik Bajai yang telah sengaja mereka pesan.


Tujuh menit kemudian, Bajai yang ditumpangi Elizia dan ibu-ibu Gengster berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar. Di situ sudah banyak ibu-ibu yang berdatangan. Tiba-tiba mereka mendengan seorang yang kesakitan.


"Mas, perih sekali. Tolonng aku, Mas. Kembalikan calon bayiku. Hik. Hik."


Terdengar rintihan wanita muda menangis sambil kesakitan, Elizia terperangah melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2