
"Mas! Aku ada di mana?"
Perlahan-lahan Elizia membuka matanya. Samar-samar terlihat bahwa dia sedang berada di salah satu ruangan rumah sakit. Berangsur-angsur kesadarannya mulai pulih kembali. Dia melihat ke semua sudut ruangan tidak dijumpai satu orang pun yang menemaninya termasuk suaminya. Dia berusaha menengok ke kanan dan ke kiri dan tidak dijumpai satu oran pun.
'Ya, Tuhan. Di manakah suamiku gerangan? Apakah dia baik-baik saja? Aku sangat merindukannya. Ya Tuhan, lindungilah suamiku dari bahaya dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat kepadanya,' desis Elizia di hatinya.
Elizia sangat khawatir dan cemas dengan kondisi suaminya yang kini entah ke mana. Dia berharap keselamatan selalu menyertai suaminya. Dia yang masih lemah di ranjang rawat inap di salah satu rumah sakit tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kepala dan kakinya terasa sakit seperti bekas benturan.
Kriet!
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Pria jangkung memakai pakaian serba putih dan membawa alat medis datang menghampirinya dan ditemani oleh dua perawat cantik. Terlihat dokter dengan nama Rama Andhika sedang memeriksa Elizia. Dokter itu memeriksa kondisi mata, denyut nadi dan kecepatan detak jantung Elizia. Saat itu, Elizia berdebar-debar karena dokter itu menatapnya sangat dekat dan tanpa berkedip. Dan parahnya dokter itu sangat tampan seperti artis korea yang bernama Lee Min Ho.
"Maaf, Dokter. Kalau boleh tahu suami saya ada di mana? Kok tidak ada di sini? Apakah dia baik-baik saja?"
Elizia memberanikan diri untuk bertanya karena dia sangat mencemaskan suaminya tersebut. Terakhir dia mengingat kejadian kecelakaaan itu saat suaminya bersama dengannya menabrak sebuah pohon besar dan setelahnya Elizia tidak ingat apa-apa lagi.
"Oh. Iya. Nona. Suami Anda sekarang berada di ruang ICU karena mengalami pendarahan pada bagian kepala yang sangat banyak. Dia sedang dalam proses transfusi darah."
Dokter muda itu menjelaskan di mana Hamzah berada. Karena kepala Hamzah terbentur stir saat kecelakaan berlangsung. Sedangkan Elizia hanya luka lecet sedikit di bagian jidat dan kakinya yang terbentur salah satu bagian mobil. Namun, kondisi Elizia masih lemas karena tubuhnya tertindih oleh bagian mobil yang telah rusak.
"Tapi suami saya bisa selamat 'kan, Dok? Saya sangat khawatir kepada suami saya, Dok. Saya ingin bertemu dengannya."
Mata Elizia berkaca-kaca. Dia tidak menyangka dirinya dan suaminya akan mengalami kecelakaan yang membuat mereka tak sadarkan diri dan harus dirawat di rumah sakit. Kini Elizia baru sadar, keadaan suaminya lebih parah dari dirinya.
"Sudahlah. Nona. Pasti suami Anda akan selamat. Percayalah. Kita berdoa saja dan Anda sedang hamil, bukan? Saya harap jangan berpikir tentang masalah yang berat, agar kandungan Nona tetap sehat. Nona, ini kartu nama saya. Jika adqa apa-apa bisa hubungi saya. Dan sekarang saya tinggal sebentar untuk memeriksa suami Anda. Dan kamu harus istirahat banyak."
Dokter ganteng yang bernama Rama tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi suaminya yang kini masih di ruang UGD dan masih tak sadarkan diri. Seteah memeriksa Elizia, dia memberikan kartu nama dan dengan segera akan pergi kembali untuk memeriksa suaminya. Kebetulan suaminya juga ditangani oleh dokter yang sama.
Elizia hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini yang sedang mengalami musibah. Menunggu itulah kata yang pas untuknya saat ini menantikan suaminya dengan hati yang berdebar-debar. Lima menit kemudian, seorang petugas memberikan menu masakan kepada Elizia.
__ADS_1
"Mbak, ini masakannya. Kata Dokter, masakan dan buah ini harus segera dimakan agar kondisi Mbak cepat pulih kembali. Yasudah kalau begitu, saya bisa pergi. Semoga lekas sembuh dan selamat menikmati."
Petugas konsumsi rumah sakit yang memakai seragam khas berwarna biru tua menyambut Elizia dan memberi perhatian agar segera menghabiskan menu masakan dari rumah sakit.
Saat melihat menu masakan tersebut Elizia berasa mual. Hanya melihat masakan itu saja, rasanya sudah mual. Dia mengurungkan niat untuk memakan menu masakan tersebut. Perutnya saat itu tidak berselera makan sesikit pun.
'Aku harus menelepon Mama. Aku harus memberi kabar kepada mereka agar aku ada yang menemani,' gumam Elizia di dalam hatinya.
Dia merasa kesepian di rumah sakit tersebut. Karena saat itu waktu menunjukan pukul 21.00 WIB. Elizia merasa agak takut berada di rumah sakit sendiri di malam hari. Sebelum sempat menelepon mertuanya, Masuk dokter Rama dan mendekatinya seraya berkata,
"Bagaimana, Anda sudah makan? Kok, makanannya masih utuh? Apa kamu mual-mual?"
Dokter itu datang dan memeriksa kondisi Elizia. Terlihat wajah dokter itu mengkhawatirkan pasiennya karena tidak mau makan.
"Saya merasa mual, Dok. Saya hanya ingin bertemu dengan suami saya. Apakah dia sudah sadar? Apakah keluarga saya ada yang datang menjenguknya?" tanya Elizia menyelidik.
"Iya. Anda mual itu karena efek dari hamil. Oke saya akan memberikan biskuit ini untuk Anda. Anda harus segera makan! Agar calon dedeknya sehat, ya? Tidak boleh ngeyel. Soal suami Anda, biarkan dia istirahat di ruangan VIP no. 2. Keluarga Anda tadi siang sudah menjenguk kalian, namun sekarang mereka sudah kembali lagi karena ada urusan penting. Besok pagi mereka akan kembali ke sini."
Dokter itu memberi perhatian kepada Elizia karena sangat kasian dan simpati.
"Jadi suami saya sudah sadar, Dok? Saya ingin bertemu dengannya?"
Mata Elizia berkaca-kaca dan merengek-rengek ingin segera bangun dan menemui suaminya.
"Tenanglah, Nona. Tunggu kondisi Anda membaik terlebih dahulu. Biarkan suami Anda pulih, maka nanti kami dari tim medis akan mengantarkan Anda ke ruang suami Anda berada. Sekarang tidurlah. Atau jika takut saya akan menemani di sini?"
Dokter itu tiba-tiba menawarkan diri untuk menemaninya. Sontak Elizia diam dan terkejut. Hatinya merasa aneh dengan perhatian dokter tampan yang bernama Rama tersebut.
"Apa? Ditemani Dokter? Dokter becanda 'kan?"
__ADS_1
Elizia merasa heran dengan omongan dokter Rama yang membuat jantung berdebar kencang. Dia takut dokter itu akan berbuat macam-macam kepadanya.
"Jika kamu mau, saya akan menemani Anda atau menyuruh salah satu perawat untuk menemani Anda. Kasihan jika melihat Anda ketakutan," jawab dokter tampan itu sambil menatap tajam ke Elizia.
"Oh. Saya bisa sendiri, Dok. Dokter tidak usah repot-repot nanti ketahuan perawat saya malu sendiri dan menjadi gunjingan para petugas medis di sini."
Elizia menganggap dokter itu akan menemani sungguhan dari tatapan matanya. Tidak ada kata bercanda. Wajahnya misterius dan sulit ditebak. Siapa saja yang melihatnya pasti sulit menebaknya.
"Semua perawat di sini mengenal siapa saya dan tidak akan ada yang bisa memecat saya!
Karena rumah sakit ini dalam kendali dan kekuasaan saya! Saya mau menemani Anda karena Anda sangat mirip dengan wanita yang sempat saya cintai dahulu yang sempat menghilang. Kamu sama persis dengannya. Wajahnya dan cara berbicara kamu!"
Begitulah penuturan dokter misterius itu. Tatapannya menatap Elizia semakin intens dan tajam membuat jantung Elizia berdebar tidak karuan.
Degh!
Hati Elizia bagai disambar petir di malam petang yang mencekam. Bagaimana bisa dia disamakan dengan kekasihnya? Elizia pun tak pernah mengenalnya. Elizia mencoba memutar memori masa lalu dan dia tidak ingat apa pun dan tidak kenal dengan dokter tersebut.
"Oh. Kan hanya mirip, Dok. Memangnya dia hilang ke mana? Saya di sini tidak punya sanak saudara. Saya hanya wanita yatim piatu yang dirawat di Panti Asuhan di kota ini. Dan secara tidak sengaja saya bertemu teman masa kecil saya dan sekarang saya sudah menjadi suaminya."
Elizia menjelaskan jati dirinya kepada dokter Rama. Dia masih penasaran dengan apa yang diucapkan oleh dokter tersebut.
"Jadi, kamu dulu tinggal di Panti Asuhan? Apa nama Panti Asuhan tersebut? Cepat saya beri tahu apa nama Panti Asuhan yang kamu tempati dulu?"
Akhirnya mata dokter tersebut terbelalak kaget kala mendengar Elizia tinggal di Panti Asuhan. Dia mendesak agar Elizia segera memberi tahu nama Panti Asuhan tersebut. Dokter itu, hatinya mulai bergemuruh serasa seperti melihat suatu barang yang hilang mulai kembali kepadanya.
Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan karena melihat Elizia yang membuatnya teringat memori masa lalu yang sempat membuat dia frustasi.
Sebelum Elizia sempat menjawab pertanyaan dari dokter tampan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu ruangan rawat inap yang di tempati Elizia.
__ADS_1