
Sayangnya, karena kondisinya masih pingsan, Serena tidak mendengar kata yang terucap dari bibir Marvin.
"Serena!"
Marvin kian panik. Ia lantas merebahkan Serena dan beranjak menuju telepon pararel untuk meminta bantuan. Saat Marvin menyalakan lampu kamar, saat itulah Serena tersadar. Gadis itu membuka matanya perlahan, lalu menatap sosok Marvin yang saat ini tengah menelepon seseorang.
"Pak Bos," lirihnya.
"Serena? Kamu sudah sadar?"
Marvin bahkan meletakkan sembarangan gagang telepon yang digengamnya. Segera berlari menghampiri Serena.
"Kamu baik-baik saja, 'kan? Apa yang sakit?" Sambil memeriksa tubuh Serena.
"A-aku baik-baik saja 'kok Pak Bos, tadi tiba-tiba pusing dan pingsa, hehehe." Ia berusaha tenang. Serena bangun perlahan sambil merapikan bajunya.
"Saya bawa kamu ke klinik ya?"
"Tidak perlu Pak Bos."
Ia tentu saja tidak mau dokter memeriksanya dan mengetahui kehamilannya. Serena bertekad akan menyembunyikan kehamilannya dari siapapun. Tidak akan memberithu Marvin karena Marvin dan keluarganya tidak pernah mengharapkan keturunan darinya. Pun tidak akan memberitahu mama dan papanya karena ia khawatir calon putra atau putrinya akan diperalat.
"Yakin?" Marvin mengernyitkan alisnya.
"Yakin."
Serena menjawab mantap sambil menunjukkan wajah cerianya. Tidak hanya itu, ia juga memukul bahu Marvin agar pria itu lebih percaya jika dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu. Sebentar lagi belanjaannya datang. Nanti orang yang dari minimarket yang ke sini. Saya juga menyuruh mereka agar sekali dirapikan. Kamu 'kan paling tidak bisa rapi-rapi," ledek Marvin. Wajahnya kembali ceria setelah ia yakin kalau Serena baik-baik saja. Pikir Marvin, Serena pingsan pasti karena kurang tidur dan belum sarapan.
"Ya sudah, Anda mau ke kantor, 'kan? Berangkat sana," usir Serena.
"Saya mau di sini dulu sampai jam 10 han, nanti langsung berangkat ke tempat rapat."
Lalu memegang tangan Serena dan menatapnya dalam-dalam. Serena sebenarnya merasa gugup. Ia merasa jika tatapan Marvin kali ini sangatlah berbeda. Namun ia berusaha keras agar bersikap biasa saja. Padahal, batinnya sedang terguncang akibat hasil tespek yang menunjukkan garis dua, dan Serena berharap jika ini hanyalah mimpi.
"Oh, ya sudah 'deh terserah Pak Bos kalau memang masih mau di sini."
Lalu petugas dari minimarket tiba. Serena hanya bisa melongo saat melihat belanjaan yang mereka bawa. Ini tidak seperti belanjaan biasa. Ini layaknya belanjaan untuk membuka toko baru.
"Ke-kenapa banyak sekali?" Serena tercengang.
"Kamu suka?" tanya Marvin sambil bergelayut memeluk punggung Serena.
"Su-suka 'sih? Ta-tapi ini banyak sekali Pak Bos."
"Tidak apa-apa, semoga bisa memenuhi semua kebutuhan kamu."
"Mau disimpan di mana Pak?" tanya petugas minimarket yang sepertinya merasa tidak enak karena Marvin terus memeluk Serena. Yang lain pun sama. Mereka memilih menunduk daripada melihat pemandangan tersebut.
"Di sana. Bawa ke dapur saja, sebagian masukan ke dalam kulkas, sebagian lagi simpan di nakas," titah Marvin yang tetap memeluk Serena. Entah kenapa ia merasa jika aroma tubuh Serena begitu menenangkan dan lebih hangat dari sebelumnya.
"Baik Pak." Mereka bergegas ke dapur membawa belanjaan.
"Pak Bos, lepas," Serena berusaha mengurai tangan Marvin namun dekapan Marvin malah semakin kencang.
"Saya merasa nyaman memeluk kamu, kamu wangi," pujinya.
"Wangi? Padahal aku belum mandi lho Pak Bos."
"Oya?"
Lalu ada yang datang lagi, dan Serena kembali melongo. Mereka adalah pelayan resto yang sengaja diperintah Marvin untuk membawa makanan kesukaan Serena.
"Simpan di meja sana," Marvin tersenyum. Ia senang melihat ekspresi Serena.
__ADS_1
"Pak Bos, emm ...." Serena jadi bingung mau mengatakan apa.
"Mari makan bersama." Marvin menuntun tangannya. Serena patuh karena aroma makanan telah menusuk hidungnya. Ini adalah menu kesukaannya. Steak, salad, dan kentang goreng.
"Silahkan," kata pelayan.
Sesekali melirik pada Serena. Dalam hatinya tentu saja bertanya-tanya. Siapakah gadis ini? Apakah kekasihnya Pak Bos? Tapi setahunya kekasih Pak Bos tidak berada di negara ini karena sedang kuliah di luar negeri. Untungnya, pelayan tersebut tidak tahu banyak tentang Clara.
"Kamu boleh pergi," kata Marvin. Ia menyadari jika pelayan wanita itu memerhatikan Serena.
"Ba-baik Pak, saya permisi."
Setelah mencuci tangan dan berdoa, merekapun makan bersama. Serena tampak lahap. Sejenak, ia melupakan masalahnya. Marvin mendekatkan makanan pada Serena. Ia bahkan menyiapkan air untuk Serena.
"Pak Bos tunggu."
Serena tiba-tiba merasa mual. Padahal, ia sangat menyukai makanan ini. Setelah tahu jika dirinya hamil, kenapa jadi ada perasaan mual?
"Kenapa?" Marvin khawatir.
"Mau buang air kecil dulu."
Hanya itu alasan yang bisa ia gunakan. Segera berlari karena makanan yang baru saja ia makan seolah telah mendesak di kerongkongannya. Marvin mengernyitkan alisnya, ia hendak menyusul Serena, namun petugas minimarket memanggilnya untuk menanyakan sesuatu.
Sementara di kamar mandi, Serena benar-benar memuntahkan makanannya. Gadis itu memegang sisi toilet, wajahnya memerah dan keningnya dipenuhi keringat.
"Kuat, kuat, kuaaat, please ...," ratapnya seraya mengusap perutnya. Lalu ia duduk di toilet dan merenung. Sedang mengingat-ingat kapan terakhir kalinya ia datang bulan. Sayangnya, Serena lupa. Yang ia ingat, sudah dua bulan ia tidak datang bulan. Apa itu tandanya ia sudah hamil dua bulan? Entahlah.
Setelah merasa baik, Serena segera keluar dan mencari Marvin. Ternyata, pria itu sedang berada di dapur dan membantu petugas mini market merapikan barang belanjaan.
Kemudian Marvin menerima telepon. Sepertinya, itu telepon dari kantor.
"Ya saya ke sana. Kurang lebih sepuluh menit lagi saya tiba di sana," jawab Marvin sebelum mengakhiri panggilan. Serena terdiam. Tiba-tiba, ia merasa tidak ingin ditinggalkan oleh Marvin.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Serena.
"Ya," jawab Marvin singkat. Ia sedang becermin dan membetulkan dasinya.
"Oh, hati-hati," sahut Serena.
"Kamu berani 'kan kalau di sini sendirian?" Marvin mendekat.
"Berani," jawab Serena. Padahal, ia ragu-ragu.
"Saya mau di kasih yang manis-manis dulu," pinta Marvin sembari mengusap bibir Serena.
"Jangan sekarang," tolak Serena. Ia menutup bibir Marvin dengan telapak tangannya saat Marvin mendekatkan wajahnya.
"Kenapa?" tanya Marvin sambil menghela napas.
"Tidak apa-apa Pak Bos. Sedang tidak mau saja," jawab Serena. Padahal, ia menolak karena kurang percaya diri. Serena khawatir Marvin menyadari aroma lain dari bibirnya. Sebab, tadi setelah muntah, ia belum sempat menggosok gigi.
"Hmhh, baiklah. Tidak masalah. Hah, hahh."
Marvin menghidu sendiri aroma mulutnya. Ia mengira dirinya yang kurang wangi. Serena mengulum senyum dan meminta maaf di dalam hatinya karena tidak bisa memenuhi permintaan Marvin. Akhirnya meraih tangan Marvin untuk ia salami. Lalu mengantar pria itu sampai depan pintu unit, dan setelah Marvin benar-benar pergi, Serena kembali terisak-isak.
"Kenapa harus sekarang Tuhan? A-aku belum siap," gumamnya pelan seraya mengusap perutnya.
"Aku harus kuat! HARUS!" teriaknya kencang. Jika saja di unit itu ada cicak yang sedang menempel di dinding, pastilah cicak tersebut akan terjatuh lantaran kaget mendengar teriakan Serena.
Gadis itu mengusap airmatanya dan menyeka sedikit cairan bening yang keluar dari hidungnya. Lanjut ke dapur untuk memakan apa saja yang sekiranya tidak membuatnya mual.
"Ahha, es krim?"
Serena kegirangan karena di dalam frezer banyak es krim. Iapun mengambil salah satu dan menikmatinya dengan lahap hingga mengabaikan lelehan es krim yang mengotori bibir dan dagunya.
__ADS_1
"Kuharap kamu jangan jorok kayak aku ya. Kalau kamu ditakdirkan lahir ke dunia, jadilah seperti Pak Bos yang rajin dan serba bisa. Tidak ada yang bisa ditiru dari aku kecuali keseksian dan kecantikan," ocehnya pada diri sendiri.
Setelah makan es krim, lanjut makam biskuit, dan buah-buahan. Ternyata, memakan jeruk manis membuatnya tidak terlalu mual. Lalu mencari referensi makanan yang bisa meredakan mual-mual.
"Jahe olahan?" Serena merenung. Yang ia tahu hanya permen jahe.
"Apa ada makanan lain yang terbuat dari jahe?" Sekarang menautkan alisnya. Lalu terbayang di dalam benaknya, pasti akan nikmat rasanya kalau ia memakan olahan jahe dalam bentuk kering.
"Keripik jahe sepertinya enak."
Tanpa pikir panjang, iapun mengirim pesan pada Marvin.
"Pak Bos, aku mau keripik jahe."
Pesan terkirim, dan diakhiri oleh emoji mata memelas dan membulat dengan pipi merona. Lalu gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa dan tertidur.
...***...
"Apa?"
Marvin tentu saja heran dengan pesan dari Serena. Sampai berulang kali mengeceknya untuk memastikan. Karena penasaran, saat jam istirahat, iapun bertanya pada Edrick.
"Rick!"
"Ya Pak Bos."
"Serena memesan keripik jahe, untuk apa ya? Aneh sekali. Karena setahu saya, dia tidak terlalu menyukai rempah-rempah."
"Keripik jahe? Wah wah wah, kalau tidak salah, jahe itu bisa untuk meningkatkan stamina Pak Bos. Pesan dari Nona Serena bisa jadi adalah sebuah kode." Penjelasan Edrick malah membuat Marvin bingung.
"Maksud kamu?"
"Begini Pak Bos, kadang wanita itu memang suka begitu. Kadang membuat kita pusing, tapi kitanya harus lebih cerdas."
"Haish, maksudnya apa 'sih?!" Marvin jadi kesal.
"Hahaha. Maaf Pak Bos, menurutku Nona Serena sedang merindukan kehangatan dari Anda. Filosofi jahe 'kan panas dan menghangatkan." Edrick ternyata sok tahu.
"Apa?!"
"Percaya sama aku Pak Bos, mungkin maksud Nona Serena Anda harus membeli obat herbal dari ekstrak jahe yang bisa digunakan untuk meningkatkan stamina. Hahaha." Edrick benar-benar 'sesat.' Parahnya, Marvin sepertinya memercayai Edrick.
"Hahaha. Kamu jenius, Edrick. Waduh, saya jadi mau segera pulang." Marvin melonggarkan dasinya, dan pipi pria itu terlihat sedikit merona.
"Pak Bos tenang saja, aku punya sahabat seorang herbalist ternama yang bisa meracik minuman spesial untuk Pak Bos."
"Apa dia juga bisa membuat keripik jahe?"
"Pasti bisa Pak Bos. Pak Bos tenang saja." Sambil menepuk bahu Marvin.
"Ya sudah, kamu cepat temui herbalist itu dan siapkan semuanya."
"Baik Pak Bos." Edrick pun berlalu.
Lalu Marvin membalas pesan dari Serena.
"Siap. Apapun yang kamu mau, pasti akan saya kabulkan."
_______
Wah, Edrick dasar sok tahu!
...~Next~...
Semoga bisa mengobati kerinduan. nyai sibuk hingga Juli. Semoga bisa dimaafkan dan mema'lumi. nyai sayang sama semuanya. Salam rindu 🥰🥰🥰
__ADS_1