
[Warning !!!]
[Adult Area!]
_______
"Ma-maaf."
Pria tampan itu terus meminta maaf. Ia meminta maaf secara berulang-ulang. Dengan sedikit gemetar, tangannya sibuk menyeka air mata yang menetes dari pelupuk mata wanita muda nan cantik jelita yang saat ini tengah berada di bawah kungkungannya.
"Huks," wanita muda itu kembali menangis.
"A-apa kita akhiri saja?" bisik sang pria. Wajahnya yang memerah menunjukkan kekhawatiran. Tapi yang ia tanya malah bungkam. Seolah kebingungan harus menjawab apa.
"Serena, saya perlu jawaban kamu. Kalau kamu tidak sanggup, saya tidak akan melanjutkannya."
Ya, mereka adalah Marvin dan Serena. Serena lantas menggelengkan kepalanya. Itu berarti, ia tidak ingin Marvin mengakhirinya.
"Kamu serius?" Mata Marvin berbinar, dan Serena kembali menggelengkan kepalanya. Sikap Serena tentu saja membuat bingung.
"Aku galau," cicit Serena.
"Ya ampun, dasar bocah. Di momen semenegangkan ini kamu masih galau? Kita belum berhasil," bisik Marvin.
Lantas memandangi wajah istrinya dan seolah tengah mengiba jika dirinya tidak ingin mengakhiri aktivitas ini sebelum membuahkan hasil.
"Ini salah Anda. Mau-maunya nikah sama bocah!"
Serena merajuk. Ia memalingkan wajahnya karena tidak terima dipanggil bocah. Andai Marvin tahu kalau dia sedang hamil, pria itu pasti akan menyesali ucapannya.
"Maaf."
Lagi-lagi Marvin meminta maaf. Ia mengarahkan kembali wajah Serena agar menatapnya.
__ADS_1
"Lihat wajah saya Serena, apa kamu tidak menyadari kalau suami kamu ini tampan? Coba perhatikan baik-baik," pintanya.
Ia mendekatkan wajahnya agar Serena bisa melihatnya lebih dekat. Mata keduanyapun bersitatap. Beberapa saat kemudian, jantung Serena berdegup kuat, begitupun dengan Marvin. Jelas sekali jika di wajah keduanya ada binar-binar cinta. Jemari lentik Serena perlahan mengusap wajah Marvin dengan lembut. Mata gadis itu berkaca-kaca. Haruskah ia mengatakan jika dirinya telah berbadan dua?
"Ka-kamu seksi," gumam Marvin terbata-bata.
Sepertinya, ia tidak bisa menahannya lagi. Di hadapannya ada hidangan yang terlihat begitu indah. Masa ya akan dibiarkan begitu saja?
Sementara Serena, ia hanya terpaku. Dalam hatinya iapun memuji ketampanan dan kegagahan Marvin. Namun lisannya enggan mengakui. Semakin Marvin mendekat, Serena kian tidak berdaya, dan tatapan keduanya jelas menyiratkan saling ketertarikan. Serena akhirnya merengkuh bahu Marvin, lalu memejamkan matanya saat Marvin kembali memagutnya.
Entah kenapa, saat Marvin mengecupnya, air mata Serena meleleh seketika. Ada perasaan haru dan bahagia yang sulit ia ungkapkan. Bahagia karena ternyata ... Marvin mencintainya, dan terharu karena saat ini ... di dalam rahimnya ada titipan Tuhan yang sangat berharga.
"Pak Bos ...," lirihnya.
"Ke-kenapa?"
"Emm, tidak apa-apa." Serena ternyata belum berani mengatakan jika dirinya telah berbadan dua.
"Saya akan hati-hati. Malam ini saya berjanji akan membuatmu bahagia. Jangan menangis Serena," bisik Marvin. Ia mengira jika Serena menangis karena trauma.
"Lakukan apapun yang inginkan," cicitnya dengan suara pelan sambil memejamkan mata.
"Baiklah Putri Eren," goda Marvin.
Setelah Marvin yakin Serena menyetujuinya, iapun bersiap untuk melaksanakan perannya sebagai suami. Marvin sangat romantis dan ia memperlakukan Serena dengan lembut dan hati-hati.
***
Serenapun terlena, ini bukan pertama kalinya Marvin menyentuhnya, namun malam ini ... apa yang dilakukan Marvin terasa sangat berbeda. Serena merasa bak seorang ratu yang tengah dilayani oleh sahayanya.
Pada akhirnya, saat kelopak bunga yang kuncup dan cantik itu nyaris terkoyak, bibir merah delimanya beteriak dan mengalunkan tangis pilu. Serena bahkan mencakar, memukul, menggigit lengan, dan menjambak rambut Marvin dengan sesuka hatinya. Sesekali Serena meronta dan memohon belas kasih pada Marvin agar diakhiri.
Tapi apalah daya, karena sang kumbang yang tengah dimabuk kepayang itu, terlalu kuat dan mendominasi. Kumbang itu sudah dibakar hasrat yang menggelora, membara, dan sulit dipadamkan.
__ADS_1
"Im - so - sory," kata Marvin dengan suaranya yang terdengar berat dan tertahan.
Marvin berusaha menenangkan Serena. Pria itu sadar benar jika istrinya itu masiha belia. Ia mengecupi tangan Serena yang terus berusaha memukulnya, namun ia tidak mengelak dari perlawanan Serena. Marvin merelakan tubuhnya terluka demi menaklukan si mahkota bunga yang telah berhasil membuatnya tergila-gila.
Selanjutnya ....
"Pak Bos ...."
Entah berapa lama waktu berlalu saat pukulan Serena mulai melemah, dan tubuhnya mulai pasrah.
"Kenapa - tidak - panggil - Marvin - sa - ja?" Pria yang tatapannya seperti sedang mabuk itu masih bisa protes.
"Ma-Marvin ...." Serena patuh.
Mata Serena mulai terpejam dan terbuka secara perlahan. Pukulan tangannya yang tadi bertubi-tubi, perlahan berubah menjadi sentuhan lembut. Gigitannyapun berubah menjadi kecupan lembut dari bibirnya tampak gemetar, bengkak, dan memerah.
Serena ..., racau Marvin dalam batinnya.
Perubahan sikap Serena membuat Marvin tersenyum. Pria itu lantas mengecup tubuh Serena yang dipenuhi peluh seraya berbisik lembut, "Saya merasa seperti sedang terbang ke angkasa raya, ini seperti sihir, apa kamu merasakan hal sama? What do you feel princess Erena?" tanyanya.
Serena tentu saja tidak berani menjawab pertanyaan Marvin. Namun, dari pipi Serena yang merona, dari reaksi tubuhnya, dari rintihannya yang mendayu-dayu, dan dari ekspresi wajahnya yang menggemaskan itu, Marvin bisa menyimpulkannya.
***
Cukup lama tubuh mereka terjalin dan menyatu, tanpa ada batasan, dan tidak ada lagi kata malu. Bukan sekadar aktivitas jasmani, di antara keduanya telah terbentuk hubungan secara emosional.
Ini terlihat dari cara Marvin memperlakukan Serena. Pun dengan Serena, ia menatap Marvin dengan tatapan sendu, dan bibirnya yang menyebut-nyebut nama pria itu jelas menjadi bukti jika tubuh dan jiwanya telah menerima Marvin.
Bunga elok rupa itu telah menerima sang kumbang untuk menikmati serbuk sarinya. Semilir angin malam yang menggerakkan tirai, dan cahaya rembulan yang menelusup ke celah kaca, seolah turut merasakan keterlenaan dua insan tersebut. Malam ini, benar-benar syahdu dan candu.
Namun di balik hal yang melenakan itu, keduanya ternyata sedang menyembunyikan perasan takut dan khawatir.
Serena takut kehamilannya akan menambah konflik baru. Lalu Marvin, pria itu khawatir jika mama atau papanya akan melakukan segala macam cara untuk memisahkannya dari Serena.
__ADS_1
Kuncup bunga terkoyak indah, dan air sucinya menetes. Lalu air kehidupan mengalir ke tempat yang istimewa dan terjaga. Lantas bersemayan di sana dan membawa kehangatan.
...~Next~...