ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PERSIAPAN


__ADS_3

"Apa benar mereka merestui kita?" Serena ragu.


"Saya juga tidak yakin." Marvinpun demikian.


"Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan Mama dan Papa saja," lanjut Marvin.


"Kalau orang tua Anda serius bagaimana?"


"Ya saya bersyukur. Tapi untuk kembali, saya mau pikir-pikir lagi. Setidaknya, sampai persediaan uang saya habis."


Marvin memilih mengabaikan pesan tersebut. Pikirnya, jikapun pesan itu benar-benar berasal dari ketulusan kedua orang tuanya, pasti akan ada usaha lain yang dilakukan papa dan mamanya untuk membuatnya kembali.


"Aku bagaimana Pak Bos saja. Aku akan patuh," sahut Serena sambil memejamkan mata.


Serena rupanya teramat lelah. Lalu lima menit kemudian, ia sudah terlelap. Marvin geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Tadinya, ia berharap Serena mandi dan berganti pakaian. Tapi apa yang terjadi? Istrinya itu malah tertidur. Mungkin, Serena baru merasakan kenyamanan saat berada di hotel bintang lima seperti ini. Marvin menghela napas dan kembali tersadar kalau Serena sulit terbiasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Selesai merapikan barang-barang, Marvin bergegas ke kamar mandi.


"Serena."


Setelah dua jam berlalu, Marvin membangunkan Serena. Ia mengecup kening dan mencium bibir Serena untuk membangunkannya. Lalu ia memesan makanan untuk dikirim ke kamarnya.


"Masih ngantuk," keluh Serena.


"Jangan malas, cepat mandi. Setelah ini, kita makan." Marvin menarik tangan Serena agar duduk.


"Baiklah, okey, okey," Serena bangun jua.


"Mau digendong ke kamar mandi?" tawar Marvin.


"Tidak perlu. Oiya Pak Bos, kalau dipikir-pikir, kita tidak akan selamanya kabur-kaburan terus 'kan?" Sambil mengambil handuk dan berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi.


"Sampai kita mendapat restu, kita jangan pulang dulu."


"Oke, aku setuju," jawab Serena.


Marvin menunggu Serena mandi seraya berpikir. Untuk mengetahui situasi di Pusat Kota, mau tidak mau, ia harus segera berkomunikasi dengan Hendrik. Marvin kemudian membuka laptop yang baru dibelinya dan membuka sebuah aplikasi pesan yang khusus ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Hendrik.


"Jeruknya ada berapa?" Pesan terkirim.


Mereka menggunakan kode khusus untuk berkomunikasi. Sayangnya, Hendrik sepertinya sedang offline, dan Marvin berencana akan sabar menunggu pesan balasan dari Hendrik. Ia bisa saja langsung menelepon Hendrik, namun Marvin khawatir hal tersebut akan mempermudah pak Jacob menemukan lokasi persembunyiannya. Selain itu, Marvin juga tidak tahu seperti apa kondisi Hendrik saat ini. Bisa jadi, ponsel Hendrik justru dipegang oleh pak Jacob atau anak buahnya.


Kemudian Marvin mencium aroma sabun yang wanginya segar melewati hidungnya. Segera menoleh ke arah kamar mandi, dan benar saja, wangi tersebut berasal dari Serena. Serena mendekat sambil tersenyum dalam keadaan masih menggunakan kimono.


Marvin mengerjapkan mata. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia dan Serena telah berpisah berbulan-bulan. Sangat wajar jika merindukan Serena dan segenap hal yang dimiliki wanita cantik itu.


"Segar sekali. Aku memakai air hangat, terus mandi pakai air dingin," ungkap Serena sambil mendudukan diri di pangkuan Marvin. Ia sepertinya sengaja menggoda Marvin.


"Ke-kenapa bajunya belum dipakai?" Marvin jadi gugup. Namun tangannya spontan menelusup entah kemana.


"Kimono juga termasuk baju, 'kok," elak Serena sambil membalikan badan dan menghadap pada Marvin.

__ADS_1


"Kamu mau menggoda saya?" Marvin memegang tangan Serena yang saat ini tengah mengelus rahangnya.


"Menggoda? Hahaha. Tanpa aku godapun, Anda pasti tergoda. Jadi, untuk apa aku capek-capek menggoda Anda?" kata Serena sambil melonggarkan kimononya.


"Haish."


Marvin jadi tidak tahan. Segera merebahkan Serena dan mengurungnya. Lanjut menyematkan tanda cinta di leher Serena hingga Serena melenguh-lenguh.


Lalu bel berbunyi saat bibir keduanya hendak menempel. Matanya keduanya membulat dan terperanjat bersamaan. Serena merapikan kimononya, Marvin memijat keningnya.


"Si-siapa?" Serena mendekati pintu.


"Itu pasti petugas hotel. Saya 'kan pesan makanan." Marvin mengintip, dan langsung membuka pintu setelah memastikan jika yang datang adalah layanan kamar.


"Ini Pak," seorang petugas mendorong troli makanan.


"Biar saya saja Pak. Terima kasih." Marvin mengambil alih dan melarang petugas tersebut masuk ke kamarnya.


"Baik Pak. Kami permisi. Segera hubungi kami kalau Anda dan istri membutuhkan bantuan kami."


"Siap," jawab Marvin.


"Mereka tahu kalau kita suami-istri?" tanya Serena sambil membantu Marvin menyusun menu ke atas meja yang menghadap ke balkon.


"Tahu. Saya bilang kamu istri saya dan mereka percaya."


"Banyak sekali Pak Bos," Serena memandangi menu.


"Sengaja, 'kan supaya kamunya kuat."


"Maksudnya?" Pipi Serena merona.


"Jangan pura-pura polos," bisik Marvin sambil mencubit pipi Serena. Serena terkekeh. Ya, ia paham maksud Marvin.


"Mari makan," Serena segera mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana kalau pakai baju dulu? Saya tidak bisa makan sambil melihat kamu pakai kimono. Kalau kamu seperti itu terus, yang saya santap justru adalah kamu, bukan makanan ini," bujuk Marvin. Jujur, ia tidak kuat melihat kemolekan istrinya yang aduhai.


"A-apa?" Serena sampai menghentikan kunyahannya.


"Yakin mau pakai kimono terus?"


"Oke! Oke! Aku ganti!"


Serena meletakan sendok di sisi piring dengan sedikit kasar. Lalu beranjak sambil menghentakkan kakinya. Ia rupanya tidak suka diperintah saat sedang makan.


Marvin menghela napas, ia merasa sikap Serena kurang sopan, namum ia juga sadar akan kesalahannya. Karena sejatinya, setiap orang dilarang mengganggu seseorang dalam tiga hal. Yaitu, ketika orang tersebut sedang makan, tidur, dan sedang beribadah atau berdoa.


"Maaf," Marvin mengejar Serena dan memeluknya. Serena diam saja.

__ADS_1


"Hei, saya minta maaf. Ya sudah, tidak perlu diganti," larang Marvin. Serena tidak merespon. Ia tetap mengambil baju ganti dengan mimik muka yang datar.


"Serena. Tidak baik mendiamkan suami seperti ini. Kamu juga tadi membanting sendok makanan. Itu juga tidak baik."


"Anda juga menyuruhku ganti baju saat aku belum menelan makananku! Bisa 'kan menyuruhnya nanti saja?! Setidaknya beri waktu untuk aku mengunyah dan menelan makananku! Lagi pula, aku mau tanpa busana di depan Anda juga boleh-boleh saja, 'kan?!" teriak Serena. Ia tidak mau disalahkan.


"Ya Tuhan." Marvin menghela napas.


"Ya aku memang bocah!" lanjut Serena sambil mengganti pakaiannya. Padahal, Marvin tidak mengatakan kalimat lain lagi.


"Ya sudah, saya yang salah. Saya minta maaf. Kamu boleh minta apapun yang bisa dijadikan syarat maaf saya kamu terima. Sekarang saya keluar dulu ya, saya akan memberi kesempatan untuk kamu menenangkan diri." Marvin melengos. Ia tidak ingin masalah sepele ini berkepanjangan.


"Pak Bos!" panggil Serena saat Marvin hendak membuka pintu. Marvin tidak menyahut dan menghentikan langkahnya.


"Aku akan memaafkan Anda kalau Anda tidak pergi."


Serena mengejar Marvin. Lalu memeluk Marvin dari arah belakang. Bibir merah Marvin langsung tersenyum, ia bahagia. Segera membalikan badan dan membalas mendekap Serena. Lalu Serena tiba-tiba berjinjit dan mengecup bibir Marvin. Marvin terkejut.


"Kenapa kamu selalu menggoda saya?"


Marvin menghimpitkan tubuh Serena pada dinding. Lalu mengekang tangan Serena ke atas dan menyerang Serena dengan gerakan yang sedikit kasar dan rakus. Serena tidak berdaya. Ia memang telah terjerat dan terperangkap oleh pesona Marvin. Alhasil, hanya bisa pasrah saat pria itu berulah sesuka hatinya. Baju yang baru saja ia gunakan pun menjadi sia-sia.


Serena menatap nanar pada Marvin saat pria itu membopongnya ke tempat tidur. Tanpa sadar, tangan Serena bergerak begitu saja dan mulai membuka kancing baju milik Marvin. Sementara Marvin, pria itu benar-benar tidak sabaran. Dengan tangan sedikt gemetar, ia menarik kuat kancing baju milik Serena dan membuat Serena terkejut.


Keterkejutan Serena sepertinya tidak akan berakhir. Apa lagi saat Marvin mulai memanjakan tubuhnya dengan lembut dan penuh cinta. Hingga secara alamiah, tubuh Serena mulai terpengaruh dan terpedaya. Tangan Serena mengerat di bahu Marvin, dan kakinya yang indah itu mulai meronta. Namun, rontaan itu bukan berarti sebuah perlawanan, melainkan refleksi dari tubuhnya yang sedang terbuai dan terlena.


Akabar dengan makanan yang telah terhidang di sana? Entahlah.


Padahal, kuah supnya masih mengepul. Pasti akan lebih nikmat kalau sup itu disantap selagi hangat. Namun, kelezatan menu tersebut, memang tidak bisa dibandingkan dengan manisnya memadu kasih.


...***...


Sebuah pelaminan mewah sedang disiapkan. Ini adalah gedung nomor satu di negara ini. Hanya bisa disewa oleh para sultan, kaum jetset dan crazy rich. Puluhan orang tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Di depan gedung, berjejar karangan bunga ucapan selamat untuk calon mempelai. Di sudut lain, tampak awak media yang tengah meliput.


Lalu di area lain, tampak seorang wanita muda dan seorang pria tengah mengobrol sambil mengawasi area sekitar.


"Kamu yakin rencana kita akan berhasil?" tanya sosok pria yang ternyata adalah Hendrik.


"Kita harus optimis," jawab wanita muda yang memakai nametag dengan nama 'Belvina.'


...~Next~...


Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.


_______


Mohon maaf, nyai sedang mengalami perubahan mood swing trimester satu. Perlu mengumpulkan mood positif dulu untuk mengintai Pak Bos dan Serena. Tapi [InsyaaAllah] kisah cinta mereka akan nyai tuntaskan 'kok 🥰.


Salam sayang untuk semuanya, ini nyai kasih bunga ya --->🌹🌹🌷🪷🪻.

__ADS_1


__ADS_2