
Kamar ini sangat nyaman. Namun Serena seolah tidak merasakan kenyamanan kamar tersebut. Ketidakhadiran Marvin di sisinya menjadi penyebab utama. Akhirnya, ia hanya bisa melamun di pojok kamar sambil menatap ke arah balkon yang tirainya dibiarkan terbuka. Dari celah tirai, ia bisa melihat gemerlapnya lampu yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit.
"Semangaaat!" teriaknya.
Walaupun kegundahan tengah menyelimuti benaknya, namun ia selalu berusaha agar tetap tenang dan tidak terpuruk. Lalu pergi ke dapur untuk mengambil camilan. Ia paksakan memakannya agar janin di dalam rahimnya tidak kekurangan gizi.
...***...
Sekitar pukul sepuluh malam, ia tampak terlelap di sofa seraya memeluk bantalan kursi. Televisi di hadapannya masih menyala dan saat ini sedang menayangkan berita malam tentang polusi udara yang menyerang pusat kota.
Serena tidak menyadari jika dua orang pria telah memasuki apartemennya. Dua sosok itu mengendap masuk dan memakai masker. Ia jelas bukan orang asing karena mengetahui kata sandi untuk memasuki unit tersebut.
"Ssst," ujar salah satu dari mereka.
"Pak Bos benar-benar nekad, haish," rutuk pria yang satunya lagi.
"Sudahlah Ian, kita turuti saja," jawab temannya sembari menatap pada Serena.
"Tapi Rick, aku tidak yakin ini akan berhasil."
Ya, para pria itu adalah Edrick dan Rian. Mereka sedang menjalankan misi menculik Serena sesuai dengan instruksi Marvin.
"Bagaimana kita membawanya?" bisik Rian.
"Kata Pak Bos, jangan menyentuh dan jangan menyakiti Nona Serena selembar rambutpun. Terus bagaimana kita membawanya kalau tidak boleh menyentuhnya?" Edrick malah balik bertanya.
"Pak Bos benar-benar aneh." Rian tampak kesal.
"Tunggu, yang dimaksud Pak Bos tidak menyentuh pasti berhubungan dengan sidik jari. Amankan sidik jari kita dengan sarung tangan karet," duga Edrick.
"Nah, itu aku juga sepakat. Baiklah, mari kita mulai misinya." Rian segera memakai sarung tangan dan bersiap. Pun dengan Edrick.
"Siapa kalian?!" teriak Serena yang terbangun tiba-tiba dan tentu saja terkejut saat mendapati dua orang pria berbadan tinggi telah berada di hadapannya.
Edrick dan Rian saling berpandangan. Mereka harus merahasiakan identitas atas perintah Marvin.
"Anda harus ikut dengan kami!" jawab Rian dengan nada suara yang dibuat-buat agar Serena tidak mengenalinya.
"Ikut?! Kalian siapa?! Pergi!" teriak Serena. Walau batinnya ketakutan, lagi-lagi ia berusaha tetap tenang. Saat ini, tangannya sedang memasuki saku untuk melakukan panggilan darurat ke nomor polisi terdekat.
"Pokoknya Anda harus ikut dengan kami!" Edrick segara meraih tangan Serena dan mengekangnya.
"Edrick?! Kamu?!"
Serena menatapnya. Ternyata, masker dan kaca mata tidak cukup untuk mengelabui Serena. Padahal, penerangan di ruangan tersebut remang-remang, namun Serena merasa yakin jika pria itu adalah Edrick.
"Anda salah orang!" sangkal Edrick.
"Kamu mengkhianati Pak Bos?!" duga Serena. Lalu tangannya pasrah saat pria yang ia duga sebagai Edrick mengingat tangannya.
"Aku bukan Edrick." Edrick kembali menyangkal. Lalu dengan terpaksa, Rian memukul titik lemah di bagian tengkuk Serena dan menyebabkan Serena lemas seketika.
"Rian! Apa yang kamu lakukan?! Kamu menyakiti Nona Serena!" teriak Edrick tidak terima.
"Aku terpaksa. Aku akan bertanggung jawab atas ini! Kita harus segera membawanya! Cepat!" desak Rian.
Lalu ia berlari untuk mengambil troli barang berukuran besar dari luar unit. Rian pasti telah mempersiapkan troli tersebut.
Serena disandarkan pada troli tersebut dan diselimuti. Ya, mereka harus melakukan itu agar tidak dicurigai petugas keamanan.
...***...
Syukurlah, hingga troli tersebut sampai di parkiran, tidak ada seorangpun petugas keamanan yang menaruh curiga. Ditambah dengan penampilan Edrick yang telah mengganti bajunya dengan seragam petugas kebersihan apartemen.
"Berhasil," ucap Rian. Ia melajukan kemudi seraya tersenyum.
Sementara Edrick, ia menatap Serena yang masih terkulai dengan perasaan iba. Sungguh, di usia Serena yang semuda ini, Edrick merasa jika Serena harusnya masih asyik bermain dengan sebayanya.
...***...
__ADS_1
"Papaaa!" teriak Marvin.
Ia menggedor pintu kamar yang digunakan untuk menyekapnya. Lalu menendang kamar tersebut berulang-ulang. Kemarahannya pada sang papa benar-benar telah meluap. Ia tidak menyangka jika papa kandungnya tega mengurungnya dan menghancurkan karirnya.
Tindakan papanya dirasa sangat keterlaluan. Maka dari itu, Marvinpun berani bertindak dan setelah kesabarannya nyaris habis, ia akhirnya memutuskan untuk menyusun skenario penculikan terhadap Serena.
Rencananya, Serena akan dibawa ke suatu tempat yang sulit dijangkau dan hanya diketahui oleh Marvin beserta orang-orang kepercayaannya.
"Papa!"
Teriakannya semakin kuat. Sadar jika di area pintu terpasang CCTV, Marvin sengaja membentur-benturkan tubuhnya ke pintu, berharap ia kesakitan, lalu papa atau mamanya melihatnya. Sesekali Marvin meringis lantaran rasa sakit mulai menyerang tubuhnya. Bahu dan lengannya mulai memar, dan hal itu ternyata belum cukup untuk membuat pak Jacob iba terhadapnya.
...***...
Rupanya, usaha Marvin tidak sepenuhnya gagal. Faktanya, di ruang kontrol CCTV, tampak mama Syakilla tengah menangis di samping pak Jacob. Ia sedang memohon agar Marvin dimaafkan.
"Aku mohon Pa, lepaskan dia! Kasihan Marvin, Pa! Lihat! Dia pasti kesakitan! Huuu ...."
"Bukannya kamu yang ingin memberi pelajaran pada dia?! Saya hanya berusaha mengikuti keinginan kamu untuk memisahkan Marvin dan Serena!" sentak pak Jacob. Matanya tetap fokus pada layar yang menampilkan rekaman CCTV.
"Pa! Aku hanya ingin memishkan Marvin dari Serena! Bukan menyiksa Marvin!" Mama Syakilla naik pitam. Ia lantas membanting kursi dan berlari.
"Mama! Syakilla!" Pak Jacob memanggilnya, namun diabaikan.
"Mau ke mana kamu, hahh?!" Akhirnya mengejar mama Syakilla. Sementara para pengawai yang berada di tempat tersebut, hanya bisa menunduk dan tidak berani ikut campur.
"Aku mau melepaskan Marvin!" jelas Mama Syakilla.
"Apa?! Syakilla! Kamu sudah berani melawan saya?!"
"Ya! Aku tidak peduli! Kalau Marvin mati bagaimana?! Dia anak kita satu-satunya! Apa kematian Miranda tidak membuatmu menyesal!"
"Syakilla! Kamu?!" Pak Jacob mencengkram tangan istrinya.
"Lepas! Atau aku mati saja!" ancam mama Syakilla seraya mengambil pistol dari saku salah satu pengawal dan menondongkan moncong pistol tersebut ke kepalanya. Gerakan mama Syakilla sangat cepat dan membuat pengawal dan pak Jacob terkejut.
"Mama! Jangan main-main! Itu pistol sungguhan!"
Pak Jacob dilema. Ia jelas tidak ingin kehilangan istri cantik yang telah didapatkannya dengan susah payah.
"Ba-baiklah, saya mengalah."
Pak Jacob mengangkat kedua tangannya, lalu memberi isyarat pada pengawal agar mengambil pistol dari tangan mama Syakilla. Setelah pistol tersebut berhasil direbut kembali, ia memeluk mama Syakilla dan meminta maaf.
"Maaf, baiklah, saya akan membebaskan Marvin," ucapnya.
"Bebaskan sekarang! Aku tidak percaya dengan kata-kata kamu sebelum melihat buktinya!"
"Ya, mari kita temui Marvin bersama-sama," ajak pak Jacob.
Mama Syakilla menyeka airmatanya, lalu mereka bergegas menuju ruangan yang digunakan untuk mengurung Marvin.
...***...
"Marvin?!"
Mama Syakilla merangkul tubuh gontai putranya saat pintu kamar terbuka. Buku-buku tangan Marvin berdarah. Karena putus asa, Marvin meninju dinding tembok berulang-ulang. Lengan dan bahunya dipenuhi memar. Penampilan Marvin yang agak kurus dan pucat, benar-benar membuat mama Syakilla merasa bersalah.
"Maafkan Mama, Nak." Ia memeluk erat tubuh putranya. Pak Jacob menatap adegan itu tanpa ekspresi.
"Hei! Cepat bawa anakku ke rumah sakit!" teriak mama Syakilla pada pengawal yang terbengong-bengong. Mereka melirik pada pak Jacob untuk meminta persetujuan. Pak Jacob mengangguk pelan.
"Saya benci Mama dan Papa," lirih Marvin di sisa tenaganya saat tubuhnya dipindahkan ke tandu untuk di bawa ke rumah sakit.
...***...
~Tiga Hari Kemudian~
Kondisi Marvin telah membaik. Namun cairan infus masih terpasang di tangan kanannya. Wajahnya tampak bersih dan segar. Ia sedang duduk sambil melamun tetesan cairan infus. Dua hari yang lalu, Rian dan Edrick telah melaporkan hilangnya Serena dari apartemen. Setelah mendapat kabar itu, dengan percaya diri, Marvin menuduh jika pak Jacob adalah dalang utama atas hilangnya Serena.
__ADS_1
Pak Jacob tentu saja tidak terima, dan ia balik menuduh jika Marvin sengaja memanipulasi hilangnya Serena. Hilangnya Serenapun telah sampai ke telinga pak Wandira.
Hal tersebut membuat hubungan antara pak Wandira, pak Jacob dan Marvin semakin kacau. Kabar terbaru, pak Jacob menduga jika Serena sengaja diculik oleh pak Wandira yang hingga saat ini masih buron.
Pak Jacob telah meminta bantuan polisi untuk mencari Serena, namun kata polisi, mereka kehilangan karena CCTV di apartemen milik Serena tidak berfungsi.
Lalu seorang wanita cantik yang wajahnya tidak asing memasuki kamar tersebut. Ya, dia adalah Clara.
"Sudah saya katakan jangan pernah muncul di hadapan saya lagi," ketus Marvin sambil membelakangi Clara.
"Mama dan papa kamu yang menyuruhku menemani kamu. Vin, aku tahu kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi apa kamu juga tidak bisa menerimaku sebagai teman?"
"Tidak bisa!" sentaknya.
"Vin, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa seperti dulu lagi? Emm ..., maksudku ... aku ingin kita menjadi teman." Clara mencoba meraih tangan Marvin. Namun Marvin menepisnya.
"Vin ...," panggilnya lembut. Untuk beberapa saat, Marvin hanya terdiam. Lalu ....
"Ra."
Marvin tiba-tiba membalikan badan dan membuat Clara bahagia. Tak hanya itu, Marvin juga inisiatif memegang tangan Clara dan menatapnya. Clara menelan saliva, dan pipinya langsung merona seketika.
"Saya bersedia menjadi teman kamu, tapi ada syaratnya."
"Ka-kamu serius? Sya-syarat apa?" Clara sampai gelagapan saking bahagianya.
"Saya bosan berada di sini, bisakah kamu membawa saya keluar? Maksud saya, jalan-jalan ke taman rumah sakit."
"Ke taman? Ta-tapi, kata Papa Jacob kamu tidak boleh keluar. Di depan kamar ini juga ada penjaganya." Clara ragu.
"Kalau kamu tidak mau, tidak perlu." Marvin segera melepaskan genggaman tangannya.
"Vin, tunggu. Emm, kamu tidak berencana kabur 'kan?"
"Apa katamu? Kabur? Kamu dan papaku sama saja. Sudahlah, kita memang tidak cocok!"
"Marvin, maaf."
Clara mendekat dan tanpa ragu, ia memeluk Marvin yang posisinya sedang duduk di sisi tempat tidur. Anehnya, Marvin juga tidak menolak Clara. Merasa mendapat angin segar, Clara semakin memperat dekapannya. Air mata wanita itu meleleh, setelah sekian lama, hari ini ia akhirnya bisa merasakan kembali aroma tubuh Marvin yang selalu dirindukannya.
"Lakukan sesuatu agar kamu bisa membawa saya ke taman. Saya hanya ingin menghirup udara segar," bisik Marvin. Ia bahkan membelai rambut Clara.
"Ba-baiklah, tapi ... apa setelah ini, hubungan kita bisa kembali seperti dulu lagi?" tawar Clara.
"Semua tergantung kamu," jawab Marvin.
"Baiklah, tapi aku masih mau memeluk kamu, Vin."
"Silahkan," jawab Marvin sambil menatap tajam pada jam dinding dengan sudut matanya, tanpa disadari oleh Clara.
...***...
~Tiga Puluh Menit Kemudian~
"Marvin? Marvin? Viiin!" panggil Clara.
Ia spontan menjatuhkan tumbler berisi air hangat yang dibawanya saat menyadari jika Marvin tidak berada di tempat duduknya.
"Pak! Apa Anda melihat pasien yang duduk di kursi taman ini?! Dia tinggi, tampan, pakai infus dan terpasang verban di tangan kanannya!" tanya Clara. Raut wajahnya menunjukkan kepanikan.
"Saya tidak tahu," jawab pria itu sambil berlalu.
"Ti-tidak mungkin," Clara terduduk di bangku taman. Tadi, Marvin memintanya mengambilkan air hangat.
"A-apa dia menipuku? Oh tidak! Aku harus segera mencarinya!"
Clara berlari untuk meminta bantuan. Ia yakin jikapun Marvin kabur, pasti belum jauh dan masih berada di sekitar rumah sakit ini.
"Tolooong! Tolooong!"
__ADS_1
Clara sengaja beteriak agar menjadi pusat perhatian dengan harapan akan ada banyak orang yang bisa membantu mencari dan menemukan Marvin.
...~Next~...