
"Terima kasih," ucap Serena saat melihat dokter Fathir mendekat ke arahnya. Gadis itu perlahan bangun sambil menyentuh ujung bibirnya yang masih terasa perih.
"Sudah merasa baikan?" Dokter Fathir menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Serena.
"Sudah, sekarang badanku tidak lemas lagi." Serena duduk duduk di samping tempat tidur. Kakinya menjuntai indah. Gadis itu mungkin tidak sadar jika kondisinya menarik perhatian dokter Fathir.
"Syukurlah," sambil menarik selimut untuk menutupi kaki Serena.
"Kapan aku bisa pergi?" tanya Serena. Ia rupanya tidak nyaman berada di klinik ini.
"Tunggu sampai cairan infusnya habis. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa? Rumah kamu? Terus, siapa yang merekomendasikan kamu bekerja di sini?"
"Anda dokter 'kan? Kenapa mau tahu banyak tentang aku? Namaku Serena. Untuk pertanyaan lainnya, aku tidak mau menjawab," ketus Serena.
Ia tidak suka orang yang baru mengenalnya menelisik kehidupan pribadinya. Dokter Fathir tersenyum, baru kali ini ada pasien yang ketus terhadapnya. Padahal, pasien-pasiennya selalu memujinya sebagai dokter tampan yang ramah dan baik hati.
"Hahaha." Dokter Fathir terbahak saat Serena memalingkan wajah dan menunjukkan wajah kesal.
"Aku di sini sebagai pasien! Tolong hormati privasiku sebagai pasien!" Lantas ia kembali tidur dan membelakangi dokter Fathir.
"Maaf jika sikapku membuat kamu tidak nyaman. Begini saja, apa aku boleh tahu kenapa kamu bisa pingsan? Bibir kamu pecah, pipi kamu hampir lebam. Apa ada orang yang sengaja menyakiti kamu?" Tidak ada jawaban.
"Serena, jangan takut. Katakan saja. Siapa yang menyakiti kamu? Jika kamu tidak berani mengatakannya pada Pak Bos, biar aku yang menyampaikannya."
Masih tidak ada jawaban, namum beberapa saat kemudian, pundak Serena begerak-gerak. Gadis itu menangis. Tapi ia tidak memiliki keberanian untuk menceritakan masalahnya pada sembarang orang. Sebab, ia sudah berjanji akan bertahan di tempat ini demi menebus kesalahan papanya, serta demi keberlangsungan hidup mama dan adik-adiknya.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi." Sambil mengatur tetesan cairan infus.
"Percepat saja," pinta Serena. Ia mengusap airmatanya.
"Boleh."
'Krak.'
Pintu klinik tiba-tiba begeser. Dokter Fathir terkejut.
"Siapa kamu?!" Sambil menodongkan jarum suntik pada sosok yang masuk ke klinik tanpa permisi.
"Saya!" jawab sosok itu. Ia menarik maskernya ke dagu, lalu duduk di kursi yang menghadap ke meja dokter Fathir.
"Pak Bos?!"
Pak Bos? Serenapun terkejut. Tapi ia tetap di posisinya. Membelakangi.
"Kenapa Anda ke sini? Hei, ini sudah malam Pak Bos. Lihat 'tuh! Sudah jam sepuluh malam." Dokter Fathir menunjuk jam dinding. Ia juga heran dengan penampilan Marvin yang menurutnya sangat aneh.
"Saya tidak bisa tidur! Minta obat tidur!" pintanya. Namun, sudut mata Marvin jelas sekali melirik ke arah Serena.
"Tidak, aku tidak bisa memberi obat tidur secara rutin. Berbahaya Pak Bos," tolak dokter Fathir.
"Kamu bekerja di sini untuk saya, Fathir! Cepat berikan!" desaknya. Lagi, sudut matanya melirik pada Serena.
"Baik Pak Bos Marvin yang tampan, kaya-raya dan terhormat. Tapi tunggu dulu ya, harap antri. Aku mau menyelesaikan urusanku dengan pasien yang datang lebih dulu dari Anda."
Dokter Fathir menautkan alis. Sungguh, ia merasakan keanehan pada sikap Marvin. Sebab biasanya, Marvin tidak pernah meminta obat dengan datang langsung ke klinik.
"Infusannya sudah habis, Dok. Bisa dilepas sekarang?" tanya Serena.
Ia berbalik dan memalingkan wajah dari Marvin. Ia kecewa pada Marvin yang tidak memberinya makanan hingga ia kelaparan. Padahal, jika Marvin memberinya biskuit, kalaupun Manda tidak memberinya makan, Serena yakin ia tidak akan kelaparan.
"Baik, akan aku lepas." Dokter Fathir mempersiapkan alat yang akan digunakan untuk melepas infus Serena.
"Auhh, pelan-pelan dong, Dok! Sakit tahu!" sentak Serena.
"Sabar Nona Cantik," sahut dokter Fathir sambil melirik ke arah Marvin yang tampak gelisah. Entah apa yang terjadi pada bosnya itu. Malam ini dokter Fathir merasa jika ia sedang dikerjai pasien-pasiennya.
"Serena!"
__ADS_1
Akhirnya Marvin memanggil Serena. Ia ternyata merasa kesal karena Serena tidak memedulikannya. Padahal menurut Marvin, ia adalah orang yang paling andil menolong Serena.
"Terima kasih Dokter."
Serena tetap tidak memedulikan Marvin. Ia segera turun dari tempat tidur tanpa menggunakan alas kaki.
"Serena!"
Marvin memegang tangan Serena. Dokter Fathir terkejut. Ia menggulirkan pandangan pada Marvin dan Serena secara bergantian. Pikir dokter Fathir, ini adalah pemandangan langka,
"Lepaskan tanganku Bos pelit!" teriak Serena.
"Kalau saya pelit, saya tidak mungkin menyuruh orang untuk membawa kamu ke klinik!" Genggaman tangan Marvin semakin erat.
"Lepas! Kalaupun Anda menolongku ya wajar! Aku 'kan is ---." Serena tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Marvin membekap bibirnya.
"Pak Bos, apa yang Anda lakukan?! Jangan kasar! Dia pasienku!" Dokter Fathirpun memegang tangan Serena.
"Fathir! Jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan gadis ini! Singkirkan tanganmu!" teriak Marvin. Ia menatap tajam pada tangan dokter Fathir yang memegang tangan Serena.
"Apa kalian gila?! Lepaskan tanganku! Atau aku akan beteriak kalau kalau kalian berdua akan memerkosaku!" teriak Serena.
"Apa?!" Marvin dan dokter Fathir terkejut. Mereka serempak melepas tangan Serena.
"Aku mau tidur! Oh, mau sekalian pinjam sandal itu!"
Serena memakai sendal milik kilinik. Tidak hanya itu, gadis itupun mendorong bahu Marvin dan dokter Fathir sambil menunjukkan wajah sinisnya. Marvin menggeram kesal. Sementara dokter Fathir malah tersenyum karena menurutnya Serena sangat menggemaskan.
"Serena tunggu!" Marvin mengejar Serena yang meninggalkan klinik.
Dokter Fathir berpikir keras.
Serena. Siapakah sebenarnya gadis itu? Kenapa sikapnya lancang dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada Bos Marvin?
Setelah Marvin dan Serena luput dari pandangannya, ia segera menelepon seseorang.
...***...
"Jangan mengikutiku!" sentak Serena.
"Saya tidak mau mengikuti kamu. Saya ke sini karena ingin membicarakan kesepakatan yang sebelumnya pernah kamu ajukan." Marvin bicara seraya menatap sekeliling. Ia seolah tidak ingin kebersamaannya dengan Serena diketahui sipapun.
"Kesepakatan?" Serena menghentikan langkahnya.
"Ya, mari kita bicara di tempat lain," ajak Marvin.
"Di tempat lain? Bicara di mana?" Serena jelas tidak mengetahui tempat yang dimaksud oleh Marvin.
"Ikut dengan saya," ajaknya sambil menunjuk ke sisi kanan lorong apartemen.
"Ke sana? Aku takut, kenapa kita tidak bicara di sini saja?"
"Haish, kamu itu suka sekali protes ya."
Marvin tidak sabaran. Ia menarik tangan Serena dan menuntunnya menuju tempat yang ia maksud. Serena patuh karena ingin segera mengetahui isi kesepakatan tersebut.
...***...
Ternyata Marvin membawa Serena ke balkon apartemen. Saat ini, sepasang manusia itu sedang berdiri menghadap gemerlapnya lampu, gedung-gedung, dan hiruk-pikuk suasana malam di kota ini. Dari jarak setinggi ini, lampu-lampu di bawah sana bak hamparan bintang. Lalu pantulan lampu dari gedung-gedung, membentuk degradasi warna kemilau pada cakrawala.
"Indah," gumam Serena. Matanya menatap ke sana. Ke kaki langit malam. Rambut gadis itu tersibak angin hingga memperlihatkan lehernya jenjangnya yang seputih salju.
Marvin menghela napas, ia membiarkan Serena menikmati pemandangan malam. Jarak mereka sekitar satu meter.
"Jadi bagaimana?" Serena memulai pembicaraan.
"Saya setuju kamu tetap sekolah," jawab Marvin.
__ADS_1
"A-apa be-benarkah?" Serena bahagia. Saking bahagianya ia spontan memegang tangan Marvin.
"Benar."
"Aaaa, yeee. Terima kasih Pak Bos."
Kegirangan Serena tidak terbendung, ia melompat begitu saja merangkul Marvin yang mematung dan terkejut dengan reaksi Serena.
"Aku berjanji tidak akan mengecewakan Pak Bos." Masih betah merangkul Marvin.
"Apa kamu bisa dengan mudah memeluk seorang pria?" Marvin mengurai rangkulan Serena.
"Eh, ma-maaf Pak Bos. Aku terlalu senang. Tolong jangan salah mengartikan." Serena menjauh kembali dari tubuh Marvin.
"Tapi ada syaratnya. Harusnya kamu jangan senang dulu. Saya belum selesai bicara."
"Syaratnya apa? Cepat jelaskan saja. Shhh ...." Serena mulai kedinginan. Ia memeluk tubuhnya sendiri.
"Kamu harus berangkat ke sekolah sendiri. Kamu tidak akan saya berikan fasilitas apapun. Kamu juga harus merahasiakan status kita. Ingat, pernikahan kita hanya diketahui oleh saya, kamu, papa kamu dan dua orang saksi yang sudah saya kunci mulutnya," tegas Marvin.
"Oh, aku kira syaratnya apa. Syarat seperti itu 'sih kecil. Aku bisa ke sekolah dengan berlari atau berjalan kaki. Ya, anggap saja sedang olah raga. Aku kira syaratnya harus tidur dengan Pak Bos, hahaha."
"Apa katamu?!" Marvin terkejut. Asumsi gadis itu ternyata cukup brutal dan berbahaya.
"Hahaha, jangan terlalu serius Pak Bos. Aku hanya berguyon," elak Serena. Ya, ia memang hanya bicara asal-asalan.
"Serena." Marvin mendekat.
"Ya."
"Apa kamu sangat ingin tidur dengan saya?" Sambil mencengkram dagu Serena hingga wajah Serena menengadah.
"A-apa?! Ti-tidak mau, Pak Bos. A-aku hanya bercanda. Sungguh, aku ha-hanya bercanda." Sembari mengangkat dua jarinya ke atas kepala.
"Hahaha. Saya juga bercanda, saya tidak tertarik dengan tubuh kamu." Melepas cengkramannya dan mengalihkan pandangan ke langit.
"Sama. Aku juga tidak tertarik pada Pak Bos."
"Oya? Tapi tidak ada wanita yang tidak tertarik sama saya."
"Kecuali aku," sela Serena.
"Oiya, karena status kamu adalah seorang istri, kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun selama status kamu masih istri sitaan saya. Mengerti?"
"Apa?! Jadi aku tidak boleh pacaran?"
"Ya," tegas Marvin. Lalu ia melepas hoodienya dan memberikannya pada Serena.
"Pakai," ucapnya singkat.
"Tidak mau," tolak Serena.
"Ya sudah, cepat pergi ke kamar kamu."
"Pak Bos, kamar yang kugunakan sangat tidak nyaman. Kasurnya sempit. Kamar mandinya jelek, dan ACnya juga kurang dingin," keluh Serena.
"Kamar untuk pelayan sudah sesuai standar. Selera kamu saja yang terlalu tinggi. Ingat, sekarang kamu hanya barang sitaan saya, bukan lagi anak orang kaya yang bisa semena-mena menghamburkan harta milik orang tuanya," sindir Marvin.
"Ya, aku tahu, Pak Bos. Tapi, apa boleh kalau malam ini aku menginap di kamar Pak Bos?"
"Apa?!" Marvin membelalak.
"Malam ini saja Pak Bos. Hanya malam ini. Aku janji tidak akan mengganggu Pak Bos. Aku akan tidur di sofa."
"Emm," Marvin merenung sejenak.
Apa Pak Bos akan mengizinkan Serena menginap di kamarnya?
__ADS_1
...~Next~...