
"Siapa yang akan kamu jadikan saksi di hadapan Papa, Vin?! Sudahlah, kita akhiri saja perjanjian ini! Kalaupun gadis itu bisa menghasilkan uang, Papa yakin dia tidak akan mampu melunasi semuanya! Kamu ceraikan saja, lalu fokus mengungkap aset pak Wandira yang berada di luar negeri. Selama gadis itu bersama kamu, Papa merasa kerja kamu tidak maksimal. Mau kamu akui atau tidak, sikap kamu sudah menunjukkan kalau kamu sudah termakan jebakan pak Wandira," tegasnya. Lalu duduk di kursi kerja milik Marvin seraya mengepalkan tangannya.
"Marvin rela menjadi jaminannya, Pa."
"Maksud kamu?!" Bos Besar berdiri dan kembali menatap tajam pada putranya.
"Sudah Marvin tegaskan kalau Marvin menyukai Serena. Pa, seperti halnya Papa yang rela berkorban untuk Mama, Marvin juga akan melakukan hal yang sama pada wanita yang Marvin cintai."
"Marvin!"
"Papa tidak perlu beteriak! Saya tidak tuli."
"Kamu boleh menyukai gadis manapun! Papa tidak akan peduli latar belakangnya! Tapi jangan menyukai anaknya si manusia licik dan picik itu! Jangan mempermalukan Papa Pin! Mau disimpan di mana nama baik keluarga kita kalau sampai publik tahu Papa berbesanan dengan buronan interpol! Pokoknya Papa tidak setuju!"
"Papa!"
"Marvin! Kamu berani membentak Papa gara-gara gadis itu?!"
"Yang jahat papanya Serena! Bukan Serenanya, Pa!"
"Jangan beralibi lagi Vin! Lagi pula kamu pasti sudah menikmati tubuh gadis itu, kan? Papa rasa, kalaupun kamu menceraikannya, kamu tidak rugi!"
"Papa! Saya sudah besar! Saya berhak mengambil jalan hidup saya sendiri!" teriak Marvin sambil mengusap wajahnya. Andai Bos Besar bukan papa kandungnya, ia pasti sudah melawan pria itu dengan kekuatan fisiknya.
"Baik! Kalau kamu bersikeras! Silahkan! Tapi jangan sekalipun mengungkap hubungan kamu pada siapapun! Kamu juga harus segera mencari gadis dari kalangan konglomerat yang baik-baik untuk kamu nikahi! Kalau kamu tidak mau, Papa akan mencarikannya untuk kamu!" tegasnya sembari beranjak dan melonggarkan dasinya. Bos Besar tidak menyangka jika putra semata wayangnya akan berubah menjadi pembangkang.
"Tidak mau!" teriak Marvin.
"Atau jangan salahkan Papa kalau Papa bertindak tegas pada Serena!"
"A-apa?! Papa!" Marvin meraih tangan papanya. Namun segera ditepis.
"Silahkan pikirkan baik-baik! Ingat, kamu itu putra Papa satu-satunya! Apa yang Papa lakukan pastilah yang terbaik untuk kamu! Kamu juga harus ingat kalau papamu ini adalah mantan mafia! Jadi, jangan pernah meremehkan Papa, Vin! Ya, kamu memang anak kandung Papa, tapi jika kamu membangkang, siapapun itu tidak ada ampun! Termasuk kamu!"
Lalu pergi dengan langkah cepat di saat Marvin masih menatap papanya dengan tatapan tidak percaya.
"Papa!"
Marvin terpuruk. Ia menjatuhkan kedua lututnya ke lantai dan memasygul rambutnya. Lantas terbayang lagi bagaimana semalam dan tadi pagi ia memadu cinta dengan Serena. Seketika itu juga, ia memukul dadanya karena ada perasaan sakit yang menggores lubuk hatinya.
"Se-Serena," ucapnya lirih.
Ia jelas tidak memiliki otoritas sekuat papanya. Marvin dilema. Ternyata, keputusannya menjadikan Serena menjadi istri sitaan, telah menjadi boomerang untuk dirinya dan juga Serena.
"Tuhan, apa yang harus saya lakukan?" gumamnya.
Ia membuka ponsel dan melihat-lihat kembali foto-foto Serena. Wajah gadis itu jika diamati lebih cermat, ternyata masih terlihat polos. Marvin tidak sampai hati untuk melepasnya. Ia ingin melindunginya, tapi perlindungan Marvin justru akan berbahaya bagi Serena. Kemudian Marvin menelepon Hugo untuk membatalkan pertemuannya dengan Rio.
Beberapa saat kemudian, ponselnya menyala. Ada pesan gambar dari Serena yang berhasil membuatnya tersenyum.
"Aku sedang belajar masak, maaf dapurnya jadi berantakan." Bunyi keterangan di foto tersebut.
"Hei, untuk apa repot-repot? 'Kan ada Ami dan Nita. Kemana mereka? Apa mereka tidak bekerja dengan baik?" balas Marvin.
"Aku sudah menyuruh mereka pulang Pak Bos. Tolong jangan marah ya. Aku mau belajar mandiri." Diakhiri emoji memohon.
"Baiklah." Mana mungkin Marvin berani marah pada gadis yang telah berhasil membuatnya merasa sangat bahagia.
"Terima kasih Pak Bos." Balasan dari Serena kembali membuat Marvin tersenyum.
"Memangnya kamu masak apa? 'Duh, saya jadi mau cepat pulang. Jadi tidak sabar ingin segera menikmati masakan kamu. Hehe, apa boleh sekalian menikmati kamunya juga?" godanya.
"Rahasia, pokoknya enak. Aku sudah mencoba masakannya dan rasanya pas. Aku melihat tutorial di YT. Ternyata tidak terlalu sulit."
"Wah, kamu hebat. Saya jadi bangga. Masalah enak, saya percaya 'kok. Kamu memang enak. Sangat-sangat enak. Hahaha." Marvin mengulum senyum saat menuliskan pesan tersebut.
"Sok tahu! Anda 'kan belum pernah mencoba masakanku."
"Hahaha." Dibalas dengan tawa lagi oleh Marvin.
"Ya sudah ya. Aku mau beres-beres dapur." Serena mengakhiri pesannya.
Padahal, Marvin masih ingin bertukar pesan. Untuk saat ini, ia belum bisa memikirkan cara untuk menghadapi papanya.
"Pak Bos." Hugo tiba, tentu saja datang seorang diri tanpa Rio.
"Duduk," suruh Marvin.
"Anda kenapa?" Hugo menatap aneh pada Marvin yang tampak murung.
"Papa tidak bisa menerima Serena. Padahal saat pertama kali bertemu Serena, saya sempat berpikir kalau Papa menyukai Serena," keluhnya.
"Pak Bos," Hugo mendekati bosnya. Lalu menepuk bahu bosnya sambil menghela napas.
"Harus ada yang dikorbankan saat kita hendak meraih sesuatu, entah itu pikiran, harta, bahkan nyawa sekalipun. Terkadang, mengalah dan pasrah adalah jalan yang terbaik. Pak Bos, mecintai itu tidak harus memiliki."
"Maksud kamu?! Saya harus melepas Serena begitu?! Enak saja! Sudahlah! Saran kamu tidak bisa saya terima!" sentaknya kesal.
"Ma-maaf Pak Bos. Aku tidak bermaksud membuat Pak Bos kecewa. Begini saja, aku hanya ingin mengatakan agar Anda berhati-hati. Pak Bos, Bos Besar memiliki kekuasaan di luar jangkauan kita," bisik Hugo.
__ADS_1
"Ya saya tahu!"
"Maka dari itu supaya aman, Anda ikuti saja sarannya."
"Apa katamu?! Hugo! Saya tidak bisa melepaskan Serena! Sudahlah! Lebih baik kamu diam!"
"Maaf Pak Bos." Hugo menelan saliva dan terdiam.
Sedangkan Marvin, pria itu langsung merenung. Namun beberapa menit kemudian, Hugo melihat Marvin senyum-senyum.
"Pak Bos?" Hugo keheranan. Bukankah Marvin sedang kebingungan?
"Saya tidak bisa melupakan kejadian semalam dan tadi pagi, hmm ...," gumam Marvin.
"Kejadian semalam?" Hugo menautkan alisnya. Ada apa gerangan? Pikir Hugo.
...***...
"Yes!" seru Serena.
Ia baru saja menyelesaikan misinya. Misi memasak untuk Marvin. Ia sedang menghidangkan makanan tersebut di atas meja makan. Sekitar empat puluh lima menit lagi Marvin pulang, dan gadis itu telah bersiap. Sebenarnya, menu yang ia buat sangatlah sederhana. Namun menjadi spesial bagi Serena karena ini adalah pertama kalinya ia memasak sendiri.
Syukurlah, setelah memesan minuman jahe, mual-muntahnya berkurang.
"Semoga dia suka," harapnya. Kembali menatap menu yang terhidang sambil tersenyum. Lalu interkom berbunyi. Serena kegirangan.
"Dia pulang cepat?" duganya.
Segera beranjak untuk membuka pintu setelah menggerai rambut dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih terbuka. Tak lupa menyemprotkan body spray di lehernya.
Saking girangnya, Serena sampai lupa mengecek siapa yang datang. Ia sudah terlanjur yakin jika yang datang adalah Marvin.
"Pak ---."
Terpaku seketika setelah berhasil membuka pintu. Langsung menunduk, memegang sisi bajunya, dan mematung.
"Oh, jadi kamu tinggal di sini?" Wanita modis itu masuk ke dalam unit tanpa ragu.
"Nyo-Nyonya --- a-aku ---."
"Sudah saya duga, kamu pasti tidak benar-benar akan meninggalkan putra saya."
"Emm, si-silahkan duduk Nyonya." Serena berusaha tenang.
"Tidak perlu kamu suruhpun saya akan duduk. Ini apartemen saya," tegasnya.
"Kamu menawari saya? Memangnya kamu bisa menghidangkan minuman? Tidak perlu, saya tidak haus," tolaknya. Lalu berdiri dan melihat-lihat unit tersebut.
"Pak Bos yang memintaku tinggal di sini," jelas Serena.
"Mana ada wanita yang rela meninggalkan anak saya. Anak saya terlalu berharga. Dia tampan, mapan, dan berpendidikan tinggi. Wanita yang meninggalnya bisa dikatakan sebagai wanita bodoh," sahut Mama Syakilla. Serena terdiam. Ia jadi bingung harus berkata apa lagi.
"Ya, memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi selain menjual tubuh kamu." Sambil berjalan menuju dapur.
"Apa?! Maksud Nyonya?"
"Akui saja, kamu menggunakan tubuh kamu untuk menjerat anak saya, 'kan?"
"Maaf ya Nyonya! Aku tidak menjual tubuhku pada Pak Bos! Aku istrinya!" teriak Serena. Ia tidak terima dengan tuduhan Mama Syakilla.
"Istrinya? Hahaha, jangan mimpi. Saya tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu. Ya, kamu memang cantik dan serasi dengan anak saya, tapi apa kamu tidak sadar diri dari mana kamu berasal?"
Mama Syakilla membalikan badan dan mendekat pada Serena. Lalu menengadahkan dagu Serena dan menatapnya tajam.
"Aku memang tidak pantas menjadi menantu Anda! Tapi bukan berarti Anda boleh menghinaku!" sambil menepis tangan Mama Syakilla.
"Kamu ternyata kasar ya. Berani sekali kamu beteriak di hadapan saya. Heran, 'kok bisa Marvin menyukai kamu?" Kembali melanjutkan langkah menuju dapur. Serena menguntit.
"Apa ini?" Mama Syakila terkejut saat melihat menu yang terhidang.
"Ini masakanku! Kenapa?!" teriak Serena.
Dalam teori tatakrama, Serena sebenarnya tahu kalau seorang menantu harus menghormati ibu mertuanya. Namun, Serena tidak bisa menahan diri. Kalau saja Mama Syakilla bersikap baik, ia juga pasti akan menghormatinya.
"Kamu mau memberi makan anak saya dengan makanan sampah?" Matanya menatap tajam pada sayur sop yang dipenuhi dengan sosis. Nada bicara Mama Syakilla memang selalu lembut, namun apa yang ia ucapkan sangat melukai Serena.
"Itu bukan sampah! Aku sudah memasaknya dengan susah payah! Anda tidak boleh menghina makanan!" teriak Serena sambil meraih mangkuk yang berisi sayur sop tersebut dan menutupinya.
"Ya ampun Serena, kamu payah sekali. Ini apa coba? Kornet? Ini juga tidak sehat."
Tanpa ragu, Mama Syakilla mengambil piring berisi kornet dan membuangnya ke tempat sampah. Serena terkejut. Matanya sampai melotot. Ingin rasanya ia menjambak rambut Mama Syakilla, namun tidak sampai hati karena biar bagaimanapun, wanita itu adalah mamanya Marvin, calon nenek dari anak yang saat ini tengah dikandungnya.
Serena hanya bisa menghela napas dan berusaha menahan tangis. Namun, airmatanya tidak bisa ditahan lagi saat Mama Syakilla mengambil mangkuk berisi sayur sop dan kembali membuangnya.
"Anda jahat sekali! Anda tidak tahu bagaimana aku kesulitan membuatnya!"
"Tidak perlu menangis. Jangan berlebihan." Mama Syakilla mengusap rambut Serena. Ia benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali.
"Anda kampungan!" teriak Serena sambil mengusap airmatanya.
__ADS_1
"Hahaha." Mama Syakilla membalas omelan Serena dengan tawa.
"Saya ke sini sebenarnya bukan untuk ribut, hanya ingin memastikan kalau kamu memang tidak berani meninggalkan Marvin. Jangan kira saya tidak bisa mencari kamu. Oiya, saya sudah menambahkan saldo ATM dan kamu sudah boleh bekerja mulai besok. Ini alamat salonnya." Mama Syakilla melempar kartu alamat pada Serena.
"Satu hal lagi, buatlah sandiwara yang bisa membuat kamu dibenci dan diceraikan oleh Marvin. Jika kamu tidak bisa membuat skenarionya, saya yang akan menyiapkannya," tandasnya. Lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Serena.
...***...
"Aaarggh!" teriak Serena setelah Mama Syakilla benar-benar pergi.
Ia kembali lagi ke dapur dan menatap tempat sampah yang berisi masakan yang telah ia buat dengan penuh perjuangan. Lalu duduk di lantai dan merenungi nasibnya.
Lima belas menit berlalu, ia tidak beranjak. Baru beranjak saat interkom kembali berbunyi. Yang ini pasti Marvin. Benar saja, yang datang memang Marvin. Pria itu langsung memeluk Serena.
"Wangi sekali." Marvin menghidu tengkuk Serena.
"Pak Bos, maaf ya. Masakannya dihinggapi cicak, jadi aku membuangnya," jelas Serena.
"Cicak? Benarkah? Apa tidak ada hal lain yang terjadi?" tanya Marvin. Kali ini seraya memainkan rambut Serena.
"Tidak ada. Maaf, tidak apa-apa 'kan kalau kita membeli makanan yang sudah jadi saja? Oiya, tunggu Pak Bos, aku mau mengambil minuman dulu." Serena beranjak. Namun langkahnya terhenti karena Marvin mengejar dan memeluk punggungnya erat-erat.
"Saya tahu semuanya," lirih Marvin.
"Ma-maksud Pak Bos? Ta-tahu apa?" Serena gugup. Ia khawatir Marvin mengetahui kehamilannya.
"Saya tahu semuanya dari CCTV. Maafkan sikap tidak sopan Mama saya. Kamu gadis baik. Kenapa kamu melindungi kejahatan mamaku? Kenapa kamu tidak mengadu pada suamimu, hmm?"
"A-apa?" Serena terkejut.
"Saya bahkan tahu yang kalian bicarakan. Serena, jangan meningalkan saya. Jangan membuat skenario apapun untuk membuat saya membenci kamu. Serena, saya mencintai kamu."
"Pak Bos." Serena membalikan badan dan membalas dekapan Marvin. Lalu menangis pelan dan airmatanya membasahi dada Marvin.
"A-aku bingung Pak Bos," lirihnya.
"Saya akan berjuang demi kamu. Maukah kamu membantu saya untuk berjuang bersama?" tanyanya. Serena menjawab pertanyaan Marvin dengan anggukkan.
"Tapi ... apa Pak Bos bisa melihat ketulusanku? Emm, a-aku masih ragu."
"Apa yang kamu ragukan?" Sambil mengusap air mata Serena.
"Aku khawatir Pak Bos menyamakan aku dengan wanita lain yang gila harta. Tapi pada dasarnya, aku memang menyukai harta. Tapi itu bukan berarti aku terus bersama Pak Bos karena harta," jelasnya.
"Kalau saya jatuh miskin, apa kamu akan tetap bersama saya?"
"Emm, aku tidak bisa menjawabnya sekarang Pak Bos. Aku realistis, kalau dengan Pak Bos miskin hidupku terganggu misal jadi sakit-sakit atau aku menjadi kesulitan dalam beribadah karena kelaparan, apa patut kita tetap bersama? Jadi untuk kondisi seperti itu, aku akan mempertimbangkannya."
"Apa? Ya Tuhan, itu berarti kamu matre." Marvin menyentil lembut kening Serena.
"Pak Bos, kita realistis saja. Coba kalau aku tidak cantik, terus badanku bau karena tidak ada air untuk mandi, gigiku dipenuhi karang gigi karena tidak bisa beli pasta gigi, terus kulitku borok-borok karena terinfeksi, apa Pak Bos masih mau bersamaku?"
"Ya tetap mau 'lah. Kamu akan saya obati sampai sembuh," jawabnya.
"Serius?" Serena bertanya lagi.
"Ya."
"Anda seperti pemeran utama dalam novel?" ocehnya.
"Hahaha," Marvin tersenyum sambil menuntun Serena ke kamar utama.
"Kenapa ke kamar?" Serena sedikit panik. Yang terjadi semalam dan tadi pagi terlintas kembali.
"Temani saya mandi. Setelah itu, kita makan di luar."
"Untuk apa ditemani? Apa Anda takut mandi sendiri?"
"Untuk apa? Ya untuk bersenang-senanglah," jawabnya enteng, dan mata Serena langsung membelalak.
"A-aku mau menunggu Anda di luar," tolak Serena. Ia berusaha menghindar namun gagal karena Marvin kembali memeluknya.
"Saya juga mau bersikap realistis seperti kamu. Saya sudah mengeluarkan uang banyak demi mendapatkan kamu. Saya bahkan rela melawan papa dan mama demi kamu. Jadi, sangat masuk akal dan realistis kalau saya memanfaatkan tubuh kamu yang cantik dan seksi ini untuk menyenangkan saya. Ya 'kan? Betul apa betul?"
"Emm ---." Serena mengaku kalah.
"Mau melayani saya?" Marvin menyeringai sambil mengusap lembut bibir Serena.
"Emm ---." Serena mati kutu.
"Saya yakin kamu juga mau," bisik Marvin sambil menggerakan tangannya sesuka hati pada tubuh Serena.
"Ti-tidak, a-aku tidak mau," elak Serena.
"Saya bisa membuktikan kalau kamu juga mau," goda Marvin, dan Serena hanya bisa pasrah saat Marvin membopong tubuhnya ke kamar mandi sambil memagutnya. Ia melingkarkan tangan di leher pria itu dan memejamkan matanya.
Pintu kamar mandi tertutup ratap. Sama sekali tidak ada celah untuk mengintip ke sana. Lalu terdengar suara air mengalir. Sepertinya, Marvin sengaja menyalakan maksimal keran air. Apa yang terjadi di kamar mandi? Entahlah.
...~Next~...
__ADS_1