ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
KEINGINAN MAMA SYAKILLA


__ADS_3

Lalu Hugo tiba membawa baki berisi air putih. Setelah menghidangkan air tersebut, Hugo bergegas. Ia tentu saja tidak mau mencampuri obrolan mama Syakilla dan Marvin.


"Terima kasih, Hugo," ucap mama Syakilla.


"Sama-sama Nyonya. Permisi."


"Mama, apa harus Marvin memanggilkan Serena sekarang? Dia sudah tidur. Dia juga baru selesai Marvin siksa," jelasnya.


"Kamu menyiksanya?" Mama Syakilla seperti tidak yakin dengan ucapan putranya.


"Marvin serius, Ma."


"Pokoknya kamu harus memanggilnya saat ini juga. Mama tidak mau tahu," paksanya.


"Ya sudah. Mama tunggu ya." Marvin akhirnya menyetujui permintaan mama Syakilla.


...***...


Serena. Gadis itu sudah terlelap saat Marvin tiba di kamar. Marvin menatapnya sambil menghela napas. Posisi tidur Serena benar-benar urakan. Kaki di kepala, kepala di kaki. Selimut pun ada di lantai. Serena juga hanya mengenakan piyama bagian atas. Bagian bawahnya? Ya sudah 'lah. Intinya, pemandangan itu telah berhasil membuat Marvin menelan saliva dengan susah-payah.


"Serena, bangun." Dibangunkan, tapi sambil diselimuti agar keindahan itu tidak menusuk matanya.


"Serena, cepat bangun! Mama mau bertemu." Sekarang sambil diguncangkan. Namun bukan Serena namanya kalau tidak sulit dibangunkan.


"Serena."


Akhirnya dibangunkan dengan cara yang dianggapnya ampuh. Marvin mengigit daun telinga Serena.


"Awh! Pak Bos?" Langsung membuka mata.


"Bangun dulu. Mama mau bertemu. Tapi kita harus berakting. Mari lakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan pada Papa. Tapi untuk Mama, usaha kita harus lebih maksimal. Kamu bisa makeup, 'kan?"


"Makeup? Untuk apa? Aku mau tampil seperti ini, Pak Bos. Apa adanya saja."


"Bukan makeup untuk bersolek. Tapi untuk mengelabui Mama. Saya tadi mengarang cerita kalau saya baru saja menyiksa kamu. Semoga kamu bisa diandalkan. Tolong buat efek makeup lebam-lebam di wajah dan tangan kamu. Bisa?"


"Oh, itu 'sih masalah mudah. Aku cukup ahli 'kok." Segera beranjak untuk mengambil alat makeupnya.


"Serena," Marvin menyelimutinya bagian bawah tubuh Serena.


"Kenapa kamu suka sekali tampil seksi di hadapan saya? Saya tidak nyaman," protesnya.


"Pak Bos itu suamiku. Mau aku tanpa busanapun boleh-boleh saja, 'kan?"


Marvin terdiam. Hanya bisa menghela napas sambil menonton Serena yang sedang menggunakan kemampuannya dalam hal makeup karakter. Saat Serena menyelesaikannya, Marvin terkejut. Ternyata, gadis ini memiliki bakat lain selain memikat.


"Bagaimana?"


"Lumayan," jawab Marvin. Ia pantang memuji Serena.


"Ya sudah, aku harus pakai baju apa? Haruskah memakai baju yang lusuh?"


"Tidak perlu. Cukup piyama ini saja."


"Baik. Aduh, 'kok aku jadi berdebar-debar ya Pak Bos? Apa mama Anda galak?"


"Tidak, dia baik hati, cantik, dan lembut." Lalu menuntun tangan Serena.


...***...


"Nyonya Syakilla tidur," lapor Hugo yang menunggu di depan ruangan dengan suara pelan. Saat Hugo melirik pada Serena, ia terkejut bukan kepalang.


"Pak Bos?! No-Nona Serena kena ---."


"Ssst. Ini tidak seperti yang kamu lihat," sela Marvin sambil menyikut bahu Hugo. Ia tidak senang dengan tatapan Hugo pada Serena.


"Ma-maaf Pak Bos."

__ADS_1


"Aku disiksa," sahut Serena sambil pura-pura kesakitan.


"Haish, cepat!" Marvin segera menarik tangan Serena ke dalam ruangan. Hugo bengong sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


...***...


Benar saja, mama Syakilla sudah tertidur di sofa. Wanita itu memang tidak terbiasa melakukan kegiatan malam-malam. Serena duduk perlahan di sofa. Ia menatap wajah mama Syakilla dengan intens.


Wanita itu sangat cantik, dan modis. Bibir dan alis tebal Marvin ternyata diturunkan dari mama Syakilla. Sedangkan warna kulit, tinggi badan dan yang lainnya diturunkan dari pak Jacob.


"Mama," Marvin mengusap lembut bahu mamanya. Namun ia bergeming.


"Saya harus memindahkannya ke kamar."


Marvin membopong mama Syakilla dengan hati-hati. Serena menguntit, dan ia bisa menyimpulkan jika Marvin sangat menyayangi mamanya.


Tanpa diketahui Serena ataupun Marvin, mama Syakilla ternyata terbangun dan mengintip pada Serena. Saat itu juga, jantungnya langsung berdesir. Gadis itu sekilas memang mirip dengan mendiang Miranda.


Mama Syakilla pun melihat lebam-lebam yang berada di pipi dan tangan Serena. Ia segera memejamkan matanya agar tidak melihat Serena lagi. Tapi, harus 'kah suami dan putranya itu balas dendam dengan cara menyakiti gadis tersebut? Apakah yang dilakukan putra dan suaminya itu tidak keterlaluan?


...***...


Serena berdiri di ambang pintu kamar. Ia menatap pada Marvin yang saat ini tengah merebahkan dan menyelimuti mama Syakilla.


"Kamu cepat ke kamar!" sentak Marvin pada Serena. Ia baru saja melihat kalau mama Syakilla membuka matanya sedikit dan melirik pada Serena.


"Baik Pak Bos." Serena berlalu.


"Marvin tahu Mama melihat Serena," gumam Marvin setelah ia menutup pintu kamar. Ini adalah kamar khusus yang diperuntukkan untuk mama dan papanya.


Mama Syakilla membalikkan badan dan menangis tiba-tiba. Melihat Serena, telah membuatnya merindukan Miranda.


"Mama." Marvin memeluknya.


"Sampai kapan kamu akan bersama dia? Jangan berlama-lama, Vin. Mama tidak yakin kalau kamu hanya bersama dia karena nafsu dan ingin balas dendam. Dia sangat cantik. Bagaimana kalau kamu tiba-tiba jatuh cinta pada gadis itu? Sampai kapanpun, Mama tidak mau memiliki hubungan apapun dengan pak Wandira."


"Mama akan membujuk Papa agar segera mengakhiri sandiwara ini. Lagi pula, apa dengan menyakiti gadis itu pak Wandira bisa melunasi hutangnya? Tidak, 'kan? Lalu, apa dengan menyakiti gadis itu pembunuh Miranda akan terungkap? Marvin ...." Mama Syakilla kembali membalikkan badan dan menghadap pada Marvin.


"Ya, Mama."


"Di TKP Miranda ditemukan meninggal dunia, pak Wandira berlumuran darah. Lalu salah satu mobil yang melewati TKP adalah mobil milik pak Wandira. Di tubuh Mirandapun ada sidik jari pak Wandira. Tapi bisa-bisanya pengadilan membebaskan dia dan menyatakan kalau dia tidak bersalah! Ini tidak adil! Huks, dan sampai saat ini pembunuh Miranda belum ditemukan!" teriaknya sambil memukuli bahu Marvin.


"Mama, jika dia divonis tidak bersalah, itu berarti ada pelaku lain yang menyebabkan kematian Miranda. Mama, Marvin janji akan menyelidiki kembali kasusnya."


"Papa gadis itu kuncinya, Vin. Kamu harus memaksanya agar buka mulut, dan tolong kamu jangan berlama-lama dengan gadis itu. Mama takut anak mama satu-satunya jatuh cinta pada putri raja judi. Marvin, di luaran sana masih banyak gadis cantik yang lebih dari dia. Mama ingin kamu menikah dengan gadis baik yang berasal dari keluarga baik-baik. Mama tidak habis pikir dengan jalan pikiran papa kamu. Kenapa dia mengorbankan putranya untuk menikah di bawah tangan dengan anak musuh?"


Marvin menghela napas. Ia sudah menduga jika mamanya akan menolak pernikahan ini sekalipun itu untuk balas dendam.


"Cepat ceraikan dia sebelum kamu jatuh terlalu jauh dan memiliki ketertarikan pada gadis itu. Vin, dia cantik. Mama khawatir kamu jatuh hati dan tidak bisa melepaskan dia." Sambil menangkup pipi putranya.


"Tolong lepaskan gadis itu, dan jangan menyakiti dia lagi," pintanya.


"Mama." Marvin dilema. Hal inilah yang ia takuti selama ini.


"CCTV di sekitar TKP meninggalnya Miranda, kebetulan terhalang oleh salju. Jadi hingga saat ini, pembunuh adik kamu belum ditemukan. Pak Wandira memang berada di TKP. Tapi dia juga memiliki alibi kuat yang menyatakan kalau dia datang ke TKP setelah kematiannya Miranda. Mama masih bingung dengan kasus ini, Vin. Huuu ..., Miranda ... nasib kamu malang sekali, Nak ...."


"Mama, sudah Ma. Mama cepat tidur ya. Marvin janji akan menemukan pelakunya. Besok, Marvin antar Mama pulang. Atau, Mama ingin tetap di sini? Selagi Mama mau, Mama bisa ditinggal di sini sampai kapanpun." Marvin mengusap air mata mama Syakilla.


"Mama pikir-pikir lagi. Ya sudah, kamu juga cepat tidur," bujuknya.


Setelah mencium tangan dan kening mamanya, Marvin pun pergi. Namun Marvin tidak langsung kembali ke kamarnya. Pria itu berjalan cepat menuju ruang kerja Hugo.


...***...


"Hugo!" Langsung masuk ke ruangan Hugo tanpa permisi.


"Ke-kenapa, Pak Bos? Aku kaget."

__ADS_1


"Kumpulkan semua pekerja di aula!" teriak Marvin.


"A-apa? Se-sekarang?" Hugo ragu.


"Kemarin! Ya sekarang 'lah Hugo!"


"Ba-baik. Pak Bos."


"Setelah mereka semua berkumpul di aula, pintu kuncinya! Biarkan mereka terkurung di aula sampai besok! Intinya, sampai ada yang mengaku dengan sendirinya! Saya mau tahu orang yang sudah berani mengkhianati saya dan memberitahu keberadaan Serena pada Clara! Gara-gara pengkhianat itu, mama saya jadi menangis, dan dia juga telah menggagalkan malam pertama saya! Kurang ajar!" sentaknya sembari mengepalkan tangan dan berlalu begitu saja. Marvin ternyata telah menahan emosinya sedari tadi.


...***...


"Bangun! Cepat kumpul di aula! Ada hal penting!" seru Hugo di depan setiap kamar para pekerja.


"Ada apa?"


"Apa kita mau naik gaji?"


"Kok kumpulnya malam-malam 'sih?"


"Apa Pak Bos mau menghukum kita?"


"Ya, bisa jadi. Tapi aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun."


"Aku juga merasa tidak melakukan kesalahan."


Kegaduhanpun tidak bisa dielakkan. Mereka heran dan bingung. Namun tidak ada yang berani menolak. Tetap pergi ke aula walaupun sambil terkantuk-kantuk.


"Cepat-cepat!" seru Manda. Sebagai Kepala Pelayan, ia jelas merasa bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan memandu mereka.


"Kamu juga harus berkumpul dengan mereka, Bu Manda," tegas Hugo.


"Apa?! Maksud Pak Hugo apa ya? Bukan 'kah Pak Hugo juga pekerja di rumah ini? Jadi harus ikut berkumpul juga, 'kan?"


"Kecuali aku!" sentak Hugo sambil tersenyum sinis. Manda terkejut. Batinnya mulai tidak tenang.


...***...


Serena. Ia menatap Marvin yang sikapnya berubah. Pria itu tiba-tiba memeluknya erat hingga Serena sulit begerak.


"Kenapa?" tanya Serena.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin memeluk kamu. Kamu tidur saja."


"Pak Bos."


"Hm."


"Mama Anda cantik."


Marvin tidak menjawab. Malah memeluk Serena kian erat.


"Pak Bos."


Marvin tetap tidak menjawab. Matanya sudah dipejamkan. Serena tersenyum, ia memang menyukai raut wajah Marvin saat sedang tidur. Lalu ia pun memejamkan mata setelah membenamkan kepalanya di dada Marvin.


_______


Kejadian apa yang akan terjadi di aula? Apakah Marvin akan berhasil menemukan pekerja yang telah mengkhianatinya?


Lalu, kapan Marvin dan Serena akan melakukan malam pertama? Eh, maksudnya malam kedua. Malam pertama atau malam kedua 'sih? Jadi bingung.


...~Next~...


_______


Mengintai tipis-tipis sambil bekerja dan ngabuburit.

__ADS_1


__ADS_2