ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
DANAU PRIVILEGE


__ADS_3

"Tidak perlu pengawal Pa, saya dan Hendrik hanya pergi sebentar."


Marvin dan Hendrik sudah berada di ruang kerja pak Wandira.


"Tetap harus ada pengawal. Kalau kamu kabur lagi bagaimana? Papa tidak mau direpotkan oleh kamu untuk yang kesekian kalinya."


"Pa, sekarang Marvin hanya punya Hendrik. Hugo, Rian, Edrik dan Boy sudah Papa pekerjakan di luar kota. Apa yang Papa khawatirkan lagi?" protes Marvin.


"Papa tidak khawatir, hanya jaga-jaga. Jangan membantah Papa, pokoknya kamu harus dikawal. Kalau tidak, lebih baik kerjakan revisinya di rumah saja," tanda pak Jacob.


"Ya sudah, saya setuju."


Akhirnya, Marvin memilih mengambil risiko. Masalah keberadaan pengawal papanya, ia berpikir akan mencari cara lain untuk menangani mereka.


"Kamu boleh pergi." Pak Jacob akhirnya memberi izin.


...***...


"Kita mau pergi ke mana Pak Bos?" tanya pengawal yang bertugas menyetir mobil. Di samping kemudi ada pengawal lain, dan di kursi bagian belakang ada tiga orang pengawal lagi. Sementara Marvin dan Hendrik, mereka duduk di kursi bagian tengah.


"Saya suntuk dikurung terus. Jadi, saya mau mengerjakan revisi laporan keuangan di kelab malam. Saya mau bekerja sambil dikelilingi wanita-wanita seksi," terang Marvin.


"A-apa?! Apa Bos Besar sudah tahu kalau Anda akan pergi ke kelab? Bukankah Anda tidak suka pergi ke kelab?" Pengawal yang duduk di kursi belakang keheranan.


"Hahaha. Saya tidak sesuci yang kalian pikirkan. Sesekali, saya suka pergi ke sana secara diam-diam. Sudahlah, kalian juga butuh hiburan bukan?"


"Emm, a-anu ---." Mereka jadi kebingungan. Saling menatap dan tetap kebingungan.


"Hendrik, mainkan," bisik Marvin.


"Ini ada hadiah dari Pak Bos untuk kalian. Ini sebagai ongkos saat kalian bersenang-senang di kelab." Hendrik memberikan dua gepok uang ke setiap pengawal.


"U-uang apa ini Pak Bos? Anda jangan menyuap kami," protes pengawal yang duduk di depan.


"Sudahlah, tak perlu bernarasi, itu kelab yang saya maksud. Mari kita ke sana dan bersenang-senang sepuasnya," ajak Marvin.


Dalam keadaan masih kebingungan, sang sopir pun terpaksa menghentikan mobil di sebuah kelab ternama. Marvin turun terlebih dahulu. Disusul oleh Hendrik. Para pengawal otomatis ikut turun dan mengawal Marvin.


Saat Marvin tiba, suasana kelab menjadi senyap. Mereka terkejut dengan kedatangan seseorang yang menurut mereka sangat tampan dan berbeda. Para pengawal melindungi Marvin dari tatapan pengunjung. Terutama dari tatapan para wanita malam yang menatap Marvin sambil menggigit bibir dan membusungkan dada mereka. Sungguh pemandangan yang ironis dan miris.


Hendrik berusaha tenang. Ia menundukkan pandangan dari jebakan maut itu.


"Halo semuanya, saya butuh tujuh orang wanita tercantik di kelab ini untuk melayani saya dan mereka," seru Marvin sambil menunjuk pada Hendrik dan pengawal.


"Aku, aku, aku."


Wanita- wanita itu berebut menghampiri Marvin. Pengawal jadi sibuk. Namun sebagai pria normal, mereka tidak bisa berpaling dari godaan duniawi ini.

__ADS_1


"Berhentiii!"


Seorang pria yang disinyalir sebagai manajer kelab tiba. Wanita-wanita gatal itupun terpaksa mundur namun mereka tetap tidak bisa mengalihkan pandangan dari sosok Marvin yang gagah, tampan-rupawan, dan fashionable


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan mengatur semuanya. Silahkan Bapak-bapak atau Tuan-tuan menunggu di ruangan VVIP. Akan ada staf kami yang mengantar ke sana. Saya akan menyiapkan wanita-wanita terbaik dan layak melayani Anda," kata manajer tersebut sambil membungkukkan badan pada pada Marvin.


"Baik," tegas Marvin.


Ia mengikuti staf yang dimaksud manajer kelab disusul oleh Hendrik dan para pengawal.


...***...


Tiba diruang VVIP, mereka langsung disambut oleh sajian yang menggiurkan jiwa dan raga. Tujuh wanita cantik yang membawa anggur merah, tengah berpose sensual di atas kursi. Marvin mengalihkan pandangan, pun dengan Hendrik yang sedari tadi terus berdoa kepada Tuhannya agar dijauhkan dari tipu daya dunia yang bisa menjerumuskannya ke lembah dosa.


Pikir Hendrik, trik yang dilakukan Marvin untuk mengelabui anak buah papanya, benar-benar ide yang sangat gila.


Saat lima orang pengawal duduk, wanita-wanita itupun turut duduk di pangkuan mereka. Dua orang wanita lagi masih terus berpose sambil menunggu intruksi dari Marvin dan Hendrik yang hingga saat ini masih berdiri.


"Buat mereka mabuk," bisik Marvin saat manajer kelab tiba di area VVIP tersebut. Ruangan VVIP ini sangat luas, nyaman, dan tertutup.


"Baik Pak Bos." Rupanya, manajer kelab dan Marvin telah bersekongkol.


Lemah iman. Dua kata itu layak disematkan pada kelima pengawal itu, mereka tak sanggup menolak saat para wanita seksi yang juga sama-sama lemah iman itu membuai mereka dengan aktivitas tak senonoh. Para wanita itu mulai bermain-main dengan tubuh para pengawal yang tentu saja kekar dan berotot. Kelima orang itupun cukup menarik dari segi visual. Jadi, wajar jika para wanita itupun menjadi tergoda dan menggila.


Musik mulai menyala, lembaran uang mulai dihamburkan, dan tetesan anggurpun telah ditenggak sedikit demi-sedikit, dan terus berlanjut hingga mereka kalap.


Lalu wanita-wanita itu ... mereka seolah merasa jika kehidupan mereka di dunia ini akan kekal. Mereka sedang melupakan dosa dan melupakan Tuhannya.


"Siap Pak Bos!"


...***...


"Pastikan mereka tidak meninggalkan kelab sampai besok pagi!" Marvin bicara melalui HP-nya saat ia dan Hendrik keluar dari kelab. Entah ia bicara dengan siapa.


"Cepat Hendrik!"


"Baik Pak Bos!"


Hendrik bergegas masuk ke dalam mobil dan siap mengemudi. Marvin menyusul dan segera memakai sabuk pengaman. Lalu mobil itupun melesat cepat menuju ... Danau Privilege.


"Pak Bos, Anda harus menyamar. Ingat Pak Bos, jumlah mereka banyak. Di sana pasti ada pengawalnya Tuan Bill dan pengawalnya Nona Serena. Kalau kita tidak bermain cantik, kita bisa kalah dengan mudah."


"Ide bagus. Menyamar seperti apa ya?"


Di perjalanan, mereka menyusun rencana.


"Apa kita pura-pura jadi pegawai. Mencuri baju pegawai di sana?"

__ADS_1


"Cara itu sudah kuno, Ndrik. Lagi pula, cara itu beresiko. Belum lagi kita harus bekerja sama dengan pegawai di sana. Pasti perlu waktu."


"Anda benar. Begini saja Pak Bos, bagaimana kalau Anda menyamar menjadi orang lain? Maksudku, Anda terlalu tampan dan mencolok dengan penampilan seperti ini. Jadi, sebelum masuk ke sana, Anda harus merubah penampilan jadi pria yang biasa saja. Kalau bisa ya harus sejelek-jeleknya," saran Hendrik.


"Emm, ide kamu oke juga. Ya sudah, berarti kita harus ke toko rambut palsu dulu." Marvin setuju.


...***...


Serena benar-benar tidak nyaman. Ia diperlakukan bak ratu oleh Bill. Pria itu sangat lembut dan romantis. Saat ini, Bill sedang membahas tentang pernikahan mereka.


"Kamu mau konsep yang seperti apa? Ini contoh dekorasi pelaminannya. Apapun yang kamu mau, aku pasti setuju."


"Terserah Tuan Bill," jawab Serena.


Sebenarnya, Bill sudah tidak tahan dengan sikap dingin Serena. Rasanya, ingin mempercepat pernikahan itu dan memiliki Serena seutuhnya.


"Baik, aku mau yang ini. Ini yang termahal dan termegah." Bill menunjuk pada satu gambar foto konsep.


"Ya Tuan, aku setuju."


Danau Privilege ternyata sebuah kafe berukuran besar yang berdiri kokoh menghadap ke sebuah danau. Konsep kafe ini adalah modern dan ekslusif. Kafe ini hanya bisa dikunjungi oleh kalangan menengah ke atas.


"Tuan Bill, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Serena.


"Silahkan. Nanti akan diantar oleh pengawalku yang perempuan."


Bill lantas memberi isyarat pada salah satu anak buahnya agar pengawal perempuan masuk dan mengantar Serena ke kamar mandi. Serena hanya bisa menghela napas karena mau protespun percuma.


Bill meraih tangan Serena dan menciumnya sebelum Serena pergi ke kamar mandi. Serena tidak sempat menolak karena gerakan Bill sangat tiba-tiba.


Di tempat yang sama, hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari kursi Bill dan Serena, tampak seorang pria tua tengah menatap tajam ke arah Serena. Tunggu, jika diperhatikan dengan seksama, pria itu sepertinya tidak tua. Di samping pria itu, ada pria lain yang memakai wig dan kumis super tebal.


"Cepat bertindak Pak Bos, Nona Serena mau ke kamar mandi. Kesempatan emas," bisik pria yang berpenampilan seperti orang tua.


"Pak Bos?"


Pria itu terkejut. Sebab, saat ia menoleh lagi, pria yang dipanggil Pak Bos, telah raib dari kursinya.


"Ya Tuhan, kenapa gerak dia cepat sekali?"


Ya, mereka adalah Marvin dan Hendrik.


Hendrik jadi cemas. Namun ia tidak bisa menyusul karena harus memantau gerak-gerik Bill dan anak buahnya.


_____


Semoga berhasil Pak Bos.

__ADS_1


...~Next~...


Jika berkenan, jangan lupa like, komentar, tips, dan vote-nya. Terima kasih.


__ADS_2