ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
TABIR


__ADS_3

Marvin menatap punggung mulus nan seksi milik Serena. Bahu gadis itu begerak-gerak sebagai pertanda jika tangisnya kian menjadi. Marvin mendekat, namun ia tidak menyentuh Serena.


"Huuu, Mama ...."


Tangis Serena terdengar memilukan. Lama menangis, membuat gadis itu semidu-midu.


"Serena."


Tangis Serena membuat Marvin tidak tega membiarkannya begitu saja. Ia mendekat dan memeluk punggung Serena. Tidak hanya memeluk tubuh polosnya, Marvin juga mengusap-usap bahu Serena.


Mendapat perhatian dari Marvin, tangis Serena perlahan mereda. Ia yang sedari kecil selalu mendapat perhatian dan dimanjakan, membuatnya sensitif terhadap sebuah perhatian. Gadis seusianya, memang cenderung merasa nyaman terhadap orang yang dinilai telah memerhatikannya.


Tapi perhatian Marvin membuat Serena bingung. Sebab Marvin memiliki dua peran yang berbeda. Memedulikannya, sekaligus menyakitinya.


"Sudah, jangan menangis lagi." Marvin terus memeluknya. Serena risih. Tubuhnya yang masih polos membuatnya tidak nyaman.


"Huks. A-aku mau pakai baju," lirihnya.


Lalu membalikan badan dan menghadap pada Marvin. Dekapan Marvin membuat Serena sedikit tenang. Namun, saat ia tersadar lagi akan masalahnya, Serena jadi membenci pria itu.


"Baik. Saya ambilkan dulu bajunya ya. Saya juga akan memakai baju yang sama dengan kamu." Pria itu beranjak.


"Sama?" gumam Serena. Itu berarti, Marvin akan mengenakan baju tidur pasangan yang dibelinya.


"Bagaimana, cocok tidak?" Pria itu keluar dari ruang ganti dan sudah mengenakan pakaian yang dimaksud Serena.


"Cocok," sahut Serena. Ia menatap Marvin yang berjalan ke arahnya.


"Kamu sudah bisa bangun? Ini baju milik kamu. Cepat pakai ya. Saya menunggu di luar. Nanti saya ke sini lagi," tuturnya. Ia menyerahkan baju tidur pasangan beserta underware milik Serena.


"Anda tidak perlu ke sini lagi. Aku mau tidur sendiri," tolak Serena.


"Karena saya sudah memakai baju ini, saya harus tidur di sini," tandasnya seraya berlalu. Serena hanya bisa menghela napas.


Benar saja, setelah Serena selesai memakai baju couple, Marvin kembali lagi ke kamar tersebut. Ia juga membawa roti panggang dan buah-buahan segar untuk Serena.


"Sebelum tidur, makan rotinya dulu ya." Ia hendak menyuapi.


"Sudah kenyang, tadi 'kan sudah minum susu," tolaknya.


"Serena." Ia tidak mau dibantah. Jadilah Serena membuka mulutnya. Marvin menyuapi Serena dengan telaten.


Kenapa kamu membuatku bingung? Jika kamu menganggapku sebagai musuh, harusnya kamu tidak memperlakukanku sebaik ini.


"Kenapa? Kamu sering diam-diam menatapku," tuding Marvin.


"Anda salah lihat," elak Serena.


"Sudah kenyang?" tanya Marvin saat Serena tidak mau membuka mulutnya.


"Ya," jawabnya singkat. Lalu merebahkan tubuhnya dan memeluk guling.


"Tidak perlu guling." Marvin menarik guling tersebut.


"Kamu bisa memeluk saya."


Ia meraih tubuh Serena ke dalam dekapannya. Karena batinnya baru saja terguncang hingga nekad melakukan percobaan bunuh diri, Serena menjadi sangat sensitif. Saat wajahnya nyaris menempel pada dada Marvin, gadis itu kembali menangis.


"Huks."


"Jika dengan menangis hatimu bisa menjadi lebih tenang, kamu boleh menangis sepuasnya." Marvin membelai rambut Serena. Dada Marvin bahkan basah akibat air mata Serena.


"Mama, a-aku mau bertemu Mama," pintanya. Perlahan menatap Marvin. Kelopak mata gadis itu terlihat sembab.


"Dalam perjanjian itu, kamu tidak diperkenankan bertemu keluargamu. Tapi sebenarnya saya sendiri sudah melanggarnya karena telah mempertemukan kamu dengan adik-adik kamu. Jadi, saya tidak ingin melakukan pelanggaran untuk kedua kalinya."


"Ka-kapan Anda membelikanku HP yang bisa VC? Setidaknya, aku bisa melihat wajah mereka."


"Awalnya saya akan membelikannya, tapi karena kamu melakukan kesalahan, saya membatalkannya."


"A-apa? Kesalahan apa?" Ia ingin menjauh dari dekapan pria itu. Namun Marvin menahan kepalanya.


"Lupa kalau kamu sudah melakukan percobaan bunuh diri?"


"Ta-tapi 'kan, aku melakukannya gara-gara Anda."


"Gara-gara saya? Hmm, saya tidak pernah menyuruh kamu melukai diri kamu sendiri apa lagi bunuh diri. Secara tekstualis, orang yang mati karena bunuh diri akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Kamu mau kekal di dalam neraka?"


"Ti-tidak mau."


"Terus kenapa kamu melakukannya, hmm? Bayangkan kalau saya tidak menolong kamu, mungkin saat ini kamu sudah bertemu malaikat." Sambil mencubit hidung Serena.


"A-aku menyesalinya. Semoga Tuhan mengampuniku," lirihnya.


"Semoga. Oiya, saat menolong kamu, saya memberikan napas buatan." Entah apa maksudnya pria itu berkata demikian.


"Kalaupun saat itu Anda memberiku racun sianida, aku pasti menelannya dan tidak akan melawan."


"Hahaha."


Marvin malah tertawa. Padahal, Serena tidak sedang melakukan lelucon.


"Saat itu saya sangat panik. Saya takut tidak berhasil menolong kamu."


"Aku tidak meminta Anda menolongku."


"Gadis nakal, kamu tidak tahu bagaimana kesusahannya saya saat itu."


"Aku tidak peduli!" Serena ingin memalingkan wajah, mamun lagi-lagi, Marvin menahannya.


"Harusnya kamu beterima kasih. Hari ini, ada banyak hal baik yang sudah saya lakukan untuk kamu. Mulai dari menolong kamu dari kawanan si Lion, menyelamatkan kamu dari remaja berandalan, dan yang paling istimewa adalah saya mencegah kamu dari api neraka."


"Aku tidak peduli!"


Sebaik apapun Marvin, ia telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan baper atas sikap pria ini.


"Tidak mau mengucapkan terima kasih?" Sambil menengadahkan kepala Serena agar kembali menatapnya.


"Tidak!" tegas Serena.


"Baiklah, saya tidak akan memaksamu untuk mengucapkan terima kasih. Tapi saya ingin meminta sedikit imbalan."


"Hhah? Jadi Anda tidak ikhlas menolongku?"


"Emm, urusan ikhlas dan tidak ikhlas, biarlah itu menjadi rahasiaku dengan Tuhanku." Karakter Marvin benar-benar sulit ditebak.


"Mm-mau imbalan apa?! Aku tidak memiliki apa-apa!" teriak Serena.


"Untuk sementara, cukup dengan ini," jawab Marvin sambil menyentuh bibir Serena.


"A-apa?!" Serena terperanjat.

__ADS_1


"Cepat lakukan. Kiss my lips, please," ujarnya. Ia menunduk sedikit guna mendekatkan wajahnya pada Serena.


"Apa?! Aku tidak mau!" Mata Serena membulat. Pikirnya, pria ini benar-benar tidak tahu diri.


"Kalau kamu tidak mau memberinya, berarti saya sendiri yang akan mengambilnya." Kali ini sambil menelusuri bibir Serena dengan jemarinya.


"Apa?! Jangan pernah mengambil apapun dariku!" Lalu Serena mengatupkan bibirnya.


"Hei, kamu masih ingat isi perjanjiannya, bukan?" Marvin menekan dagu Serena agar bibir gadis itu tidak mengatup.


"Aku tidak ingat! Aku ---. Mmm ...."


Kalimatnya tercekat. Marvin telah merenggut bibir merah delimanya. Serena terkejut. Ingin melawan tapi ia tidak berdaya. Marvin menyesapnya perlahan-lahan, kian dalam dan semakin kuat. Pria itu seolah tengah melahap habis segenap rasa manis yang berada di bibir ranum milik Serena.


"Hmph ...."


Marvin terus mengeksplornya, menelisik, dan mencecapnya hingga tangan Serena mengerat pada sprei. Pria itu bahkan memejamkan mata seolah teramat menikmatinya. Serena terbawa suasana. Gadis yang secara psikologis masih labil dan berada di fase mencari jati diri itu, perlahan membuka diri dan mengikuti arus. Hingga tanganya spontan merengkuh leher Marvin dan bibirnya merintih perlahan.


Dasar bocah, batin Marvin.


"Uhhuk."


Serena terbatuk saat Marvin melepas pertautan itu.


"Kamu menyukainya?" tanya Marvin. Tangannya aktif mengusap bibir Serena yang sedikit bengkak dan memerah.


"Ti-tidak, jangan lakukan lagi." Serena memalingkan wajah. Pria ini benar-benar mempermaikan perasaannya. Berengsek!


"Jangan berpaling dari saya, Serena." Marvin menangkup wajah Serena. Lalu mengendus leher Serena sambil sesekali mengecupnya.


"To-tolong jangan memperalat tubuhku lagi. Hentikan." Serena berusaha menghindar.


"Baiklah, malam ini cukup sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat untuk menenangkan emosimu. Lagi pula, besok kamunya juga harus sekolah." Dengan entengnya Marvin bicara seperti itu. Lalu ia terlentang, menarik selimut dan memejamkan matanya.


Serena kembali menghela napas. Lalu membersihkan bibirnya dengan tissue. Ia juga merutuki tubuhnya yang selalu berkhianat.


Apa aku memang wanita murahan? Tanyanya dalam hati.


Dari pada tidur bersama pria gila ini, lebih baik tidur di sofa. Iapun beranjak pelan meninggal Marvin. Segera merebahkan dirinya di sofa dan tertidur.


Namun, saat Serena terbangun entah di jam berapa, tubuhnya sudah berpindah kembali ke tempat tidur. Ia bahkan tidur sambil memeluk Marvin.


"Haish," rutuknya. Berniat untuk kembali ke sofa, tapi Marvin menahannya.


"Jangan pergi," Marvin memeluknya.


"Apa jika aku melayani Anda seperti istri sungguhan, kebebasanku bisa dipercepat?"


"Dipercepat? Sulit. Uang 17 T itu tidak sedikit."


"Memangnya untuk apa papaku meminjam uang sebanyak itu?"


"Untuk pembangunan tol. Papamu bekerja sama dengan pengusaha-pengusaha dari UEA dan Al Wasl. Karena perusahaan papamu bangkrut, papamu tidak bisa membayar cicilan hutang ke Broad Bank. Lalu ia menggadaikan seluruh asetnya ke Royal Bank untuk menutupi hutang ke Broad Bank."


"Royal Bank sudah menggelontorkan dana murni sebesar 17 T untuk membayar hutang papa kamu. Namun saat Royal Bank melakukan validasi dan verifikasi saham dan aset gadaian, kami kehilangan seluruh data. Selain berjudi, saya curiga kalau papa kamu juga melakukan kejahatan perbankan," duganya.


"Apa papaku sejahat itu?"


"Bisa jadi lebih jahat dari itu. Ya sudah, jangan dipikirkan dulu. Cepat tidur lagi," ajaknya sambil menarik tangan Serena dan dimasukkan ke dalam bajunya.


"Anda mau apa?!"


"Tolong usap dada saya. Ini hanya permintaan kecil. Jangan menolak, jangan protes," tandas Marvin.


"Apa kamu mau saya menyuruh kamu mengusap sesuatu yang ekstrim?" ancam Marvin.


"A-apa?!" Serius, Serena tidak mengerti.


"Makanya, patuh dong Kucing Nakal," serunya.


Harga diri Serena memang sudah tercampakkan oleh manusia ini. Pria ini bahkan pernah merenggut kesuciannya, dan sekujur tubuhnya pernah berada di bawah kendalinya.


"Baiklah."


Gadis itu patuh. Ia menelusupkan tangan ke dalam baju Marvin untuk mengusap dada pria itu.


"Tangan kamu lembut sekali. Oiya, kamu 'kan tidak pernah melakukan pekerjaan berat," gumam Marvin. Matanya terpejam kembali.


"Aku doakan agar Anda segera menikah. Setelah menikah, aku berharap Anda tidak pernah bermain-main denganku lagi."


"Tapi saya sudah menikah. Kucing Nakal 'kan istri saya." Pria itu bergumam lagi.


"Tidak perlu bernarasi seolah-olah aku adalah istri Anda."


"Kamu bawel sekali. Mau saya cium lagi supaya kamu diam?" Marvin mengurung Serena.


"Tidak, aku tidak mau." Serena segera menelungkupkan tubuhnya.


"Selamat tidur Kucing Nakal. Jangan pindah ke sofa lagi ya," bisik Marvin.


...***...


TIGA TAHUN YANG LALU


_______


"Bagaimana Kak? Aku cantik 'kan?"


Seorang gadis cantik berusia sekitar lima belas tahun, sedang bergelayut di pundak seorang pria yang saat ini tengah sibuk dengan laptopnya.


"Cantik. Kamu adalah gadis tercantik sejagat raya," puji pria itu. Lalu menutup laptopnya dan berbalik memeluk gadis itu.


"Kak Marvin seriusan tidak ikut liburan keluarga? Kita mau ke luar negeri lho, Kak."


"Kakak sibuk. Lagi pula, ada Mama dan Papa yang akan menemani kamu. Kakak tidak ikutpun tak masalah. Mau uang berapa? Apa mau Kakak pinjamkan kartu tanpa batas?"


Tatapan pria itu sangat lembut. Ia pasti sangat menyayangi gadis tersebut.


"Hehehe, tidak perlu, Kak. Aku juga punya uang tabungan 'kok. Kakak mau titip apa?"


"Kakak titip emm, apa ya? Kakak sudah sering pergi ke luar negeri. Jadi ya, biasa-biasa saja."


"Ya sudah, apapun yang aku belikan Kakak terima ya."


"Baik, oiya Miranda, selama kamu di sana, jangan pernah pergi sendiri ya. Pokoknya, harus selalu didampingi Mama-Papa atau pengawal."


"Siap." Gadis itu memberi hormat.


"Tingkat kejahatan di negara yang akan kamu kunjungi lumayan tinggi. Kakak khawatir."


"Kita punya pengawal, Kak. Dont worry, oke?"

__ADS_1


"Baiklah, selamat menikmati liburan sekolah Miranda yang cantik." Ia mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.


"Kata Papa, keluarga rekan bisnis Kakak juga mau ikut liburan ya?"


"Ya, para pemegang saham memang mau pada liburan juga. Mereka dan anak-anaknya akan pergi berlibur ke negara yang sama dengan kamu."


"Wah, asyik. Aku berharap bisa berteman dengan salah satu dari mereka."


...***...


NEGARA "A"


_______


"Jangan pergi dulu Nona Eren, Mama dan Papa Anda melarang Anda pergi."


Dua orang pelayan terlihat sedang membujuk gadis yang dipanggil mereka sebagai Nona Eren.


"Aku mau segera pergi Bu! Lihat, saljunya sudah turun, aku mau main salju!" teriaknya.


"Tidak Nona, Anda harus patuh. Kami lebih baik membiarkan Anda menangis daripada dimarahi oleh Papanya Nona. Mohon kerjasamanya Nona, jika kami melanggar, Papa Nona bisa memecat kami."


"Aaarrh! Kalian tidak asyik! Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku tidak ikut! Pecuma aku jauh-jauh ke luar negeri kalau pada akhirnya hanya berdiam diri di kamar hotel!" teriaknya. Lalu ia berlalu dalam keadaan marah.


"Kak Eren, main bola yuk!" Seorang bocah kecil tampan mengejarnya.


"Jangan ganggu Kakak! Rio main bola sendiri saja!" sentaknya. Lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu.


"Kak Ereeen!" panggil bocah tersebut.


"Rio main bola sama kami saja ya," ajak salah satu pelayan.


"Baiklah." Bocah itu terlihat bahagia.


...***...


_______


"Kurang ajar! Kok bisa kita kalah telak!"


Di sebuah apartemen, sekelompok pria sedang berkumpul. Mereka berbicara menggunakan bahasa asing.


"Mister Wandira! Dia biang keroknya! I wanna kill him!" geram pria yang duduk di kursi paling bagus.


"Aku jatuh miskin gara-gara dia! Aku yakin pria itu menggunakan trik licik!" teriak yang lain sambil membanting-banting laptopnya.


"Mari menyusun rencana untuk membuatnya terpuruk!" ucap pria dengan penampilan sangar sambil mengepalkan tangannya.


"Kabarnya, dia sedang berada di negara ini bersama keluarganya. Kabarnya lagi, dia memiliki anak gadis yang cantik. Dia akan berada di negara ini selama seminggu untuk liburan. Mari menyusun rencana untuk menghancurkannya."


Mereka lantas berunding. Lalu seorang pria datang dan bergabung bersama mereka.


"Aku sudah memiliki fotonya. Ini dia. Dia cantik 'kan? Usianya baru lima belas tahun, tapi paras dan tubuhnya wow very-very amazing."


"Benar, dia cantik sekali. Istri Mister Wandira pasti sangat cantik. Makanya anaknya secantik ini." Mereka menatap foto tersebut dengan tatapan sinis dan kejam.


"Apa yang akan kita lakukan? Menculiknya? Memerkosanya? Atau ... membunuhnya?"


"Kill her!" tegas pria yang sepertinya adalah pemimpin dari kelompok tersebut.


"Baik Tuan."


"Buat seperti sebuah kecelakaan."


"Baik Tuan!"


...***...


_______


"Kalian tidak berguna! Kenapa membiarkan Miranda pergi sendiri, hahh?!"


"A-ampun Bos Besar, k-kami mengaku salah. Nona Miranda bersikeras ingin bermain salju. Padahal kami sudah melarangnya." Mereka bersimpuh di hadapan pria yang dipanggil 'Bos Besar.'


"Cepat cari! Kalau kalian belum menemukannya, jangan pernah berani menampakkan wajah di hadapanku!"


"Ba-baik Bos Besar."


"Cepaaat!" teriaknya.


"Kita harus lapor polisi, Pa." Seorang wanita cantik tampak panik. Matanya sudah memerah.


"Ya, Papa akan lapor polisi. Mama harus tenang. Jangan memberi tahu Marvin. Kita pasti bisa menemukannya. Dasar pengawal tidak berguna! Mengurus seorang gadis saja tidak becus!"


...***...


_______


Musim salju dan musim semi di negara ini selalu menjadi destinasi wisata. Turis dari negara lain berdatangan untuk menikmati dua musim tersebut.


Seorang gadis cantik tengah menyusuri jalan yang bersalju. Senyumnya merekah indah bak bunga Sakura di musim semi. Tangan kananya membawa sebuah tas, dan tangan kirinya sibuk menyambut salju yang berjatuhan.


"Aku membeli dasi lucu untuk Kakak. Pasti dia suka." Ia duduk di sebuah bangku dan mengecek dasi tersebut.


"Aku juga membelikannya untuk Papa. Untuk Mama aku membeli dompet. Untuk teman-teman dekat aku membeli apa ya?" gumamnya. Ia merenung sesaat, lalu melanjutkan perjalanan setelah merapikan tasnya.


"Aku harus segera pulang," gumamnya.


Ia tidak menyadari jika dari arah lain ada sebuah mobil yang tengah mengikutinya. Gadis itu tetap asyik meraih salju yang berjatuhan. Bahkan di saat mobil yang menguntitnya kian mendekat.


"Apa kamu yakin gadis itu yang ada di dalam foto ini?"


"Yakin, lihat. Mirip 'kan?"


Seperti itulah percakapan yang terjadi di dalam mobil tersebut.


"Aku kurang yakin, apa kita menunggu turun saljunya reda dulu? Pemadangannya sedikit berkabut." Pria yang satunya terlihat ragu.


"Cepat tabrak! Selagi sepi!" Pria di sampinganya langsung menginjak pedal gas dan mengambil alih tugas temannya yang sebenarnya belum siap.


"BRUM."


Mobil itu melaju kencang dan menghantam tubuh gadis yang sedang menyusuri jalan bersalju.


"BRUK."


Tubuh gadis malang itu terpental beberapa meter dan membentur pembatas jalan yang terbuat dari beton. Sementara mobil yang menabraknya, tetap melaju cepat dan meninggalkan gadis tersebut.


Gadis itu bahkan tidak sempat beteriak. Kepalanya yang terbungkus jaket berbulu tebal, jelas tidak mampu melindunginya dari kerasnya beton. Matanya menatap langit dan tidak berkedip lagi. Salju di sekitarnya berubah merah akibat darah segar yang mengalir dari kepala dan telinganya.


Isi tasnya yang berisi oleh-oleh untuk orang tercintanya berhamburan. Dasi untuk sang kakak tersayang tercecer dan bersimbah darah. Tubuhnya tidak begerak lagi, gadis cantik dan periang itu ... rupanya telah meregang nyawa.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2