ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PUTRI EREN


__ADS_3

SEBELUMNYA


"Selamat datang Pak Bos Marvin," sambut resepsionis hotel Lindo e Incrível. Mereka menyambut Marvin penuh hormat.


"Terima kasih, di mana klien saya?" Marvin memenuhi permintaan kliennya. Ia datang sendiri tanpa pengawalan.


"Ada di lantai 19 Pak Bos, mari kami antar." Dua orang petugas hotel mengantar Marvin.


Tiba di lantai yang dimaksud. Marvin segera disambut oleh beberapa orang kliennya yang langsung berdiri dan membungkukkan badan saat mereka melihat Marvin.


"Selamat datang Pak Bos. Kami sangat bahagia dan bangga karena dapat kesempatan bekerja sama dengan Pak Bos. Semoga kerja sama kita bisa bertahan lama." Perwakilan klien tersebut membuka pembicaraan sambil melambaikan tangan pada pelayan agar menyajikan menu santap malam kesukaan Marvin.


"Saya tidak minum alkohol," tegas Marvin. Mengingatkan kliennya.


"Kami sudah tahu, Pak Bos." Ya, mereka hanya menghidangkan jus jeruk pada Marvin.


"Baik, cepat ceritakan kembali kelebihan usaha kalian. Saya sudah membacanya, tapi ingin mendengar lagi secara langsung. Singkat saja," pinta Marvin sambil menikmati jus yang dihidangkan.


"Konsep hotel kami sangat luar biasa, Pak Bos. Temanya wisata rohani, namun dikemas menjadi konsep liburan keluarga yang tujuannya agar pengunjung hotel bisa menenangkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhannya," jelas salah satu dari mereka.


"Hmm, maka dari itu saya juga tertarik dan ingin bekerja sama. Konsepnya unik. Jarang-jarang ada hotel atau tempat wisata yang mengambil ide marketing dari segi spiritual," sahut Marvin sambil memeriksa kembali berkas yang akan ditanda tanganinya.


"Mohon masukannya, Pak Bos. Apa Anda memiliki ide lain yang bisa digabungkan dengan konsep kami?"


"Saya ---." Marvin tiba-tiba memijat keningnya.


"Kenapa Pak Bos?" Mereka terlihat panik.


"Saya tiba-tiba pusing," Marvin meletakkan kepalanya pada sisi meja.


"Tunggu, apa ada makanan atau minuman yang membuat Pak Bos alergi?" tanya salah satu klien sambil memijat bahu Marvin.


"Saya alergi kacang almond. Tapi biasanya Hugo sudah memberikan informasi alergi saya pada setiap klien."


"Apa? Kacang almond? Kami tidak menerima penjelasan tentang itu dari Pak Hugo. Pelayaaan!" Klien Marvin memanggil pelayan.


"Ya, Pak." Mereka datang.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Apa dari makanan atau minuman ini ada yang mengandung kacang almond?"


"Ada, Pak. Jus itu terdiri dari campuran kacang almond, susu dan sari buah-buahan." Menunjuk pada semua minuman yang ada di meja.


"Apa?!" Mereka kaget. Salah satunya hendak memarahi pelayan namun dilarang oleh Marvin.


"Tidak apa-apa, pelayan di sini tidak tahu apa-apa. Kalian boleh pergi." Dalam keadaan kepalanya masih tertunduk di sisi meja. Tidak hanya pusing, saat ini Marvin juga merasa mual. Semoga saja tidak muntah di hadapan klien, harapnya.


"Maafkan kami Pak Bos. Kami siap menerima konsekuensinya."


"Kalian juga tidak salah. Mungkin, Hugo lupa. Maaf, saya mual. Saya harus ke kamar mandi dulu." Marvin beranjak.


"Kami antar ke klinik hotel saja ya, Pak. Jaraknya dekat, 'kok." Dua dari mereka lantas menggandeng Marvin. Yang lainnya saling berpandangan dengan tatapan sedikit aneh.


"Baiklah, bawa saya ke klinik." Marvin menyetujui ajakan mereka.


Tiba di klinik, Marvin segera ditangani. Ia disuntik. Dokter di klinik mengatakan jika obat yang disuntikkan adalah obat anti alergi. Lalu Marvin juga disuruh minum obat anti mual. Marvin patuh. Ia tentu saja ingin alerginya cepat sembuh.

__ADS_1


"Pak Bos, ada baiknya kalau Anda istirahat dulu. Kami baru saja memesan kamar untuk Anda."


"Kamar? Saya istirahat di klinik saja," tolak Marvin.


"Tidak Pak Bos, di kamar lebih nyaman. Mari kami antar." Mereka memaksa Marvin yang terlihat lemas. Marvin menautkan alisnya. Dalam batinnya ia bertanya-tanya, saya tidak sedang dijebak, 'kan?


"Bisa hubungi asisten saya? Tas saya juga masih ada di meja yang tadi," kata Marvin.


"Nanti akan kami ambilkan Pak Bos."


"Tunggu, kenapa badan saya jadi panas?! Kalian tidak sedang menjebak saya, 'kan?!" Marvin menepis tangan dua orang klien yang menggandengnya. Lalu ia berdiri sendiri sambil memegang dinding. Wajah Marvin memerah, buliran keringat memenuhi kening dan pelipisnya.


"Maksud Pak Bos apa? Kami tidak mengerti." Lalu dokter yang tadi di klinik datang menghampiri.


"Dokter! Kenapa kondisi saya jadi makin buruk?!" teriak Marvin. Ia sampai berjongkok karena pusingnya bertambah parah. Penglihatannya bahkan berkunang-kunang.


"Itu efek obat Pak. Benar kata mereka, Anda harus istirahat," jelas dokter tersebut.


"Tidak mau! Saya mau pulang!"


Marvin berdiri sempoyongan. Namun ia tidak mau disentuh saat ada klien yang ingin membantunya. Dua di antara mereka saling berbisik. Lalu, Marvin kembali berdiri saat ia merasa mampu.


"Cepat panggil asisten saya!" sentaknya.


"Kami akan menelepon pak Hugo. Tapi Anda harus istirahat dulu Pak Bos."


Salah satu dari mereka membuka pintu kamar hotel yang akan dilewati Marvin. Saat tubuh Marvin tepat di depan kamar tersebut, dokter klinik memberi kode dengan lirikan matanya. Lalu yang lainnya serempak mendorong tubuh Marvin ke kamar tersebut hingga Marvin tersungkur.


"BUGH." Sampai menimbulkan bunyi. Lalu dokter klinik menguci pintu kamar dari luar dan bergegas pergi dengan cepat disusul yang lainnya.


Sementara Marvin, saat tubuhnya didorong, pria itu telah kehilangan separuh kesadarannya. Jangankan melawan, untuk bicara saja Marvin merasa kesulitan.


"Hahaha."


"Kamu yakin obatnya mujarab?"


"Aku sangat yakin seyakin-yakinnya. Aku sudah mengatur akurasi waktunya. Pertama, Nona Eren dulu yang akan hilang kendali dan halusinasi. Selanjutnya Pak Bos Marvin. Hahaha, perjalanan mereka akan sangat panjang dan dramatis. Obatnya akan menimbulkan sensasi dan halusinasi."


"Apa efeknya bisa hilang tanpa harus tidur bersama?"


"Hahaha. Sepertinya sulit. Obat untuk Bos Marvin dosisnya lebih tinggi, aku yakin hanya bisa dinetralisir dengan dilampiaskan."


"Hahaha." Mereka kembali terbahak-bahak.


...***...


SAAT INI


_______


Dengan napas yang tersenggal-senggal, Serena merangkak naik ke atas tubuh Marvin yang masih terpejam, namun tangannya tetap memegang pergelangan kaki Serena.


"Bos Marvin ...."


Serena seolah tidak sedang menjadi dirinya. Tangan gadis itu menelusuri wajah tampan Marvin dengan yang nakal dan sensual. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada Marvin. Setelah jaraknya teramat dekat, Serena menciumi wajah Marvin. Sementara tubuhnya perlahan meliuk-meliuk.


Marvin, pria itu membuka matanya. Lalu terkejut mendapati kejadian di hadapannya. Ada seorang gadis muda yang cantik jelita dan juga seksi tengah menciumi pipinya. Efek obat ditubuh Marvin ternyata telah bereaksi. Obat itu menghasilkan efek halusinasi yang sangat kuat. Marvin merasa sedang bermimpi berada di suatu tempat yang teramat indah.

__ADS_1


Apa ini tepian surga? tanyanya dalam hati saat matanya mengedar memerhatikan kamar tersebut. Ia melihat bunga-bunga bernuansa putih yang menenangkan, lalu melihat kemolekan dan keelokan di hadapannya.


"Ra-Rara?" tanya Marvin saat Serena tengah mengusap bibirnya. Di alam bawah sadarnya, Marvin mengingat kekasihnya. Clara.


"Rara? A-aku bukan Rara. Aku Putri Eren," jawab Clara. Gadis itupun ternyata berhalusinasi.


"Putri Eren?"


Marvin menangkup pipi Serena. Lalu dengan gerakan cepat ia memagut bibir Serena. Serena, gadis itu sangat pasrah, maka terjadilah jalinan erat itu. Mereka melakukannya dengan penuh gairah hingga keduanya nyaris kehabisan napas.


"Purti Eren?" Marvin mengusap bibir Serena, lalu mengusap bagian tubuh yang lain hingga membuat Serena melenguh.


Lalu tatapan keduanya bertemu. Saat masih bertemu pandang, Marvin membawa tubuh Serena ke tempat tidur. Dibaringkan perlahan, ditatap sambil mengerutkan dahi, lalu sesekali memasygul rambutnya. Mungkin, serpihan kewarasannya datang sesaat lalu pergi lagi.


"A-apa yang terjadi?"


Kewarasan Serenapun tiba. Namun hilang lagi saat ia merasakan geli di sekujur tubuhnya. Serena, ia menggelinjang-gelinjang sambil menggigit bibirnya. Kondisinya benar-benar kacau. Kasihan sekali.


"Aarrhh! Pa-panas sekali, huhh," keluh Marvin seraya melucuti pakaiannya. Lalu pria itu tersungkur di samping Serena. Sesaat kemudian halusinasi itu kembali menguasainya.


"Putri Eren panggilnya," ia mengungkung Serena dengan tatap membara. Dari cara Marvin menatap, jelas sekali jika jiwa dan raganya telah dipenuhi hasrat yang menggebu.


"P-Pak Bos ...."


Kesadaran Serena kembali sekelebat. Gadis itu melingkarkan tangan ke leher Marvin dan menangis secara tiba-tiba. Efek halusinasi pada jiwanya yang belum sepenuhnya matang membuat Serena bersedih karena tidak memahami tubuhnya. Ia kebingungan dengan perasaan yang dirasakan saat ini.


"Kenapa menangis Putri Eren?"


Marvin mengusap airmata Serena. Pria itu masih berhalusinasi. Pipi dan telinganya memerah, napasnya berkejaran, dan tubuhnya ... tentu saja telah bereaksi. Anak rambut Serena sampai begerak karena hembusan napas berat Marvin.


"A-aku, pus ---."


Serena tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kenapa demikian? Karena Marvin kembali merenggut bibir ranumnya. Tangan Marvin pun menuntut, ia menyentuh tubuh Serena ke sana dan ke sini. Serena mematung, apa yang dilakukan Marvin perlahan membuai tubuhnya. Serena seakan memberi ruang pada Marvin.


Bibir gadis itu mengerang pelan kala Marvin perlahan namun pasti, merenggut keranuman lain yang ada pada tubuhnya. Tangan Serena yang gemetaran, perlahan membelai rambut Marvin. Seolah-olah, Serena sedang menikmati perlakuan Marvin.


Lalu di satu kesempatan, apa yang dilakukan Marvin terasa menyakiti tubuhnya. Serena beteriak kesakitan. Itu terjadi lantaran Marvin baru saja menggigit bagian tubuh Serena.


"A-awwh! S-sakiiit!" pekiknya.


Saat itulah kesadaran Serena kembali. Rasa sakit itu menyadarkannya dari halusinasi. Gadis itu terkejut luar biasa dan matanya membelelak sempurna. Ia mendapati Marvin sedang mengeksplor bagian tubuhnya.


"Aaa! Apa yang kamu lakukan?! Aaa! Tolooong! Lepas!" Serena berontak. Namun tangannya dicekal Marvin.


"Ja-jangan begerak Putri Eren." Marvin mencekalnya dan tetap di sana. Di bagian atas tubuh Serena.


"Ti-tidak! Jangan! MARVIN! SADARLAH! A-AHHH! Emh .... LEPASKAN!"


Serena beteriak sekuat tenaga. Namun sesekali ia melenguh dengan suara seksi saat efek itu kembali memengaruhinya. Faktanya, sekuat apapun ia berusaha. Tenaga Marvin bukanlah tandingannya. Di sela usahanya membebaskan diri. Gadis itupun kembali menangis karena putus asa. Apa lagi saat menyadari jika pria itu hendak mendekati inti tubuhnya.


"Ti-tidak, huuu, huuu, ja-jangan ...." Suara Serena terdengar lirih karena tenaganya hampir habis.


Sementara Marvin, pria itu gagal mengendalikan diri. Ia masih asyik dengan halusinasi liarnya. Di alam bawah sadarnya, ia bermimpi mencumbu seorang putri yang cantik nan seksi bernama Putri Eren.


______


Apakah Putri Eren berhasil meloloskan diri?

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2