
"Benar Pa. Serena hamil, Papa ... please ...."
Marvin kembali berontak. Ia menendang dua pengawal yang mengekang tangannya. Setelah berhasil lolos, ia berhambur, berlutut, lalu merangkul kaki pak Jacob.
Pak Jacob masih bertolak pinggang sambil mengatur napasnya. Jujur, ia tidak mungkin dan tidak bisa mengembalikan uang sebesar itu agar Serena tetap bersama Marvin. Uang itu uang perusahaan. Bukan uang pribadi pak Jacob.
"Semua ini salah kamu. Kenapa dulu kamu mengambil Serena sebagai tangguhan? Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, uang itu tidak bisa dikembalikan. Sekarang kamu menyerah saja. Jangan mengorbankan banyak orang demi ambisi kamu pada Serena. Kalaupun dia hamil, perceraian kamu tidak bisa ditunda. Karena dalam surat itu sudah tertera jelas kalau kalian akan bercerai jika hutang tersebut sudah dilunasi." Pak Jacob menarik bahu Marvin dari kakinya.
Mendengar perkataan pak Jacob, Marvin hanya bisa memukuli dadanya. Lalu ia tersadar jika orang-orang papanya pasti sudah tiba di kamar Serena. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berlari sambil mendorong beberapa orang pengawal yang menghalanginya. Hendrik yang baru tersadar setelah kalah saat melawan anak buah pak Jacob, hanya bisa menatap Marvin tanpa bisa melalukan apapun sambil memijat kepalanya yang masih terasa sakit dan pusing.
Tadi, anak buah pak Jacob datang secara tiba-tiba dan salah satu dari mereka meletupkan pistol ke udara saat Hendrik berusaha menghadang. Hendrik kemudian berusaha melawan dan kalah. Lalu Marvin tiba dan menolongnya, namun karena Marvin dan Hendrik kalah jumlah, pertarungan tersebut menjadi tidak seimbang.
"Cepat kejar dia!" teriak pak Jacob. Ia berencana membawa Marvin dan menyerahkan Serena pada pak Wandira.
Marvin mempercepat larinya melewati tangga menuju lantai dua villa. Ada banyak anak tangga yang ia lewati untuk segera sampai ke sana. Demi Tuhan! Ia tidak rela tubuh istrinya terlihat oleh siapapun.
"Serena!" teriak Marvin. Dengan teriakan itu, ia berharap Serena tidak ketakutan.
...***...
Marvin tidak tahu jika wanita yang sangat dicintainya itu saat ini masih terkulai dan belum sadarkan diri. Ya, Serena masih pingsan dan tentu saja tidak tahu kalau saat ini ada 3 pasang mata tengah melongok ke kolong tempat tidur dan menatapnya.
"Lucu sekali, dia seperti bayi. Dia tidur? Apa pingsan?" ujar salah satu anak buah pak Jacob yang pertama kali menemukan Serena berada di bawah tempat tidur.
"Cepat tarik ke luar! Kita harus membawanya."
"Serenaaa!"
Mereka juga mendengar teriakan Marvin.
"Cepat! Sebelum Pak Bos menyerang kita!" desak yang lainnya. Untungnya, tubuh Serena tertutup selimut. Jika tidak, entah akan seperti apa nasib Serena.
Benar saja, saat Serena berhasil ditarik, mata mereka langsung tertuju pada punggung Serena yang tidak sengaja terekspos. Punggung itu begitu mulus dan terawat. Belum lagi lekukan tubuh Serena yang bak gitar Spanyol.
"Lepas! Saya harus bertemu istri saya!"
"Kalian jangan macam-macam ya! Dasar kalian semua pengecut! Lawan saya satu-persatu kalau kalian berani!"
Teriakan Marvin semakin jelas. Dari kegaduhan yang terdengar, dapat dipastikan jika saat ini Marvin tengah adu jotos dengan anak buah papanya.
"Cantik sekali."
"Ya benar."
Mereka terpukau, salah satu dari mereka secara spontan mendekat dan hendak menyentuh punggung Serena. Namun di detik berikutnya, Serena tersadar dan langsung beteriak.
"Aaaa! Kalian siapa?!"
Serena memegang kuat-kuat ujung selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ssst, kami tidak jahat Nona. Kami hanya menjalankan perintah untuk membawa Anda keluar dari pulau ini dan menyerahkan Anda pada papa Anda," jelas pria itu sambil menelan kasar salivanya.
Ia berpikir sangat wajar jika Marvin berani menentang pak Jacob demi wanita muda ini. Secara visual, Serena memang cantik dan seksi. Alangkah bahagianya jika iapun memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Pria itu kemudian menggelengkan kepala untuk menghempaskan pikiran kotornya.
"Maksud kamu?!" Serena tentu saja belum memahaminya.
"Dari informasi yang kami dapatkan, hutang keluarga Anda pada Royal Bank sudah lunas dan secara hukum, berdasarkan surat perjanjian pernikahan antara Anda dan Pak Bos, setelah hutang keluarga Anda lunas, Nona Serena dan Pak Bos tidak menjadi suami istri lagi."
"A-apa?!"
Serena terkejut. Ia yang tadinya hendak berdiri, menjadi lemas dan terpuruk kembali. Entah ia harus bahagia atau sedih atas berita tersebut.
"Serenaaa!"
Itu suara Marvin. Pria itu belum sampai di kamar karena banyaknya pengawal yang menghadangnya. Serena tertunduk, airmatanya menetes tak terbantahkan. Ia sudah menduga jika hal ini akan terjadi.
"Cepat kemasi bersiap Nona, kami harus segera membawa Anda sebelum kondisinya semakin kacau," bujuk pria yang lain.
"Baiklah. Aku akan siap-siap. Kalian juga cepat keluar dari kamarku," usir Serena dengan suara lirih.
__ADS_1
"Baik Nona." Mereka pun berlalu.
Setelah mereka pergi, Serena kemudian berjalan tertatih menuju pintu kamar untuk menguci pintu. Namun baru juga ia hendak menguncinya, sebuah tangan mendorong pintu dari luar dan memaksa masuk. Serena terkejut, namun saat ia hendak berteriak, tangan pria yang masuk tersebut dengan cepat membekap bibir Serena dan tangan yang lainnya mengunci pintu.
"Mmm!" Serena meronta. Pria itu adalah salah satu dari pria yang tadi masuk ke kamarnya.
"Maaf Nona, Anda terlalu menggoda. Aku tidak tahan dan ingin mencicipi tubuh Nona," kata pria tersebut sambil menyeret dan terus membekap Serena.
"Tidaaak. Marviiiin tolooong!" teriak Serena di dalam hati.
Ia berusaha menendang pria itu. Namun usahanya sia-sia. Pria itu tentu saja telah terlatih. Dengan gerakan lincah, pria itu telah berhasil menutup bibir Serena dengan lakban yang telah disiapkannya. Sepertinya, selain membawa pistol, mafia juga membawa lakban dan tali pengikat. Buktinya, pria itu saat ini sudah berhasil mengikat tangan Serena.
Serena tidak berdaya, hanya bisa menangis dan mejerit di dalam hati. Lalu memohon kepada Pemilik Alam Semesta agar menyelamatkannya.
Pria itu sudah terbakar nafsu. Matanya memerah, napasnya memburu dan nyaris megap-megap. Ia hanya perlu menarik selimut Serena dengan satu kali gerakan untuk melihat dan menikmati keindahan itu secara keseluruhan.
"Tidaaak, ja-jangan!"
Rasanya Serena ingin menghilang dari dunia ini saat pria berwajah sangar itu menyentuh dan mengendus pipinya, lalu pria jahat itu menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tidaaak."
Serena merasa jika jiwa dan tubuhnya sudah tidak berguna lagi. Mata pria itu terbelalak, kedua bola matanya nyaris keluar dan jatuh. Keindahan yang tersaji di hadapannya, sungguh luar biasa dan di luar nalar. Tiba-tiba ....
"DOR!"
Sebuah peluru melesat cepat dan melewati roster pintu kamar. Lalu menembus pelipis pria tersebut tanpa diduga. Entah itu tembakan salah sasaran atau memang disengaja.
Serena tersentak kaget. Bersamaan dengan itu, darah segar memancar dari pelipis pria tersebut. Serena memejamkan mata, ia bersyukur pria itu terkena peluru sebelum menodainya. Tapi adegan ini terlalu mengejutkan dan membuatnya ketakutan.
"Brugh."
Tubuh pria itu menindih Serena dan ia tidak akan pernah bisa begerak lagi untuk selamanya. Dia tewas sebelum niat jahat dan nafsu bejadnya tersalurkan. Tubuh Serena gemetar, ia merasa jijik dan getir. Lalu peluru kedua datang dan menyerang lubang kunci kamar tersebut.
"BRAK."
Seorang pria tampan menendang pintu kamar. Wajahnya yang dipenuhi memar, tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya.
"Marvin."
Serena bahagia karena pria yang ia andalkan tiba di waktu yang tepat. Marvin yang mengokang pistol, membuat Serena sedikit ketakutan.
"Payah kalian! Kalian semua payah! Melawan satu orang saja tidak becus!"
Samar-samar terdengar teriakan pak Jacob memarahi anak buahnya.
"Kurang ajar!!! Manusia laknat!!!"
Marvin menarik tubuh pria yang menindih Serena dengan penuh kemarahan. Ia mendorong kuat pria yang sudah tidak bernyawa itu ke lantai, menginjak punggungnya dan menendangnya berkali-kali.
"Rasakan! Rasakan ini! Selamat datang di neraka manusia biadab!" teriaknya.
Marvin bahkan berniat menembak kembali kepala pria itu, namun hentakan kaki Serena mengurungkan niatnya.
"Serena."
Marvin melompat ke tempat tidur dan segera melepaskan penutup bibir dan tali yang mengikat tangan Serena.
"Hu ...." Serena menangis dalam dekapan Marvin.
"Apa dia menodai kamu?!" tanya Marvin sambil membantu Serena mengenakan pakaian.
"Hu ...." Serena belum mampu menjawab. Ia masih shock dengan kejadian yang baru saja dilewatinya.
"Maaf, saya tidak bermaksud menakuti kamu."
Marvin mencium kening Serena, lalu membopong tubuh Serena untuk dibawa ke kamar mandi dan dibersihkan. Marvin menginjak mayat pria yang berani menyentuh istrinya tanpa belas kasihan. Marvin menguci pintu kamar mandi, dan pistol yang ia rampas dari anak buah papanya tetap siaga di saku bajunya.
...***...
__ADS_1
Ia meletakan tubuh Serena di sisi wastafel. Kemudian mengguyur tubuh Serena dan membersihkan darah yang menempel.
"Huks." Serena terus menangis dan menangis.
"Apa yang dia sentuh? Apa dia sudah ---."
Marvin tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Membayangkannya saja, sudah membuatnya naik darah dan ingin membunuh pria itu berkali-kali.
"Jawab Serena," desak Marvin sambil membersihkan tubuh Serena dengan sabun.
"Baiklah, tidak perlu dijawab. Saya akan memeriksanya."
Marvin kemudian memeriksa seluruh tubuh Serena dengan tangan gemetar, Serena pasrah sambil terisak.
"Syukurlah, saya bahagia dia belum sempat menyentuh mahkota kamu," bisik Marvin seraya mengeringkan tubuh Serena dengan perlahan dan lembut.
"Marvin! Papa beri kamu waktu sepuluh menit untuk berpikir dan mengambil keputusan!"
Terdengar suara pak Jacob dari luar kamar.
"Kamu juga sudah membunuh anak buah Papa! Kamu harus bertanggung jawab!" Teriakan pak Jacob terdengar lagi.
"Marvin akan bertanggung jawab! Papa tenang saja!" sahut Marvin.
Saat ini, ia sedang memakaikan baju bersih pada Serena yang sudah mulai tenang. Serena terus menatap Marvin dengan tatapan Sendu.
"Keputusan seperti apa yang akan Anda ambil?" tanya Serena sambil mengusap memar di wajah Marvin.
"Saya akan membawa kamu ke manapun saya pergi. Kita kabur dari sini melewati itu," sambil menunjuk celah yang berada di langit-langit kamar mandi.
"Pak Bos, kalau aku tidak mau kabur bagaimana? Kalau aku ingin kembali pada mama-papaku bagaimana? Kata anak buah papa Anda, hutang keluargaku sudah lunas dan secara otomatis kita bukan pasangan suami-istri lagi."
"Serena." Marvin memegang tangan Serena.
"Ya, permasalahan hutang-piutang kita menang sudah selesai. Tapi semua itu tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan hubungan kita. Hubungan kita murni atas dasar cinta seperti manusia pada umumnya. Kabur adalah salah satu cara agar kita mendapatkan restu. Kamu setuju, kan?"
"Pak Bos, bagaimana kalau kita hadapi dulu? Aku tidak mau dikejar-kejar terus."
"Serena, jika dengan dihadapi permasalahannya akan selesai, saya juga ingin melakukannya. Tapi orang tua kita tidak sesimpel itu. Info terbaru, kamu akan digadaikan pada seseorang."
"Apa?! Tidak mungkin! Tidak mungkin papaku setega itu! Aku manusia Pak Bos! Aku bukan barang dagangan!" sangkal Serena.
"Faktanya seperti itu. Papa kamu mencari mangsa lain dan kembali menggunakan kamu sebagai jaminan."
"Papa, kenapa Papa tega sekali? Huks, baiklah. Aku ikut Pak Bos, aku juga mau kabur bersama Anda."
Marvin mengusap air mata Serena. Lalu kembali memeluknya.
"Marvin! Tiga menit lagi! Kalau kamu tidak keluar, pintunya Papa dobrak!" ancam pak Jacob.
"Ya Pa. Sebentar lagi," jawab Marvin.
Padahal, ia sedang memodifikasi tirai bathup agar bisa digunakan sebagai pijakan Serena untuk naik ke langit-langit kamar mandi. Setelah Marvin berhasil memanjat, ia kemudian mengulurkan tirai tersebut dan bersiap untuk menarik Serena.
"Pak Bos, aku takut terpeleset."
"Sst, tenang saja, saya akan memegangi kamu." Marvin meyakinkan Serena.
"Marviiin!" panggil pak Jacob.
"Ayo cepat Serena! Pegang kuat-kuat dan raih tangan saya."
"Ya Pak Bos. Satu, tiga!" Serena melakukannya. Ia menginjak sisi bathup, memanjat tirai dan meraih tangan Marvin. Marvin menarik Serena dan ... berhasil.
Tiba di atap, bukannya segera kabur, Marvin dan Serena malah saling menatap dan spontan melakukan lips kissing.
_____
Ya ampun kalian, bisa 'kan kissing-kissingnya ditunda dulu?
__ADS_1
...~Next~...
Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.