
Serena menatap langit-langit kamar megahnya. Ia tidak menyangka jika kehidupan lamanya akan kembali. Mediapun telah memberitakan hal yang positif tentang keluarganya. Mereka berkata jika pengusaha berinial Mister "W" yang awalnya didakwa sebagi bandar judi kelas internasinal, adalah korban dari kejahatan virtual yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Tuduhan penggelapan dan penipuan terhadap Bank Royalpun telah diralat oleh Pengadilan. Tak hanya itu, pihak Bank Royalpun diberitakan telah mencabut gugatan mereka pada Mister "W." Entah dengan cara seperti apa Mister "W" alias pak Wandira memulihkan nama baiknya. Yang jelas, dalam hal ini pasti ada campur tangan dari seorang Bill Ethan Pranadipa.
"Mau mandi apa mau makan dulu, Nona?" tanya pelayan.
"Terserah aku saja! Ini tubuhku! Kamu boleh pergi!" titahnya. Sikapnya yang dahulu telah kembali. Ia memang sulit diatur dan cenderung galak.
"Baiklah Nona Eren. Tapi papa Anda menyuruhku agar merias Anda. Sebentar lagi, Anda akan melakukan kencan pertama dengan tuan Bill," jelasnya sebelum berlalu.
"Aku tahu. Katakan pada papaku kalau aku akan siap-siap."
"Baik, Nona." Pelayan itu menutup pintu kamar dengan perlahan.
Setelah pelayannya pergi, Serena kembali melamun. Ia mengusap perut ratanya dan berkaca-kaca.
"Kangen kamu, kenapa kamu tidak bisa bertahan lama di dalam rahimku? Apa aku belum pantas menjadi seorang ibu?" ratapnya. Lalu bangun dengan malas dan kembali melamun sambil menatap cermin yang memperlihatkan sosoknya.
Kemudian terbayang saat kebersamaannya bersama Marvin. Biasanya, ketika ia sedang becermin seperti ini, Marvin akan memeluk punggungnya dan menciumi lehernya. Serena mengusap lehernya. Kelembutan pria itu tidak bisa ia lupakan.
"Seperti apa statusku saat ini? Apakah dia masih suamiku?"
Ya, Serena dan Marvin telah berpisah satu bulan lamanya. Serena dan Marvin benar-benar hilang kontak. Alasan utamanya, tentu saja karena pak Wandira tidak memberi celah sedikitpun bagi Serena untuk berhubungan dengan Marvin lagi. Pak Wandira membuang HP Serena pemberian dari Marvin, lalu ia selalu memantau seluruh gerak-gerik putrinya. Pertemuan Serena dengan Bill pun tak luput dari pantauannya. Bill hanya boleh menemui Serena di dalam rumahnya.
Namun hari ini, secara khusus Serena meminta pada Bill agar mereka bisa berkencan di luar. Awalnya pak Wandira tidak mengizinkan, tapi setelah Bill berjanji akan menjaga Serena dan menjamin keselamatan Serena, pak Wandira memberi izin.
"Semoga rencanaku berhasil," gumamnya.
Setelah menghela napas panjang, Serena pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Mau tidak mau, ia harus tampil memukau di hadapan pria itu. Pria yang sama sekali tidak ia cintai. Lagi-lagi, untuk kedua kalinya, ia harus patuh demi baktinya pada sang papa.
Selesai mandi, Serena pergi ke ruang khusus yang berada di samping kamarnya. Di sana, sudah ada penata rias yang akan membantunya.
"Nona Serena semakin cantik dan seksi," pujinya saat ia mengikat rambut Serena.
"Terima kasih," sahut Serena.
"Mau gaya seperti apa, Nona?"
"Apa saja. Terserah kamu."
"Ba-baik."
Penata rias itu gugup saat Serena menunjukkan sikap ketusnya.
"Lakukan semaumu, dan jangan mengatakan apapun kecuali hal yang berhubungan dengan pekerjaanmu," ketus Serena.
Serena ingat benar jika penata rias ini pernah mengunjingnya saat ia bangkrut. Kata mamanya, dia adalah orang pertama yang pergi dari rumah ini setelah ada surat penyitaan. Serena berpikir jika wanita ini bekerja lagi di rumahnya pasti karena kebaikan mamanya. Ya, bu Putri memang yang tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun.
"Dia sudah lama bekerja sama dengan kita. Jasa dia sudah banyak selama bekerja menjadi penata rias di rumah ini. Daripada kamu mengingat kejelekannya, lebih kamu mengingat jasa dan kebaikannya. Masalah dia pernah menyakiti kamu, lebih baik kamu maafkan dan biarlah menjadi urusan dia dengan Tuhannya."
Itu yang dikatakan bu Putri saat Serena hendak menolak kedatangan penata rias tersebut.
"Makeupnya sudah selesai, Nona. Wah, Anda cantik sekali. Sekarang silahkan Nona pilih mau memakai gaun yang mana." Sambil membuka lemari kaca super besar yang berada di hadapan Serena.
"Yang mana saja boleh, terserah kamu. Asalkan jangan yang terbuka." Lagi, Serena malas menentukan pilihan.
"Ya sudah, yang ini saja ya, Nona."
"Hmm," jawab Serena singkat.
...***...
__ADS_1
Sementara di ruang tamu, nampak Bill sudah bersiap. Tampilan pria itu sangat rapi, modis, dan juga wangi. Di luar, anak buahnya sudah berjaga. Sebagian dari mereka terlihat sedang mengobrol dengan petugas keamanan yang menjaga rumah Serena.
"Kak Bill?"
Rio mendatangi ruang tamu dan menyodorkan tangannya untuk menyalami Bill. Ya, ini memang bukan pertemuan pertama mereka. Dalam sebulan ini, Bill sudah bertemu dan mengobrol dengan Rio beberapa kali.
"Hai anak cerdas." Bill merangkul Rio sambil mengacak rambutnya.
"Kak Bill dan Kak Eren mau pergi? Wah, asyik nih. Mau pergi ke mana, Kak?" tanya Rio sambil bermanja-manja di pangkuan Bill.
"Ke Danau Privilege," bisik Bill.
"Tapi ini rahasia ya," lanjut Bill.
"Siap, Kak Bill." Rio melakukan gerakan hormat pada Bill.
"Oh ya ampun Kak Bill, maaf ya. Sepertinya aku harus pergi."
"Lho, kenapa?"
"Aku ada PR, Kak. Hehehe," ujar Rio.
"Baiklah. Selamat mengerjakan PR anak cerdas. Tunggu, Kakak bawa hadiah untuk kamu. Ini dia," Bill memberikan sebuah kartu.
"Apa ini?" Rio mengambilnya.
"Dengan kartu ini, kamu bisa bermain di seluruh taman bermain terkenal yang ada di negara ini. Ini fast card. Dengan memiliki ini, kamu bisa datang kapan saja, dan tidak perlu mengantri."
"Wah, terima kasih, Kak. Saat liburan sekolah, aku pasti menggunakan kartu ini." Rio sumringah, setelah bersalaman dengan Bill, Rio pun pergi.
...***...
"Danau Privilege. Tuan Bill dan Kak Eren mau ke sana. Ini kesempatan. Aku harus memberitahu Kak Marvin. Tapi bagaiamana caranya? Aduh," ocehnya. Ia menggaruk-garuk kepalanya untuk menemukan ide.
"Di HP Kak Eren tidak ada kontak Kak Marvin. Aku harus menelepon siapa ya supaya bisa meberitahu Kak Marvin? Kak Marvin juga pasti tidak bisa menerima telepon dari sembarangan orang. Aduh!" Ia menepuk jidatnya dan masih belum menemukan ide.
"A-ha."
Rio menemukan ide. Ia mengambil HP-nya dan menghubungi kontak-kontak yang ia maksud.
"Pak Rian."
"Nomor yang Anda hubungi, di luar jangkauan."
"Haish," rutuknya.
"Aku coba Pak Hugo."
"Nomor yang Anda hubungi, sedang dialihkan."
"Ishh, kenapa mereka tidak aktif 'sih? Emm, coba aku coba Bu Indri."
"Tuuut." Terhubung.
"Yes!" Rio bahagia.
"Tapi, apa Bu Indri bisa dipercaya? Aduh, aku jadi ragu." Rio mengakhiri panggilan.
"Terserah lah. Yang penting aku ada usaha."
Rio kemudian mencatat nomor milik Indri. Lalu ia berlari ke luar dari kamarnya. Saat berpapasan dengan salah satu pekerja di rumahnya, Rio segera beraksi.
__ADS_1
"Ibu, mohon maaf. Bisa pinjam HP-nya sebentar?"
"Boleh, untuk apa Tuan?"
"Tuan! Tuan! panggil aku Rio saja!" Ia merebut HP pekerja tersebut.
"Aku sedang mengerjakan tugas memakai aplikasi. Tapi layar aplikasinya tidak bisa discreenshot. Jadi aku pinjam HP Ibu untuk memfoto supaya materinya bisa dikirim lagi ke HP-ku."
"Oh, silahkan Tuan. Maksud saya, silahkan Nak Rio. HP saya tidak dikunci. Gunakan saja."
"Baik. Terima kasih. Tidak lama 'kok. Tidak akan sampai satu menit," jelas Rio. Lalu ia kembali ke kamarnya dengan langkah tergesa-gesa.
Setibanya di kamar, Rio segera mengirim pesan menggunakan HP tersebut. Tujuannya, tentu saja agar si penerima pesan tidak mencurigainya.
"Hari ini Serena dan Tuan Bill akan pergi ke Danau Privilege. Mereka tidak datang berdua, ada banyak pengawal yang menjaga mereka. Terima kasih." Pesan terkirim.
Rio sengaja menulis pesan dengan kata-kata baku yang biasa digunakan oleh orang dewasa. Setelah pesan terkirim. Ia segera menghapusnya, menyimpan nomor Indri di HP itu, lalu nomor Indri diblokir agar Indri tidak bisa menghubungi dan melacak nomor si pengirim pesan.
"Selesai," katanya.
Lalu dari balkon kamarnya, Rio melihat kepergian Serena bersama tuan Bill. Bill terlihat ingin menuntun tangan Serena. Namun Serena menolak dan memilih masuk ke dalam mobil tanpa bantuan Bill.
"Semoga Kak Serena baik-baik saja," harapnya.
...***...
Sama seperti Serena, Marvin pun dikekang. Dalam sebulan terakhir ini, ia benar-benar bak katak dalam tempurung. Marvin hanya diperbolehkan diam di kamar dan melakukan aktivitas olah raga di dalam rumah. Sesekali Marvin dimintai pak Jacob untuk terlibat sebagai pihak eksternal dalam pengembangan Bank Royal, namum Marvin hanya diperbolehkan bekerja di dalam rumah.
Apa Marvin merindukan Serena? Tentu saja.
Setiap hari, ia selalu mencari informasi tentang Serena. Jangan kira pria itu tidak melakukan apapun. Ya, Marvin telah menyusun rencana besar untuk merebut Serena dari tangan Bill.
"Pak Bos! Pak Bos!"
Hendrik datang ke ruang kerja Marvin tanpa mengetuk pintu.
"Hendrik! Kalau saya lagi tidak pakai baju bagaimana?! Kenapa tidak mengetuk pintu!" Marvin kesal. Segera mematikan laptop yang ada di hadapannya.
"Pak Bos, aku mau memberikan laporan keuangan." Sadar akan keberadaan CCTV yang selalu mengawasi Marvin, Hendrik pun bersiasat.
"Bukannya sudah kamu serahkan tadi pagi?" Marvin heran dengan gelagat Hendrik.
"Sebentar ya Pak Bos. Aku catat dulu kritikal poinnya."
Hendrik mengambil map dari tasnya, lalu menulis sesuatu pada secarik kertas. Lantas kertas tersebut diselipkan di dalam map dan diserahkan pada Marvin. Marvin mengambilnya dengan alis berkerut.
"Pak Bos, ada pesan rahasia dari nomor tidak dikenal. Pesannya dikirim ke nomor Indri. Lalu Indri meneruskan pesan itu pada Kak Hugo. Pesannya seperti ini."
"Hari ini Serena dan Tuan Bill akan pergi ke Danau Privilege. Mereka tidak datang berdua, ada banyak pengawal yang menjaga mereka. Terima kasih."
Setelah membaca tulisan Hendrik, Marvin langsung membetulkan dasinya yang terasa mencekik. Ia jelas cemburu. Tapi, apakah ini pesan jebakan? Marvin dan Hendrik saling menatap.
"Data kamu harus divalidasi dulu. Perhitungannya rumit. Saya bisa mengkoreksinya, tapi tidak di sini. Mungkin di suatu tempat yang suasananya cocok digunakan untuk berpikir," kata Marvin sambil melempar map tersebut pada Hendrik. Hendrik mengerti. Ia mengangguk, lalu pura-pura melakuan kroscek, dan menandai lembaran-lembaran tententu dengan stabillo.
"Tolong carikan tempat yang cocok," kata Marvin. Tangannya yang mengepal, ia masukan ke bawah kolong meja.
"Baik Pak Bos. Aku mau minta izin pada Bos Besar dulu." Hendrik beranjak.
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.
__ADS_1