
Saat Marvin memutar otak dan mencari cara untuk terbebas dari kondisi ini. Serena sepertinya punya ide. Ia segera berjinjit untuk berbisik di telinga Marvin.
"Serahkan padaku," bisiknya. Lalu, .....
"Maafkan aku Pak Bos, maaf. Aku berjanji tidak akan masuk ke gudang sembarangan lagi." Serena bahkan bersimpuh di kaki Marvin yang masih bengong agar aktingnya terlihat lebih dramatis.
Dua pelayan yang masuk gudang itupun saling berpandangan. Sangat masuk akal kalau Serena si pembuat keonaran salah masuk ke gudang ini.
"Ssstt, ssstt."
Saat Para pelayan lengah Serena mengedipkan mata pada Marvin. Maksudnya, agar Marvin mendukung aktingnya. Bersamaan dengan itu, Rian dan Clara memasuki gudang.
"Dasar nakal! Beraninya kamu masuk ke gudang makanan tanpa izin!" teriak Marvin sambil bertolak pinggang dan menunjuk Serena.
Bagus juga aktingnya. Huh, dasar pria plin-plan! Kamu langsung akting karena ada kekasihmu, 'kan? Oceh Serena dalam batinnya saat masih bersimpuh dan menunduk. Dari kejauhan Serena terlihat sangat tertindas. Padahal jika dilihat dari dekat, jelas sekali kalau bibir gadis itu sedang tersenyum.
"Maafkan aku, Pak Bos," lirih Serena.
Clara segera mendekat. Pun dengan Rian.
"Bangun!" teriak Marvin.
"Honey, apa kesalahannya? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Clara sambil memerhatikan gadis yang bersimpuh di hadapan Marvin.
Melihat visualnya, Clara yakin jika gadis itu adalah Serena. Putri pertama Wandira, si raja judi yang bangkut secara tiba-tiba. Seketika itu juga, batin Clara merasa ketakutan. Bagaimana tidak, gadis itu cantik dan memiliki bentuk tubuh yang seksi. Ia khawatir Marvin menyukainya.
"Dia mencuri makanan! Dasar Kucing!" rutuk Marvin sambil melengos pergi. Ia tidak mau lama-lama berakting.
"Mencuri makanan? Dia pasti kelaparan. Ya ampun, honey. Masa kamu membiarkan pelayan di rumah ini kelaparan? Halo, salam kenal. Aku Clara Judith, calon istrinya Pak Bos. Ayo bangun," ajak Clara. Ia mengulurkan tangannya pada Serena. Serena menyambut tangan tersebut sembari mengusap airmata buayanya.
"Terima kasih, Nona Clara. Aku Serena." Mereka bersalaman. Marvin segera keluar dari gudang.
Sudah kuduga. Batin Clara.
"Kamu Serena?"
"Ya, Nona."
"Wah kebetulan sekali. Berarti, kamu adalah pelayan yang terpilih itu. Kamu aku pilih menjadi pelayanku, apa kamu bersedia?"
"Bersedia, Nona."
"Bagus, kamu bekerja dari sekarang ya. Tugas pertamamu adalah memotong kukuku. Yuk ikut ke kamarku," ajak Clara.
Clara kemudian memanggil Marvin agar menunggunya. Jadilah mereka berjalan beriringan. Marvin bergandengan dengan Clara. Sementara Serena, gadis itu menguntit di belakang.
Mereka serasi, batin Serena.
...***...
"Honey, apa kamu tidak mau kita main-main dulu di kamarku?" tanya Clara pada Marvin yang saat ini berada di depan kamarnya. Serena hanya menyimak dan menunduk.
Main-main di kamar, cih. Sudah kuduga. Mereka kumpul kebo. Duga Serena.
"Apa? Untuk apa saya main-main di kamar kamu?" Marvin heran. Ternyata, Clara ingin memamerkan otoritasnya pada Serena sebagai kekasih Marvin.
"Honey, kamu lupa ya? Hehehe," goda Clara.
"Lupa? Lupa apa?" Marvin semakin kebingungan.
Dasar hidung belang! Apa dia pura-pura lugu? Batin Serena.
"Ya sudah 'deh. Kita berpisah di sini ya honey. Dah honey." Clara melambaikan tangan. Ia tidak ingin kecanggungan Marvin membuat Serena curiga.
"Baiklah, saya pergi." Marvin berlalu setelah menatap Serena beberapa detik.
"Aku juga permisi," kata Serena.
"Serena, kamu ikut ke kamarku. Ada banyak hal yang harus kamu lakukan."
"Baik, Nona," jawab Serena.
Mendengar Serena menyetujuinya, Marvin yang masih berada tidak jauh dari kamar Clara langsung membalikkan badan dan kembali lagi.
"Honey?" Clara terkejut.
"Saya harus melihat bagaimana pelayan baru ini memerlakukan kamu. Saya tidak mau dia melakukan kegiatan di luar pengawasan."
Marvin segera masuk ke kamar Clara bahkan sebelum Clara dan Serena masuk. Serena diam saja, dan ia berharap tidak melakukan hal yang membuat Marvin kecewa. Karena sejahat apapun Marvin terhadapnya, pria itu tetaplah penolongnya. Jika saja Marvin tidak memaafkan papanya, Serena tidak bisa membayangkan nasibnya saat ini. Dia pasti akan putus sekolah dan mamanya berhenti cuci darah.
"Terima kasih honey." Clara langsung memeluk punggung Marvin. Serena berdiri di pojok kamar.
"Apa kamu tidak tertarik melihat-lihat kamarku?" tanya Clara.
"Tidak, Nona."
"Apa?!" Clara pura-pura terkejut. Ya, ia tahu jika orang tua Serena dulunya kaya-raya.
"Dia sudah pernah orientasi ke kamar ini," sela Marvin.
Kenapa dia berbohong? Batin Serena.
"Ya, Nona. Aku sudah pernah melihat kamar ini. Makanya tidak mau lihat-lihat lagi," kata Serena. Pada akhirnya, ia mendukung kebohongan Marvin.
"Oh, begitu? Sini duduk, kamu harus memotong kukuku." Clara mengajak Serena duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Baik," Serena patuh.
"Ini gunting kukunya. Belum terlalu panjang, 'sih. Cepat lakukan," titah Clara.
"Ba-baik."
Serena sedikit ragu, sebab ia belum pernah memotong kuku orang lain. Memotong kuku sendiripun tidak pernah. Kuku Serena selalu dipotong oleh pelayan. Terakhir kali Serena dipotong kuku adalah seminggu yang lalu sebelum papanya bangkrut. Wajar jika saat ini, justru kuku Serenalah yang terlihat lebih panjang daripada kuku Clara.
"Kukumu panjang? Sengaja?" tanya Clara.
"I-iya, Nona. Sengaja."
Sementara Marvin, untuk saat ini masih menyimak. Ia duduk di sofa, melipat tangan di dadanya dan tentu saja mengawasi interaksi Serena dan Clara. Lalu mata Marvin tertuju pada kuku tangan Serena. Lanjut pada kuku kaki Serena.
"Ayo lakukan, Serena."
"Baik."
Dengan tangan sedikit gemetar, Serena memulainya. Tentunya dengan perlahan dan hati-hati. Syukurlah, jari pertama berhasil. Marvin yang melihatpun merasa lega. Marvin tentu saja sudah tahu jika Kucing Nakal itu sangat payah dalam urusan apapun. Kecuali dalam hal pelajaran. Ya, Marvin tahu jika di sekolahnya, Serena cukup berprestasi
"Ahh! Sakit!"
Kelegaan Marvin hanya berlangsung beberapa detik. Teriakan Clara sontak membuat Marvin terlonjak kaget.
"Clara!" Marvin cepat-cepat mendekat.
"Maaf Nona." Serena panik.
Marvin menghisap jari telunjuk Clara yang berdarah.
"Hhuuaaa." Clara menangis.
"Cepat minta maaf!" teriak Marvin.
"Maaf Nona." Serena menyesalinya. Ia hendak meraih tangan Clara, namun ditepis.
"Huuu. Pecat dia, Vin! Pecat! Untuk apa kamu memperkerjakan pelayan yang tidak berguna?! Memotong kuku saja tidak becus! Apa kamu sengaja ingin melukaiku, Serena?!" teriak Clara saat Marvin membungkus luka pada kukunya.
"Saya akan mengatasinya. Tidak perlu khawatir," jawab Marvin.
"A-aku minta maaf Nona Clara. A-aku memang tidak pandai memotong kuku." Serena kembali minta maaf.
"Jangan berasalan! Mana ada pelayan tidak bisa memotong kuku! Ini 'kan pekerjaan kecil!" Clara masih tidak terima.
"A-aku bisa membantu Nona mengerjakan tugas kuliah," tawar Serena.
"Tidak perlu!" tolak Clara. Airmatanya masih berurai. Setelah membukus lukanya. Marvin segera memeluk kekasihnya.
"Sabar, saya akan mengatasinya." Marvin mengusap air mata Clara.
"Ya sudah, karena sudah malam, kamu istirahat ya. Besok, biar pelayan lain saja yang memotong kuku kamu." Marvin merebahkan Clara di tempat tidur, menyelimutinya, dan mengecup keningnya.
"Good night, baby," lanjutnya sambil menyalakan lampu tidur.
"Good night, honey." Clara mengecup Marvin dari kejauhan.
"Kamu ikut saya! Kamu harus diberi pelajaran karena melukai kuku kekasihku!" Dengan gerakan kasar, Marvin menarik lengan Serena untuk keluar dari kamar. Clara puas. Ia menyeringai saat matanya dan mata Serena bertatapan.
...***...
"Pak Bos, a-aku minta maaf. Aku tidak sengaja. Bisa lepaskan tanganku?"
"Diam! Yang lain sudah tidur," sentak Marvin.
"A-Anda mau membawaku ke mana?"
"Patuh saja Kucing Kecil!"
"A-apa?" Serena terkejut saat mengetahui Marvin menyeretnya ke kamar.
"Masuk! Cepat!"
"Pak Bos! Sudah kubilang aku minta maaf!" teriak Serena saat mereka telah berada di kamar.
"Duduk!" Ia memaksa Serena duduk di sofa.
"Marsupilami! Kamu mau apa?! Tolooong!" teriak Serena.
"Kamar saya dipasang peredam suara. Beteriakpun percuma." Sambil membuka kemejanya. Tidak hanya kemeja, Marvin juga membuka kaus dalamnya.
"Marvin! Kamu mau apa 'sih?!" Serius, Serena ketakutan. Namun matanya tidak bisa berpaling dari menatap tubuh Marvin yang mampu memudarkan keimanan.
"Duduk dan diam!" sentak Marvin sambil menekan pipi Serena hingga bibir gadis itu mengerucut.
"Huuks." Setelah Marvin melepasnya, Serenapun menangis.
Marvin kemudian beranjak untuk mengambil sesuatu. Lalu mendekati Serena setelah mengambil sebuah benda yang membuat Serena membelalakan mata.
"P-Pak Bos ...," Serena menatapnya.
"Saya akan melakukannya dengan pelan-pelan. Patuh saja," pintanya. Pria itu bahkan berlutut di dekat kaki Serena.
"Ta-tapi Pak Bos."
"Ssst, jangan begerak." Lalu Marvin meraih tangan Serena. Serena termangu, tangisnya terhenti seketika.
__ADS_1
"Pak Bos," gumamnya. Rasanya tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Kenapa? Mau bilang kalau saya tampan?" Marvin tersenyum, namun matanya tetap fokus.
"Ke-kenapa A-Anda melakukan ini?" tanya Serena yang mendadak jadi gugup.
"Saya biasa memotong kuku adik saya."
"Adik?"
"Ya, saya punya adik perempuan seusia kamu."
"Oh, aku tidak tahu kalau Anda punya adik perempuan. Namanya siapa? Sekolah di mana?"
"Dia sudah tidak ada." Marvin berhenti sejenak, lalu melamun. Matanya menatap nanar pada gunting kuku yang dipegangnya.
"Ma-maaf," Serena spontan memegang tangan Marvin.
"Dia seperti kamu, ceroboh, manja, dan tidak bisa melakukan apa-apa." Melanjutkan kembali memotong kuku Serena.
"Terima kasih, Pak Bos. Maaf karena aku mengira jika Anda mau menyakitiku."
"Tak masalah." Sekarang beralih ke bawah. Marvin hendak memotong kuku kaki Serena.
Serena membisu saat tangan Marvin menyentuh kakinya. Pun dengan Marvin, ia membisu saat kaki cantik itu disentuhnya.
...***...
Di Sebuah Rumah Mewah, Pusat Kota
"Saya sudah tahu dia memaafkan Wandira si raja judi. Tapi saya tidak tahu kalau dia membawa putri si raja judi ke apartemennya."
Seorang pria berusia sekitar 47 tahun sedang mengobrol dengan seorang pria muda.
"Bos Besar harus hati-hati. Wandira itu licik dan picik. Ya, namanya juga raja judi. Aku yakin dia sengaja menyerahkan putrinya pada Bos Marvin sebagai umpan."
"Kita lihat saja, jika dia berani menipu putraku lagi. Saya tidak segan membunuhnya."
"Ya Bos Besar. Kita tidak boleh lengah. Walaupun dia sudah jatuh miskin. Kita harus tetap waspada. Bisa jadi, dia hanya pura-pura miskin dan bangkrut demi memenangkan taruhan."
"Kamu benar," tegasnya.
...***...
Di Sebuah Rumah Sederhana, Pinggiran Kota
"Bagaimana? Kapan eksekusinya?" Wandira si raja judi sedang menelepon seseorang.
"Tenang Pak. Kami sudah mengaturnya." Suara di balik telepon.
"Bagus. Jangan sampai gagal! Atau kalian akan mati."
"Siap, Pak. Oiya, ada kabar baik, Pak. Bos Marvin mengizinkan Nona Serena sekolah lagi."
"Apa?! Hahaha. Bagus. Sudah kuduga. Tidak ada seorangpun pria yang bisa menghindar dari pesona kecantikan putriku. Hahaha. Termasuk Pak Bos Marvin."
"Ya, Pak. Anda beruntung karena memiliki putri yang cantik."
"Hahaha. Eren cantik karena aku juga tampan. Em, kapan eksekusinya?"
"Lusa Pak."
"Baik, aku pegang janji kalian. Pastikan dia tidur dengan putriku dan pastikan juga putriku aman setelahnya. Intinya, Eren harus mengandung benihnya Marvin. Kalian paham?"
"Siap Pak."
"Bagus." Pak Wandira tersenyum puas.
...***...
Kamar Apartemen De Luxury, Pusat Kota
Serena sedang menatap ke sana. Ke pria gagah yang tengah memotong kuku kakinya dengan hati-hati. Posisi Serena yang bersandar di sofa empuk, kamar yang adem nan wangi, ditambah dengan perutnya yang kenyang, membuat Serena terkantuk-kantuk.
Dengan sudut matanya, Marvin sesekali melirik. Ia mengulum senyum saat melihat upaya Serena menahan kantuk. Entah itu disengaja atau tidak, Marvin terlihat melambatkan kegiatannya. Ia bahkan beberapa kali mengusap ujung jemari kaki Serena sebelum memotongnya.
Saat dilirik lagi, Serena sudah tidur. Bibir merah gadis itu sedikit menganga. Marvin menghela napas. Ia menatap Serena dari atas hingga ke bawah. Lalu tatapannya berakhir di sana. Pada sesuatu yang tampak ranum dengan ukuran yang sepertinya di atas rata-rata.
"Damnt," gumamnya. Ia memasygul rambutnya kuat-kuat.
"Wandiraaa," geramnya pelan.
"Mama ..., Via ..., Rio ...."
Serena tiba-tiba mengigau.
"Maaf, saya belum bisa melepaskan kamu," gumam Marvin.
Saya harus memastikan dulu kesetiaan papa kamu pada saya. Saya tidak yakin papa kamu tulus dan menyesali perbuatannya. Batin Marvin.
Lalu ia mengusap pelan air mata yang menggenang di sudut mata Serena.
_____
Seperti apa ya hubungan Marvin dan papanya Serena di masa lalu?
__ADS_1
...~Next~...