
Jarang bersyukur dan selalu merasa kurang, mungkin jadi penyebab utama munculnya keserakahan di dalam diri pak Wandira. Pria itu senang membandingkan dirinya dengan mereka yang lebih sukses dan lebih kaya daripadanya. Hal itu menjadi salah satu penyebab ia terjun ke dunia perjudian yang pada akhirnya membawanya pada kehancuran.
"Huks."
Bu Putri yang baru terbangun dari tidurnya, langsung terisak-isak seraya memeluk lututnya. Sekujur tubuhnya terasa sakit gara-gara ulah suaminya.
Lalu suaminya itu meninggalkannya begitu saja setelah hasratnya tersalurkan. Di sisinya, terlihat beberapa lembar uang dan sebuah kertas bertuliskan, "Maaf, aku belum punya uang banyak. Gunakan uang ini untuk ongkos pulang. Oiya, tolong dukung rencanaku untuk membuat Bos Marvin mencintai Serena dan mau memiliki anak dari Serena."
Bu Putri meremas kertas tersebut dan segera membuangnya ke tempat. Lalu ia pergi dari kamar asing tersebut setelah membersihkan dirinya.
Gedung itu ternyata sangat sepi. Saat bu Putri keluar, ia tidak berpapasan dengan siapapun.
Di lantai dasar, ia menemukan ada beberapa mobil yang terparkir dan petugas penjaga pintu masuk yang berwajah masam dan dingin. Tanpa mengatakan apapun, pria itu segera membuka gerbang dan mempersilahkan bu Putri keluar dengan isyarat tangannya.
Haruskah ia melapor pada polisi jika suaminya sempat berada di gedung ini?
Di bahu jalan, bu Putri merenung. Tapi ia merasa ragu. Ia takut tindakannya akan menambah masalah baru. Pikir bu Putri, biarlah polisi saja yang mengurus suaminya. Lalu menghentikan sebuah taksi untuk kembali ke rumahnya. Rumah pemberian Bos Marvin yang saat ini ditinggalinya.
...***...
______
Selain Serena, ternyata Rio juga pindah sekolah. Letaknya sekitar lima kilo meter dari rumah pemberian Marvin.
"Kak Marvin," panggil Rio.
"Ya."
Mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Marvin akan berangkat kerja sembari mengantar Rio ke sekolah.
"Rio baiknya panggil apa ya? Pak Bos? Apa Kak Marvin saja?"
"Emm, terserah kamu. Bebas," jawab Marvin.
Sesekali melirik pada spion dan memerhatikan tampang Rio yang menurutnya sangat resik, tampan, dan menarik. Penampilan Rio dan gaya bahasa Rio sepertinya cocok untuk calon pemimpin di masa depan.
"Rio panggil kakak saja berarti ya."
"Ya, boleh."
"Oiya, kenapa Kak Marvin suka dipanggil 'Pak Bos?' Awal mulanya seperti apa? Saat pertama kali mendengarnya, Rio merasa heran dan rancu. Tapi setelah terbiasa mendengarnya, jadi biasa-biasa saja," ocehnya sambil memerhatikan jalanan.
"Oh, itu panggilan sejak saya masih bayi. Katanya, mama dan papaku biasa memanggil 'Bos.' Saat saya dewasa jadi 'Pak Bos.' Papa saya keturunan asing, dan entah apa alasannya, ia menyukai kata-kata 'bos.' Makanya papaku sendiri dipanggilnya 'Bos Besar.' Saya juga sempat merasa heran, tapi ya sudahlah."
"Baik, Rio paham. Ada pertanyaan lain. Apa Kakak menyukai Kak Eren?"
Marvin terkejut dengan pertanyaan tersebut. Ia jadi merasa sedang bicara dengan kakak Serena versi dewasa. Bukan lagi seorang adik Serena yang usianya baru sepuluh tahun.
"Kalau Kakak tidak suka, Kakak tidak mungkin menikahinya."
__ADS_1
"Tolong jujur saja, Kak. Kalau Kakak benar-benar menyukainya, kenapa Kakak tidak pernah memperkenalkan kak Eren ke publik? Bukankah Kakak kaya-raya dan punya media sendiri? Di medi-media yang Rio baca, tak pernah ada satupun yang mengatakan kalau Kakak sudah menikah. Yang ada justru memberitakan kalau Kakak akan menikah dengan kekasih Kakak bernama Clara Judith," ungkap Rio panjang lebar. Marvin jadi mati kutu.
Pembawaan Rio benar-benar berbeda dengan Serena. Bicara dengan Rio, Marvin jadi merasa ingin belajar. Sedangkan saat bicara dengan Serena, ia selalu merasa ingin bermuat mesum. Marvin menghela napas sebelum menjawabnya. Sepertinya, walaupun masih bocah, Rio tidak bisa dianggap enteng. Ia harus waspada dan hati-hati saat bicara dengan Rio.
"Orang dewasa memiliki banyak rahasia yang tidak semuanya bisa dijelaskan pada anak-anak seusia kamu. Saat saya masih kecil dan seusia kamu, saya merasa ingin cepat-cepat jadi dewasa. Alasannya karena ingin mandiri dan bebas dari segala peraturan orang tua. Tapi ternyata, jadi dewasa itu tidak hanya tentang kebebasan."
"Bertambah dewasa itu merupakan suatu keharusan bagi setiap individu. Namun kedewasaan tidak hanya dinilai dari bertambahnya usia saja. Ada banyak hal yang harus dilalui orang dewasa agar ia bisa dikatakan layak sebagai manusia dewasa. Dari mulai pendidikan, pencapaian, pekerjaan, prestasi, dan lain-lain."
Rio menyimak sambil sesekali menatap pada Marvin.
"Rio, terkadang orang dewasa atau orang tua memang sering merahasiakan beberapa hal pada anak-anak, suami atau istri-istrinya. Tapi pilihan itu tidak selalu diartikan sebagai sifat buruk atau sebuah ketidakterbukaan." Sambil sesekali mengusap rambut Rio.
"Bisa jadi, hal tersebut sengaja dirahasiakan agar anak, saudaranya, suami atau istri-istrinya tidak turut terbebani dengan permasalahan yang ada. Begitu juga Kak Marvin, saya memiliki alasan kenapa tidak bisa menceritakan semua hal pada Rio. Salah satu alasannya tentu saja karena tidak ingin membuat Rio ikut memikirkan masalah Kakak dan memengaruhi prestasi Rio."
"Oh, begitukah?" Rio manggut-manggut, namun sambil mengernyitkan alisnya.
"Tugas Rio adalah belajar. Jadi, cukup pikirkan masalah pelajaran saja, oke?"
"Haish, orang dewasa selalu seperti itu! Selalu menyuruh anak-anaknya belajar dan belajar! Mindset masyarakat di negara kita memang aneh! Kesuksesan selalu dinilai dari kekayaan! Kepintaran selalu dinilai dari nilai matematika dan ilmu pengetahuan! Lalu kecantikan seorang wanita sering dinilai dari kulit putihnya saja!" Rio meluap-luap. Mata Marvin sampai membulat.
"Ya, orangtua pasti bangga jika anaknya mendapat nilai sekolah yang bagus dan sempurna! Sayangnya tidak semua anak memiliki kemampuan belajar yang sama! Ada anak yang dengan mudah mendapatkan nilai bagus di sekolah dan juga sebaliknya!" tandasnya. Masih meluap-luap. Tangannya dilipat di dada. Marvin belum bisa berkata-kata lagi.
"Kak Marvin tidak perlu kecewa kalaupun nilaiku rendah! Apalagi mengatakan agar aku belajar terus-menerus supaya nilainya meningkat! Begini ya hai para manusia dewasa! Menekan anak untuk belajar dan mendapatkan nilai bagus itu bisa memberikan dampak buruk tahu!" geramnya.
"Rio, ma-maksud Kak Marvin tidak seperti it ---."
"Cara mengasuh dan mendidik anak itu jadi faktor penting bagi tumbuh kembang anak, Kak!" selanya. Rio tidak memberi kesempatan pada Marvin untuk bicara.
Bibir Rio mengerucut. Ah, Marvin jadi gemas. Eh, tapi kenapa jadi terbayang bibir Serena? Lanjut terbayang saat bibir Serena menelusuri tubuhnya. Marvin spontan menelan salivanya.
"Haish!" celetuk Marvin dan refleks memukul setir agar pikiran kotornya segera hilang.
"Kak Marvin! Anak yang mendapat tekanan terus-menerus itu bisa lebih mudah gelisah dan cemas! Belajar di bawah tekanan dapat membuat anak mengalami kesulitan belajar, stres, dan depresi! Bahkan, tanggung jawab besar yang dipegang anak untuk selalu jadi nomor satu, bisa memunculkan pikiran anak untuk bunuh diri!" sentak Rio. Ia mengira jika Marvin mengatakan 'Haish!' untuk dirinya.
"Rio, Rio salah paham. Baik, Kakak minta maaf ya."
"Orang dewasa itu memang pandai mengelak, dan anak kecil selalu ada di pihak yang disalahkan! Kalaupun anak kecil berbuat baik ataupun berprestasi, yang lebih disanjung dan dipuji pasti orang tuanya!"
"Rio, Kakak minta maaf." Marvin sampai menepikan mobilnya.
"Kalau Kakak sudah punya anak, pokoknya jangan memaksanya untuk berprestasi! Tekanan pada anak bisa mengganggu perkembangan dan kepercayaan dirinya, tahu! Karena ia selalu merasa jika hasil usahanya selalu tidak memuaskan!" Mungkin selama ini, Rio selalu dituntut untuk menjadi anak yang berprestasi.
"Apa ada yang selalu menuntut Rio untuk belajar dan belajar?" telisik Marvin.
"Papa dan mamaku yang selalu menuntut! Ini gara-gara kak Eren! Mereka selalu membandingkan aku dan kak Eren! Katanya jangan seperti kak Eren yang manja dan tidak mandiri! Aku malah disuruh untuk menjaga kak Eren! Sebal!" rutuknya.
Ternyata, inti masalahnya berasal dari gadis itu. Marvin jadi mengulum senyum. 'Tuh, 'kan? Sekarang jadi terbayang wajah Serena yang memerah saat Marvin menggoda tubuhnya.
"Rio lagi serius! Dan Kak Marvin malah senyum-senyum!"
__ADS_1
Ya, prestasi anak memang penting untuk masa depannya. Untuk itu, anak perlu bimbingan supaya dapat mencapai hasil yang baik. Namun, perlu diingat bahwa yang terpenting adalah bagaimana usaha anak untuk mencapainya bukan bagaimana hasil akhirnya. Menghargai usaha anak, justru akan membuatnya lebih percaya pada kemampuannya sendiri dan tentunya akan memotivasi anak untuk belajar lebih baik tanpa merasa tertekan.
Marvin merangkul Rio. Ia pernah berada di posisi seperti Rio saat dirinya masih kecil. Apa lagi Marvin yang dilahirkan sebagai anak pertama, dan saat ini menjadi anak satu-satunya. Harapan mama dan papanya tentu saja berada di pundak Marvin.
"Kakak minta maaf. Kakak justru menilai kalau pola pikir kamu sudah jauh lebih baik dari anak seusia kamu pada umumnya. Rio anak yang hebat. Kakak serius. Mulai hari ini, mari kita berteman. Apa perlu pulang sekolah Kakak yang jemput kamu dan kita jalan-jalan bersama?" rayu Marvin. Ia sadar jika setiap anak pada dasarnya sangat menyukai hadiah, bermain, dan jalan-jalan.
"Jangan merayuku! Rio sudah bosan jalan-jalan! Jangankan di sini, ke luar negeripun Rio sudah sering!" Sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Marvin.
"Oh, hahaha."
Marvin baru sadar kalau orang tua Rio dahulunya adalah kaum jetset. Harus ada cara lain untuk membujuk anak yang karakternya seperti Rio. Tapi, bagaimana caranya ya?
"Apa Rio mau sesuatu? Atau mau beli sesuatu mungkin? Nanti akan Kakak belikan."
"Rio mau segera sampai ke sekolah!" jelasnya.
"Hahaha. Maaf, Kakak sampai lupa kalau kamu mau ke sekolah dan Kakak juga 'kan mau ke kantor." Marvin melajukan kembali kemudinya sambil terkekeh.
"Kalau Kak Marvin mau mengajak jalan-jalan, ajak kak Eren saja. Kasihan dia 'tuh. Karena papa dan mama selalu merasa kak Eren suka menimbulkan masalah, kak Eren jarang diajak ke luar negeri. Ke taman bermain yang ada di negara inipun jarang. Pernah 'sih sekali, tapi karena kak Eren cantik dan lucu, kata mama, kak Eren pernah hampir jadi korban penculikan," terang Rio.
"Oya? Bagaimana ceritanya?" Marvin jadi penasaran.
"Rio juga tidak tahu banyak detailnya. Hmm, sudah besarpun kak Eren pernah mau diculik 'kok. Dia memang merepotkan. Emm, kejadiannya sekitar tiga tahu yang lalu."
Deg, jantung Marvin berdegup kuat saat mendengar kalimat 'Tiga tahun yang lalu.' Ya, kalimat itu selalu mengingatkannya pada hari menyakitkan dan menyedihkan. Yaitu, hari di mana ia dan keluarganya harus menerima kematian Miranda yang begitu cepat dan tragis.
"Kejadiannya di luar negeri, Kak. Saat itu, umurku tujuh tahun."
Jantung Marvin kian berdegupan. Daya ingat Rio dan kecerdasannya, mungkin bisa membantunya untuk menguak fakta tersembunyi di balik kematian tragis Miranda.
"Terus?"
"Nanti saja Rio lanjutkan lagi ya, Kak. Itu 'kan sekolah Rio. Sebentar lagi sampai."
Sayang sekali, batin Marvin. Padahal, ia sangat penasaran. Terpaksa harus menggantung rasa penasarannya itu karena mobilnya telah tiba di depan sekolah Rio.
"Baiklah, selamat sekolah teman baru. Nanti saya jemput kamu ya," ucap Marvin saat ia melambaikan tangan pada Rio.
"Rio tunggu. Dadah teman," sahut Rio.
"Mau uang jajan?" Marvin memundurkan kemudi.
"Tidak perlu," tolak Rio sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Dah teman kecil." Marvin kembali melambaikan tangan.
"Dadah Kakak Ipar," sahut Rio namun dengan suara pelan. Tapi, masih bisa didengar oleh Marvin.
Kakak ipar? Marvin tersenyum.
__ADS_1
Dadah adik ipar, sahutnya di dalam hati.
...~Next~...