
"Mas, Nenek Rumi belum bangun dan badannya dingin sekali serta wajahnya pucat. Kita bawa ke dokter ya, Mas? Saya takut, Nenek akan ...."
Elizia berpikiran yang tidak-tidak terhadap neneknya.
"Iya, ayo kita bawa segera Nenek ke rumah sakit."
Tanpa berpikir panjang, Hamzah langsung membopong nenek Rumi untuk dilarikan ke rumah sakit. Elizia mengekor di belakang Hamzah sambil membawa tas tentengnya. Tidak lama, nenek Rumi beserta Hamzah dan Elizia sudah berada di dalam mobil. Hamzah segera menyalakan mesin dan mulai berkendara dengan kecepatan tinggi. Hamzah merasa berdebar-debar atas kondisi yang menimpa nenekya.
"Istriku, pasti Nenek kelelahan gara-gara kemarin selama dua hari tidak istirahat. Annisa memang tidak punya hati dan Mas tidak akan sudi menikah dengan wanita egois seperti dia!"
Hamzah menepuk jidatnya karena geram dengan Annisa. Jika neneknya tidak di rumah Annisa selama dua hari pasti neneknya tidak akan kelelahan dan tidak stres pikirannya memikirkan berbagai masalah keluarga. Hamzah sangat sedih dan pikirannya tidak tenang.
"Mas, kita berdoa saja semoga Nenek Rumi cepat sadar dan bisa bersama dengan kita kembali dan bercanda ria. Sekarang serahkan semuanya kepada Sang Pencipta."
Elizia mencoba bersikap tenang dan berusaha mendinginkan pikiran suaminya yang tersulut emosi dan teringat kelakuan buruk Annisa yang ada hubungannya dengan neneknya yang saat ini sedang tak sadarkan diri.
Dua puluh menit berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Hamzah segera mematikan mesin mobil dan turun dari mobil diikuti oleh Elizia. Hamzah memanggil perawat untuk segera menangani nenek Rumi yang saat ini masih tak sadarkan diri. Tidak lama beberapa perawat membawa brankar menuju mobil Hamzah yang di dalamnya masih terdapat nenek Rumi yang terbaring di jok tengah mobil.
Beberapa menit kemudian, nenek Rumi diangkat oleh beberapa perawat pria menggunalan alat brankar menuju ruang UGD untuk diperiksa.
Hamzah dan Elizia menunggu di ruang tunggu tepat berada tidak jauh dari depan ruang UGD.
"Mas, semoga nenek Rumi bisa selamat, ya? Eliz sangat menyayangi nenek Rumi."
Mata Elizia berkaca-kaca sambil bercakap-cakap dengan suaminya agar hatinya sedikit lebih tenang. Elizia teringat nenek Rumi saat pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya bersama dengan Hamzah yang waktu itu belum menikah. Elizia masih berhutang budi banyak dengan nenek Rumi yang baik hati dan menerima Elizia apa adanya dan tanpa dimarahi sedikit pun.
"Iya, kita doakan saja, ya? Mas juga harap-harap cemas. Mas tidak mau kehilangan nenek secepat ini. Bagiku nenek adalah seperti kedua orang tua Mas."
Lalu mereka terdiam dan mendoakan nenek Rumi di dalam hati mereka masing-masing. Mereka pasangan pengantin baru yang saling menyayangi nenek Rumi.
__ADS_1
"Mas, Ayah dan Mama kamu tidak ditelepon?" tanya Elizia menyelidik.
Elizia teringat dengan orang tua suaminya yang belum sempat diberi tahu. Lalu dia memberi tahukan hal tersebut kepada suaminya untuk segera menelepon kedua orang tua suaminya.
"Oh. Iya, Liz. Mas akan segera menelepon mereka karena ini adalah kondisi darurat!"
Hamzah lalu segera mengeluarkan gawai dari sakunya untuk menelepon ayahnya. Namun, sebelum sempat menelepon keluar dokter berumur sekitar 30 tahun dan di seragam dokternya tertera nama 'Suseno' yang sedang mendekat ke arah Hamzah dan Elizia. Lantas dia berkata,
"Ini dari keluarga nenek yang bernama Ruminah?" tanya dokter Suseno menyelidik dan sambil berdiri dengan menatap intens ke arah Hamzah.
"Benar, Dok. Saya cucu dari nenek Ruminah? Bagaimana keadaan nenek saya?" tanya Hamzah dengan cemas dan berdebar-debar. Elizia juga terlihat raut wajah cemas dan menggigit kedua jarinya.
"Baik. Sebelum saya menjelaskan kondisi nenek Anda, saya mau memberikan penjelasan mengenai penyakit yag dideritanya. Nenek Anda mengalami hipotermia yakni badannya suhu badannya dibawah suhu normal dan mengalami kedinginan dan kondisi yang ngedrop. Jadi, kami sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien, namun kehendak Tuhan berbeda. Kini nenek Rumi telah meninggal dunia. Semoga kalian menerima dengan ikhlas kepergiannya."
Begitulah penjelasan dari dokter Suseno. Nenek Rumi telah meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Memang sudah udzur jadi wajar nenek Rumi meninggalkan dunia saat ini.
"Benarkah itu, Dok?" tanya Hamzah kembali karena belum percaya. Raganya terlihat lemas mendengar penuturan dari dokter tersebut. Elizia kini air matanya tidak terbendung dan keluar deraian air mata. Elizia tidak menyangka akan kehilangan nenek Rumi dalam waktu secepat ini.
Dokter itu melenggang pergi karena pasien yang akan ditangani begitu banyak. Karena terlihat banyak pasien yang mulai berdatangan. Hamzah segera mengambil gawainya di saku celananya dan mulai menelepon ayahnya. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon mulai tersambung.
"Halo, ada apa, Hamzah? Apa ada kabar penting?" tanya ayah dari Hamzah di seberang sana dengan nada nyaring dan penasaran.
"Ayah, nenek sekarang ada di rumah sakit "Siaga Medika" dan kini nenek telah meninggal dunia karena hipotermia. Hamzah dan tim rumah sakit akan segera ke rumah nenek Rumi untuk melakukan prosesi pemakaman. Ayah tolong beri tahu warga bahwa nenek telah meninggal. Hamzah di sini harus mengurusi administrasi agar segera selesai."
Hamzah menjelaskan kepada ayahnya mengenai meninggalnya nenek Rumi. Hamzah tergesa-gesa karena akan segera mengurusi biaya administrasi dan lain-lain.
"Innalillahi wa innaillaihi roji'un. Baik, Ayah dan Mama serta kerabat lainnya akan segera ke rumah Nenek Rumi. Kamu di sana harus tenang dan selesaikan seluruh administrasi jika ada kendala bisa hubingi Ayah!"
Hamzah segera mematikan sambungan telepon secara sepihak. Akhirnya dia sedikit lega karena sudah menghubungi pihak keluarganya. Lalu Hamzah dan Elizia menengok neneknya di ruangan UGD untuk melihat wajah nenek Rumi yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Nek, terima kasih atas kebaikanmu telah menjaga Elizia dengan baik. Hamzah tidak bisa membalas kebaikan Nenek. Semoga Nenek bahagia di alam sana."
Hamzah membuka kain yang manutupi wajah nenek Rumi dan bercakap kepada jenazah tersebut. Dengan reflek bulir bening menetes dari pipinya. Sementara Elizia memegang pundak suaminya dan ikut menitikkan air mata sambil menenangkan hati suaminya. Tidak lama setelah dirasa puas melihat jenazah nenek Rumi, mereka segera ke kasir untuk mengurusi administrasi. Beberapa menit kemudian, transaksi telah berhasil mereka lakukan.
Satu jam kemudian, nenek Rumi akan segera diantar ke rumah duka. Hamzah dan Elizia menaiki mobil mereka sendiri dan berada di belakang mobil ambulan yang membawa jenazah nenek Rumi. Dua puluh menit kemudian, mobil jenazah nenek Rumi beserta keluarganya telah sampai di rumah kediaman. Lalu petugas segera menurunkan jenazah nenek Rumi dan dibawa masuk ke dalam rumahnya untuk segera dimandikan.
Para warga sudah banyak yang datang untuk membantu melakukan prosesi pemakaman nenek Rumi.
Di tengah-tengah kerumunan terjadi percakapan antara Rihana dan tetangganya.
"Ibu-ibu tahu tidak, jangan-jangan nenek Rumi meninggal karena diracun Elizia. Sebelum ada Elizia, nenek Rumi sehat-sehat saja dan tidak pernah sakit. Saya curiga Elizia ingin menguasai harta milik nenek Rumi yang kaya raya. Walaupun saya pendatang baru tapi 'kan otak sata encer?"
Rihana berbisik-bisik kepada ibu komplek yang sedang bertakziah ke rumah nenek Rumi untuk meghasud ibu tersebut agar Elizia tersudutkan. Setelah kematian calon bayinya, dia belum sadar diri dan belum kapok untuk menghasud orang lain. Rihana sangat iri dengan Elizia yang sekarang berubah menjadi seorang istri dari pengusaha kaya raya. Dia tidak membiarkan dirinya disaingi oleh Elizia yang dimatanya dulu adalah gadis lusuh yang selalu dia hina.
"Rihana, kamu jangan sembarang menuduh seseorang dosa! Elizia itu gadis baik, tidak seperti kamu tukang fitnah! Ngomong jelek sekali lagi di depan saya maka saya lempar sendal berbau tahi ayam ini, mau!"
Ibu-ibu berambut keriting yang memakai bando di rambutnya tidak mau termakan hasutan Rihana yang pandai bersilat lidah. Ibu-ibu itu malah mengamuk kepada Rihana dengan mata yang membola dan berkacak pinggang. Rihana selalu membuat kericuhan walaupun di tempat orang meninggal sekali pun.
"Ibu tidak tahu ya? Orang sekarang itu munafik. Luarnya saja yang baik, tapi kita tidak tahu di dalam hati Elizia sebusuk apa?"
Rihana masih belum menyerah menyudutkan Elizia karena dia tidak mau, saingannya selalu menang dan dipuji banyak orang. Dia sangat dendam kepada Elizia.
Plak!
Seorang pria jangkung berwajah rupawan menampar pipi Rihana yang halus. Lalu raut wajah Rihana memerah dan terlihat raut wajah marah.
"Mas Zafian! Tega sekali kau menampar diriku? Kau lebih membela wanita lusuh itu dari pada aku! Dasar suami brengsek!"
Di tengah-tengah kerumunan orang yang bertakziah, tanpa malu Rihana mengumpat kepada suaminya sendiri.
__ADS_1
"Cepat pulang dan jangan membuat malu keluarga saya! Kamu benar-benar wanita ular! Mulut kamu sangat berbisa! Aku kecewa menikah dengan kamu!"