
"Papa tenang saja. Saya dengan dia tidak serius 'kok. Setelah saya puas, dia akan saya buang."
"Ya. Saya akan melaksanakan perintah Papa. Papa bilang saya harus membunuh dia dengan perlahan-lahan, 'kan?"
"Saya akan mencampakkan dia, Pa. Setelah saya mendapatkannya, saya akan membuangnya."
Serena merenung, ia sebenarnya sempat mendengar pembicaraan itu saat tadi mencari kotak pensil. Benarkah Marvin akan mencampakkannya? Di kamarnya, ia memeluk lututnya. Bingung, sebenarnya Marvin itu pura-pura baik? Atau pura-pura jahat?
"Aku tidak peduli! Yang penting aku masih bisa bernapas dan makan! Itu saja sudah cukup! Oiya, dan mama serta adik-adikku baik-baik saja!" ocehnya.
Lalu mengintip ke garasi untuk mengecek mobil Bos Besar dan ternyata, mobilnya masih ada.
"Dia masih ada di sini? Haish, kenapa belum pulang 'sih?" Jadinya, Serena tetap di dalam kamar karena takut bertemu pak Jacob.
Karena bosan, gadis itu memainkan ponselnya. Sayangnya, walaupun HP-nya sudah canggih, yang ada di kontaknya hanya satu orang, dan ada satu hal lagi yang baru Serena ketahui akhir-akhir ini. Yaitu, HP-nya tidak bisa digunakan untuk membuka akun medsos. Serena yakin jika ini adalah perbuatan Marvin.
Dari aplikasi pencarianpun, akun medsos Serena tidak bisa dibuka. Untungnya, ia masih bisa melihat YT. Jadi tidak terlalu kesepian. Gadis itu iba-tiba kaget karena ada pesan. Dari siapa lagi kalau bukan dari pemilik nomor satu-satunya yang ada di HP-nya.
"Saya lagi bantu Indri memasak, kamu tidak ada niatan untuk bantu juga? Di ruang istirahat masih ada Papa. Kalau mau ke dapur jangan melewati ruang istirahat."
Karena malas mengetik, Serena hanya membacanya dan sama sekali tidak ada niatan untuk membalas pesan dari Marvin. Lagi pula, kalau pun ia ke dapur akan percuma saja. 'Toh, ia ia tidak bisa membantu. Kalau memberantakan dapur lagi 'sih, bisa.
Ternyata, yang tidak dibalas pesannya langsung menelepon.
"Ya, kenapa?" sapa Serena degan malas-malasan.
"Kenapa tidak balas pesa dari saya, hahh?!" Marvin sewot.
"Harus ya? Anda tidak mengatakan harus dibalas, 'kan?"
"Apa?! Ya ampun Serena, tinggal balas saja, apa susahnya?"
"Akunya lagi malas ngetik Pak Bos, tadi pagi 'kan energiku sudah habis untuk membuat telur gagal." Sambil merebahkan dirinya di tempat tidur. Serena benar-benar menerima telepon dari Marvin dengan bersantai-santai.
"Apa?! Alasan macam apa, itu?! Tadi kamu bilang apa?! Malas ngetik?!"
"Ya, memang malas ngetik, Pak Bos. Anda tidak salah dengar," ungkap Serena.
"Ya ampun Serena!"
"Kenapa Anda marah? Lagi pula, kalau pun aku ke dapur akunya tidak bisa apa-apa Pak Bos."
"Tadinya saya ingin menunjukkan kalau keberadaan kamu di sini ada gunanya! Maksud saya, kamu harus melakukan sesuatu yang bisa dilihat sama Papa."
"Anda bilang apa?! Anda tadi bilang 'Keberadaan aku di sini biar ada gunanya?!' Hei, memangnya aku sama sekali tidak berguna ya?!"
"Serena, Serena, tenang dulu." Marvin pasti panik. Ia sadar telah salah bicara.
"Sudahlah! Kalau Anda menganggapku tidak berguna! Anda cepat campakkan dan buang aku saja!"
"Serena ...."
"Aku tanpa Anda juga bisa hidup 'kok. Aku bisa nyemir sepatu di jalanan!" sentaknya. Lalu mengakhiri panggilan secara sepihak.
...***...
"Serena!"
Di dapur, Marvin memijat keningnya. Serius, wanita memang sulit dipahami.
"Sabar Pak Bos, istri adalah ujian hidup," kata Indri dengan suara pelan.
"Ya, saja tahu. Indri, kamu lanjutkan memasaknya ya. Ingat, ikan untuk Papa harus benar-benar bebas dari minyak. Bakarnya yang bagus, jangan sampai gosong, pakai api kecil saja. Terus nasi yang untuk Papa itu tidak boleh hangat. Kamu kipas-kipas dulu ya," amanatnya.
"Baik Pak Bos."
Marvin melepas celemeknya dan berlalu. Ia bermaksud menemui Serena dan mengklarifikasi masalah kecil ini.
Saat Marvin melewati area sisi kolam renang, ia melihat papanya sedang menatap hampa ke tengah kolam renang.
"Papa di sini?" Marvin mendekat.
"Ya, Miranda pasti senang kalau dia ke sini. Dia 'kan suka berenang," gumam pak Jacob. Ternyata, ia sedang mengenang mendiang putrinya.
"Marvin menyesal tidak membawa Miranda datang ke vila ini lebih cepat. Tadinya, Marvin akan membawanya ke sini saat dia ulang tahun ke tujuh belas."
Marvin pun berdiri di samping pak Jacob. Ia juga menatap ke tengah kolam dan memikirkan Miranda. Namun apa yang terjadi? Yang ada di pikirannya saat ini justru adalah Serena yang sedang berenang dan berbikini. Marvin segera mengusap wajahnya sambil menyebut nama Tuhannya.
"Saat Papa seharian bekerja di luar rumah, terus malamnya pulang ke rumah, senyuman lebar dan binar di mata Miranda selalu menjadi penghilang penat dan membuat Papa merasa jika kerja keras Papa sudah sepadan. Lalu Papa menganggap jika Miranda adalah anak Papa yang kelak akan merawat Papa di masa depan saat Papa sudah tua dan renta," gumamnya lagi. Walau tidak ada air mata, namun raut wajah pak Jacob jelas menunjukkan kesedihan.
"Papa masih bisa tegas dan tidak memanjakan kamu, tapi Papa paling tidak bisa kalau disuruh mama kamu untuk tidak memanjakan Miranda. Jika mama kamu banyak menerapkan aturan untuk Miranda, Papa adalah partner in crimenya Miranda dalam melanggar aturan. Di saat mama kamu tidak membolehkan Miranda jajan junk food dan minuman yang manis-manis, Papa justru akan berkompromi dan merayu mama kamu agar Papa bisa membelikan jajanan kesukaan Miranda. Atau Papa akan membelinya dengan sembunyi-sembunyi demi Miranda. Miranda, Papa rindu sama kamu, sayang."
Pak Jacob lantas tertunduk lesu. Pertemuannya dengan Serena, benar-benar mencuatkan kerinduannya pada Miranda.
"Papa, Marvin juga anak Papa. Marvin akan menjaga Papa di hari tua. Mohon doanya saja agar Marvin sehat dan panjang umur." Sambil merangkul bahu pak Jacob.
"Ayah dan anak perempuan itu memiliki ikatan yang unik, Vin. Ikatan itu bisa Papa rasakan, namun tidak bisa Papa jelaskan dengan kata-kata."
"Marvin paham perasaan Papa."
__ADS_1
"Bagi Papa, Miranda adalah anak yang paling istimewa, rasa sayang Papa pada Miranda melebih rasa sayang Papa pada mama kamu, pada kamu, bahkan pada orang tua Papa sendiri. Maaf jika kamu merasa Papa berlebihan dan tidak adil. Jujur, Papa tidak bisa menghindari perasaan ini."
"Papa adil 'kok. Saya tidak pernah merasa kalau Papa lebih menyayangi Miranda daripada Marvin. Lagi pula, Marvin terlahir lebih dulu dan sudah jelas kalau Marvin adalah anak pertama yang merasakan kasih-sayang Mama dan Papa."
"Harusnya Papa selalu memastikan kalau Miranda tidak pernah terluka oleh apa pun. Harusnya Papa berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dan melawan siapa pun yang berani menyakiti Miranda. Tapi Papa gagal Vin! Papa gagal!" sambil mengepalkan tangannya.
"Papa." Marvin memeluk pak Jacob.
"Apa kamu tahu alasan Papa berhenti dari dunia mafia? Alasan utamanya karena kehadiran Miranda, Vin. Papa tidak mau Miranda menjadi korban kekejaman orang-orang yang pernah bermasalah dengan Papa."
"Pilihan tepat Pa. Berarti, Tuhan menghadirkan Miranda salah satunya adalah untuk merubah Papa."
"Ini gara-gara dia! Si Wandira harus mati, Vin! Dia harus mati! Setelah dia melihat putrinya tersakiti, kamu harus membunuhnya! Kalau kamu tidak bisa, biar Papa sendiri yang akan membunuhnya tanpa harus mengotori tangan kamu!" tegasnya. Wajah pak Jacob memerah.
...***...
Serena. Dia selalu datang di waktu yang tak tepat. Berniat ingin berenang sejenak, ia malah tidak sengaja mendengar obrolan itu. Serena yang berada di balik ruang ganti, hanya bisa mematung dan bingung. Ia kemudian merasa jika dirinya adalah sumber dari permasalahan ini.
Tiba-tiba ada niatan untuk bertemu papanya dan bertanya tentang pemasalahan ini. Serena tidak mau masalah ini berlarut-larut. Entah sampai kapan ia akan hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian. Lalu dengan modal percaya diri, Serena keluar dari persembunyiannya.
"Bos Besar," panggilnya. Sontak membuat Marvin dan pak Jacob terkejut.
"Serena?" Marvin beralih pandang pada gadis itu. Sementara Pak Jacob masih menatap pada Serena dengan tatapan tidak terbaca.
"Tolong jelaskan kesalahan papaku selain punya hutang! Aku mau tahu," pinta Serena dengan lantangnya.
"Tidak perlu tahu! Kamu menguping?!" sentak Marvin. Sengaja menyentak Serena agar pak Jacob tahu jika ia selalu bersikap tegas pada Serena.
"Papa kamu menyebabkan kematian putriku," jelas pak Jacob tanpa menoleh pada Serena. Sebab saat melihat gadis itu, kerinduannya pada Miranda akan terusik lagi.
"Bagaimana papaku bisa membunuhnya?! Aku tahu papaku jahat! Tapi dia tidak pernah membunuh!" teriak Serena.
"Berani sekali kamu meneriaki papa saya?! Lancang!" Marvin mencengkram dagu Serena. Lagi-lagi ingin membuktikan pada papanya kalau ia tidak akan bersikap manis pada gadis ini.
"Lepaskan tangan kotormu Marsupilami! Aku sedang bicara sama Bos Besar! Bukan sama kamu!" sentak Serena sembari menepis tangan Marvin.
Pak Jacob kaget putranya dijuluki Marsupilami. Ia sampai mendelik pada Marvin. Benarkah putranya mirip Marsupilami? Julukan Serena sangat tidak masuk akal.
Tapi Marsupilami adalah tokong binatang fiksi yang cerdas, banyak akal, suka menolong manusia, dan juga bisa menjadi pemangsa yang menakutkan saat dirinya terdesak. Okelah, julukan Marsupilami untuk putranya tidak terlalu buruk.
"Haish," Marvin mendengus kesal. Ingin rasanya mengigit bibir gadis itu saat ini juga. Tapi ya tidak mungkin karena ada pak Jacob.
"Papa kamu adalah orang pertama yang ada di TKP saat putri saya meninggal. Ada saksi mata yang melihat jika papa kamu berlumuran darah, dan itu darah putriku! Tapi Pengadilan Luar Negeri malah membebaskan papa kamu!" teriak pak Jacob.
"Itu berarti papaku tidak salah! Kenapa Anda tidak menggugat Pengadilan saja?!"
"Serena cukup!"
Serena tiba-tiba mengatakan, "Ja-jangan cekik aku Pak Bos, a-a sa-sakit." Sambil menekan dan memegangi tangan Marvin yang berada di lehernya, lalu Serena memundurkan kakinya menuju kolam dan bertingkah seolah-olah Marvin sedang mencekik sambil mendorongnya ke kolam. Marvin terkejut, pun dengan pak Jacob.
"Marvin! Hentikan!"
Entahlah atas dasar apa pak Jacob melarangnya. Namun tanpa diketahui pak Jacob, Serena mengedipkan matanya pada Marvin sebagai isyarat jika adegan ini harus terlihat real.
"Tidak mau Pa! Biar sekalian saja dia basah kuyup!"
'Byur.'
Dibarengi dengan teriakan Serena.
"Aaaa."
Serena benar-benar tercebur ke kolam renang. Padahal faktanya, Marvin sama sekali belum mendorongnya.
"Marvin!" teriak pak Jacob. Tadi baru saja hujan, dan pak Jacob berpikir jika air kolam itu pasti sangat dingin.
"A-aku belum lancar berenang," kata Serena sambil meronta. Marvin melongo kebingungan. Serena 'kan bisa berenang, maksud gadis itu apa 'sih? Marvin benar-benar bingung.
Aku mau tahu sejahat apa Bos Besar. Kalau aku pura-pura tenggelam, apa dia akan menolongku?
Oh, ternyata Serena sedang menguji pak Jacob. Ya ampun Serena, ada-ada saja! Marvin 'kan jadi kebingungan.
"Dia tidak bisa berenang? Marvin! Cepat tolong dia!" teriak pak Jacob pada Marvin yang saat ini masih terbengong-bengong sambil menatap pada Serena yang nyaris tenggelam.
"Ta-tapi Pa ---."
"Marvin cepat! Kalau dia mati usaha kita akan sia-sia!"
Pak Jacob mendorong tubuh putranya agar segera menolong Serena.
'Byur.' Marvinpun tercebur ke kolam.
"To-tolong," seru Serena.
Serena terus meronta-ronta, dan gadis itu telah menyimpulkan jika Bos Besar tidaklah sejahat dan sesadis yang ada di dalam bayangannya saat ini. Buktinya, dia peduli dan tidak ingin melihatnya mati tenggelam.
"Dasar gadis nakal," bisik Marvin saat ia telah berhasil meraih tubuh Serena.
"Hehehe." Gadis itu malah terkekeh sambil menyembunyikan wajahnya di balik dada Marvin.
__ADS_1
"Cepat bawa ke tepi!" teriak pak Jacob. Ia bahkan berlari mengambil handuk yang tujuannya untuk mengeringkan tubuh Serena.
"A -, Serena, ja-jangan bercanda," geram Marvin karena di balik air kolam, tangan Serena iseng menyentuh tubuh Marvin. Serena menahan tawa. Lalu gadis itu pura-pura pingsan saat posisi mereka hampir sampai di tepi kolam.
"Kamu nakal ya, kalau ada yang bangun bagaimana?" bisik Marvin. Benar-benar merasa kesal sekaligus gemas dengan ulah istri sitaannya itu.
"Letakan dia di situ, Vin!"
Pak Jacob membantu Marvin. Intinya, hari ini, Serena telah berhasil mengerjai papa dan anak.
"Papa panggil Indri dulu ya."
Pak Jacob berlari ke arah dapur sambil memanggil Indri, maksudnya mungkin agar Indri membantu Serena. Serena mengintip, matanya menyipit.
"Hahaha." Setelah melihat pak Jacob pergi, gadis itu terbahak-bahak.
"Kamu itu benar-benar ya, Serena." Marvin mencubit gemas pipi gadis itu.
"Aku hanya mau tahu sejahat apa papa Anda. Ternyata, Pak Bos 'lah yang lebih jahat," ujarnya sambil terus terkekeh.
"Haish," karena tidak tahan, Marvin akhirnya mencium bibir Serena. Sekalian digigit karena sedikit kesal.
"A --- mmh ...." Serena tidak berkutik.
Ternyata, Indri sudah datang sambil membawa baki berisi minuman hangat untuk Serena. Wanita itu hanya bisa mematung saat tidak sengaja melihat adegan di sisi kolam. Sedari tadi ia sudah merasa heran. Kenapa bisa Nona Clara tenggelam? Karena setahu Indri, gadis itu mahir berenang.
Lalu Indri terkejut saat mendengar langkah kaki Bos Besar. Kalau Bos Besar sampai melihat adegan saat ini, bisa gawat!
"Bos Besar. Itu di rambut Anda ada apa ya?" ujar Indri sembari membalikan badan. Maksudnya, agar bisa mengalihkan Bos Besar dan menghalangi adegan itu. Ya ampun, Indri jadi dag dig dug. Ia khawatir Pak Bos dan Serena terciduk.
"Perasaan tidak ada apa-apa." Pak Jacob mengusap rambutnya.
"Aaah! Kakiku kram!" teriak Indri.
Maksudnya supaya terdengar oleh Serena dan Marvin agar mereka segera mengakhirinya. Faktanya, yang dikerjai Serena bukan hanya Pak Bos dan Bos Besar, Indripun terdampak efeknya.
Berhasil. Teriakan Indri menyadarkan Marvin. Ia mengakhiri jalinan itu dan segera mengusap bibir Serena yang sedikit bengkak memerah. Sementara Serena, gadis itu sedang mengatur napasnya.
"Sini, saya yang bawa." Pak Jacob merebut baki dari tangan Indri. Lalu mendekat pada putranya yang saat ini sedang menyelimuti Serena.
"Dia sudah sadar Pa," jelas Marvin.
"Fyuhh ...." Indri akhirnya bisa bernapas lega.
Serena menunduk. Ia sedang menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Jangan terlalu keras pada dia, Vin," larang pak Jacob sambil meletakan baki di sisi Serena.
"Tidak bisa Pa, Marvin harus keras."
Maksud Marvin keras dalam hal bertindak. Tapi yang dipikirkan Indri malah keras dalam hal yang lain. Indri jadi menahan tawa karena pikiran menyimpangnya.
"Indri, cepat bawa dia ke kamarnya, bajunya harus segera diganti." Ucapan pak Jacob menyadarkan Indri.
"Baik Bos Besar." Indri segera meraih tangan Serena dan mengandengnya untuk dibawa ke kamar.
"Dia masih remaja. Kalau kamu terlalu keras. Papa merasa kasihan juga," ujar pak Jacob sambil membantu mengeringkan rambut putranya.
"Papa merasa kasihan?"
"Ya, hanya sedikit kasihan. Tadinya Papa pikir dia sudah dewasa. Ternyata belum. Oiya, apa kamu tidak merasa kalau dia mirip dengan Miranda?"
"Ti-tidak," elak Marvin.
"Hmm, mungkin Papa saja yang salah lihat karena terlalu merindukan Miranda."
...***...
_______
"Aku hanya melihat bu Putri dan anaknya yang masih kecil-kecil Tuan," lapor seorang pria melalui ponselnya.
"Anak Mister Wandira ternyata sangat cantik. Aku ingin mendapatkannya." Itu suara di balik telepon dan ia menggunakan bahasa asing.
"Ya Tuan, dia memang sangat cantik. Tapi aku sudah lama tidak melihat dia sekolah. Sepertinya, gadis itu sudah pindah ke sekolah yang berada di daerah ini."
"Cari sekolah barunya dan bawa gadis itu ke hadapanku!"
"Baik Tuan."
"Jika Mister Wandira melawan, ancam dia kalau kita tidak akan membantunya lagi. Dia memang sudah melunasi hutangnya. Tapi aku masih ingin memperalatnya."
"Mister Wandira sepertinya memang sengaja menyembunyikan putri cantiknya, Tuan."
"Pokoknya, jika dia melakukan perlawanan, tinggal ancam saja kalau kita akan melaporkan persembunyiannya ke polisi."
"Baik, Tuan."
_______
__ADS_1
Waduh, siapa mereka? Untungnya Serena sudah berada di sisi Pak Bos.
...~Next~...