ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
BERSUA


__ADS_3

"Saya mau ke rumah kamu. Ada yang harus saya berikan pada Rio dan Via. Sebentar lagi sampai."


"A-apa?!"


Serena terkejut saat membaca pesan itu. Ia sampai mengucek matanya demi memastikan jika tidak salah lihat.


"Bukankah tadi mobilnya sudah ada di depan rumah? Kenapa dia tidak meminta masuk saja? Heran deh," oceh Serena.


"Ya."


Pesan terkirim. Sesingkat itu balasan dari Serena karena ia bingung harus membalas apa. Tiba-tiba muncul perasaan canggung pada pria itu. Jadilah gadis itu mondar-mandir di kamarnya. Lalu bingung harus memakai baju apa untuk menyambut Marvin. Belum juga Serena ada ide untuk mengganti bajunya, ponselnya kembali menyala. Ya ampun, itu telepon dari suaminya. Eh, musuhnya.


"Ya?" sahut Serena.


"Saya sudah di depan," jelas Marvin.


"Emm, a-aku ke sana." Tuh, 'kan? Serena malah jadi gugup.


"Jangan berisik ya. Jangan sampi mengganggu mama dan adik-adik kamu," saran Marvin.


"Ya." Serena jadi irit bicara.


Gadis itu kemudian bergegas menuju gerbang. Kali ini ia sudah hafal dengan letak penyimpanan kunci berikut merknya. Jadi, ia tidak kesulitan lagi. Marvin menatap Serena dari dalam mobilnya tanpa membuka kaca. Matanya langsung tertuju pada busana Serena yang menurutnya sangat minim.


"Kenapa kamu pakai baju itu? Dasar bocah," gumam Marvin. Ia kemudian merapikan rambutnya saat Serena sudah mendekat ke mobilnya.


'Tuk tuk tuk.'


Serena mengetuk kaca mobil. Ia tidak bisa melihat ke dalam karena kacanya gelap dari luar. Marvin membuka pintu dan turun dari mobilnya. Serena sebenarnya ingin meraih tangan pria itu untuk bersalaman, tapi ia tidak berani. Lagi pula, ia berpikir jika mereka tidak seperti pasangan suami-istri pada umumnya.


Jangan terlalu serius mendalami peran ini, batin Serena. Ia khawatir keseriusannya akan menjadi boomerang yang cepat atau lambat akan melukainya.


"Yang lainnya sudah tidur?" tanya Marvin saat ia menuju bagasi mobilnya untuk mengambil barang yang ia maksudkan untuk Rio dan Via.


"Sudah." Serena menguntit.


"Ini." Marvin menyerahkan sebuah kotak pada Serena.


"Terima kasih," sahut Serena, dan ia bingung harus berkata apa lagi.


Karena Marvin tidak memasukkan mobilnya ke garasi. Serena berpikir Marvin tidak akan menginap. Sementara Marvin, lantaran Serena tidak membuka gerbang, ia beranggapan Serena tidak berkenan mengajaknya menginap. Marvin mematung di sisi mobilnya.


"Anda tidak mampir dulu?" tanya Serena. Kalimat itu keluar setelah ia berpikir beberapa saat.


"Eren?"


Pemecah kecanggungan tiba. Karena tidak menemukan Serena di kamarnya, bu Putri lantas mencari Serena dan ia menemukan jika putrinya berada di luar bersama Bos Marvin.


"Saya ke sini karena ada hadiah untuk Rio dan Via," jelas Marvin. Ia tidak ingin kedatangannya ke sini disalahfahami oleh bu Putri.


"Ya ampun Serena. Kenapa Pak Bos tidak diajak masuk?" Bu Putri seolah tidak memedulikan penjelasan Marvin. Ia segera mendorong pagar gerbang. Serena terbengong-bengong.


"Cepat masuk Pak Bos. Tidak enak juga kalau ada tetangga yang lihat. Yuk masuk saja," ajak bu Putri.


Marvinpun tidak menolak, segera masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu ia turun lagi untuk membantu bu Putri menutup pintu gerbang. Serenapun akhirnya membuka pintu dan mempersilahkan Marvin masuk.


"Silahkan duduk Pak Bos. Eren, kamu cepat ambilkan air," titah bu Putri.


"Air? Air apa, Ma?" Dasar Serena. Gadis itu memang tidak bisa diandalkan.


"Sa-saya tidak haus, 'kok," sahut Marvin sambil mengitari ruangan tersebut.


Ia memang belum pernah melihat interior rumah ini. Hanya menyuruh Hugo untuk membelikan sebuah rumah yang lokasinya dekat dengan sekolah baru Serena. Ternyata, Marvin telah merencanakan kepindahan Serena dari sekolah lamanya jauh-jauh hari.


"Air mineral saja, Eren."


Bu Putri geleng-geleng kepala. Lalu ia bergegas seperti hendak mengambil sesuatu dan meninggalkan Marvin dan Serena di ruang tamu.


"Rumahnya ternyata kecil," gumam Marvin.


"Ini cukup besar 'kok. Terima kasih," ucap Serena canggung.


Lalu bu Putri datang lagi dan menbawa sebuah kotak pakaian.


"Mohon maaf Pak Bos. Baju ini mungkin tidak sesuai dengan selera Anda. Tapi saya sengaja membelinya untuk jaga-jaga kalau Anda kebetulan datang ke sini," katanya.


Serena langsung menatap heran pada mamanya. 'Kok bisa mamanya percaya diri memersiapkan baju untuk Marvin?


"Terima kasih," Marvin meraih kotak baju tersebut sebelum Serena sempat berkata-kata.


"Bajunya sudah saya cuci dan setrika 'kok. Apa Pak Bos mau makan malam dulu? Tapi kami hanya memiliki makanan seadanya."


Bu Putri akhirnya jadi banyak bicara karena Serena banyak diamnya. Bu Putri berpikir jika kecentilan dan keceriaan Serena menghilang seketika gara-gara kedatangan Bos Marvin. Namun, karena Marvin adalah orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya, bu Putri tentu saja tidak akan bersikap buruk pada Marvin.


Ya, dulu ia memang membencinya dan masih bingung dengan tabiat asli seorang Marvin. Namun setelah ia tahu jika Marvin diam-diam suka mengantarnya saat melakukan cuci darah. Bu Putri jadi timbul simpati. Walaupun ayah Marvin adalah musuh suaminya, namun kebaikan dan kepedulian Marvin tidak dapat dielakan.


"Mamaaa! Mamaaa!"


Itu suara Via. Bu Putri segera beranjak setelah berbisik pada Serena. Entah apa yang dibisikkannya. Yang jelas, hal itu membuat Serena membelalakan matanya.


"Serena."


"Pak Bos."


Mereka berucap secara bersamaan. Entah dari mana suasana canggung itu bermula. Padahal malam sebelumnya, walaupun tanpa penyatuan, mereka telah berbagi tubuh dan berbagi rasa. Apa kecanggungan tersebut berawal dari sana? Ya, bisa jadi. Serena segera menunduk. Perubahan sikapnya membuat Marvin merasa heran.


"Mama kamu bicara apa?"

__ADS_1


"Ra-rahasia," jawab Serena.


"Emm, kenapa kamu jadi pemalu? Saya jadi aneh."


"Anda juga aneh, 'kok," timpalnya.


"Saya aneh? Masa 'sih?" Marvin tidak merasa.


"Anda tadi sudah sempat kemari 'kan? Lalu tiba-tiba pergi dan kembali lagi," jelas Serena.


"A-apa?" Marvin kaget karena ulahnya diketahui oleh Serena.


"Kenapa tidak langsung ke sini?" Sambil mengangkat kepalanya. Sejenak melirik pada Marvin dan menunduk lagi.


"Oh, itu karena tas saya tertinggal di warung depan."


Marvin mengarang cerita. Untung saja ia sempat melihat ada warung di depan komplek. Lalu pria itu menutup mulutnya, seperti biasa, kalau ngantuk, Marvin sering menguap.


"Sudah ngantuk?"


"Ya, tapi saya bingung mau tidur di mana. Emm, mungkin di dalam mobil," candanya.


"A-Anda serius mau tidur di mobil?" Serena tidak paham kalau Marvin sedang bercanda.


"Kamu ingin saya tidur di mobil? Oh ya ampun." Marvin geleng-geleng kepala.


"A-Anda bercanda ya? Maaf, Pak Bos boleh tidur di sini, 'kok. Lagi pula, ini rumahnya Pak Bos."


"Nah, itu kamu paham. Di mana kamar saya?" Marvin berdiri.


"Di sana."


Serena menunjuk ke kamar yang tadi ditempatinya.


"Baik, mari ke sana," ajak Marvin.


"A-aku mau tidur di kamar Mama. Aku hanya mengantar Anda." Serena berjalan di depan Marvin dan segera membuka pintu kamar tersebut.


"Wah, lumayan rapi dan wangi." Walaupun kaya-raya, Marvin tetap bisa beradaptasi dengan kesederhanaan.


"Mamaku yang merapikannya. Bukan aku."


"Sudah saya duga," sahut Marvin sambil membuka bajunya.


Serena segera memalingkan wajah. Bulu kuduk gadis itu berdiri lantaran tiba-tiba mengingat sesuatu. Apa yang diingatnya? Hanya Serena yang tahu.


"Saya mau mandi dulu. Bisa pinjam handuk kamu?" pintanya. Mendekat pada Serena.


"A-aku ambil handuknya." Gugup. Serena mundur-mundur.


"Hahaha. Kamu kenapa 'sih? Aneh tahu melihat kamu yang kayak begini. Saya lebih suka kamu terus menjadi Kucing Nakal saya. Kalau kamu pemalu seperti ini, saya jadi ingin menindas kamu." Sembari mengurung tubuh Serena.


"Tidak akan Serena. Saya tahu tempat. Kalau kamu beteriak 'kan saya juga yang malu," ujarnya. Ia mengulum senyum sambil meraih handuk milik Serena.


"Tunggu. Handuk itu kekecilan untuk Anda. Kenapa tidak pakai kain saja?" Serena merebut handuknya.


"Ini saja." Direbut lagi. Lantas Marvin berlalu ke kamar mandi.


"Saya tidak ada persiapan menginap. Pinjam perlengkapan mandi kamu ya," teriak Marvin dari kamar mandi.


"Silahkan," sahut Serena. Ia meninggalkan kamar dan bermaksud akan tidur bersama bu Putri atau tidur di kamar adiknya.


...***...


Ia melongo di kamar Rio dan Via. Serius, nyaris tidak ada tempat yang bisa ia gunakan untuk merebahkan diri. Rio tidur di ranjang berukuran single. Jelas tidak akan muat jika Rio tidur bersama Serena. Ranjang via lebih besar, tapi dipenuhi boneka.


"Eren."


"Mama?!"


"Untuk apa kamu ke sini?"


"Aku mau tidur sama Via, Ma. Jadi mau kurapikan dulu bonekanya."


"Ya ampun Eren, Via 'kan biasa tidur sama boneka-bonekanya. Kalau Via bangun, posisi boneka yang ia tidurkan tidak bolah berubah. Pernah Mama juga merapikan. Bangun-bangun langsung nangis. Sudah, kamu tidur sama suami kamu," usirnya.


"Eren tidak mau, Ma. Ya sudah, Eren di kamar Mama saja ya," rayunya.


"Eren, setelah mendapatkan fasilitas yang diberikan Pak Bos, kamu harusnya dapat memaksimalkan peran kamu sebagai istrinya. Kalaupun kamu belum mengetahui perasaannya, kamu harus bisa bersikap baik untuk membalas kepedulian dia pada keluarga kita. Sana," usir bu Putri. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya agar Serena tidak bisa masuk.


"Ish, Mama," gadis itu mendengus kesal. Ia bergegas meninggalkan bu Putri. Tapi bukan ke kamar. Melainkan ke ruang televisi. Ia tidur di sofa yang sebelumnya pernah digunakan oleh Indri.


...***...


"Kenapa kamu tidak ada di rumah Serena?!" teriak Marvin pada Indri melalui ponselnya.


"Maaf Pak Bos, aku dan Edrick kembali ke vila karena di vila ada Nona Clara," jelas Indri.


"Apa?! Kenapa Clara ke sana?! Jadi setelah fitting baju pengantin dia tidak pulang ke rumahnya?!"


"Ya Pak Bos."


"Baiklah. Selamat istirahat Indri."


Marvin tidak jadi marah. Anehnya, walaupun Clara tahu ia tidak berada di vila, kekasihnya itu tidak meneleponnya. Marvin merebahkan diri. Aroma sabun milik Serena membuatnya sedikit tenang.


"Kok saya jadi tidak betah tidur sendiri?"

__ADS_1


Marvin gelisah. Karena di kamar ini tidak ada televisi, Marvin berencana menonton televisi di ruang keluarga. Iapun keluar dari kamar.


...***...


Ia tersenyum melihat Serena sudah tertidur di sofa sambil mendekap remot di dadanya. Adegan selanjutnya sudah bisa ditebak. Ya, Marvin memindahkan Serena ke kamar.


...***...


_______


"Ya Bos Besar. Saya tidak salah lihat. Saya melihat mobil pak Bos parkir di sebuah rumah sederhana di hunian yang letaknya tidak jauh dari vila," lapor seseorang pada Bos Besar. Bos besar adalah julukan untuk pak Jacob.


Seseorang itu berada di dalam sebuah mobil yang tidak jauh dari rumah Serena. Gerak-gerik Marvin ternyata tidak lepas dari pantauan pak Jacob.


...***...


Marvin menatap Serena yang terlelap.


"Pak Bos?" Serena membuka mata dan mereka langsung bersitatap.


"Kenapa tidak tidur di kamar mama kamu?" Mata Marvin fokus pada bibir Serena.


"Mama menyuruhku menemani Anda," jawabnya.


"Serena."


"Ya."


"Apa kamu tahu tempat yang namanya Alas Hutan Rimba?"


"Aku pernah dengar, itu tempat eksekuti mati," kan?"


"Serena." Marvin memegang tangan Serena.


"Ya."


"Saya ingin bicara hal serius. Saya harus menyampaikannya supaya kamu tidak kaget."


"Pak Bos kenapa 'sih? Tadi Anda bilang ngantuk, 'kan? Ya sudah cepat katakan, aku besok harus sekolah. Masa anak baru pindah sudah kesiangan?"


"Serena."


Marvin dilema. Haruskah ia merasahasiakannya? Tapi jika dirahasiakan, Marvin khawatir Serena shock dan tertekan.


"Serena."


Marvin menarik tubuh Serena ke dalam dekapannya.


"A-ada apa?" lirih Serena.


"Emm, begini, tapi kamu jangan kaget ya. Saya berjanji akan menolong kamu."


"Tolong jangan bertele-tele dan membuatku bingung," pinta Serena.


"Serena. Papa saya akan menculik kamu."


"A-apa?!" Gadis itu terkejut.


"Begini, tolong dengarkan saya dulu." Marvin memeluknya. Lalu ia menjelaskan tentang rencana papanya mengenai skenario penculikan.


"A-apa?!"


Tubuh Serena gemetar setelah ia mengetahuinya. Membayangkannya saja ia sudah ketakutan.


"Kenapa harus melibatkan aku, Pak Bos? Bukankah itu ranahnya polisi? A-aku takut." Air mata Serena langsung berurai.


"Papa ingin mengetahui orang yang ada di belakang papa kamu. Saya yakin di masa lalu ada sesuatu antara papa kamu dan papa saya yang hingga saat ini belum saya ketahui."


"Huks."


Serena tidak bisa berkata-kata lagi. Ia terlalu bingung dengan kondisi ini. Sungguh, ia tidak bisa mencerna dan memahaminya.


"Jangan takut. Saya akan melindungi kamu."


"Mama dan adik-adikku tidak akan dilibatkan dalam skenario ini, 'kan? Pak Bos, kumohon tolong lindungi mama dan adik-adikku. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka."


"Selama kamu tidak mengkhianati saya, saya akan melindungi mereka."


"Terima kasih," Serena membalas memeluk Marvin.


"Tolooong!"


Tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah luar. Serena terperanjat. Pun dengan Marvin.


"Mama?!" Serena segera berdiri dan berlari keluar.


"Serena! Kamu tetap di sini! Biar saya yang ke sana!" tegasnya sambil menahan tangan Serena.


"Tidak bisa Pak Bos!" Serena bersikukuh.


"Saya bilang tetap di sini! Paham?!" sentak Marvin. Lalu ia berlari keluar. Serena yang panik tidak mengindahkan seruan Marvin, ia mengejar Marvin.


"Tolooong!"


Suara itu semakin jelas dan terdengar berasal dari kamar bu Putri. Kaki Serena melemas. Pikiran buruk telah mengusai pikirannya.


_______

__ADS_1


Ada apa gerangan? Apa yang terjadi pada bu Putri?


...~Next~...


__ADS_2