ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
MENYATAKAN CINTA


__ADS_3

"Tapi Mama tidak seharusnya mengusir dia! Kalau dia pergi dari sisi Marvin, siapa lagi yang bisa menjamin kalau pak Wandira akan membayar hutangnya?! Siapa?!"


Terjadi pertengkaran antara Bos Besar dan istrinya. Setelah Nyonya Syakilla menceritakan dengan penuh kebanggaan bahwa dirinya telah berhasil memisahkan putra semata wayangnya dari Serena yang ia nilai sebagai benalu dalam kehidupan Marvin.


"Pa!" Nyonya Syakilla tidak terima.


"Papa mau menyuruh anak buah Papa untuk mencarinya!" Pak Jacob bergegas.


"Pa! Atas dasar apa Papa membela dia! Dia anak dari musuh kita Pa! Dia dalang di balik kematian Miranda!"


Nyonya Syakilla mengejar suaminya sambil menahan air mata. Jika mengingat tentang Miranda, batinnya selalu terguncang. Ia telah susah-payah mengikuti program hamil demi memberikan seorang adik untuk Marvin, namun takdir bicara lain, Miranda malah meninggal dengan cara mengenasakan dan saat ini kasus kematiannya telah ditutup.


"Mama sepertinya kurang sehat."


Pak Jacob akhirnya berbalik arah dan memeluk istrinya. Seorang mafia sejati, pantang meninggalkan seorang wanita yang sedang menangis.


"Apa kematian Miranda ada hubungannya dengan pekerjaan kamu di masa lalu?"


Dengan sedikit ketakutan, Nyonya Syakilla menatap wajah suaminya. Sebenarnya, ini adalah pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak dulu.


"Apa katamu?! Beraninya menuduh saya?!" bentaknya seraya melepas pelukannya.


"Ma-maaf," lirih Nyonya Syakilla, lututnya lemas seketika hingga ia terpuruk di lantai.


"Saya memang mantan mafia! Tapi saya bisa membuktikan kalau kematian putri kita tidak ada hubungannya dengan jaringan mafia! Haish! Ini gara-gara kamu, Wandira!" teriaknya. Lantas pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh pada Nyonya Syakilla yang saat ini sedang menangis.


Bos Besar alias pak Jacob, ia menuju ke ruang kerjanya sambil memasygul kepalnya dan tiba-tiba merasa jika ia telah termakan tipu daya wajah Serena yang mirip dengan Miranda.


Pikirnya, keputusan sang istri tidak sepenuhnya salah. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan Serena pergi begitu saja. Pak Jacob pun segera menghubungi Marvin.


"Ya Pa, ada apa?" Suara Marvin.


"Apa kamu tahu kalau mama kamu mengusir Serena dari apartemen?" Pak Jacob langsung bertanya tanya basa-basi.


"Saya tahu," jawab Marvin.


"Kamu mendukung keputusan mama kamu? Kamu tahu ke mana Serena pergi?"


"Papa tahu 'kan kalau saya tidak pernah berani membantah mama? Pa, masalah Serena, biarlah menjadi tanggung jawab Marvin. Untuk masalah hutang keluarga dia ke Bank Royal, emm ... saya akan membantu mereka."


"Apa?! Maksud kamu?! Kamu mau melunasi hutang mereka?! Marvin!" Pak Jacob terkejut mendengar penjelasan putranya.


"Papa tidak salah dengar. Marvin akan membantu membayarnya. Tapi karena hutangnya sangat besar. Marvin akan mengajukan tempo untuk memperpanjang waktu cicilan."


"Marvin! Kenapa kamu jadi seperti ini?! Apa pak Wandira mengancam kamu?! Marvin, pak Wandira itu licik! Apa keputusan kamu akibat ada tekanan dari dia?!" Wajah pak Jacob sampai memerah karena menahan amarah dan kebencian pada pak Wandira.


"Saya menyukai Serena, Pa." Suara Marvin terdengar lirih.


"A-apa?!"


Pak Jacob membelalakan mata. Ponselnya sampai terjatuh karena kaget dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh putranya. Segera ia mengambil kembali ponselnya.


"Marvin!" teriaknya. Namun panggilannya tersebut telah terputus. Pak Jacob mengatur napasnya sambil memegang dada. Ia memang tidak membenci Serena. Tapi ia tidak rela jika putranya jatuh hati pada putri si raja judi.


"Aaarrrgh!" teriak pak Jacob.


Ia baru sadar dan menyesali keputusan gegabahnya yang beberapa waktu lalu menyepakati keinginan Marvin untuk menikahi Serena. Walaupun itu hanyalah pernikahan di bawah tangan, tapi jika Marvin benar-benar menyukai Serena, bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat Marvin akan mempublikasikan Serena pada khalayak sebagai istrinya.


"Tidak! Itu tidak boleh terjadi!"


Ia harus segera menyadarkan Marvin jika putranya itu benar-benar telah masuk ke dalam jebakan pak Wandira yang jelas-jelas telah menggunakan Serena untuk menaklukan Marvin demi membebaskan diri dari hutang-piutang.


...***...


Marvin menghela napas. Entah kenapa, setelah mengungkapnya, ia merasa lega. Lalu ia menatap langit-langit kantor seraya membayangkan wajah Serena. Lalu Edrick tiba sambil menundukkan kepala.


"Pak Bos," sapanya.


"Lho, 'kok sudah pulang? Jahenya sudah dapat 'kan?" Marvin heran karena Edrick kembali dengan cepat.


"Maaf Pak Bos, dokter ahli herbalist yang aku maksud sedang mengikuti seminar ke luar negeri. Aku baru saja mendapat informasi dari istrinya."


"Yah, sayang sekali," sesal Marvin.


"Maaf ya Pak Bos."


"Tidak apa-apa," jawab Marvin sambil meraih tas, kemejanya, dan berlalu.


...***...


Sepulang kerja, Marvin ternyata segera meluncur menuju apartemen yang saat ini sedang ditinggali Serena. Setelah mengungkap perasaannya pada Serena dan memberitahu perasaan tersebut pada papanya, ia merasa lega.


Marvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jaraknya memang dekat. Hanya berselang sekitar 8 sampai 10 menitan, ia telah sampai.


Tentu saja langsung menuju unit. Apakah Serena menunggunya? Marvin berharap demikian. Jikapun Serena tidak menunggunya, ya tak masalah.


"Serena."


Tiba di dalam, ia melempar tas dan ke mejanya ke sofa. Lalu menuju ke kamar utama.


"Serena?"

__ADS_1


Gadis itu tidak ada di dalam kamar. Marvin sedikit panik. Dipanggil lagi dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya.


"Serena!" Tapi tidak ada sahutan.


"Serena!"


Akhirnya berlari ke sana ke mari untuk menemukannya, dan Marvin melihat pintu ke arah balkon terbuka sedikit.


"Se-Serena?"


Marvin memelankan suaranya. Ternyata, Serena ada di balkon. Marvin menghela napas. Ia merasa lega karena gadis itu tidak pergi. Serena berada di kursi panjang yang berada di balkon dan tertidur. Ia sepertinya ketiduran saat membaca buku. Buku persiapan ujian yang dibacanya dan sebuah pulpen tergeletak di lantai.


Marvin mengambilnya untuk dibereskan, dan ia melihat ada beberapa tulisan di halaman buku tersebut. Marvin mengira itu catatan rangkuman, tapi faktanya bukan. Marvin membacanya dan terdiam.


"Mama ... aku takut ...."


"Papa ... bisakah kita seperti dulu lagi?"


"Papa ... bolehkah kalau aku merindukanmu?"


"Mama ..., Rio ..., Via ..., maaf."


"Kalau saja tidak dosa, aku ingin pergi saja dari dunia ini. Aku ingin ke dimensi lain dan berbahagia bersamamu."


"Kamu? Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskannya."


Tidak ada cacatan lain setelahnya. Marvin menautkan alisnya. Siapakah 'kamu' yang dimaksud Serena? Ia merasa janggal dan khawatir. Lalu menatap wajah Serena dan Marvin melihat jika di sudut mata istri sitaannya itu ada linangan air mata yang masih berbekas.


"Serena," panggilnya lirih. Ia mengusapnya dan menatap wajah Serena kian dalam lagi.


"Apa hidup bersama saya membuatmu sangat ketakutan?"


"Apa berada di samping saya benar-benar membuatmu sangat sedih?" tanyanya. Suara Marvin terdengar lirih, seolah turut merasakan kesedihan Serena.


Karena Serena tidak bangun, Marvin duduk di kursi tersebut dan meletakan kepala Serena di pangkuannya. Lalu pria itu menatap kosong ke sana. Ke gedung-gedung yang menjulang tinggi. Entah apa yang tengah dipikirkannya, dan tangannya tidak henti mengelus rambut Serena yang mulai memanjang.


Sementara Serena, karena mencium aroma Marvin yang telah dikenalinya, lalau merasakan jika rambutnya dibelai, iapun terbangun dan membiarkan tangan Marvin membelai rambutnya. Setidaknya, belaian ini sedikit membuatnya tenang. Serena kembali memejamkan matanya dan berkata di dalam hati, "Anda sudah pulang? Maaf karena aku belum menjadi istri yang patuh."


Serena tiba-tiba menyesali ketitidakbecusannya sebagai seorang wanita.


"Serena," Marvin mengusap lembut daun telinganya.


"Pak Bos," langsung membuka mata dan berusaha duduk karena merasa geli.


"Masih ngantuk? Lanjutkan saja tidurnya," ujar Marvin.


"Tidak Pak Bos, aku sudah kenyang tidur. Lagi pula, tidur sore-sore itu tidak baik 'kan?"


"Ya sudah, kita ke dalam yuk," ajak Serena. Ia berjalan terlebih dahulu. Marvin menyusul.


"Pak Bos mau minum apa? Teh, kopi, air dingin, air hangat, air bisa atau mau minum susu?" tawar Serena.


"Hah? A-apa?" Marvin tercengang karena baru kali ini Serena menawari minuman. Antara senang dan tidak percaya. Pikirnya, ada angin dari mana?


"Aku mau mengambilkan minuman untuk Anda. Cepat katakan, mau apa?" desak Serena.


"Su-susu," jawab Marvin gelagapan karena masih belum percaya dengan inisiatif Serena.


"Baik," Serena bergegas ke dapur. Marvin menguntit karena khawatir.


"Kenapa Pak Bos tidak duduk saja? Aku bisa sendiri 'kok." Serena tidak senang Marvin mengikutinya.


"Sa-saya takut kamu tidak bisa membuatkan susunya. Saya juga khawatir kamu kenapa-kenapa. Biar saya saja yang membuatnya sendiri. Kamu yang duduk," bujuk Marvin.


"Ya ampun Pak Bos, di saat aku mau melayani Anda, kenapa Anda meragukannya? Sudah! Anda duduk saja!" sentak Serena sambil mendorong bahu Marvin agar duduk.


"Baik, saya duduk. Tapi saya akan mengawasi kamu."


"Aku sudah besar, harusnya tidak perlu diawasi," keluh Serena dan ia mulai menyiapkan gelas dan mengambil susu bubuk yang biasa diminum Marvin. Marvin terus memerhatikan dengan perasaan cemas. Ia takut tangan Serena terluka gara-gara membuat susu untuknya.


"Aku sudah membaca takarannya. Anda tenang saja," oceh Serena. Sekarang hendak menuangi air panas pada susu tersebut.


"Saya saja." Marvin merebut gelas susu dari Serena.


"Pak Bos!"


"Saya khawatir tangan kamu terkena air panas," katanya. Serena terdiam sesaat. Padahal, ia serius ingin menghidangkan minumam untuk Marvin.


"Kalau kamu benar-benar ingin melayani saya, lakukan hal yang lain saja. Melayani saya di tempat tidur misalnya," lanjutnya sambil tersenyum.


"Apa?" Serena tersipu. Pipinya langsung memerah.


"Saya serius," Marvin meletakkan susu di meja dan menghampiri Serena. Lantas memeluknya dan berbisik, "Terima kasih, saya bahagia karena kamu manawari saya minuman. Kamu bahkan inisiatif ingin membuatkannya. Saya sangat senang."


"Aku mau belajar Pak Bos, aku ingin berguna," jawab Serena.


"Saya terharu," Marvin mempererat dekapan sambil menghidui tengkuk Serena.


"Pak Bos," perlakuan Marvin membuat Serena tidak berdaya. Akhirnya patuh begitu saja saat Marvin meraih bibirnya dan merenggutnya sesuka hati.


Serena memejamkan mata. Hari ini, ia berniat akan mematuhi semua titah Marvin sebelum ia benar-benar meninggalkannya. Seiring berjalannya waktu, perutnya pasti pasti akan membesar, dan ia harus meninggalkan Marvin untuk merahasiakan kehamilannya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Marvin. Ia mengusap lembut bibir Serena dan merasa lega karena Serena tidak menolaknya. Serena hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


...***...


Suasana malam di pusat kota begitu gemerlap, dan pesona kota justru lebih menarik jika dinikmati di malam hari. Degradasi lampu jalan, gedung-gedung, dan lampu-lampu yang berasal dari kendaraan yang melintas, membuat suasana malam menjadi meriah.


"Saya tahu pernikahan ini tidak kamu harapkan, saya minta maaf kalau kamu sangat tertekan dan bersedih atas perlakuan saya dan keluarga saya. Serena, apa yang kamu inginkan? Akan saya kabulkan," kata Marvin.


Mereka sedang berbaring di atas tempat tidur menghadap ke tirai kamar yang dibiarkan terbuka.


"Ingin melunasi seluruh hutang papaku dan ...." Tidak melanjutkan kalimatnya.


"Dan apa? Dan pergi meninggalkan saya untuk berbahagia dengan pria lain?" duga Marvin.


"Ya," sahut Serena. Marvin terdiam seketika.


"Baik, saya akan mencicil untuk membayar hutang-hutang papa kamu. Tapi saya ada satu permintaan."


"Permintaan apa?"


"Jika kamu bisa melakukannya, kamu boleh pergi."


"A-Anda serius?"


"Ya."


"Cepat katakan! Apa syaratnya?" Serena sangat penasaran.


"Berikan saya anak, dan kamu boleh pergi."


"APA?!" Serena terkejut.


"Saya serius." Sambil berbalik badan dan menghimpit tubuh Serena.


"Bu-bukankah Anda tidak mengharapkan anak yang berasal dari rahimku? A-aku putri raja judi, Anda akan malu kalau memiliki keturunan dari wanita sepertiku. A-aku bukan berasal dari keluarga baik-baik," ucap Serena. Bibirnya gemetar dan matanya berkaca-kaca.


"Lupakan ucapan saya pada saat itu, maaf jika kamu tersinggung gara-gara ucapan itu. Serena, saya hanya ingin menuai benih di rahim kamu," bisik Marvin seraya menciumi wajah Serena.


"Lalu kenapa Anda bicara seperti itu? Terus bagaimana dengan papa dan mama Anda? Mereka pasti tidak menyukai anak yang berasal dari keturunanku." Air mata Serena menetes begitu saja. Ia tidak menyangka dengan ucapan Marvin yang telah berhasil membuatnya merasa bahagia.


"Sssttt, saya menyukai kamu Serena, apa kamu tidak pernah merasakannya? Apa perasaan saya bertepuk sebelah tangan?" Sambil mencekal kedua tangan Serena dan menatapnya.


"Pp-Pak Bos ...." Serena membalas tatapan Marvin. Ia ingin menemukan kebohongan dari mata pria itu. Namun Serena tidak berhasil menemukannya.


"Huks ....." Akhirnya menangis dan merangkul bahu Marvin.


"Serena," Marvin membalas rangkulan Serena.


"Benarkah Anda menyukaiku?"


"Ya."


"Serius?"


"Demi apa? A-aku takut Anda berbohong."


"Demi Tuhanku dan Tuhanmu juga. Kamu puas? Tidak ada ada pengakuan yang lebih tinggi selain pengakuan yang melibatkan Tuhan. Apa kamu masih belum percaya?"


"Huks, tapi ... keluarga Anda ti ---."


"Saya tidak peduli," sela Marvin. Lalu dengan gerakan cepat ia menarik piyama Serena.


"Pak Bos," Serena kembali terkejut.


"Apa kamu memiliki perasaan yang sama dengan perasaan yang saya rasakan terhadap kamu?" Napas Marvin memburu dan ia tampak gelisah.


"Kalau aku tidak merasakannya bagaimana?"


"Apa? Emm, saya tidak peduli. Jikapun kamu tidak menyukai saya, saya tidak peduli. Kamu mau menuduh saya sebagai penjahatpun tak masalah."


"Marvin ...," lirih Serena. Dengan tangan gemetar, jemari lentiknya mulai begerak pelan untuk membuka kancing piyama milik Marvin. Marvin menelan saliva. Malam ini, ia akan merayakan perasaannya.


"Kamu bersedia melayani saya?" bisik Marvin ragu-ragu.


Serena mengangguk dan berkata, "Tapi tolong lakukan dengan sangat hati-hati."


"Sangat hati-hati? Emm, kalau saya lepas kontrol bagaimana?"


"Kalau Anda tidak mau berhati-hati, lebih baik jangan." Serena menghentikan sejenak aktivitasnya membuka kancing piyama milik Marvin.


"Kenapa?" Karena Serena berhenti, Marvin membukanya sendiri.


"Karena ...." Serena terdiam.


"Kenapa, hmm?" Pak Bos tidak sabaran.


...***...


...~Next~...


Ayo jujur saja Serena.

__ADS_1


Maaf karena jarang sekali up. nyai lagi nyusun tugas akhir🙏🙏🙏. Semoga bisa memaafkan dan mema'lumi. Ini nyai paksakan mengintai karena rindu sama sahabat-sahabat yang sering berkunjung ke rumah nyai. Semoga tidak melupakan nyai. Peluk dari jauh.


__ADS_2