
Deburan ombak terdengar sayup-sayup. Matahari sepenggalang naik, dan teriknya memanaskan kulit.
Pesisir pantai Pulau Kecil tampak sepi. Tidak ada aktivitas apapun. Jajaran villa di sepanjang pesisir yang jaraknya berjauhan tersebut, benar-benar sepi.
Entah karena tidak ada pengunjung, atau mungkin karena para wisatawan lebih memilih bersantai ria di dalam villa dan baru akan menikmati suasana pantai saat hari menjelang sore.
...***...
Hendrik, pria itu sedang mengolesi wajah dan lehernya dengan sunscreen spf 50 pa+++. Hari ini, kegiatan pria itu sangat padat. Dia baru saja tiba dari kota untuk mengurus semua hal yang ditugaskan oleh Marvin. Emas batangan yang diamanatkan oleh Marvin, sudah diuangkan. Hendrik juga sudah membuka rekening baru atas nama dirinya.
Kepalanya bahkan spontan menggeleng saat iseng mengecek kembali jumlah saldo yang dimilikinya. Ya, ini memang bukan uangnya, tapi Marvin juga telah memberikan bonus yang berlimpah untuk dirinya.
"Apa Pak Bos tidak takut uangnya aku bawa kabur?" gumamnya.
Sedikit heran pada Marvin yang langsung memercayainya hanya karena dirinya adalah adik kandung Hugo.
Lalu ia masuk ke dalam villa dan melirik ke kamar Marvin dan Serena yang tertutup rapat. Tadi pagi, Hendrik bisa mendengar dengan jelas pertengaran majikannya tersebut. Namun apa yang terjadi selanjutnya, Hendrik tidak tahu. Ia hanya berharap agar Marvin dan Serena kembali akur. Harapan terbesarnya adalah ... semoga konflik yang melibatkan orang tua mereka segera berakhir.
Hendrik lantas menyusun makanan yang dibawanya dari pusat kota di atas meja makan. Ia juga melihat ada jejak-jejak aktivitas di dalam dapur. Sepertinya, saat Hendrik pergi, ada yang memasak di dapur ini.
"Pasti bukan Nona Serena. Ini pasti Pak Bos yang masak," duganya. Sebab setahunya, Serena tidak pernah meninggalkan dapur dalam keadaan sebersih ini.
"Untungnya Nona Serena itu cantik dan lucu, coba kalau dia biasa-biasa saja, apa Pak Bos masih mau hidup bersama wanita yang selalu menggunakan barang-barang mahal dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Ck, ck, ya Tuhan 'kok aku malah mengumpat 'sih?"
Hendrik menyadari kesalahannya. Langsung sadar diri jika Serena seperti itu akibat lingkungan yang membesarkannya. Apa yang digunakan oleh Serena, pasti sangat mahal jika dilihat dari kaca mata Hendrik. Tapi bagi Serena, hal tersebut bisa jadi tidak ada yang istimwewa dan biasa-biasa saja.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Hendrik mengumpat. Ya, ia pernah beberapa kali menjadi korban masakan Serena.
Dari mulai telur dadar yang bercampur kulit telur, mie rebus yang super mengembang dan lembek, agar-agar yang keras karena kurang air, dan perabotan yang gosong lantaran Serena menggunakan terlalu banyak kecap dan tidak bisa membalikan masakan dengan sempurna. Hendrik sering tersenyum sendiri saat mengingat ulah Serena.
"Sudah selesai?" Suara berat itu mengagetkannya.
"P-Pak Bos? Su-sudah Pak, ini Pak. Silahkan dicek." Hendrik memberikan buku rekening dan struk belanja pada Marvin dengan terburu-buru.
"Santai saja, saya percaya sama kamu. Oiya, berapa hutang saya pada Hugo dan yang lainnya? Kamu cepat tanya Hugo dan segera bayar." Sambil membantu merapikan barang-barang belanjaan.
"Sama aku saja Pak Bos," cegah Hendrik.
"Tak masalah, santai saja. Kamu sudah saya anggap saudara. Jadi, kamu juga harus memperlakukan saya seperti saudara kamu."
"Ba-baik Pak Bos."
Hendrik mengangguk, sesekali ia memerhatikan penampilan Marvin yang simpel dengan rambutnya yang masih basah. Hendrik juga melihat jika di balik kerah baju Marvin, ada tanda cinta yang mengintip.
"Ehmm, apa Pak Bos dan Nona Serena sudah berbaikan?" tanya Hendrik setelah berdeham agar kecanggungannya bicara dengan Marvin sedikit berkurang.
"Belum, dia masih marah," jawab Marvin. Namun bibir pria itu jelas sekali sedang tersenyum.
"Nona Serena masih muda. Wajar kalau emosinya belum benar-benar stabil," tambah Hendrik.
"Hahaha. Ya, kamu benar. Tapi setelah kita bertengkar, rasanya jadi semakin asyik dan berbeda."
"Maksud Pak Bos?" Hendrik tidak memahami kalimat Marvin.
"Oh, hahaha. Sudahlah, intinya, saya dan Serena sudah berbaikan secara fisik. Tapi secara batin, saya juga belum seratus persen memahaminya."
"Tapi Anda tidak sampai melukai fisik Nona Serena 'kan?"
"Melukai fisiknya? Emm, bisa tidak, bisa ya." Jawaban Marvin benar-benar membuat Hendrik semakin bingung.
"Anda dan Nona Serena adu fisik?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Hahaha." Marvin jadi tertawa melihat ekspresi Hendrik.
"Apa?" Hendrik garuk-garuk kepala.
Lalu Hendrik tersadar jika yang ada di hadapannya adalah putra seorang mafia. Ia berpikir jika adu fisik adalah kebiasaan anak mafia saat bertengkar dengan istrinya. Padahal, adu fisik yang dimaksud oleh Marvin, bukan sesuatu yang didefinisikan sebagai KDRT.
"Kamu sudah punya pacar?" Marvin menepuk bahu Hendrik.
"Be-belum Pak Bos."
"Mau saya carikan?"
"Tidak Pak Bos. Aku tidak mau pacaran, targetnya usia 26 tahun mau langsung nikah saja."
"Bagus," puji Marvin. Lalu tangan pria itu sibuk membuat jus.
"Jus untuk Nona?"
"Ya, untuk saya dan kamu juga."
Marvin memberikan segelas jus untuk Hendrik. Dua gelas yang lainnya ia bawa ke kamar berikut kue-kue kering kesukaan Serena.
"Terima kasih Pak Bos," seru Hendrik, dan Marvin hanya merespon dengan mengangkat jempolnya.
__ADS_1
...***...
Tiba di kamar, istrinya itu tidak ada di tempat tidur. Melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, Marvin yakin jika Serena ada di sana. Melihat jendela kamar yang terbuka, Marvin jadi berpikir buruk. Ia khawatir Serena kabur.
"Serena," panggilnya. Segera meletakan yang dibawanya di atas nakas dan mengecek ke kamar mandi.
"Aaa!" teriak Serena. Ia menarik handuk dan menutupi tubuhnya.
"Oh, kamu di sini rupanya." Marvin tersenyum.
"Anda 'tuh ya! Aku sedang mandi! Kenapa ganggu!" Rambut Serena yang dipenuhi busa shampoo, membuatnya semakin cantik dan lucu.
"Saya tidak berniat mengganggu. Hanya mengecek. Lagi pula, kalau mandi itu pintu kamar mandinya ditutup dan dikunci dari dalam. Kalau ada yang jahat dan mengintip kamu bagaimana?"
"Lupa! Aku lupa! Cepat pergi!" usirnya. Ia berjalan dengan gaya yang lucu dan mengusir Marvin agar segera pergi.
"Tunggu, kenapa cara jalanmu seperti itu?" Kepala Marvin mengintip sejenak di balik pintu kamar mandi.
"Jangan pura-pura tidak tahu ya! Ini gara-gara Anda! Pergiii!" teriak Serena.
Marvin segera menutup pintu sambil mengulum senyum. Serena selalu seperti itu acap kali ia melakukannya. Kenapa? Marvin tahu penyebabnya, namun ia tidak akan mengatakan rahasia ini pada siapapun. Cukup ia dan Serena yang tahu.
...***...
Ternyata, menunggu Putri Eren mandi itu lumayan lama. Marvin jadi sedikit tidak sabaran. Padahal, ia ingin menikmati jus dan kue bersama Serena sambil menunggu matahari terbenam.
Lalu ponselnya tiba-tiba menyala. Marvin segera mengambilnya dan mengerutkan dahi. Siapa yang meneleponnya? Sejak kabur dari rumah sakit, Marvin telah mengganti nomor ponselnya. Untuk saat ini, hanya Hugo dan Hendrik yang mengetahui nomor barunya.
Karena penasaran, Marvin tetap menerimanya namun tidak menyapa penelepon tersebut.
"Halo, apa benar ini dengan Tuan Marvin Mahesa Jacob? Jika benar, mohon segera konfirmasi. Saya customer service Bank Royal. Mau melaporkan sesuatu. Saya mendapatkan nomor Anda dari seseorang yang tidak ingin diketahui identitasnya. Halo? Halo?"
Marvin masih terdiam. Ada urusan apa Bank Royal menghubunginya? Bukankah dia telah dipecat dari bank tersebut.
"Pak Bos?"
Suara Serena membuat Marvin spontan mengakhiri panggilan tersebut. Serena berdiri di depannya. Sudah segar dan tentu saja menguarkan wangi.
"Kamu memakai baju di kamar mandi? Pantas saja lama." Marvin mendekat dan langsung mengendusi tubuh istrinya.
"Ish, Pak Bos, awas ah," tolak Serena. Jika dibiarkan, bisa-bisa ia harus mandi lagi.
"Salah siapa? Kenapa kamu wangi sekali? Kenapa bajunya tipis? Kenapa bibirnya merah sekali? Kenapa can ---."
"Baiklah, maaf. Yuk kita minum jus."
"Jus? Mana?" Mata Serena langsung berputar.
"Di sana." Marvin menunjuk ke balkon dan menuntunnya. Serena duduk perlahan sambil memegang tangan Marvin.
"Masih tidak nyaman?"
"Ya," jawabnya singkat sambil meneguk jus.
"Maaf ya. Biasa pulihnya berapa lama?" tanya Marvin.
"Sekitar setengah hari." Serena menjawabnya dengan pipi merona.
"Oh, jadi besok pagi kita bisa melakukannya lagi 'kan?"
"Apa 'sih? Melakukan apa?! Aku tidak mau!" Serena memukul keras bahu Marvin. Yang dipukul langsung terpingkal.
Ponsel Marvin kembali berbunyi. Itu dari Hugo. Marvin segera menerimanya. Ia menjauh dari Serena agar pembicaraannya dengan Hugo lebih leluasa. Serena tidak terlalu peduli. Ia sedang menikmati jus sambil menatap hamparan lautan yang berjarak sekitar lima kilo meter dari villa tersebut.
"Ya Hugo. Ada apa?"
"Pak Bos, aku tidak tahu ini kabar baik atau buruk."
"Maksud kamu? Langsung saja." Marvin tidak sabaran.
"Aku ditangkap oleh anak buahnya Pak Wandira, tapi aku sudah dibebaskan lagi Pak Bos."
"A-apa?!"
Marvin sampai menutup mulutnya agar keterkejutannya tidak disadari oleh Serena.
"Ya Pak Bos. Pak Wandira menyerahkan bukti transfer dari perusahannya ke Bank Royal. Intinya, Pak Wandira sudah melunasi hutangnya."
"Apa?! Dari mana dia mendapatkan uang?!" Marvin kembali terkejut.
"Aku juga tidak tahu Pak Bos. Yang jelas, sesuai dengan perjanjian sebelumnya, pak Wandira meminta agar Anda segera membebaskan Nona Serena. Sebab kata pak Wandira, dalam surat perjanjian pra nikah, Pak Bos sepakat akan menceraikan Nona Serena jika pak Wandira berhasil melunasi hutangnya. Apa benar seperti itu Pak Bos?"
Marvin terdiam sejenak. Ya, ia perjanjian itu memang benar adanya.
"Saya harus bertemu dengan pak Wandira. Kamu tolong atur waktunya. Saya tidak bisa melepaskan Serena begitu saja. Di dalam tubuhnya sudah mengalir darah daging saya."
__ADS_1
"Baik Pak Bos, akan aku usahakan."
"Kok bisa buronan polisi mendapatkan uang sebanyak itu! Pria itu benar-benar mencurigakan dan berbahaya!"
"Pak Wandira bukan bandar judi sembarangan Pak Bos. Oiya, menurut kabar yang aku dengar dari anak buahnya, pak Wandira akan menikahkan Nona Serena dengan koleganya."
"Apa katamu?! Dia gila! Serena itu istri saya, Hugo!"
"Pak Bos? Ada apa?"
Karena Marvin beteriak, sayup-sayup Serena mendengarnya.
"Kamu menguping?" Marvin kembali ke tempat duduknya setelah mengakhiri panggilan.
"Aku tidak mendengar jelas. Tadi kaget karena Anda beteriak memanggil nama Hugo."
"Oh," syukurlah. Marvin merasa lega.
"Serena." Marvin merangkul bahu Serena.
"Ya."
"Begini, kalau semisalnya keluarga kamu jadi kaya lagi seperti dulu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kenapa Anda bicara seperti itu?"
"Jawab saja."
"Emm, aku akan jadi anak baik."
"Maksud kamu?"
"Aku akan memperbaiki sikapku. Lebih bersyukur, lebih banyak belajar, dan aku ingin lebih dekat lagi dengan papa-mama dan adik-adik."
"Jika poisinya kamu sudah menjadi istri saya, apa yang akan kamu lakukan?"
"Pak Bos kenapa 'sih?! Selama kita tidak bercerai, ya kita tetap jadi suami-istri!" Serena jadi kesal. Wajahnya langsung cemberut.
"Maaf." Marvin memeluknya sambil mengelus rambut Serena.
"Saya tidak mau kehilangan kamu," lanjutnya pelan.
"Aku sudah bersama Anda, di samping Anda. Apa yang Anda khawatirkan?"
"Emm, tidak ada," jawab Marvin asal.
Ponsel Marvin kembali berbunyi. Kali ini ada pesan masuk dari Hugo.
"Pak Bos, pak Wandira ingin bertemu Anda besok malam. Untuk tempat pertemuannya akan aku kabari lagi. Tapi dia berpesan agar pertemuan ini dirahasiakan dari siapapun dan tidak melibatkan polisi. Jika Anda membawa polisi, dia mengancam akan melakukan sesuatu yang membuat Anda menyesal seumur hidup."
"Baik." Sambil terus memeluk Serena, Marvin membalas pesan tersebut.
"Sikap Anda aneh sekali," gumam Serena sembari mengusap dada bidang Marvin. Tak hanya mengusap, ia juga usil mencabut bulu dada Marvin. Baju pria itu memang tidak dikancingkan seluruhnya.
"Auhh, Serena!"
"Hihihi." Serena puas.
"Kamu ya!" Marvin membalas keusilan Serena dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh bagian wajah Serena.
Sekilas, mereka terlihat bahagia. Namun siapa sangka jika di balik adegan itu, ada permasalahan yang cukup pelik.
Ya, Marvin sepakat akan menceraikan Serena jika pak Wandira melunasi hutangnya. Sejak awal, Serena memang istri sitaannya. Dulu, tanpa pikir panjang Marvin menyetujuinya karena ia yakin pak Wandira tidak akan mampu membayar hutang dan iapun yakin jika dirinya tidak akan jatuh cinta pada Serena.
Pada akhirnya, kecupan Marvin berlabuh di bibir Serena yang menggemaskan.
Di bawah sana, Hendrik tidak sengaja menengadah ke atas balkon dan menyaksikan adegan tersebut. Pria yang baru saja lulus kuliah itu langsung memalingkan wajah dan berlari ke dalam villa.
"Ya Tuhan!" pekiknya.
Segera ke dapur, membuka kulkas, dan menenggak air dingin. Lalu secara tiba-tiba, rintihan dan jeritan samar Serena pada malam Marvin tiba untuk pertama kalinya ke villa ini terngiang kembali. Malam itu, ia juga tidak sengaja mendengarnya saat melintasi kamar mereka. Hendrik mengatur napasnya.
"Telinga dan mataku sudah ternodai. Ampuni hamba-Mu yang lemah ini, Tuhan ...."
"Aku harus kuat iman! Pokoknya tidak boleh pacaran, titik! Hanya boleh melakukan 'ini' 'itu' dan melihat 'ini' 'itu' setelah menikah. Titik! Semangat Hendrik! Kamu pasti bisa!" pekiknya.
Sementara di balkon, pertautan yang dalam dan panas itu rupanya sudah usai.
Pipi Serena merona, wajah cantiknya terlihat bercahaya karena tersorot sinar matahari senja. Mereka sedang saling memandang. Marvin memegang tangan Serena dan berulang-ulang mengecup tangan tersebut. Sementara Serena, ia manatap wajah Marvin sambil mengusap perutnya.
Jika janin yang dikandungnya laki-laki, ia berharap putranya akan setampan Marvin. Jika perempuan pun, ia berharap akan seperti Marvin. Maksudnya, Marvin dalam versi wanita.
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.
__ADS_1