
"Honey, pipi kamu merah, telinga kamu juga agak merah. Kenapa? Apa alergi makanan?" Clara panik.
"Merah? Ti-tidak, baby. Saya baik-baik saja," elak Marvin.
Pria itu berusaha tenang. Serius, apa yang dilakukan Serena telah membuatnya kaget luar biasa. Kagetnya Marvinpun dua kali lipat. Pertama, kaget karena Serena ada di kolong meja. Kedua, kaget karena Serena menciumnya.
Gadis itu! Beraninya! Lancang sekali! Tapi kasihan juga dia makan di kolong meja. Batin Marvin.
Saat ini, ia sedang mencoba menghilangkan kekterkejutannya dengan menyuapi Clara.
"Aaa," katanya. Clara tersenyum. Ia makan lahap karena disuapi kekasihnya dan melupakan keanehan yang terjadi pada Marvin.
"Eeuuk." Tiba-tiba ada suara sendawa. Clara kaget. Marvin mengerjapkan matanya. Ia yakin sosok di bawah mejalah yang sendawa.
"Uhhuk, upps. Ma-maaf, baby." Marvin terpaksa mengakui sendawanya Serena. Sialaaan, rutuk Marvin.
"He ---." Di kolong meja, Serena membekap mulutnya menahan tawa.
"Oh, kamu yang sendawa, Vin? Aku kira suara dari suatu tempat," ucap Clara. Sekarang, Clara yang menyuapi Marvin.
Kalau aku kentut, apa pria itu akan mengakuinya lagi? Batin Serena berandai-andai. Sayangnya, aku belum ada perasaan untuk buang angin.
"Honey, aku tadi meminta pada Manda agar selama di sini aku dilayani sama pelayan baru kamu."
"Tak masalah, sesukamu, baby. Uhhuk, eh, a-apa tadi kamu pelayan baru?" Marvin baru menyadari sesuatu. Ia sampai batuk karena kaget.
"Ya, Vin. Pelayan baru, Serena. Kata Manda, namanya Serena. Boleh 'kan, honey?"
"Emm," Marvin bingung. Andai Serena bisa diandalkan, ia mungkin saja mengizinkan. Tapi 'kan Serena tidak bisa apa-apa.
"Vin, boleh ya?" Sambil merangkul bahu marvin.
Di kolong meja, Serena terkejut. Namun Serena ternyata tidak mawas diri. Ia terkejut justru karena merasa bahagia telah dipilih Clara. Ia menganggap jika permintaan Clara adalah tantangan untuknya.
Yes, tantangan baru. Semoga diizinkan. Gadis itu mengepalkan tangannya sebagai simbol semangat.
"Tidak bisa baby. Dia belum pengalaman. Lagi pula, dia masih sekolah."
Yah, Serena kecewa.
"Masih sekolah? Ya tidak masalah honey, dia bisa mendampingiku setelah pulang sekolah. Kalau kamu tidak setuju, aku mau minta izin pada papa Mark."
Mark adalah papanya Marvin. Nama lengkapnya Mark Jacob. Ssstt, usut punya usut, Mark Jacob adalah mantan 'MAFIA.'
"Tapi pelayan baru itu sering membuat masalah, honey. Apa kamu yakin mau menggunakan jasanya?" Rupanya Marvin tidak mau Clara meminta izin pada papanya hanya karena urusan pelayan.
"Yakin," jawab Clara mantap.
"Baiklah. Saya setuju." Dengan berat hati, Marvin mengizinkan.
Yes, yes, yes. Serenapun senang.
"Permisi," ada yang masuk. Ternyata Rian.
__ADS_1
"Ada apa Rian?" tanya Marvin.
"Maaf mengganggu. Ini, HP Nona Clara berbunyi terus sedari tadi." Rian meletakkan HP Clara di meja makan.
"Ya ampun, siapa 'sih? Ganggu 'deh," rutuk Clara.
"Mr. William?! OMG!" Clara kaget.
"Siapa?" tanya Marvin.
"Ini dosen pembimbingku, Vin. Bagaimana ini?"
"Terima dulu," titah Marvin.
"Baiklah, aku pemisi dulu ya honey." Clara pergi dari meja makan. Pun dengan Rian.
"Keluar kamu kucing nakal!" sentak Marvin saat Clara dan Rian sudah pergi.
"Meoow." Tidak disangka, Serena menyahut dengan mengatakan 'Meoow.'
"Ya ampun! Cepat keluar!" Marvin tidak sabaran. Segera menyingkap taplak meja dan menarik tangan Serena.
"A-ah, ampun Pak Bos."
Si Kucing Cantik akhirnya keluar juga. Wajahnya terlihat segar karena sudah berhasil menikmati makanan curian yang tentu saja rasanya enak, sehat, dan bergizi tinggi.
"Haish, kamu itu ya!" Marvin jadi bingung sendiri. Akhirnya minum dulu supaya pikirannya lebih tenang.
"Sini kamu Kucing!" Marvin kembali menarik tangan Serena.
"Hei, Marsupilami! Lepas! Mau kemana?!"
Oiya, Marsupilami adalah karakter fiksi sebuah buku komik yang diadaptasi dari hewan mamalia bernama Kuskus Beruang. Kuskus Beruang merupakan salah satu hewan yang hidup di hutan tropis di negara Asia.
Serena mencoba menepis tapi tidak berhasil. Marvin membawa Serena ke ruangan yang sepertinya adalah gudang persediaan makanan. Sebab di dalamnya berisi dus-dus yang berisi bahan makanan pokok, bumbu-bumbu, dan lain-lain.
"Kenapa kamu mencium saya?! Lancang!" Marvin bertolak pinggang sambil menatap tajam pada Serena.
"Hahaha. Mencium? Siapa yang berani mencium Pak Bos Marvin?" kilahnya. Serena terlihat santai. Ia sedang mengecek dus-dus yang berada di gudang tersebut.
"Apa katamu?! Hei, Serena!" Marvin memegang tangan Serena.
"Lepas! Dengar ya Pak Bos Marvin Yang Terhormat! Seenaknya saja kamu menuduhku lancang! Sementara kamu sendiri bisa bebas menciumku! Apa Anda amnesia?! Apa Anda lupa kalau Anda juga menciumku di kolam renang?!" Serena melawan.
"A-apa?!" Untuk sementara waktu Marvin melongo.
"Jika Anda saja menyuruhku melupakan kejadian itu dan menganggap tidak terjadi apa-apa, apa Anda pikir aku juga tidak bisa melakukannya?! Anggap saja kalau kita impas!" teriak Serena.
Namun mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Sebenarnya, ia tidak seberani itu. Ia hanya sedang memberi pengertian pada Marvin jika kejadian di kolam renang itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Marvin terdiam, namun tidak lama.
"Ingat posisimu dan tujuanmu berada di sini. Jika kamu berani macam-macam, apa kamu tidak takut saya melakukan hal-hal yang tidak terduga. Menangkap papa kamu misalnya? Jika papa kamu ditangkap polisi, siapa yang akan mengurus mamamu dan adik-adikmu? Bukankah mamamu sedang sakit?"
"Cukup, ja-jangan bicara tentang mama dan adik-adikku. Karena itu membuatku merindukan mereka."
__ADS_1
Serena membelakangi Marvin. Lalu menangis. Marvin menghela napas, lalu berjalan pelan mendekati Serena. Tangan pria itu hendak menyentuh bahu Serena, namun diurungkan.
"Jangan menangis. Baiklah, saya tidak akan membahas kejadian di kolong meja lagi. Kita impas. Saya juga akan melupakannya," ucap Marvin.
"Huuks, aku ingin melihat mama dan adik-adik, a-apa boleh?" Serena membalikan badan perlahan, lalu menatap Marvin penuh harap. Pandangan mereka bertemu. Marvin menjadi orang pertama yang memalingkan wajah.
"Begini ---."
"Ambil lada, minyak goreng dan kecap."
Tiba-tiba terdengar suara pelayan yang pastinya akan masuk ke dalam gudang. Marvin dan Serena sontak terkejut. Beberapa detik sebelum pintu gudang terbuka, Marvin menarik tangan Serena untuk bersembunyi. Ia membawa Serena ke tempat yang begitu sempit. Kiri kanannya dipenuhi dus, dan tentu saja membuat tubuh keduanya berdesakan. Posisi mereka berhadapan.
Marvin spontan memeluk Serena. Begitupun dengan Serena. Gadis itu spontan berlindung di balik dada Marvin yang bidang. Serena bahkan bisa mendengar dengan jelas jantung Marvin yang berdegup kencang.
"Apa di gudang ini ada dus berisi parfum? 'Kok aku mencium wewangian 'sih?" tanya pelayan yang masuk ke gudang pada temannya.
"Shhp, shhp, shhp." Temannya malah sibuk menghidu.
"Perasaan aku tidak asing 'deh dengan bau parfumnya."
"Makanya, kalau pakai parfum jangan banyak-banyak," bisik Serena.
"Ssstt ...."
Marvin malah menempelkan telunjuknya pada bibir Serena. Serena terkejut. Ingin menolak, tapi posisi mereka tidak memungkinkan.
"Dus kecapnya ada di sana." Pelayan yang masuk ke gudang menunjuk ke sana. Tepat ke tempat Marvin dan Serena bersembunyi.
Dag, dig, dug.
Seperti itulah jantung Marvin dan Serena saat ini. Marvin dilema. Baru kali ini ia merasa tersudutkan di apartemen miliknya sendiri. Sementara Serena, iapun dilema karena tidak bisa melepaskan diri dari dekapan Marvin, dan perlakuan Marvin yang mendekapnya membuat Serena merasa jika pria itu sedang melindunginya.
Tidak. Aku tidak boleh terbawa perasaan. Serena berusaha mengelak perasaan aneh itu.
"Apa ada yang melihat Pak Bos?"
Masalah baru datang, terdengar suara Clara yang mencari Marvin. Keduanya kian terkejut. Serena menengadahkan kepala menatap Marvin. Demikian juga dengan Marvin. Ia menundukkan kepala menatap Serena.
Lagi, mereka bersitatap. Tatapan keduanya sulit didefinisikan. Namun, entah ada motif apa, tangan Marvin tiba-tiba begerak pelan dan menelusuri bibir Serena. Serena terkejut.
"Ada sisa makanan di bibirmu," bisik Marvin saat ia menyadarinya.
'BRUGH.'
Di luar dugaan, beberapa dus terjatuh karena tersikut tangan Marvin. Dua pelayan yang sedang berada di gudang terkejut maksimal.
"Aaaa!" teriak mereka saat melihat ada sosok punggung yang sangat mirip dengan punggung Pak Bos.
"Aaaa!" Detik berikutnya mereka berterik lagi saat melihat sosok mirip Serena menyembul dari balik tubuh yang mirip dengan Pak Bos.
Jika sudah terciduk seperti ini, apa yang akan dilakukan Pak Bos Marvin?
...~Next~...
__ADS_1