ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
KESIANGAN


__ADS_3

Marvin Mahesa, pria itu masih terlelap di jam enam pagi. Padahal biasanya, di jam ini ia sudah berada di meja makan untuk sarapan. Apakah keberadaan Serena dan dongeng asalnya memengaruhi kualitas tidurnya? Entahlah. Yang jelas, masih belum ada tanda-tanda kalau Marvin akan terbangun.


Padahal sekretaris dan asistennya sudah sibuk menyiapkan perlengkapan Marvin sedari tadi. Hugo, Edrick, Boy dan Rian bahkan sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan. Mereka tengah saling memandang satu sama lain. Kenapa tidak ada yang membangunkan Marvin? Sebab ada aturan tidak boleh membangunkan Marvin kecuali Marvin belum bangun sampai jam delapan lebih satu menit.


"Hoaam."


Serena membuka mata perlahan, lalu mengumpulkan kepingan memori yang masih tececer di alam mimpi. Alis indahnya bertaut. Segera bangun dan terkejut. Menatap sekitaran dan panik.


"Aku kesiangan, tidaaak," rutuknya pelan.


Kemudian menutup bibirnya saat menyadari jika Marvinpun belum bangun. Ia bergegas, kembali mengendap menuju pintu kamar. Tapi 'kan, pintu kamar ini hanya bisa dibuka oleh Marvin. Serena kebingungan. Ia memukul kepalanya sendiri. Mau tidak mau, Serena harus membangunkan Marvin.


"P-Pak Bos, hei, hei Pak Bos, bangun."


Serena menepuk bahu Marvin. Refleks Marvin ternyata berjalan dengan baik. Saat tangan Serena menempel di bahunya, Marvin menangkap tangan Serena dan menghempas pemilik tangan dengan jemari lentik itu hingga Serena terjatuh di atas tubuhnya.


"Auhh!" pekik Serena.


"Se-Serena?!"


Marvin terlonjak saat menyadari Serena menindih tubuhnya. Mata Marvin membelalak kala melihat sesuatu yang tampak ranum itu menusuk matanya. Sejenak ia menatap tanpa berkedip.


"Aaaa!" teriak Serena.


'PLAK.'


Serena menampar pipi Marvin untuk yang kedua kalinya. Lalu cepat-cepat bangkit dari tubuh Marvin. Marvin masih mode terkejut, mematung sambil memegang pipinya. Sementara memori di kepalanya masih dipenuhi bayangan bagian tubuh Serena.


"Anda itu mesum ya Pak Bos! Kenapa suka sekali melihat ke daerah situ!" ketus Serena. Karena kesal, ia melempar bantal ke wajah Marvin.


"Serena! Berani-beraninya!" Iapun mengambil guling dan melemparnya pada Serena.


"Ble, tidak kena," Serena menghindar.


"Apa?! Awas kamu ya!"


Marvin bangun dan mengejar Serena. Serena yang pandai berlari tentu saja langsung menghindar. Jadilah mereka kejar-kejaran. Serena berlari lincah ke sana ke mari. Bahkan menaiki sofa dan tempat tidur Marvin.


"Tidak ada seorangpun yang bisa menghindari saya!"


Marvin tidak mau kalah, saat Serena naik ke tempat tidur, ia menarik bed cover kuat-kuat. Jadilah Serena jatuh tertelungkup. Marvin naik ke tempat tidur dan memiting ke dua tangan Serena.


"Kena kau ya!"


"A-a-aaa, sa-sakit Pak Bos, ampun." Serena melengking kesakitan saat Mervin memutar tangan Serena ke punggungnya.


"Dengar, saya suami kamu, Serena! Kalau saya mau, saya bisa memakan seluruh tubuh kamu tanpa bersisa! Tapi maaf, saya tidak berminat!" tandas Marvin. Lalu melepaskan Serena karena tangan gadis itu memerah.


"Maaf, aku tidak akan menuduh Pak Bos mesum lagi. Sekarang cepat buka pintunya, aku mau keluar. Bu Manda dan yang lainnya pasti mencariku."


"Baik. Hari ini kamu sudah saya izinkan berangkat ke sekolah. Agar tidak ada yang curiga, berpura-puralah mengelap guci yang berada di depan kamar ini. Katakan saja pada Manda kalau kamu sengaja bangun pagi untuk mengelap guci." Marvin mempersilahkan Serena.


"Baik, terima kasih Pak Bos."


Serena pergi, Marvin menghela napas. Jika ia sampai kesiangan. Itu artinya ia tidur nyenyak. Baru juga Marvin akan menutup pintu kamarnya, dari luar kamar terdengar suara benturan yang cukup keras.


'PRAK.'


"Serenaaa!"


Terdengar juga teriakan Manda. Disusul dengan suara keributan dari pelayan yang lain. Marvin masih menyimak.


"Ma-maaf." Samar-samar terdengar suara Serena.


"Apa kamu tahu harga guci ini berapa, hah?! Lagi pula, aku tidak pernah menyuruh kamu mengelap guci! Dasar gadis bodoh! Di mana kamu meletakkan otak kamu, hahh?! Percuma saja wajahmu cantik kalau otakmu kosong!" teriak Manda.

__ADS_1


"Ya ampun Serena." Marvin memijat keningnya, sebab ia adalah orang yang menyuruh Serena mengelap guci.


"Aaah, a-ampun Bu Manda, sa-sakit," rintih Serena.


Marvin masih bisa mendengar keluhan Serena karena pintu kamarnya terbuka sedikit. Ia yang hendak pergi ke kamar mandi menghentikan langkahnya.


"Aku harus melaporkan kamu pada Pak Bos! Aku sudah menyerah Serena! Aku tidak sanggup menangani kamu lagi!" Manda rupanya sudah putus asa. Marvin menutup pintu kamarnya saat ia berpikir jika Manda akan menemuinya.


"Pak Bos, permisi." Benar saja, Manda menemuinya.


"Ada apa?" Marvin menjawab melalui interkom.


"Pak Bos, lapor Pak Bos, Serena menjatuhkan guci. Guci Pak Bos hancur. Mohon maaf Pak Bos, aku sudah tidak sanggup menangani Serena lagi. Tidak apa-apa aku tidak naik gaji, asalkan tidak lagi mendapat tugas membimbing Serena. Silahkan limpahkan wewenang itu pada yang lain," jelas Manda.


"Baik, saya sendiri yang akan menangani dia. Hari ini dia akan ke sekolah. Kamu tolong siapkan seragmnya. Jika tidak mengerti tanyakan saja pada Hugo."


...***...


"Ba-baik Pak Bos."


Di depan kamar, Manda tercengang. Ia nyaris tidak percaya dengan jawaban Marvin. Bosnya itu bahkan mengatakan jika gadis si pembuat onar itu akan berangkat ke sekolah dan ia diperintahkan menyiapkan seragamnya.


"Lalu gucinya bagaimana Pak Bos?"


"Apa tangannya terluka? Kalau tangannya terluka, kamu cepat bawa dia ke klinik untuk diobati."


Marvin bahkan tidak membahas tentang guci mahalnya. Marvin justru khawatir pada tangan Serena terluka.


Apa aku sedang bermimpi? Batin Manda.


"Tidak Pak Bos, tangannya tidak terluka."


"Ya sudah, saya mau siap-siap. Serena belum terbiasa dengan tugasnya. Saya harap kamu bisa memakluminya. Hari ini, dia tidak harus sarapan bersama pelayan yang lain. Kamu suruh saja seseorang agar membawakan sarapan ke kamarnya."


A-apa?! Batin Manda bergejolak. Ia tidak terima Serena diperlakukan seperti itu.


Manda lantas kembali ke tempat di mana Serena memecahkan guci. Gadis itu sedang memunguti pecahan guci yang bececeran seraya terisak. Sebenarnya, Serena menangis bukan karena dimarahi Manda. Namun ia sedih karena merasa tidak bisa melakukan apapun.


"Serena! Ikut denganku!" sentak Manda. Serena patuh. Pelayan yang lain menatap mereka.


"Cepat masuk ke kamar dan mandi. Nanti akan ada yang membawakan sarapan ke kamar kamu. Kata Pak Bos, kamu harus sekolah," oceh Manda dengan wajah juteknya. Rasanya ingin menjambak rambut Serena, namun ia harus patuh pada Marvin.


"Baik," serena bergegas ke kamarnya.


...***...


"Hugo, apa benar Serena mau sekolah?" tanya Manda saat ia kembali ke area meja makan.


"Sekolah?" Rian, Edrick dan Boy saling menatap.


"Apa Pak Bos mengizinkan Nona Serena sekolah? Wah, kabar bagus. Aku akan ambilkan koper milik Nona." Hugo bergegas dan meninggalkan sarapannya begitu saja.


"Apa yang kalian sembunyikan? Apa Hugo mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui?" Manda menatap pada Edrick, Boy dan Rian.


"Kami tidak tahu apa-apa," jawab Edrick mewakili yang lainnya.


"Haish, kalian semua tidak bisa dipercaya," dengus Manda kesal.


Lalu Manda menyiapkan menu sarapan untuk Serena. Ia tidak menyuruh siapapun karena berpikir bahwa dirinya harus mengetahui asal-usul Serena dengan cara melakukan pendekatan pada gadis itu. Gadis yang berhasil membuat encoknya kambuh.


...***...


"Ini sarapan untuk kamu." Manda meletakan baki berisi menu sarapan di atas meja. Gadis itu sedang mengeringkan rambutnya.


"Aku biasa sarapan dengan steak, roti bakar dan susu kedelai yang masih hangat," jawab Serena.

__ADS_1


"A-apa?!" Mata Manda membulat sempurna.


"Kalaupun hanya ini, tidak masalah. Aku suka 'kok. Terima kasih Bu Manda." Serena bahkan membungkuk di hadapan Manda.


"Jangan pura-pura baik Serena. Aku membawakan sarapan karena ada maunya. Aku mau tahu bagaimana kamu bisa direkrut menjadi pelayan."


"Aku tidak akan memberitahu Bu Manda," jawab Serena dan mulai menikmati sarapannya.


"Permisi, Nona Eren, ini seragam Anda." Suara Hugo.


Nona Eren? Batin Manda kembali bertanya-tanya.


"Tunggu, terima kasih Kak Hugo." Serena membuka pintu kamar dan mengambil koper yang diberikan oleh Hugo.


"Maaf atas sikapku yang kemarin," kata Hugo sambil tersenyum pada Serena.


"Tidak apa-apa. Kak Hugo melakukannya karena terpaksa. Ya, 'kan?" duga Serena.


"Ya, memang." Hugo mengangguk.


Sementara Manda tentu saja semakin kebingungan, dan Manda kaget setelah melihat seragam sekolah yang akan dipakai oleh Serena. Ia kenal benar dengan seragam itu. Kenapa demikian? Sebab, adiknya Manda bersekolah di sana.


"Serena, apa ini benar-benar seragam sekolah kamu?"


"Ya," Serena mengangguk. Lalu gadis itu pergi ke kamar mandi untuk berganti baju. Saat Serena di kamar mandi, Manda segera menelepon adiknya.


"Apa di sekolah kamu ada siswi yang bernama Serena?"


"Serena? Nama lengkapnya apa, Kak? Dan untuk apa Kakak tanya-tanya masalah itu?"


"Jawab saja, Meyla. Apa ada gadis teman sekelasmu, kakak kelas atau adik kelasmu yang bernama Serena?"


"Emm, kalau Serena doang 'sih enggak ada, Kak. Ada juga Alsava Serena. Tapi kabarnya dia putus sekolah karena papanya bangkrut."


"Apa?!" Manda terkejut dan segera keluar dari kamar Serena.


"Halo, Kakak kenapa?"


"Kakak baik-baik saja. Sekarang coba kamu jelaskan ciri-ciri dari temanmu yang bernama Alsava Serena."


"Ish, untuk apa 'sih, Kak?"


"Sudahlah Meyla. Kamu patuh saja. Atau Kakak akan memindahkan kamu ke sekolah biasa," ancam Manda.


"Ya ampun Kakak sangat aneh. Alsava Serena itu ya cantik, Kak. Tapi dia jarang bergaul karena keluarganya overprotektif. Di sekolah saja dia selalu dikawal, Kak."


"Oh." Manda menautkan alisnya.


"Apa kamu tahu nama orang tuanya Alsava Serena?"


"Tidak Kak, aku tidak tahu. Di sekolahku banyak anak-anak yang merahasiakan identitas orang tuanya karena alasan keselamatan," jelas Meyla.


"Baik, terima kasih infonya. Kamu sekolah yang baik ya. Ingat, kamu bisa sekolah di situ karena bantuan Pak Bos. Jadi, kamu tidak boleh mempermalukan Kakak. Kamu harus mempertahankan prestasi kamu."


"Baik, Kak. Dah Kak Manda." Panggilan berakhir.


...***...


Hujan masih mengguyur kota. Serena berteduh di halte sambil merapikan tas sekolahnya. Ia tidak memiliki payung, apa lagi ongkos untuk naik bis ke sekolah. Rencananya, setelah hujan reda ia akan berlari ke sekolah. Sebab, jarak dari apartemen Marvin ke sekolahnya tidak terlalu jauh.


'Tid, tiiid.'


Suara klakson mobil mengagetkan Serena. Mobil itu berhenti tepat di depan Serena. Lalu kacanya perlahan terbuka. Serena terkejut setelah mengetahui pemilik mobil tersebut.


Siapakah pemilik mobil itu?

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2