
Serena sebenarnya paham tapi ia malu mengungkapnya.
"Masih lelah ya? Maaf, saya tidak akan memaksa 'kok? Kita pelukan saja." Marvin mengurungkan niatnya. Ia bermaksud memberi kesempatan pada Serena untuk memulihkan tubuhnya.
"Terima kasih." Serena menelusupkan kepalanya di dada Marvin yang tercium wangi dan segar karena pria itu sudah mandi.
"Cepat tidur lagi, ini masih jam 3 pagi," bujuk Marvin seraya membelai rambut Serena. Setelah melewati peristiwa yang luar biasa itu, perasaannya pada Serena kian dalam saja. Jikapun keluarganya menentang hubungan ini, ia berjanji akan memperjuangkannya.
Serenapun kembali memejamkan matanya. Dekapan Marvin membuatnya merasa tenang dan nyaman. Ia terlelap dalam dekapan suaminya. Suami yang pada awalnya tidak pernah ia harapkan. Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, ia merasa jika Marvin tidak sejahat yang ia bayangkan sebelumnya.
Apakah Serena menyukai Marvin? Jikapun ia belum sepenuhnya menyukainya, Serena bertekad akan berusaha untuk terbiasa dan menyukainya.
Sekitar pukul 5 pagi, Serena terbangun karena mendengar keran air menyala dan pintu kamar mandi terbuka. Ia bangun perlahan dan bersyukur karena rasa sakit dan tak nyaman di bagian itu mulai berkurang.
"Saya sudah sediakan air hangat untuk kamu mandi." Marvin keluar dari kamar mandi dan menebar senyumnya. Sikap Marvin benar-benar ramah.
"Pak Bos memasak air?" Di kamar mandi apartemen itu memang tidak tersedia fasilitas air panas.
"Ya, saya juga sudah memesan sarapan pagi, sudah tersedia di dapur. Putri Eren hanya tinggal mandi saja, mau saya bantu buka baju?" tawarnya. Mendekat pada Serena.
"Ti-tidak perlu. Pak Bos, kenapa Anda baik sekali? Aku lebih suka Pak Bos yang dulu dingin dan galak. Rasanya aneh kalau Pak Bos sebaik dan selembut ini."
"Saya bisa galak, bisa dingin, bisa romantis, bisa cuek. Tergantung situasi," dan ia bersiap untuk membuka baju Serena.
"Tidak perlu, a-aku saja," tolak Serena.
"Baiklah, saya tunggu kamu di ruang makan ya." Marvin mengecup kening Serena sebelum meninggakan kamar. Serena menatapnya sambil tersenyum dan berharap agar sikap Marvin tetap seperti itu.
...***...
Saat Serena tiba di ruang makan, Marvin sudah menyambutnya dan menebar senyum.
"Duduk di sini," ia menarik kursi untuk Serena. Lalu mendekatkan makanan.
Ada bubur ayam, roti bakar, sereal, omelet, kentang rebus, dan steak yang sebenarnya terlihat menggoda. Namun, saat Serena melihat bubur ayam yang bertekstur lembek, ia tiba-tiba mual dan tidak berselera sekalipun untuk mencicipi menu yang lainnya. Ia hanya menatap hidangan tersebut tanpa menyentuhnya.
"Kenapa?" tanya Marvin sambil mengelus bahu Serena.
"Tidak apa-apa, aku belum lapar Pak Bos," jawabnya.
"Mau makan apa? Biar saya pesankan lagi."
"Tidak perlu, nanti kalau sudah lapar aku makan 'kok."
"Mau saya suapi?"
"Tidak perlu Pak Bos, aku ke kamar ya, mau baca buku." Serena berdiri.
"Serena," Marvin memegang tangannya.
"Ya, Pak Bos."
"Bisa temani saya sarapan? Sebentar saja," pintanya.
"Ba-baiklah." Serena duduk kembali.
"Terima kasih." Marvin tersenyum tipis, dan entah Serena salah lihat atau tidak, ia melihat jika mata Marvin berkaca-kaca.
Marvinpun mengambil roti bakar dan mulai menikmatinya setelah ia berdoa. Ia mengunyah sambil sesekali menatap Serena, mengelus rambut Serena, dan mencubit lembut pipinya.
"Pak Bos 'bucin' ya sama aku, hehehe." Serena terkekeh.
"Bucin? Apa itu 'bucin?' Saya baru dengar istilah itu."
"Masa Pak Bos tidak tahu? Hehe, itu 'kan memang istilah untuk anak muda, jadi wajar 'sih kalau Pak Bos tidak tahu."
"Jadi kamu mau mengatakan kalau saya tua? Akhir tahun ini usia saya baru 29 tahun, saya belum tua," protesnya tapi lagi-lagi sambil tersenyum. Padahal, senyum adalah hal yang jarang dilakukan oleh Marvin.
"Jangan senyum terus, Pak Bos," Serena cemberut.
"Lho, bukannya senyum itu ibadah? Jadi bagus dong kalau saya banyak senyum."
"Aku tidak suka, Pak Bos lebih bagus kalau tidak senyum," jelas Serena. Faktanya, setiap Marvin tersenyum, hati Serena berdesir.
"Baiklah, kalau kamu kurang suka, saya akan senyum seperlunya saja, atau bila perlu akan saya batasi."
"Bagus," sahut Serena.
"Yang akan membersihkan apartemen dan mencuci pakaian akan datang jam 7 pagi. Mereka bekerja sampai semuanya tuntas. Tapi saya batasi maksimal sampai jam 2 siang. Jam 10 guru les ke sini. Saya kasih waktu sampai jam 12 siang. Jangan mengerjakan apapun kecuali istirahat, belajar, dan makan. Kalaupun mau olah raga, tolong jangan olah raga yang berat-berat. Cukup stretching ringan saja," jelas Marvin setelah ia menghabiskan sarapannya dan saat ini sedang memegang tangan Serena.
Serena mengangguk sambil menautkan alisnya. Ia merasa sikap Marvin benar-benar aneh. Ada angin dari mana? Apa hari ini akan turun hujan?
"Kalau Mama Syakilla menelepon dan menyuruhku mulai bekerja, apa boleh?"
"Emm, kabari saya dulu. Nanti akan saya pertimbangkan boleh atau tidaknya. Pokoknya, selalu kabari saya," pintanya dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Baik Pak Bos."
"Saya berangkat kerja dulu. Akan saya usahan pulang lebih cepat. Oiya, kalau saya telepon atau kirim pesan, balasnya jangan telat ya," pintanya lagi.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, tanpa permisi, ia langsung menarik bahu Serena dan menautkan bibirnya. Serena terkesiap, namun di detik berikutnya, matanya mulai terpejam dan perlahan tapi pasti, ia berusaha mengimbangi Marvin.
"Ternyata benar ya, anak sekolah jaman sekarang itu membahayakan," ujar Marvin sembari mengusap bibir Serena.
"A-aku hanya korban 'kok," elak Serena. Ya, ia memang korban ambisinya pak Wandira.
"Setelah sarapan, setelah mencium kamu, saya jadi bersemangat." Marvin menunjukkan gelagat aneh.
"Ma-maksud Pak Bos?" Serena heran karena Marvin tiba-tiba menuntun tangannya menuju ke kamar tidur. Marvin tidak menjawab, langkahnya kian cepat.
"Pak Bos, bukankah Anda mau berangkat ke kantor sekarang?" tanya Serena setelah mereka tiba di kamar.
"Ya, mau. Tapi nanti setelah menikmati kamu dulu. Salah kamu tadi saat di ruang makan menggoda saya," ucapnya cepat sambil membuka jas kerjanya.
"A-apa?!"
Serena menelan saliva kasar. Lalu menutup matanya dengan jemari yang diregangkan saat Marvin memosisikan tubuhnya dengan lembut. Saat keduanya bertemu pandang, pipi keduanya sama-sama merona. Marvin menatap Serena dengan tatapan mengiba yang meluluhkan. Lalu Serena mengangguk perlahan sebagai isyarat jika dirinya menyetujui.
Semilir angin pagi menggerakan seluruh tirai yang ada di unit tersebut. Cahaya mentaripun menyingsing dan menghangatkan pagi yang cerah ini. Pintu kamar utama di unit tersebut tertutup rapat.
Sementara di bagian depan unit, tampak dua orang pekerja yang sepertinya sedang menunggu. Salah satu dari mereka telah menekan bel, entah ini yang keberapa kalinya, namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Pak Bos menyuruh kita standby dari jam 6 pagi karena akan dibriefing dulu. Sudahlah, kita tunggu dulu saja. Pak Bosnya mungkin masih tidur," ucap salah satu dari mereka.
Kembali lagi ke dalam unit. Ya, pintu kamar utama masih tertutup. Jika didengarkan secara sepintas, memang tidak ada yang aneh. Namun jika didengarkan dengan jeli, dari balik pintu itu samar-samar terdengar suara. Jelas sekali di dalamnya sedang terjadi sebuah aktivitas.
Dari sana, samar terdengar suara napas yang bersahutan, sesekali terdengar rintihan manja, sesekali terdengar jua suara berat Marvin yang sedang mengatakan sesuatu. Apa yang terjadi di kamar tersebut? Entahlah.
...***...
"Ka-kalian sudah tiba?"
Marvin terkejut saat membuka pintu unit dan melihat ada dua orang wanita paruh baya di hadapannya.
"Kami yang akan bekerja di sini Pak. Bapak tidak mengenali kami?" tanya salah satunya.
Yang satunya lagi hanya bisa melongok saat melihat Marvin yang ternyata semakin tampan saat dilihat dari jarak dekat. Tapi anehnya, pagi ini pria itu terlihat berantakan. Sebagian kancing kemejanya belum dikancingkan, dasinya mengalung di pundak, jas kerjanya dipeluk, rambutnya acak-acakan, dan di sudut bibirnya ada warna merah yang identik dengan warna lipstik.
"Oh, ya saya baru ingat. Maaf saya buru-buru. Kalian boleh masuk dan mulai bekerja. Tolong patuhi peraturan yang sudah saya sebutkan kemarin, bekerjalah dengan jujur dan bertanggung jawab. Ingat, jika kalian melanggar, kalian akan menyesal seumur hidup," tegasnya.
"Jangan bertanya tentang hal apapun yang ada di apartemen ini, dan jangan mengatakannya pada siapapun. Kalian cukup bekerja saja. Mengerti?"
"Ya Pak Bos."
"Saya permisi." Marvin bergegas, tangannya kembali sibuk memasangkan dasi dan mengancingkan bajunya.
...***...
Mereka mematung di depan pintu kamar utama sambil menatap sprei dan bedcover yang sudah diletakkan di dalam keranjang pakaian kotor. Lalu mereka menatap ke pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka.
"Ssttt."
Mereka hanya bisa mengusap dada sambil memuji nama Tuhan saat melihat bercak merah di sprei dan melihat ada pakaian wanita di keranjang tersebut.
"Ternyata kehidupan kita lebih baik. Walaupun kita miskin, tapi kita bisa menjaga moral anak-anak kita," bisik-bisik.
"Ya, di dalam kamar itu pasti ada pe es ka cantik."
"Padahal nikah saja ya daripada berzina. Secara, Pak Bos 'kan kaya raya."
"Mungkin dia ingin menghabiskan uangnya dengan cara seperti itu. Ya sudahlah, yang menanggung dosanya bukan kita 'kok. Kita masing-masing saja. Mari mulai bekerja."
"Siap."
...***...
Serena mengikuti les dengan serius. Ujian akhir hanya tinggal menghitung hari. Ia harus memberikan hasil terbaik. Dua pekerja wanita yang masih berada di apartemen sering mencuri pandang pada Serena. Keduanya sangat menyayangkan karena gadis itu mengambil jalan pintas dengan cara yang kotor.
"Padahal cantik sekali."
"Ya, kasihan orang tuanya."
"Masih muda sekali."
"Kamu lihat tidak? Di lehernya ada kissmark."
"Ya aku juga lihat."
"Ssst, yang di sprei bercak merah itu, pasti darah perawannya. Gadis itu menjual kesuciannya pada Pak Bos."
"Ya ampun, ngeri dan miris sekali ya. Gadis itu pasti ingin mengikuti gaya hidup mewah tapi tidak sepadan dengan penghasilan orang tuanya."
__ADS_1
"Ya, kita berdoa agar anak-anak kita terjaga dari hal-hal demikian."
"Semoga."
Seperti itulah obrolan kedua pegawai wanita itu saat berada di dapur dan jauh dari Serena.
...***...
"Kamu pucat sekali. Apa ada yang ingin diceritakan sama Ibu?" tanya bu Mira. Ternyata, guru les yang datang kali ini adalah bu Mira. Bu Mira tentu saja sudah mengetahui hubungan Marvin dan Serena.
"Tidak ada Bu." Serena memilih fokus pada soal-soal.
"Jangan dipaksakan. Jika Pak Bos meminta, dan kamu tidak siap, kamu boleh menolak."
"Ya Bu," jawab Serena lirih.
"Serena," Bu Mira mendekat dan menyingkap rambut yang menghalangi leher Serena.
"Kok sampai lebam begini? Apa Pak Bos melukaimu?" tanyanya pelan.
"Ti-tidak Bu. Dia sudah meminta maaf. Mungkin terlalu gemas saja. Sudah Bu, jangan bahas itu. Aku malu."
"Serena." Bu Mira memegang tangannya. Kekasih Hugo itu menatap dalam pada Serena.
"Kamu sudah menguasai seluruh pelajaran. Sudah, jangan belajar terus. Jangan sungkan, saya bersedia jadi teman kamu. Jadi, jangan terlalu serius," pintanya.
"Baik Bu."
"Terus, Ibu perhatikan kamu sedikit sekali makannya, kenapa? Dari tadi ngemil anggur terus." Alis Bu Mira mengernyit.
"Sebelum Ibu datang, aku sudah banyak makan 'kok Bu."
"Serena."
"Ya Bu." Matanya tetap fokus pada buku pelajaran.
"Maaf kalau Ibu kurang sopan. Ibu memberanikan diri mengatakan ini karena sayang sama kamu."
"Ada apa Bu?"
"Emm, begini. Kamu masih muda, jadi sebaiknya .... Kalaupun kamu dan Pak Bos sudah tidur bersama, Ibu berharap kamu tidak hamil."
"Uhhuk!" Pemaparan bu Mira membuat Serena langsung terbatuk.
"Serena!" Bu Mira panik dan segera memberikan air pada Serena.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?"
"Tidak apa-apa Bu. Aku baik-baik saja."
"Maafkan Ibu ya."
"Bu, a-aku ke kamar dulu ya." Serena pergi ke kamarnya meninggalkan bu Mira.
Bahkan hingga jam 12 siang dan jadwalnya bu Mira pulang, Serena tidak keluar dari kamar. Bu Mira kemudian pamit pulang dan meminta maaf pada Serena. Serena menyahut dan mengatakan, "Tidak apa-apa, Bu." Tapi ia tidak keluar dari kamarnya. Bu Mira kemudian melaporkan semua hal yang terjadi pada Serena kepada Marvin.
...***...
"Papa menyesal merestui kamu menikahi gadis itu! Kamu mengatakan hanya main-main! Dan sekarang kamu menyukai gadis itu?! Papa kecewa!"
Bos Besar menemui Marvin di kantornya dan memarahinya.
"Marvin sudah membuat keputusan. Lagi pula, kematian Miranda tidak ada hubungannya dengan Serena, Pa."
"Marvin!" Bos Besar memegang kerah baju putranya.
"Marvin sudah mendapatkan bukti Pa."
"Bukti? Bukti apa?!"
"Papa beri Marvin waktu satu jam untuk mendatangkan seorang saksi."
"Maksud kamu?!"
"Papa tunggu di sini. Marvin akan menyuruh Hugo untuk membawa saksi tersebut."
"Baik. Silahkan," tegas Bos Besar Jacob.
Lalu Marvin menelepon Hugo.
"Hugo, tolong kamu bawa Rio ke kantor saya," titahnya.
"Rio? Siapa dia?" guman Bos Besar. Ia merasa asing dengan nama itu.
...~Next~...
__ADS_1