
"Kenapa begitu terkejut? Ayo makan lagi," ajak Nyonya Sykilla sambil memegang bahu putranya.
"Ma-maaf Mama. Marvin sudah kenyang. Mama lanjutkan ya. Marvin mau berangkat sekarang."
Ia segera meraih tangan Nyonya Syakilla untuk diciumnya. Ternyata, Marvin selalu berusaha menghindari perdebatan dengan mamanya. Ini ia lakukan karena dirinya sangat menghormati kedudukan Nyonya Syakilla sebagai ibu kandungnya.
"Marvin!" panggil mama Syakilla.
"Maaf Mama."
Marvin berbalik badan sejenak dan membungkukkan badan pada mamanya. Lalu berlari cepat ke kamarnya dengan perasaan kalut. Ia tidak yakin Serena nekad pergi begitu saja.
"Serena," gumamnya. Lalu mengambil tas dan kunci mobil.
"Marvin!"
Keluar dari kamar, ia mendengar jika mama Syakilla memanggilnya. Namun terpaksa diabaikan karena takut menimbulkan pertengkaran.
"Maaf Mama," katanya. Ia segera menekan tombol lift dan sedikit panik.
"Serena." Marvin berharap jika gadis itu belum pergi jauh.
"Pak Bos," Hugo menyusul.
"Kamu cepat hubungi Edrick, Rian dan Boy! Suruh mereka mencari Serena! Tapi tolong rahasiakan masalah ini dari Indri! Saya takut dia bercerita pada Bu Putri!"
"Baik Pak Bos. Oiya, bukan 'kah kata Pak Bos bu Putri hilang?"
"Tadi ada pesan dari Edrick kalau bu Putri sudah kembali."
"Berarti, bu Putri tidak hilang Pak Bos?"
"Tidak. Dia sepertinya sengaja pergi untuk bertemu seseorang. Saya sudah menyuruh mata-mata untuk menyelidiki. Cepat!" Marvin tidak sabaran. Ia sampai mendorong Hugo agar berjalan lebih cepat.
"Siap Pak Bos!" Hogo berlari menuju mobilnya. Posisi mereka saat ini telah berada di area parkiran.
'Bruuum.'
Mobil Marvin sudah melesat cepat meninggalkan apartemen dan membuat Hugo terkejut. Ia yakin jika Pak Bos benar-benar tidak ingin kehilangan Serena.
...***...
_______
"Serena."
Marvin terus menyebut nama Serena sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut jalanan. Ia yakin Serena belum pergi jauh dari apartemen. Pikirannya benar-benar buruk. Ia takut Serena diculik dan dijual oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Di tengah kepanikannya itu, ponselnya menyala. Ada panggilan dari Hugo. Walau malas mengangkatnya, tapi ia tidak bisa menolak karena Hugo adalah orang kepercayaannya.
"Ya Hugo. Ada apa? Kamu sudah mengabari Edrick, Rian dan Boy?"
"Mereka sudah aku kabari Pak Bos. Ta-tapi ini ada hal penting yang harus aku sampaikan. Tapi tidak bisa ditelepon Pak Bos. Aku harus bicara langsung dengan Pak Bos." Suara Hugo terdengar panik.
"Ada apa?! Katakan saja! Apa kamu tidak tahu kalau saya sedang panik karena Serena pergi?! Jangan menambah masalah baru Hugo!" sentaknya.
"Emm, a-aku jelaskan nanti saja ya Pak Bos."
"Apa?! Berani ya kamu membuat saya penasaran Hugo! Cepat katakan! Sekarang!" teriaknya. Sedangkan matanya, tetap fokus mencari Serena.
__ADS_1
"Be-begini Pak Bos. Rian berhasil menangkap Nunu, Pak Bos."
"Kabar macam apa itu?! Nunu hanyalah kaki tangannya Wandira! Saya maunya kalian menangkap Wandira! Bukan dia!" Teriakan Marvin kian kencang.
"Ta-tapi Pak Bos. Informasi yang didapatkan dari Nunu sangat penting Pak Bos."
"Info apa?! Sudahlah Hugo! Jangan membuat saya darah tinggi! Jangan bertele-tele! Atau saya tutup teleponnya!"
"Be-begini Pak Bos, dokter yang menyuntik obat kontrasepsi pada Nona Serena bukanlah dokter rumah sakit tempat Nona Serena dioperasi."
"A-apa?! Maksud kamu?! Saya belum paham!"
"Pak Bos, dia memang dokter. Tapi dia adalah orangnya pak Wandira. Jadi, ada kemungkinan kalau obat kontrasepsi untuk Nona Serena tidak benar-benar disuntikkan."
"Apa?!"
Marvin spontan mengerem mendadak laju mobilnya. Untung saja lalu lalang kendaraan sedang lenggang, jika tidak, apa yang dilakukan Marvin bisa saja menyebabkan kecelakaan beruntun.
"Gara-gara Anda menyuntikku! Siklus datang bulanku jadi tidak teratur! Sampai sekarang aku belum datang bulan!"
Bersamaan dengan itu, ucapan Serena memenuhi isi kepalanya.
"Halo Pak Bos?" Hugo khawatir. Marvin segera mengakhiri panggilan secara sepihak, lalu ia menepikan mobilnya dan mengatur napas.
"Ti-tidak mungkin," ucapnya.
Wajah tampan Marvin memucat seketika. Belum juga kepanikannya mereda, matanya menangkap sosok yang sedang dicarinya. Gadis itu baru saja menaiki sebuah bus.
"Serena?!"
Dengan tangan gemetar dan wajah yang masih memucat, Marvin kembali melajukan kemudi untuk membuntuti bus tersebut.
"Sia!" rutuknya saat sebuah mobil menghalangi jalannya.
"A-apa mungkin? Ti-tidak mungkin!"
Kepanikan Marvin kian menjadi. Ia berharap jika dugaannya itu tidak terjadi. Lantas menginjak pedal gas untuk mengejar bus yang membawa Serena. Ini adalah sebuah keadaan yang membutnya dilema. Sekarang, ia sedang berusaha memepet mobil bus tersebut.
"Serena!" panggilnya saat ia melihat gadis tersebut di balik kaca bus.
Namun, Serena tidak bisa mendengarnya, dan kesempatan untuknya menyalippun sirna. Sebab, lalu lalang kendaraan mulai ramai dan menyulitkan laju mobil Marvin.
"Aaarghh!" teriaknya. Ia memukul setir berulang-ulang.
"Serena?!"
Ia terkejut karena melihat Serena turun dari mobil bus. Marvin segera menepikan mobilnya dan turun dengan tergesa-gesa hingga kepalanya membentur bingkai pintu mobilnya.
"Aduh!" pekiknya.
Ia berlari dan mengejar Serena yang saat ini sedang berjalan di bahu jalan. Di balik kekacauan perasaannya, ia juga merasa bahagia karena dapat menemukan Serena dengan cepat.
Serena berjalan tanpa mengetahui jika dirinya sedang dibuntuti oleh pria yang harus dihindarinya. Ia turun dari bus karena merasa tidak nyaman.
"Bisa-bisanya aku duduk dengan orang yang bau ketiak! Ya Tuhan," keluhnya.
"Percuma dia berdandan serapi itu kalau ketiaknya bau! Rasanya tadi aku mau memberinya uang dan menyuruhnya beli deodorant!"
Marvin mengulum senyum. Walau hatinya gundah gulana. Namun ocehan Serena berhasil membuatnya sedikit terhibur.
__ADS_1
"Kenapa tidak dari saja tadi aku naik taksi? Ya Tuhan, maafkan hamba karena belum siap hidup sederhana. Tuhan, aku hanyalah hamba yang berlumur dosa namun selalu mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Aku ingin kaya-raya di dunia, mati dalam keadaan baik dan beriman, serta masuk surga. Aamiin," ucapnya. Ia berhenti sejenak demi menengadahkan tangannya ke udara.
"Aamiin," sahut Marvin yang sudah berdiri tepat di belakang Serena.
"Tunggu, 'kok aku mendengar suara Pak Bos 'sih?" Serena menautkan alisnya. Masih belum sadar kalau Marvin berada di dekatnya. Ia bahkan menghentikan sebuah taksi.
Marvin begerak cepat. Ia menuju ke sisi pintu sebelah kanan. Lalu masuk bersamaan ke dalam taksi tersebut bersama Serena. Seperti adegan dalam drama-drama. Keadaan itulah yang sedang terjadi saat ini.
"P-Pak Bos?!" Serena terkejut luar biasa.
"Pak, aku tidak jadi naik!" Tersadar jika ia harus menghindari Marvin, Serena segera turun dari taksi tersebut. Marvin pun ikut turun.
"Maaf Pak," kata Marvin.
"Yah, nasib-nasib. Sabaaar, baru juga mau dapat penumpang," keluh pengemudi taksi. Hanya bisa mengelus dada.
Serena berlari. Ia tidak ingin bertemu dengan Marvin. Ia sudah berjanji untuk menjauhinya.
"Serena! Tunggu!" Marvin mengejarnya.
Karena kondisi jalan cukup ramai dengan pejalan kaki, Serena tidak bisa berlari dengan leluasa.
"Jangan pergi," Marvin berhasil menangkapnya. Pria itu memeluk Serena erat-erat.
"Lepas! Aku mau cerai!" tolak Serena. Ia berusaha melepaskan diri dari Marvin. Tapi tidak berhasil.
"Apa mama saya menyakiti kamu?" Marvin membalikkan tubuh Serena dan kembali memeluknya. Lalu menangkup pipi Serena dan menatapnya dalam-dalam.
"Ti-tidak, Nyonya Syakilla tidak menyakitiku," jelas Serena. Namun dengan mata yang berkaca-kaca, ia segera memalingkan wajah agar Marvin tidak sampai melihat kesedihannya.
"Saya minta maaf atas nama mama saya."
"A-aku harus pergi Pak Bos. A-aku tidak pantas berada di samping Anda."
"Mau pergi ke mana, hmm? Biar saya antar."
"Apa?! A-aku mau kabur! Aku mau menghindari Anda! Masa yang kabur diantar?! Lepas!"
"Tidak bisa."
"Pak Bos! Lepaskan! Atau aku teriak!"
"Serena, bisakah kamu menerima saya sebagai suami sungguhan? Jika kamu mau pergi dari apartemen, silahkan. Tapi tolong jangan pergi dari sisi saya," pintanya sembari kembali memeluk Serena.
Marvin bahkan tidak memedulikan beberapa orang pejalan kaki yang memerhatikan mereka. Serena terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Karena sejatinya, ia juga nyaman berada di sisi Marvin.
Dan rintik hujan pun mulai turun. Marvin segera melepas jasa dan melindungi kepala Serena. Disusul dengan kilatan-kilatan cahaya kecil yang menghiasi cakrawala. Sepertinya, hujan kali ini akan disertai dengan petir. Pejalan kaki berlarian untuk berteduh.
"Kita masuk ke mobil ya."
Marvin menuntun Serena dan terus melinduginya. Rambut dan bahu Marvin bahkan sudah mulai basah. Serena sebenarnya sadar diri jika ia harusnya menolak dan menghindari Marvin. Namun kakinya tetap melangkah mengikuti Marvin. Hingga akhirnya, mereka telah berada di dalam mobil.
Lalu tanpa sadar, Serena mengambil tissue dan mengelap kepala Marvin. Marvin mematung, ia terdiam seraya menatap pada bagian perut Serena.
"Apa Anda membawa baju ganti?" Pertanyaan Serena mengagetkan Marvin.
"A-ada di kantor," jawabnya.
"Kenapa?" Serena heran karena Marvin terus menatap perutnya.
__ADS_1
"Apa kamu masih belum datang bulan?" Pertanyaan Marvin membuat Serena semakin kebingungan.
...~Next~...