ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
CATATAN KECIL DAN KATA HATI


__ADS_3

"Maaf Nona Clara, saya tidak tahu apa-apa," jawab Hugo. Jelas, ia adalah orang kepercayaan Marvin. Pria yang sangat berjasa dalam merubah taraf hidupnya.


"Kamu 'tuh ya! Berapa uang yang kamu inginkan?! Sudah dibayar berapa kamu sama Marvin?!"


"Maaf Nona, kalau Anda tidak mau diantar pulang, saya juga tidak akan memaksa Anda." Hugo mengalihkan pembicaraan dan berlalu begitu saja.


"Aaaa!" teriak Clara.


Pikirnya, Marvin dan Hugo sebelas dua belas. Sama-sama tidak lagi memedulikannya dan sama-sama tidak berusaha untuk membujuknya.


Setelah Hugo pergi, Clara segera menelepon seseorang.


"Halo, kamu masih di depan kantor, 'kan? Tolong ikuti mobil kekasihku. Katanya dia mau bertemu dengan temannya. Aku mau tahu temannya seperti apa. Vidiokan hasilnya ya," perintahnya.


Walaupun Marvin mengatakan ingin putus, Clara tetap yakin jika ucapan itu hanya ucapan Marvin yang sifatnya sesaat.


"Papa Jacob, huuu." Sekarang waktunya menghubungi papa Jacob untuk curhat.


"Kenapa?"


"Marvin Pa. Marvin meminta putus," jelasnya seraya terisak-isak.


"Apa?! 'Kok bisa? Kalian ada masalah?"


Pikir papa Jacob, tidak mungkin Marvin meminta putus secara tiba-tiba. Apa lagi, sekarang mereka sedang mempersiapkan acara pernikahan yang tinggal menghitung hari.


"Marvin salah paham, Pa. Aku belum sempat menjelaskan, Marvin sudah tidak sabaran dan pergi. Padahal, aku hanya menanyakan tanda merah di lehernya Pa. Huks, baru kali ini aku menemukan tanda merah di leher Marvin. Aku mencurigai dia ada main dengan wanita lain. Huuu, itu kesalahanku." Clara menyesalinya.


"Tanda merah? Pasti hanya tanda merah biasa. Mungkin dia lagi alergi. Papa yakin Marvin bukan anak yang nakal. Papa bisa menjamin itu, Ra. Kalaupun papa sibuk karena menjadi kepala keluarga, namun Papa merasa sudah mendidik Marvin dengan baik. Papa selalu menekankan pada dia agar tidak pernah menyakiti hati wanita ataupun mempermainkan perasaannya."


Papa Jacob berbicara demikian tentu saja untuk menenangkan Clara. Karena faktanya, iapun tidak tahu sikap Marvin seperti apa jika dihubungkan dengan kisah asmaranya. Yang papa Jacob tahu, Marvin sangat mencintai Clara. Namun dari banyak mata-mata yang ia tugaskan untuk mengintai Marvin, mereka menjelaskan jika Marvin memang baik. Tidak pernah pergi ke clubbing, tidak pernah meminum alkohol, tidak merokok, dan tidak pernah membawa wanita lain selain Clara.


Ya, Marvin memang pernah membawa wanita lain selain Clara. Tapi wanita itu sengaja dibawanya untuk balas dendam. Wanita yang dimaksud Bos Besar alias papa Jacob adalah Serena.


"Aku juga yakin kalau Marvin anak baik, Pa. Tapi semenjak dia membawa Serena ke apartemen, sikapnya mulai berubah."


"Ra, untuk masalah Serena, sepertinya Papa harus bicara langsung sama kamu. Papa harus menjelaskan alasan papa kenapa mengizinkan Marvin membawa gadis itu. Rara ke rumah ya," bujuk pak Jacob.


"Baik, Pa."


Sebenarnya, Clara sudah mengetahui hubungan antara pak Wandira dengan Marvin, namun ia masih penasaran dan ingin mengetahuinya lebih lanjut lagi.


...***...


_______


"Sial! Mobil sipa 'sih itu?"


Marvin menyadari jika dirinya ada yang menguntit. Ia harus mencari cara agar tidak diuntit lagi.


Di sebuah persimpangan, saat mobil penguntit terhalang oleh mobil lainnya, Marvin berbelok ke sana dan memarkirkan mobilnya di depan rumah warga.


"Maaf, mau ke siapa ya?" Pemilik rumah keheranan.


"Maaf Bu, saya lagi buru-buru. Bisa titip dulu mobil saya di sini?" sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada pemilik rumah tersebut yang saat ini sedang kebingungan karena Marvin memberikan uang yang jumlahnya banyak.


"Permisi Bu, saya pamit dulu. Nanti asisten saya yang akan ke sini dan mengambil mobilnya," terangnya. Marvin bergegas pergi saat si pemilik rumah masih terkesima dengan uang dan ketampanan tamu asing tersebut. Akhirnya, pemilik rumah hanya bisa mengangguk dan memelototi uang di tangannya.


Marvin kembali ke sisi jalan dan mendapati jika mobil yang menguntitnya telah pergi, ia yakin mobil tersebut masih berusaha mengejarnya.


"Dasar amatiran," ledek Marvin. Kemudian ia memesan taksi untuk menjemput Rio.


...***...


_______


Rio, bocah itu ternyata sudah menunggunya. Sedang duduk di sisi trotoar sambil membaca buku.


"Rio," panggil Marvin. Ia turun dari taksi.


"Kak Marvin?" Sedikit terkejut karena Marvin turun dari taksi.


"Maaf, mobil Kakak mogok." Ia langsung menuntun tangan Rio setelah Rio mencium tangannya.


"Tak masalah," sahutnya. Mereka kemudian masuk ke dalam taksi tersebut.


"Belajar apa hari ini?" Marvin memulai pembicaraan.


"Ya belajar pelajaran 'lah, Kak."


"Rio paling suka pelajaran apa?"


"Aku merasa semuanya harus kupelajari karena ada manfaatnya. Bisa dibilang, Rio menyukai semuanya." Wah, sungguh jawaban yang sangat luar biasa dan sedikit sombong.


"Hahaha. Langka lho orang yang menyukai semua mata pelajaran."


"Tidak hanya menyukai semua mata pelajaran, Rio juga menyukai semua guru mata pelajaran. Karena prinsip Rio, agar nilai kita bagus, prinsip utamanya ya harus menghargai gurunya dulu. Kalau murid tidak hormat pada guru, ilmunya 'kan tidak akan berkah, bahkan ilmunya tidak akan bermanfaat. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiripun tidak berbekas," jelasnya.


"Wah," Marvin terpukau. Begitupun dengan pak sopir yang turut menyimak.


"Jadi tidak aneh kalau di zaman ini banyak orang yang menuntut ilmu untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya tetapi banyak juga orang-orang yang gagal walaupun sudah memiliki ilmu. Mengapa hal demikian terjadi ? Rio yakin itu diakibatkan karena ilmunya tidak membawa berkah," lanjutnya.


"Ck ck," Rio ini sebenarnya usia berapa tahun 'sih? Kakak tidak yakin kalau Rio masih berusia sepuluh tahun."


"Jangan melihat siapa yang bicara, Kak. Tapi lihatlah apa yang dibicarakannya. Kalaupun sesuatu itu berasal dari tempat yang kotor, tapi jika yang dihasilkan adalah hal baik, maka ambillah yang baiknya."


"Hahaha. Kakak tahu teori itu. Itu teori telur ayam 'kan? Kalaupun keluar dari tempat yang biasa mengeluarkan kotoran, tapi kalau yang keluarnya telur 'kan bisa diambil," sahut Marvin.


"Salah. Kak Marvin salah. Teori telur ayam tidak ada di dalam kamusku," sangkalnya.


"A-apa? Maksudnya?" Marvin heran sekaligus penasaran.


"Memangnya kalau ayam bertelur bisa langsung diambil? Ya tidak 'lah, Kak. Karena belum tentu juga ayam yang bertelur itu adalah ayam kita. Terus, memangnya yang bisa diambil dari pembuangan ayam hanya telurnya? Tidak 'kan? Karena ada juga yang justru sengaja mengambil kotorannya untuk dijadikan pupuk kompos."


"Hahaha. Baiklah, Kakak mengaku kalah."


Marvin merangkul bahu Rio. Kenapa Serena tidak sepandai Rio? Marvin jadi berandai-andai. Ya, andai Serena sepandai Rio, ia pasti akan semakin kerepotan.

__ADS_1


"Jadi yuk jalan-jalannya!" ajak Marvin.


"Maaf Kak. Bukannya Rio menolak, tapi ini sudah sore. Kak Eren pasti khawatir. Oiya, bagaimana kabar mamaku, Kak?"


"Ya ampun, Kakak hampir lupa. Kata Kak Eren, mama kamu sudah kembali."


"Apa?!" Rio terkejut.


"Saya juga kaget."


"Hmm, ini sangat aneh. Pak Sopir, apa bisa lebih cepat? Rio harus segera menyelidiki Mama," katanya.


...***...


_______


"Mama?"


Rio memeluk bu Putri. Sedangkan Marvin, saat ini sudah berada di kamar Serena. Ia belum bertemu Serena karena kata Indri, Serena sedang mengerjakan tugas kelompok.


"Rio ..., maafkan Mama." Bu Putri memeluk putranya. Airmatanya menetes karena merasa bersalah telah membuat anak-anaknya panik dan khawatir.


Melihat mamanya menangis, Rio tidak jadi mengintrogasi bu Putri. Bocah itu merasa tidak tega. Ia juga jadi mengingat ucapan Marvin tentang orang dewasa yang memiliki privasi dan ada kalanya memang sengaja dirahasiakan dari anak-anaknya.


"Yang terpenting adalah Mama baik-baik saja," ucapnya. Ia mengusap air mata bu Putri dan mereka kembali berpelukan.


...***...


"Kenapa dia belum pulang? Ini sudah jam berapa coba?!"


Marvin mondar-mandir ke sana kemari.


"Pak Bos, makan dulu," ajak bu Putri.


Bu Putri sendiri telah menjelaskan pada Marvin jika dirinya diculik oleh orang yang memiliki masalah dengan suaminya. Penculik itu menculiknya dengan alasan ingin menanyakan sesuatu. Marvin sebenarnya tidak yakin dengan penjelasan bu Putri. Namun ia tetap mengiyakan dan bermaksud akan tetap menyelidikinya.


"Bu, 'kok bisa Ibu biasa saja Serena belum pulang? Ini sudah jam delapan malam, Bu." Marvin tidak memedulikan ajakan bu Putri untuk makan.


"Kan Serena perginya dengan bu Indri, jadi saya merasa kalau Serena akan baik-baik saja."


"Oiya ya. Dia pergi dengan Indri. 'Kok saya bisa lupa." Marvin jadi malu pada dirinya sendiri.


"Ya sudah, lebih baik Pak Bos makan dulu."


"Nanti saja, Bu. Saya mau menunggu Serena. Terima kasih." Pria itu membungkukkan badan dan kembali ke kamar.


...***...


Tiba di kamar, ia segera menelepon Indri karena Serena tidak membawa ponselnya.


"Sudah di mana?" tanyanya tidak sabaran.


"Masih di rumah temannya Nona Serena, Pak Bos."


"Kok lama sekali?!" teriaknya.


"Apa?! Mengobrol?! Memangnya sedang mengobrolkan apa 'sih?! Ajak dia cepat pulang, Indri!" teriaknya.


"Tapi Pak Bos ---."


"Indri! Ya sudah, saya beri waktu dia mengobrol sepuluh menit lagi! Sekarang saya mau VC. Saya mau lihat dia sedang bicara dengan siapa saja!"


"Ba-baik." Indri menerima VC dari Marvin dengan ekspresi ragu.


"Cepat arahkan kameranya pada Serena!"


"Ba-baik."


Indri mulai mengarahkan kameranya pada Serena, dan mata Marvin langsung mendelik seketika. Ternyata, di samping dan di depan Serena ada beberapa orang siswa. Salah satunya adalah Ksatria. Ksatria terlihat memerhatikan Serena dengan tatapan tidak biasa.


"Bukankah Serena dan dia beda kelas?! Kenapa bisa dia ada di sana?!" Marvin geram. Apa lagi saat melihat Serena tertawa girang sambil sesekali menepuk bahu temannya.


"Aku juga tidak tahu Pak Bos. Aku tidak bertanya," jawab Indri.


"Kurang ajar! Padahal saya sudah membayar gurunya agar mengajar langsung dan datang ke rumah ini! Tapi kenapa masih ada acara kumpul-kumpul 'sih?!"


Marvin gelisah. Ia terus menatap pada Serena yang tertawa riang. Marvin merasa jika Serena tidak pernah tertawa seriang itu saat bersamanya. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia sudah menarik napas untuk mengatur napasnya, namun perasaan tidak nyaman itu tetap ada.


"Mohon maaf Pak Bos, ini bukan acara kumpul-kumpul, Nona Serena dan temannya sedang mengerjakan tugas. Tadi aku melihat sendiri kalau mereka memang benar-benar sedang belajar," jelas Indri.


"Indri! Kamu jangan membela dia ya! Ya sudah, kamu katakan saja pada Serena kalau dia tidak perlu pulang! Sekalian saja suruh dia menginap di rumah temannya!" Marvin yang emosi, segera mengakhiri panggilan.


...***...


_______


"Nona, Anda harus cepat pulang, tugasnya sudah selesai belum?" bisik Indri. Ia memberanikan diri berbaur dengan teman-teman Serena.


"Sebentar lagi, lima menit lagi," bisik Serena.


"Serena, nanti saya yang mengantar kamu pulang ya," tawar Ksatria.


"Tidak bisa!" sentak Indri. Ksatria menang iseng, sudah tahu Serena diantar Indri, namun remaja itu malah menawarkan diri mau mengantar Serena.


"Hahaha, Tuan Ksatria tercampakkan," ledek teman-temannya.


"Ish, kalian ya!" Ksatria kesal, namun tatapannya tetap fokus pada Serena.


"Intinya, saat kita mau ujian, kondisi kita harus dalam keadaan sehat dan fit. Untuk masalah soal, baca intinya saja, jangan buang-buang waktu," jelas seorang siswi. Tidak ada Tika dalam kelompok belajar ini.


...***...


_______


"A-Anda menginap lagi?"


Serena terkejut saat tiba di rumahnya dan mendapati jika Marvin ada di kamarnya. Ia tidak tahu kalau pria itu ada di rumah ini. Baik Indri ataupun mamanya, mereka tidak mengatakan pada Serena kalau Marvin ada di rumahnya.

__ADS_1


Marvin diam saja. Ia tetap fokus pada layar laptopnya.


Serena jadi bingung. Ya sudah, daripada Marvin tidak menanggapinya, Serena memilih keluar dari kamarnya untuk menonton televisi. Namun baru juga badannya berbalik, Marvin mencegahnya.


"Mau ke mana lagi?!"


"Mau keluar, Pak Bos lagi sibuk dengan pekerjaan, 'kan?" Melanjutkan langkah.


"Serena!" cegahnya. Ia menutup laptopnya dan menghadang pintu.


"Ke-kenapa?" Serena jadi bingung.


"Kenapa kamu harus ikut kerja kelompok?!"


"A-apa? Ya memang harus ikut, 'kan? Kenapa? Anda juga pernah sekolah dan kerja kelompok, 'kan?" Serena jadi kesal.


"Ya, tapi saya lihat kamu sangat akrab dengan teman-teman pria kamu!" sentaknya.


"Aku dibully salah! Aku akrabpun salah! Mau Anda apa 'sih?! Aku susah-payah untuk bisa berbaur dengan Pak Bos! Apa salahnya? Aku juga ingin punya teman!" tegas Serena.


"Oh, jadi kamu ingin bebas senyum sana-sini?! Pegang sana-sini begitu?! Kamu suka ya kalau kamu diperhatikan para pria?!" Marvin tidak bisa menahan emosi.


"A-apa?!"


Serena benar-benar bingung dengan sikap Marvin. Ia menatap tajam pada Marvin seolah ingin mengetahui isi pikiran dari pria itu.


"Saya tidak suka kamu akrab dengan pria lain! Paham?!" Seraya mengekang tangan Serena.


"Ke-kenapa?! Kenapa Anda tidak suka?! Anda tidak mungkin sedang cemburu, kan?!"


"Apa?!" Marvin melepas cekalannya, memalingkan wajah, dan segera membelakangi Serena.


Cemburu?


Di telinga Marvin, kata-kata itu terdengar tabu dan aneh.


"Ya, aku memang mendapati semua ini karena belas-kasih Anda! Tapi Anda tidak berhak menjajah kebebasan dan kebahagianku Pak Bos! Apa Anda tahu? Gara-gara Anda menyuntik tubuhku dengan alat kontrasepsi, aku jadi tidak menstruasi! Obat apa yang kamu suntikkan ke tubhku, hah?!" teriak Serena. Gadis itu baru menyadari jika dirinya telah terlambat haid selam dua minggu.


"A-apa? Saya tidak tahu jenis obatnya. Emm, nanti akan saya tanyakan pada dokternya." Mendengar penjelasan Serena, Marvin jadi khawatir.


"Bagaimana kalau obat itu membuat aku mandul? A-Anda jahat Pak Bos. Anda telah melanggar hak reproduksiku. Ya, Anda boleh saja menolak memiliki keturunan dari rahimku karena aku adalah anak dari seorang penjudi, tapi bagaimana dengan hakku? Sebagai seorang wanita, di masa depan, a-aku juga ingin memiliki keturunan," jelasnya.


Serena dan Marvin tidak menyadari jika pertengkaran mereka didengar oleh bu Putri yang kebetulan melintas di depan kamar tersebut.


"Eren," lirih bu Putri. Ia segera berlari ke kamarnya sambil menangis. Ibu mana yang tidak sedih mendapati kenyataan seperti itu.


"Ternyata ... dia hanya menginginkan tubuh putriku. Aku sudah salah paham. Aku pikir dia baik. Huks, aku sudah terperdaya oleh perangai baiknya."


Sama seperti Serena, bu Putri jadi khawatir akan kesehatan Serena akibat obat tersebut. Putrinya itu masih remaja, penggunaan obat hormonal pada tubuhnya tentu saja bisa memengaruhi perkembangan organ reproduksinya.


...***...


"Maaf, saya tidak terpikirkan ke arah sana. Besok kita periksa ke dokter ya," bujuk Marvin.


"Awas saja kalau hasilnya benar-benar membuat tubuhku tidak sehat! Aku tidak akan memaafkan Anda!" teriak Serena.


"Saya akan bertanggung jawab." Marvin mencoba mendekati Serena.


"Jangan dekat-dekat! Aku sedang marah! Kalau Anda ngantuk, silahkan tidur duluan! Aku mau belajar!" Serena menepis tangan Marvin.


"Saya belum ngantuk. Ya sudah, saya temani kamu belajar ya." Marvin memindahkan laptopnya ke atas meja belajar.


"Jangan coba-coba mengganggu!"


"Tidak akan, jangan khawatir," ucapnya.


Selama Serena belajar, Marvin terus memikirkan ucapan Serena. Jika Serena bermasalah gara-gara obat itu .... Serius, Marvin tidak bisa berpikir.


"Serena, saya ---."


Saat dilirik, Serena sudah meletakkan kepalanya di meja belajar dan tertidur.


"Ya ampun Serena," Marvin geleng-geleng kepala. Ia lantas memindahkan gadis tersebut ke tempat tidur.


Saat Marvin hendak merapikan buku Serena, ia tidak sengaja menemukan buku catatan kecil yang terjatuh dari balik lembaran buku pelajaran milik Serena. Marvin mengambilnya. Karena penasaran, Marvin membukanya dan menduga jika buku kecil ini adalah buku rangkuman, atau bisa jadi buku contekan milik Serena.


"Pertama kali aku melihatnya, aku sungguh ketakutan."


Kalimat itu terdapat di lembaran pertama.


"Aku menghabiskan sebagian besar malam dengan air mata dan duka."


Marvin mengernyitkan alisnya. Karena takut Serena terbangun, ia langsung membuka di halaman-halaman terakhir.


"Sampai detik ini ... setidaknya aku jadi tahu bagaimana rasanya mencintai dalam diam dan memendam perasaan rindu ini sendirian."


"Hanya bisa menutup luka dan memendam rasa kecewa. Karena mau marah pun aku sadar, 'siapa aku?'"


"Aku lebih memilih memendam perasaan, karena aku takut terluka."


Karena Serena begerak, Marvin segera memasukkan catatan kecil tersebut ke tempat semula. Ia berpikir jika ini adalah catatan Serena untuk mengungkap perasannya pada Leon.


Marvin lantas merebahkan tubuhnya di samping Serena. Lalu memindahkan kepala Serena agar tertidur di lengannya.


"Saya dan Clara sudah putus," ungkapnya sambil membelai rambut Serena.


"Saya dan Clara tidak akan menikah," lanjutnya.


"Saya tidak tahu apakah keputusan ini sudah tepat apa belum. Saya hanya mengikuti kata hati."


Ia mendekap tubuh Serena. Marvin tentu saja tidak tahu jika di depan rumah tersebut sedang terjadi pergerakan yang sangat mencurigakan.


_______


Pergerakan apa ya?


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2