
"Dasar tidak berguna! Kerja kalian apa saja 'sih?"
Bos Besar murka. Ia sedang mengumpulkan seluruh anak buahnya di sebuah ruangan. Usut punya usut, rumah Bos Besar alias pak Jacob baru saja disantroni perampok kelas kakap. Ya, dari cara maling tersebut memasuki rumah pak Jacob yang tentu saja tingkat keamanannya tinggi, dapat dipastikan jika perampok tersebut sangat ahli.
"Maafkan kami Bos Besar, pergerakan maling itu tidak kami sadari. Dia bisa memanipulasi citra CCTV, dan anehnya CCTV di bagian gudang dan berangkas malam tadi tiba-tiba mati dan ---."
"Diam! Kalian tidak becus menjaga rumah saya! Akui saja!" sela pak Jacob seraya menendang anak buahnya yang menurutnya sudah berani menyanggah dan seolah tidak mau disalahkan.
"Bos Besar, kami salah. Kami akan mencari maling tersebut sampai ke ujung dunia." Salah satu penjaga berlutut dan kembali memohon ampun.
"Halah! Kalian semua payah!"
Pak Jacob kembali menendang anak buahnya. Dia benar-benar marah dan kesal. Belum juga Marvin ditemukan, masalah baru muncul lagi. Lima kotak emas batangan miliknya yang bernilai milyaran, raib. Ditambah dengan kemarahannya pada orang-orang kepercayaan Marvin yang hingga detik ini masih bersikukuh pada pendirian mereka dengan mengatakan jika di antara mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan Marvin.
Padahal Edrick, Rian dan Boy, telah disiksa sedemikian rupa agar mau buka mulut. Tapi mereka seolah-olah rela meregang nyawa demi merahasiakan keberadaan Marvin.
Satu-satunya harapan adalah Hugo. Sayangnya, anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari Hugo, belum kembali dan kabar terakhir yang didapat adalah mereka belum menemukan Hugo.
Setelah puas membuat anak buahnya babak-belur, pak Jacob merenung seorang diri di kamarnya. Ia masih tidak habis pikir dengan kemahiran perampok yang mencuri emas batangan miliknya. Ini adalah pertama kalinya rumahnya kemalingan.
"Perampok itu mematikan saluran listrik di ruang kontrol CCTV. Hmm ...." Alisnya bertaut. Tangannya dilipat di dada.
"Untuk memasuki ruang kontrol CCTV, hanya ada dua akses, ruang bawah tanah, dan kamar utama." Alisnya semakin bertaut.
__ADS_1
"Orang yang memiliki akses fingerprint ke ruangan tersebut hanya ada tiga orang. Saya, Syakilla, dan ---." Satu nama terakhir yang ada di dalam pikirannya membuat mata pak Jacob membulat.
"Anak itu!" Wajah pak Jacob memerah. Tangannya mengepal kuat.
"Papa?" Mama Syakilla tiba. Wanita itu segera memeluk suaminya dan terisak.
"Huuu. Apakah yang mencuri emas-emas kita anak buahnya pak Wandira? Bisa saja 'kan Pa?" duganya.
"Kamu menangis karena merasa kehilangan emas-emas itu? Dasar matre. Kita tidak akan jatuh miskin gara-gara kehilangan emas-emas itu. Aset saya masih banyak," jelas pak Jacob sambil menarik pengikat rambut milik mama Syakilla hingga rambutnya tergerai.
"Aku menangis karena sedih rumah kita kemalingan! Bukan sedih karena emasnya yang hilang!" sentak mama Syakilla. Ia merasa kesal karena merasa jika perhatiannya pada sang suami tidak dihargai.
"Dasar wanita. Saya bicara pelan, tapi kamu malah membentak saya. Harusnya kamu menjadi penghibur di saat-saat seperti ini. Kamu tahu 'kan rapat pemegang saham sebentar lagi? Bayangkan kalau Marvin belum ditemukan sampai rapat istimewa pemegang saham, situasinya pasti akan kacau dan kepercayaan mereka pada perusahaan kita akan menurun. Kamu paham maksud saya?"
"Paham! Aku paham! Terus kenapa Papa tidak segera lapor polisi untuk mencari Marvin?! Papa juga harusnya lapor polisi untuk kasus perampokan di rumah kita 'kan?!"
"Tidak bisa!"
"Pantas saja Marvin keras kepala. Ternyata turunan dari kamu." Sambil menarik tangan mama Syakilla dan membawanya ke tempat tidur.
"Papa!"
"Untuk menangkap Marvin, Papa pertimbangkan untuk meminta bantuan polisi. Tapi untuk mencari maling, Papa rasa tidak perlu lapor polisi."
__ADS_1
"Kenapa tidak lapor, Pa?"
Saat pak Jacob memeluknya, nada bicara mama Syakilla mulai melembut.
"Papa sudah tahu identitas malingnya dan 99,9% Papa yakin kalau malingnya adalah anak kamu."
"A-apa?!" Mama Syakilla terkejut.
"Tidak mungkin Marvin menjadi pencuri Pa!" lanjutnya.
"Kalau bukan Marvin ya kamu pencurinya."
"Apa?! Papa! Untuk apa aku mencuri di rumahku sendiri?! Jangan asal menuduh ya!"
"Yang bisa membuka berangkas siapa? Hanya saya, kamu dan Marvin 'kan? Kalau bukan kita berdua, berarti tidak ada pelaku lain lagi kecuali dia. Anak itu seperti mafia saja, menyelinap, mencuri, dan melumpuhkan anak buah saya tanpa suara. Benar-benar diluar dugaan saya kalau dia bisa melakukan trik-trik ala mafia." Pak Jacob sampai geleng-geleng kepala.
"Marvin seperti itu pasti karena ada turunan dari kamu!" tuding mama Syakilla.
"Kalau lagi marah, kamu terlihat semakin cantik. Bagaimana kalau kita program lagi membuat anak yang baru. Pengganti Marvin, hehehe." Sambil kembali memeluk mama Syakilla.
"Papa! Aku sudah berumur 45 tahun! Pantasnya ya menimang cucu! Bukan menimang anak! Lagi pula, aku 'kan sulit punya anak! Kalau saja mudah, adik Marvin pasti sudah banyak!"
Walaupun nada mama Syakilla terkesan galak, namun wanita itu tidak menolak saat pak Jacob menciumnya. Mama Syakilla masih terlihat cantik dan seksi. Yang tidak mengenalnya pasti akan mengira kalau wanita itu berusia 30 tahunan. Begitupun dengan pak Jacob, ia tampak gagah, dan bugar. Intinya, mereka adalah pasangan yang serasi.
__ADS_1
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.