
Vila ini sangat indah. Terletak di lereng gunung dengan view perbukitan dan pesawahan. Karena terletak di perbukitan, saat malam menjelang, udara di daerah ini akan terasa dingin hingga menusuk kulit. Saat musim penghujan, udaranya akan terasa lebih hangat daripada musim kemarau.
Arsitektur vila ini sungguh unik. Didominasi oleh ornemen kayu yang dipadukan dengan gaya modern. Ada tiga kamar di vila ini. Tapi yang digunakan untuk saat ini hanya satu kamar. Dua kamar lainnya tak berpenghuni, namun lampunya dibiarkan tetap menyala.
...***...
Marvin memejamkan matanya saat jalinan itu kian mendalam dan erat. Pun dengan Serena, gadis itupun memejamkan matanya. Perasaan yang tercipta ini terasa menyiksanya. Di satu sisi, ia membenci pria ini. Namun di sisi lain, ia tetap mengharap belas-kasihnya demi bisa melanjutkan kehidupan.
Sejenak, Marvin melepas jalinan itu. Lalu memandangi wajah Serena yang masih terpejam sambil mengatur napasnya. Lanjut ia memagut kembali setelah menekan lembut dagu Serena. Pria itu seolah tidak ingin mengakhirinya. Tangannyapun aktif, bergerak kesana dan kemari. Sedang merabai bagian tubuh yang memang sangat menggiurkan.
"Arrgh!" pekiknya tiba-tiba. Langsung berguling ke samping tubuh Serena dan menutupi bibirnya.
"Ma-maaf, tidak sengaja," ujar Serena.
Ia baru saja menggigit indra pengecap milik Marvin. Marvin belum menjawab. Serius, ini menyakitan. Matanya sampai berair.
"Permisi."
Serena berdiri dan merapikan penutup tubuhnya. Pipi dan telinga gadis itu memerah karena merasa jika adegan tadi sangat memalukan. Pikirnya, jika dilanjutkan, mungkin ia akan dilarikan ke rumah sakit lagi. Anehnya, 'kok bisa dia pasrah begitu saja?
"Ehhm, aahh, sa-sakit tahu, Serena," keluh Marvin, dan matanya membulat saat melihat di telapak tangannya ada bercak darah.
"Serena! Lihat!" Ia mengejar Serena dan menunjukkannya.
"Baru darah segitu Anda sudah panik. Aku sampai anemia gara-gara perbuatan Anda," ketus Serena.
"Saya 'kan tidak sengaja. Oiya, kamu tetap di kamar ini, biar saya yang pindah ke kamar lain."
Marvin melangkah mendahului Serena. Masih dalam keadaan menutup bibirnya. Serena tersenyum simpul. Marvin yang tersakiti membuatnya sedikit terhibur. Iapun menyusul pria itu. Bermaksud mengambil kopernya yang masih berada di luar.
"Lupakan yang tadi," kata Marvin sebelum ia memasuki kamarnya. Kamar mereka berdampingan.
"A-apa?!"
Serena yang sedang menarik koper hanya bisa tertegun. Teganya pria itu menyuruhnya melupakan. Padahal, dia sendiri yang memulainya. Serena menatap sosok Marvin yang memasuki kamarnya. Lagi, ucapan Marvin membuat batinnya tidak nyaman.
Ia masuk ke dalam kamar sambil menghela napasnya berulang-ulang. Mencoba menegarkan diri dan menyandarkan dirinya jika ia adalah barang sitaan.
"Ada bathupnya? Asyik."
Matanya berbinar saat melihat bathup dan keran air hangat. Segera mengisi air dan menaburinya dengan sabun cair. Serena melupakan sejenak permasalahannya dengan berendam di air hangat. Ia memainkan busa sambil membersihkan tubuhnya. Setidaknya, dengan tinggal di sini, ia bisa menikmati fasilitas yang ada di vila ini.
...***...
Sementara di kamar lain, Marvin tengah membuka jendela kamarnya dan menatap keluar. Ia sedang menikmati view memukau berupa bukit dan air terjun. Lalu pesawahan dengan padinya yang mulai menguning. Matanya sedang fokus pada kepulan asap yang membumbung tinggi. Asap itu berasal dari perapian yang dinyalakan oleh petani setempat.
Kemungkinan, para petani itu sedang membakar jerami. Sambil menikmati pemandangan, Marvin mengelus bibirnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, yang jelas, sudut bibirnya berulang kali menyunggingkan senyuman.
Setelah puas menikmati pemandangan sore, ia beranjak ke dapur. Tentu saja untuk mengolah bahan makanan. Inginnya 'sih mengandalkan Serena. Tapi gadis itu tidak bisa memasak. Pikir Marvin, alih-alih memasak, Serena mungkin saja akan membakar vilanya.
...***...
Ternyata, kemampuan Marvin lumayan juga. Ia membuat sup dan memasak nasi. Lalu membakar daging di mesin pemanggang. Ia juga membuat irisan mentimun dan wortel untuk dijadikan salad buah.
"Ck ck ck, lha 'kok jadi saya yang melayani dia?" Merenung sejenak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haish," melanjutkan kembali aktivitasnya. Sedang menyusun menu yang sudah matang.
"Ada yang sudah bisa aku makan?"
Si pemilik tubuh seksi tiba. Bukannya menawarkan bantuan, ia malah mencari makanan. Marvin menoleh dan mengerjapkan mata seketika.
"Se-Serena?"
Ia menatap penampilan Serena yang tidak layak dipublkasi. Gadis itu hanya memakai t-shirt milik Marvin tanpa menggunakan busana lain sebagai bawahannya kecuali underware.
"Kenapa?" Gadis itu duduk santai sambil mengambil potongan daging bakar yang baru saja matang.
"Kenapa tidak memakai bawahan? Kamu juga tidak izin kalau mau meminjam baju saya."
"Dasar pelit. Perlu aku buka?" Serena berdiri untuk melepas bajunya.
"Hei, jangan!" Marvin menahan tangannya.
"Yang ada di koperku hanya seragam sekolah! Makanya aku pinjam baju Anda!" Ia duduk kembali dan lanjut memakan daging bakar.
"Ya, tidak apa-apa. Tapi tolong pakai bawahan lagi." Penampilan Serena yang seperti itu, ternyata mengganggu konsentrasi Marvin. Ia jadi tidak fokus.
"Kenapa? Anda merasa terganggu? Santai saja, Pak Bos. Lihat dan lupakan," sindir Serena.
Sekarang malah disengajakan bertopang kaki. T-shirt tersebut berwarna putih. So, hal lain yang ada di baliknya jadi mudah terlihat.
"Saya tidak menyukai wanita murahan," tegas Marvin sambil mengelap piring.
"Apa yang Anda maksud murahan itu, aku?" Serena meletakkan potongan daging yang nyaris dilahapnya.
"Bisa jadi," gumam Marvin. Kali ini sembari mengambil nasi yang ternyata sudah mtang.
'PRAK.' Serena melempar sendok garpu yang dipegangnya.
"Serena?!" Marvin membalikan badan dan terkejut.
"Pak Bos, aku memang bukan berasal dari keturunan yang baik-baik! Tapi Anda tidak berhak mengatakan murahan pada siapapun! Sekalipun itu pada pe-la-cur!" teriak Serena. Ia berdiri sambil bertolak pinggang. Wajahnya memerah karena menahan tangisan dan amarah.
"Saya tidak menuduh kamu murahan." Marvin meletakan pemanas nasi di meja makan dan membuka celemeknya. Lalu mendekati Serena.
"Tadi Anda bilang 'bisa jadi.' Itu artinya, di mata Anda aku juga bisa diumpamakan sebagai wanita murahan! Pak Bos Marvin yang kaya-raya dan terhormat, dengar ya! Aku baru kali memakai baju seperti ini!"
"Nah, itu kamu sadar dengan kesalahan kamu. Apa kamu tidak berpikir kalau pakaian kamu bisa membangkitkan hasrat saya?" Lanjut mendekat. Serena mundur.
"A-aku tidak berpikir ke arah sana! Aku hanya berpikir jika penampilan seperti ini adahal hal biasa! Maaf, aku memang bodoh!" Serena membalikan badannya dan berlari meninggalkan dapur.
"Serena, tunggu." Marvin mengejar dan segera memegangi tangan Serena.
"Lepas!"
"Kita makan dulu. Berantemnya nanti ya," bujuknya.
"Aku tidak lapar!"
__ADS_1
"Saya tahu kalau kamu kelaparan, dan saya juga perlu meluruskan. Penampilan kamu yang seperti ini bukanlah hal yang biasa, Serena."
"Aku memaknainya sebagai sesuatu yang biasa karena dengan bodohnya aku mengganggap kalau kamu adalah suamiku! Anda puas?!" teriak Serena dengan suara lantang hingga napasnya naik-turun, bibirnya gemetar, dan matanya berkaca-kaca.
"A-apa?" Marvin mematung, tangannya terlepas dari menggenggam Serena. Serena berlari ke kamarnya sambil menahan tangisan.
Ucapan Serena mengusik batin Marvin. Ia menyusul Serena dan berdiri di depan pintu kamar. Ia ingin masuk ke kamar namun mengurungkan niatnya. Lalu ia mendengar isakan di dalam kamar. Di dalam kamar, Serena menangis.
Marvin mendudukkan dirinya. Pria berparas rupawan itu menatap lampu vila seraya berpikir dan merenung. Sedang mengingat kembali percakapan dengan papanya beberapa saat yang lalu.
"Papa tahu dia cantik dan seksi.Tapi Papa berharap kamu tidak menyimpan rasa apapun terhadapnya. Karena sampai kapanpun, Papa tidak akan memaafkan si Wandira."
"Ini bukan tentang anaknya, Pa. Ini adalah urusan bisnis saya dengan dia. Papa tidak berhak ikut campur."
"Papa berhak ikut campur, Vin. Karena yang kamu hadapi adalah Wandira si raja judi. Vin, dia memiliki jaringan bisnis judi di luar negeri. Apa kamu tidak berpikir jika saat ini dia sedang menipu kamu?!"
"Cukup, Pa! Saya sudah mengikuti keinginan Papa dan memasukannya ke penjara. Apa lagi yang Papa takuti? Istri dia juga lemah dan sakit-sakitan. Anak-anaknyapun masih kecil dan belum bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya anak Wandira yang sudah dewasa hanya Serena. Maka dari itu saya menahannya bersama saya agar dia tidak bisa melakukan perlawanan."
"Andai kamu tahu kesalahan apa yang telah dikakukan si Wandira, kamu pasti terkejut."
"Maksud Papa?"
"Papa merahasiakan ini dari kamu karena Papa berpikir jika si Wandira akan membahayakan kamu. Kasus ini juga sudah ditutup pengadilan dan dimenangkan oleh si Wandira dan komplotannya."
"Maksud Papa apa? Jangan bertele-tele Pa!"
"Si Wandira adalah orang yang turut andil dan menyebabkan adik kamu meninggal dunia."
"Apa?!"
"Papa akan sangat bahagia jika si Wandirapun merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak gadis yang sangat dicintainya."
"Kenapa Marvin baru mengetahuinya sekarang, Pa?!"
"Adik kamu meninggal di luar negeri. Kasusnyapun diperkarakan di luar negeri, dan Papa sengaja menutupinya karena sebuah alasan dan kesepakatan. Papa tidak akan menyuruh kamu membunuh gadis itu, hanya berharap bisa melihat si Wandira bersedih saat melihat anak yang disayanginya menderita."
Marvin memasygul rambutnya. Jujur, ia juga marah. Ia pernah ingin membunuh pak Wandira setelah mengetahui fakta ini. Namun, saat melihat tingkah-polah Serena yang begitu mirip dengan adiknya, ia jadi ragu untuk menyakitinya.
"Serena, biarkan saya masuk."
Marvin berdiri dan mengetuk pintu kamar. Serena tidak menyahut, namun kamarnya tidak dikunci. Marvin masuk ke dalam, dan ia melihat Serena sedang melamun di pojokan. Gadis itu telah berganti busana dengan seragam sekolah. Ia bahkan memakai dasi dan menggendong tasnya. Marvin menggelengkan kepala dan mendekat.
"Harus ya pakai dasi dan tas sekolah segala? Ya ampun," Marvin menarik dasi yang dipakai Serena.
"Lepas!" Serena menepis tangan Marvin.
"Enggak sekalian pakai sepatu dan kaus kaki?" goda Marvin.
"Tadinya mau! Tapi sepatunya tidak ada di koper dan kaus kakinya cuma sebelah!" sentaknya. Marvin menahan tawa.
"Ya sudah, nanti kita beli sepatu dan kaus kaki, sekarang makan dulu yuk! Setelah makan, kamu boleh melamun lagi." Marvin mengulurkan tangannya.
"Aku tidak mau makan! Biarkan saja aku mati kelaparan! Tidak perlu memedulikanku Marvin Mahesa Jacob!"
'Kruwwuuk.' Perut Serena berulah.
"Cacingmu kelaparan." Lalu dengan gerakan cepat, ia kembali memanggul Serena.
"Aaaa! Kenapa kamu suka sekali membawaku dengan posisi seperti ini?! Turunkan! Cepaaat!"
"Jangan banyak gerak, atau bokongmu saya pukul lagi," ancam Marvin.
...***...
"Dasar Marsupilami!" oceh Serena setelah Marvin menurunkannya.
"Cepat makan, setelah ini, kita keluar."
Marvin menyuguhi Serena dengan telaten. Saat Marvin sibuk menyajikan makanan untuknya, Serena memerhatikan Marvin.
Harusnya kamu tidak perlu pura-pura baik, batin Serena.
"Kenapa? Kamu tidak suka makanannya?" Serena memalingkan wajah saat Marvin menoleh.
"Suka, ini enak. Terima kasih." Jujur, masakannya memang enak. Serena langsung menyeruput mangkuk berisi sup dan melupakan kemarahannya.
"Enak lho Pak Bos, nyam ...." Mulutnya dipenuhi nasi, sup, dan potongan daging sapi.
"Padahal, saya belum mencicipi masakannya. Apa rasanya pas?"
"Pas. Pas sekali."
Serena mengangkat jempolnya. Marvin menghela napas sambil melihat Serena yang asyik menyantap.
Cara makan kamupun sangat mirip dengan adikku. Kenapa? Lalu kenapa harus kamu yang men**jadi anaknya pria itu?
"Ini daging apa?" tanya Serena.
"Sapi," jawab Marvin.
"Apa Anda bisa membedakan nama daging-daging? Kalau bisa membedakan 'kan enggak akan khawatir ditipu pedagang daging," ocehnya.
"Bisa."
"Hahh? Serius?" Serena exited.
"Ya."
"Caranya?"
"Tinggal dicubit saja, kalau dia menjerit, berarti daging manusia. Kalau diam saja berarti hewan." Langsung dipraktikkan mencubit pipi Serena.
"Aaah, aduh," Serena spontan mengaduh.
"Nah, 'kan? Terbukti." Marvin mengulum senyum.
"Ishh, tidak lucu, tahu!"
"Haha ---." Tawa Marvin terhenti karena Serena memasukkan potongan daging ke mulutnya.
__ADS_1
"Hahaha."
Jadi Serena yang tertawa lepas. Marvin mengunyah cepat daging yang disuapkan oleh Serena, dan sedang mencari kesempatan untuk membalas keusilan gadis itu.
"Aku tidak akan tertipu." Serena begeser tempat duduk. Ia menyadari jika Marvin akan membalasnya.
"Lihat saja, nanti akan saya balas," ancam Marvin.
"Silahkan. Yang jelas, Anda harus berpikir dua kali untuk menipu anaknya penjudi."
"Baik, nanti kita main kartu bohong-bohongan ya. Saya jadi penasaran." Marvin menggeser kursinya dan mendekati Serena.
"Hei, Anda mau apa?"
"Ada nasi di dagumu." Marvin mengambil butiran nasi dari dagu Serena. Serena mematung. Pikirnya, akting Marvin terlalu berlebihan.
Ia jadi menunduk dan menikmati makanan tanpa bicara. Pun dengan Marvin. Ketika makanan di piringnya habis, Serena mencoba merapikan piring dan berniat mencucinya. Saat Serena menyalakan keran air, Marvin memeluknya dari belakang dan berkata, "Biar sama saya saja."
Ia mengambil piring dari tangan Serena.
"A-aku mau belajar cuci piring. Aku saja."
"Baik. Begini, saya ajari ya." Marvin mengajari Serena. Diawali dengan mencuci tangan Serena dengan sabun cuci piring.
"Kenapa harus posisi seperti ini, aku kurang nyaman," protesnya.
"Anggap saya sebagai guru, dan murid itu harus patuh pada gurunya." Lalu pria itu mengecup pundak Serena.
Serena bergidik. Ia jadi tidak konsentrasi. Jika Marvin terus berakting seperti ini, haruskah ia juga meladeni aktingnya?
"Apa Anda selalu seperti ini pada setiap wanita?" tanya Serena.
"Tidak," jawab Marvin. Ia menangkupkan tangan Serena pada piring yang hendak dicuci. Lalu mengerakkannya perlahan.
Pembohong, tuduh Serena dalam batinnya.
...***...
_______
"Apa?! Kamu yakin tidak melihat gadis itu di perpustakaan?!"
"Yakin Nona."
Clara sedang menelepon seseorang. Setelah mendapat info dari Manda yang mengatakan Serena akan dipindahkan ke perpustakaan milik keluarga Marvin, Clara segera mengkonfirmasinya.
"Baik, terima kasih infonya."
Clara menutup panggilan dan menggigiti ujung jari kukunya. Pikirnya, ini terlalu kebetulan. Marvin selalu pergi bersamaan dengan ketiadaan Serena di kamarnya.
"Mencurigakan," gumamnya. Ia mondar-mandir dan gelisah. Ditambah, ponsel Marvin tidak bisa dihubungi.
Sepertinya, ia harus mencari tahu dari Hugo. Sayangnya, Clara tidak menemukan Hugo. Di ruang kerjanyapun, Hugo tidak ada.
"Awas saja kalau kamu ketahuan bersama dia lagi! Aku akan melaporkan perbuatan kamu pada papa Jacob!" ancamnya.
"Aarrggh," teriak Clara.
Ia tiba-tiba merasa jadi wanita bodoh. Setelah melihat Marvin berpelukan dengan Serena di rumah sakit, harusnya ia lebih waspada. Bukannya malah memaafkan Marvin hanya lantaran pria itu mencium bibirnya dan mengajaknya kencan serta makan malam romantis.
"Aku ada tugas utuk kamu." Clara kembali melakukan panggilan.
"Tugas apa Nona?" Suara di balik telepon.
"Kamu tahu Wandira si raja judi?
"Ya, aku tahu, Nona."
"Cepat temukan dia dan pertemukan denganku!"
"Baik, Nona."
...***...
_______
"Di-dingin," keluh Serena.
"Ini sudah tidak pakai AC. Pakai jaket saya."
Marvin mengambil jaket dari kursi belakang. Mereka berada di dalam mobil. Rencananya akan membeli baju, sepatu, kaus kaki, dan baju santai untuk Serena.
"Terima kasih," ucap Serena.
"Tunggu," Marvin tiba-tiba menautkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Serena.
"Saya merasa mobil di belakang itu terus mengikuti kita."
"A-apa?!"
Karena penasaran, Serena menoleh ke belakang. Benar saja. Ada mobil yang mengikuti mereka.
"Sial! Siapa 'sih?!" Marvin mulai kesal.
Serena terdiam, jantungnya berdegupan. Ia mengenali plat mobil yang mengikutinya. Namun, apa ia harus mengatakannya pada Marvin? Serena bingung.
Karena vila Marvin berada di atas perbukitan, kondisi jalanan yang dilewati Marvin pada saat ini tentu saja merupakan turunan yang cukup tajam.
"Hati-hati!" seru Serena saat Marvin menambah kecepatan. Kondisi jalanan yang sepi, membuat Serena jadi semakin bingung dan takut.
"Saya mau mencari tempat yang landai. Saya mau turun dan menghadapi mereka. Kamu tetap di dalam mobil," katanya.
"Ja-jangan turun, kita lanjutkan perjalanan saja. Setidaknya sampai memasuki jalan yang ramai atau rumah warga," larang Serena. Gadis itu spontan memegang tangan Marvin dan menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
"Emm, baiklah, saya setuju." Marvin menyetujui usul Serena. Lalu tangan Marvinpun spontan memegang tangan Serena.
...~Next~...
__ADS_1