
"Terima kasih Indri," ucap Serena setelah Indri membantunya mengganti baju.
"Sama-sama Nona Serena."
"Oiya Indri, kamu tadi tidak lihat apa-apa 'kan di kolam renang?"
"Tidak Nona, aku tidak lihat apa-apa." Kalau Indri jujur, ia khawatir akan mempermalukan Serena.
"Serius kamu tidak lihat apa-apa?" Serena merasa tidak percaya.
"Serius Nona," sambil mengangkat tangannya.
"Oh, ya sudah. Aku kira kamu melihatnya. Hahaha." Lalu Serena tertawa-tawa sambil memukuli bahu Indri.
"Nona, aku mau tanya serius. Apa Nona menyukai Pak Bos?"
"Emm, ketika dia mengekspresikan keinginannya terhadapku, aku sering tidak bisa memahami bagaimana bersikap atau memberikan reaksi yang tepat atas sikapnya. Jadi, aku hanya bisa pasrah. Intinya, aku sedang berusaha untuk menemukan cinta sejatiku, dan aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku pada Pak Bos."
"Kenapa tidak yakin Nona?"
Indri mendekat. Ini kesempatan untuknya mencari referensi. Sebagai jomlo, Indri berpikir harus banyak belajar dari Serena. Walaupun hubungan antara bosnya dan Serena sedikit aneh, namun ia berharap ada hikmah yang bisa diambilnya.
"Karena ... aku hanyalah istri sitannya Indri."
"Cinta memang rumit, Nona. itulah sebabnya aku berprinsip harus menjaga hati ini agar tetap aman, karena saat memikirkan tentang cinta, hatiku sering rapuh. Aku pernah merasakan dikhianati, Nona. Aku juga pernah merasakan cintaku kandas hanya karena hal yang sangat sepele."
"Oya? Siapa yang tega mengkhianati kamu? Hmm, cinta memang terkadang seperti itu, Indri. Hal kecil dan insiden biasapun bisa menimbulkan dampak yang begitu dalam." Lalu Serena menghela napas. Seolah, ingin menghempaskan segenap kegusaran di dadanya.
"Ada, Nona. Sudahlah, aku sudah menganggapnya sebagai masa lalu." Sambil membantu menyisiri rambut Serena.
"Yang kamu rasakan pasti tidak lebih menyakitkan dari yang kurasakan Indri." Serena menunduk seraya merematkan jemarinya.
"Nona." Indri mengelus-elus rambut Serena.
"Bagiku, menjauh dari Pak Bos itu terasa sakit, tapi dekat dengan pada Pak Bos juga terasa lebih menyakitkan. Lalu aku harus bagaimana, Indri? Seperti buah simalakama 'kan jadinya?" Di balik keceriannya, dan di balik kepatuhannya pada Marvin, Serena memendam dilema.
"Aku tidak tahu dimana letak pintu hatiku, seandainya aku tahu, pasti sudah aku kunci agar perasaan ini tidak sia-sia, dan entah sampai kapan aku akan terus seperti ini," lanjutnya.
"Nona, waktu tidak akan diam hanya karena Nona patah hati bahkan hancur sehancur-hancurnya. Waktu memang tidak egois, tapi dia nyata dan tetap berjalan tanpa memedulikan kita sebagai makhluk yang menjalaninya. Jadi, Nona jangan pernah menyalahkan keadan ini. Karena sesungguhnya, kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya. Bukan orang lain."
"Indri, yang kurasakan sangat tragis. Karena perasaanku ini, aku sering melakukan hal-hal bodoh hanya untuk bersamanya dan membuatnya senang. Lalu hati ini selalu memiliki tempat dan ruang untuknya meskipun dia telah melukaiku."
"Nona, kenapa memiliki peraaan seperti itu? Tidak 'kah Anda merasa kalau Pak Bos menyukai Anda?"
"Tidak Indri, dia tidak menyukaiku. Setelah bosan dan merusakku, dia akan membuang dan mencampakkanku. Dia bahkan tidak sudi memiliki keturunan dariku. Dia pernah mengatakan kalau aku tidak pantas meneruskan garis keturunannya." Serena kian menunduk. Lalu Indri melihat jika gadis itu sedang terburu-buru mengusap airmatanya.
"A-apa? Nona ...." Indri memeluk Serena karena merasa iba.
"Aku baru memahami peraaan ini, Indri. Setelah aku merasakannya, aku memahami mengapa banyak orang yang lari dari perasaan ini. Ternyata, cinta itu menakutkan." Lalu Serena membalas memeluk Indri dan menangis.
"Nona."
"Se-sekarang, aku bahkan tidak bisa membedakan mana cinta, mana nafsu. Aku tidak mengetahui perasaannya. Terkadang, aku sempat berpikir jika dia menyukaiku, namun setelah kupikir ulang, dia mungkin saja hanya melampiaskan nafsunya dengan menggunakan tubuhku. A-aku bingung, Indri. Aku harus bagaimana?"
"Nona, setahuku, nafsu hanya sebatas hubungan fisik. Sedangkan cinta, kaitannya dengan hubungan emosional."
"Indri, pernahkah kamu berpikir apakah pasanganmu sungguh mencintaimu atau sekadar nafsu belaka? Perbedaan cinta dan nafsu mungkin bisa mudah dilihat saat aku menonton film. Tapi ketika aku sendiri mengalaminya, aku merasa jika kedua hal itu hampir tidak ada bedanya."
"Nona, ketika pasangan hanya menggunakan nafsunya, dia tidak akan tertarik menghabiskan waktu luang tanpa melakukan sentuhan atau aktivitas intim. Tapi bukan berarti cinta tidak memiliki nafsu. Aduh, aku juga jadi bingung." Indri menautkan alisnya.
"Ish, kamu jadi membuatku lebih pusing, Indri."
"Begini Nona, ketertarikan fisik adalah sesuatu yang dilandasi oleh nafsu dan hal ini mungkin menjadi alasan seseorang tertarik dengan pasangannya pada awal hubungan. Tapi saat dia atau Nona Serena selalu ingin menghabiskan waktu bersama dan melakukan banyak aktivitas berdua-duaan, maka hal itu sudah dipastikan merupakan tanda-tanda berubahnya nafsu menjadi cinta." Serena menyimak sambil mengerutkan alisnya.
"Bila Pak Bos hanya memuji tubuh Anda saja, bisa jadi ia hanya mengikuti nafsu. Tapi jika Pak Bos mengatakan bahwa ia bahagia ketika dapat membuat Anda merasa senang, dan mengatakan bahagia saat berada di sisi Nona, mungkin ia sudah merasakan debaran-debaran cinta. Begitu Nona. Apa Anda sudah dapat memahaminya?"
"Aku tetap tidak bisa membedakannya Indri."
"Ya ampun, begini saja. Kalau Pak Bos sedang bersama dengan Anda, apa yang sering dia katakan?"
"Emm, dia tidak pernah memuji tubuhku, dia juga tidak pernah mengatakan bahagia berada di sisiku. Jadi, aku tidak bisa menyimpulkan."
"Masa ya Pak Bos tidak pernah mengatakan apa-apa, Nona?"
"Yang dia katakan hanya, 'Buka! Jangan diam saja! Lihat saya Serena! Panggil saya Marvin!' Hanya itu."
"Wah, Pak Bos tidak pernah sekalipun memuji Nona Serena? Itu tidak mungkin, Nona. Nona sangat cantik dan juga seksi. Masa ya tidak pernah dipuji?"
"Tidak pernah Indri. Dia tidak pernah memujiku. Dia hanya sering menatapku sambil tersenyum, dan sangat suka mengerjaiku. Kalau dia sudah berhasil membuatku tidak berdaya, dia akan memelukku dan tertawa-tawa. Apa itu bisa dikatakan cinta? Ambigu, 'kan? Oiya, dia juga suka menghisap dan menggigitku. Kalau kusimpulkan, itu seperti nafsu."
"Apa?! Menghisap dan menggigit apa Nona?" Indri terkejut. Penjelasan Serenalah yang justru terdengar sangat ambigu.
"Ya rahasia 'lah. Masa harus aku jelaskan?"
"Ya ampun Nona! Aku lupa! Aku 'kan sedang menyiapkan masakan untuk Bos Besar dan asistennya! Oh tidaaak!"
Indri baru ingat dan panik. Ia segera berlari dan keluar dari kamar. Serena menghela napas. Hanya bisa berdoa agar Indri baik-baik saja dan tidak dimarahi Bos Besar.
...***...
"Maaf Pak Bos."
Indri segera meminta maaf. Pekerjaan di dapur ternyata dilanjutkan oleh Marvin. Pria itu telah menyelesaikan hidangan. Tinggal meletakkan piring di meja, maka acara makan akan segera dimulai.
"Tidak apa-apa, Indri. Apa dia baik-baik saja?"
"Nona Serena? Baik-baik saja Pak Bos."
"Syukurlah. Ya sudah, kamu siapkan piring dan lemon hangatnya ya, saya mau panggil Papa." Marvin berlalu.
"Baik Pak Bos."
...***...
"Papa, makanannya sudah siap," ajak Marvin pada papanya. Tidak lupa mengajak dua asisten papanya yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
"Baiklah."
Pak Jacob tersenyum bangga karena Marvin tidak berubah, dari kecil hingga saat ini, putranya selalu mandiri dan tidak gengsi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan di acara keluargapun, Marvin sering membantu dan berperan sebagai asisten koki.
...***...
Semuanya telah berada di ruang kapan. Kecuali Serena.
"Selamat menikmati," ujar Indri.
Lalu Marvin segera mengambilkan nasi untuk papanya. Mata Pak Jacob mengitari ruang makan. Ia seolah mencari sesuatu.
"Kenapa Pa?" tanya Marvin.
"Kenapa dia tidak diajak makan?" tanya pak Jacob.
"Maksud Papa, Serena?"
__ADS_1
"Ya."
"Apa Papa mau dia makan bersama kita?"
"Kalau dibilang mau 'sih ya tidak juga.Tapi apa salahnya kalau dia juga diajak."
Marvin dan Indri saling menatap. Sementara asisten Bos Besar, saat ini telah menikmati hidangannya. Mereka adalah dua pria muda dengan penampilan yang menarik. Entah siapa namanya. Indri sebenarnya ingin bertutur sapa dengan mereka. Namun mereka berperangai dingin dan sangat cuek.
"Biar aku saja yang mengajak Nona Serena." Indri beranjak untuk memanggil Serena.
...***...
"Apa?! Bos Besar mengajakku makan bersama? Aduh, aku tidak mau Indri. Kalau aku menimbulkan masalah bagaimana?"
"Tidak akan Nona. Nona hanya perlu makan dan duduk manis. Yuk, Nona."
Indri menuntun tangan Serena. Gadis itu akhirnya patuh dan menguntit ke dapur seraya menunduk.
...***...
Serena kikuk. Ia duduk di samping Indri dan terus menunduk. Indri mengambilkan nasi dan ikan bakar untuk Serena. Marvin menatap Serena sambil menikmati makanannya. Bibir gadis itu ternyata masih bengkak. Lalu dua asisten pak Jacob mencuri pandang pada Serena. Namanya juga laki-laki biasa, melihat ada yang bening-bening dan berparas cantik, langsung melirik. Sementara pak Jacob. Ia seolah tidak mau memedulikan Serena.
"Selamat makan," Indri berupaya memecah kecanggungan.
"Terima kasih," jawab Serena pelan. Lalu ia hanya menyantap nasi dan sayurnya karena tidak bisa membuang duri ikan.
"Kenapa? Tidak suka ikan?" tanya pak Jacob dan hal itu membuat semuanya terkejut dan spontan melirik pada Serena.
"Su-suka 'kok," jawab Serena.
"Kenapa tidak dimakan?" Pak Jacob bertanya lagi.
"Sudahlah Papa. Terserah dia mau ikan makan ataupun tidak. Biar saya yang makan ikannya."
Karena Marvin tidak ingin terjadi keributan. Ia segera mengambil ikan tersebut dari piring Serena. Syukulah, suasana tidak kondusif itu telah berakhir. Semuanya fokus pada makanan dan menikmatinya.
"Papa pulang ya, Vin. Lain kali, kamu jangan cuti mendadak lagi. Oiya, untuk kesepakatan itu, kamu atur saja ya."
Setelah selesai makan, pak Jacob langsung pamit pulang. Padahal, ia masih berada di ruang makan. Sementara dua asistennya, sudah menunggu di dalam mobil.
"Baik Papa. Perlu Marvin antar?"
"Tidak perlu. Oiya, kamu rahasiakan rencana kita dari mama kamu. Kalau dia tahu, masalahnya bisa jadi runyam."
Rencana apa ya? Batin Serena. Gadis itu saat ini tengah membantu Indri alakadarnya. Sedang mengelap piring dengan ekstra hati-hati.
Saat akan berlalu, pak Jacob melirik sejenak pada Serena.
...***...
Akhirnya, vila ini terbebas jua dari keberadaan pak Jacob. Marvin melompat ke sofa yang berada di ruang santai sesaat setelah melihat mobil yang membawa papanya telah hilang ditelan tikungan.
"Saya bebas," katanya.
Lalu sebuah nomor tidak dikenal menghubungi Marvin. Jika dilihat dari nomornya, ini seperti nomor kantor.
"Halo," sapa Marvin.
"Apa kabar Pak Bos? Senang bisa bicara kembali dengan Anda."
"Wandira?!" Marvin terkejut hingga terperanjat dan langsung berdiri.
"Ya, aku Wandira. Papa mertua Anda, Pak Bos."
"Tidak perlu tahu Pak Bos. Aku menelepon karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tapi karena aku DPO, aku tidak bisa menemui Anda."
"Cepat katakan! Ada apa?!" Sambil memerhatikan sekitaran karena khawatir tepergok oleh Serena.
"Aku ingin mengambil Serena, Pak Bos."
"A-apa katamu?!"
"Aku sudah memiliki dana tambahan 10 T. Sesuai kesepakatan, jika setengahnya bisa dibayar, aku bisa mengambil kembali putriku."
"Apa?! Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu, Wandira?! Siapa lagi yang kamu tipu, hah?!" Marvin menggebu-gebu.
"Anda tidak perlu tahu."
"Wandiraaa!" teriak Marvin.
"Maaf Bos. Keputusanku memang terkesan terburu-buru. Tapi aku melakukan ini demi putriku."
"Maksud kamu?!"
"Anda tidak mencintai putriku. Anda bahkan tidak menghendaki keturunan dari putriku. Jadi untuk apa aku tetap membiarkan Serena bersama Anda?"
"Apa?!"
Marvin heran. Kenapa pak Wandira bisa tahu? Siapa yang bercerita. Serenakah? Tapi Serena tidak pernah bertemu dengan pak Wandira. Ini aneh. Apa disisinya ada musuh dalam selimut?
"Jadi kapan aku bisa membawa putriku?
"Tutup omong kosong kamu Wandira!" Lalu Marvin menutup panggilan dan melempar ponselnya.
"Mau dia apa 'sih?!"
Lalu Serena melintas dan menatap heran ke arahnya.
"Kenapa?"
"Ti-tidak ada apa-apa. Kamu mau ke mana?" Malah balik bertanya.
"Mau ke depan, Pak Bos. Mau menunggu guru yang akan datang ke sini. Anda bilang ada jadwal sekolah di rumah, 'kan?"
"Tidak perlu ke depan. Kamu tetap di kamar. Biar saya saja yang menunggunya. Mulai hari ini, kamu jangan main-main di depan vila lagi. Kata Indri, kamu juga pernah main sepeda di depan vila ya? Mulai hari ini, jangan lagi." Sambil mendekat dan memeluk Serena.
"Lho, kenapa? Apa Anda mau menjadikanku seperti burung dalam sangkar?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Serena menghela napas. Lantas mengurai tangan Marvin yang melingkar di pinggangnya.
"Aku butuh bersosialisasi Pak Bos. Sesekali, aku juga harus keluar." Sambil cemberut.
"Begini saja, setelah jam pelajaran kamu selesai, malam ini kita jalan ya. Kamu mau ke mana? Mall? Bioskop? Ke restoran termahal di kota ini?" tawar Marvin.
"Sungguh? Kita mau pergi?" Dasar bocah, baru ditawari saja, mata Serena langsung berbinar-binar.
"Serius."
"Aku mau keliling kota saja Pak Bos. Dulu, saat aku masih kaya-raya, aku sering keliling ke pinggiran kota sambil membagikan paket makanan. Apa aku bisa melakukannya lagi?"
"Bisa."
"Terima kasih Pak Bos." Langsung inisiatif memeluk Marvin.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Kenapa Anda tidak semangat?" Serena menyadari mimik wajah Marvin yang tidak bersemangat.
"Saya baik-baik saja 'kok."
Padahal, pria itu sedang memikirkan ucapan pak Wandira. Tiba-tiba ada perasaan 'Tidak ingin melepaskan Serena pada siapapun. Sekalipun itu pada orangtuanya.'
...***...
Serena sudah selesai belajar. Saat ini, ia sedang bersiap untuk pergi. Marvin sudah sedari tadi menunggu Serena di ruang tamu. Tiba-tiba, ponselnya bedering. Ternyata, ada panggilan dari Hugo.
"Ya, kenapa?"
"Maaf menganggu, Pak Bos. Aku baru saja dapat panggilan dari dokter yang mengoperasi Nona Serena."
"Apa?! Kenapa dia menelepon kamu?!"
Marvin lupa kalau ia sendiri yang meminta Hugo pura-pura menjadi suami Serena pasca tragedi berdarah di dalam hotel.
"Haish, 'kan dokter tahunya aku suaminya Nona Serena, Pak Bos."
"Oiya ya. Saya lupa. Maaf. Ada apa katanya?"
"Dua hari lagi minggu ke tiga. Kata dokter, Nona Serena besok pagi sudah dijadwalkan untuk kontrol," jelas Hugo.
"A-apa?!" Marvin jadi gugup sebab jadi ingat kalau ia memiliki sebuah kuncup bunga yang sebentar lagi bisa dipetik.
"Halo?"
"Ya Hugo. Terima kasih informasinya."
...***...
_______
Ternyata, pak Wandira mendapatkan informasi tentang Marvin yang tidak menginginkan anak dari Serena berasal dari bu Putri.
Pria itu sedang melamun sambil memandang kerlipan lampu malam dari puncak ketinggian sebuah gedung yang berada di kota tersebut.
Pikirnya, dengan berpura-pura akan mengambil Serena, ia bisa memengaruhi Marvin untuk memanusiakan putrinya. Jujur, ia sangat menyayangi Serena. Memberikan Serena pada Marvin, adalah keputusan terberat yang terpaksa harus ia ambil demi tangguhan hutang dan demi melindungi Serena dari rival-rivalnya.
Sebab bukan sekali dua kali, rival ataupun rekan bisnis pak Wandira, sering meminta Serena untuk dijadikan wanita simpanan ataupun istri kedua. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan kepadanya ingin memiliki Serena untuk 'pemuas.'
"Serena, maafkan Papa," gumamnya. Lalu seorang pria asing mendekatinya.
"Mister Wandira. Aku mau bicara." Ia berbahasa asing.
"Ada apa?"
"Tuan Bill ingin bertemu dengan Anda."
"Untuk apa? Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan dia. Katakan saja, aku menolak."
"Mister Wandira punya anak gadis?"
"Apa?! Ya punya, tapi masih kecil."
"Lalu siapa Serena?"
"Apa?!" Pak Wandira terlonjak kaget.
"Kata Tuan Bill, Anda memiliki putri yang beranjak dewasa bernama Serena, dan Tuan Bill menginginkannya."
"Tidak bisa!"
Pak Wandira langsung meninggalkan pria itu. Hal yang ditakutkannya terjadi jua. Tuan Bill si maniak itu, akhirnya mengetahui Serena.
"Mister Wandira, akan lebih baik kalau Anda tetap menemuinya. Tuan Bill sangat sadis. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Nona Serena." Pria berkebangsaan asing itu menyusul pak Wandira.
"Sampai matipun, aku tidak akan memberikan Serena pada dia!" Pak Wandira tetap berlalu dan tidak memedulikannya.
"Mister Wandira! Tolong jangan cari malasah dengan Tuan Bill!"
"Aku bisa menanganinya! Kamu tidak perlu takut!"
...****...
_______
Setelah berkeliling ke pinggiran kota sambil membagikan paket nasi kotak, Serena dan Marvin pergi ke sebuah mall ternama. Mereka tentu saja menggunakan masker untuk mengikuti protokol kesehatan yang hingga saat ini masih diterapkan di beberapa negara, termasuk negara ini.
Serena dan Marvin saat ini tengah menonton film. Ternyata, Marvin dan Serena sama-sama menyukai film aksi dan perdetektifan. Hanya ada mereka di studio tersebut. Gila, Marvin menyewa satu studio.
"A -," keluh Serena. Ia jadi tidak fokus menonton karena ulah Marvin. Beberapa kali ia mengalihkan tangan Marvin dari tubuhnya, namun Marvin tidak bisa dicegah.
"Kenapa? Kamu mau nonton 'kan? Fokus ke layar dong." Pelakunya sama sekali tidak ada perasaan bersalah. Tangannya terus menelusup ke balik gaun Serena.
"Apa Anda selalu begini pada semua kekasih Anda?!" sentak Serena dan kembali berusaha menarik tangan Marvin.
"Tidak pernah, hanya sama kamu," tangannya sudah berhasil melepas sesuatu.
"Marvin!" Serena spontan memukul bahunya, dan Marvin langsung tertawa.
"Kalau tidak dipakai justru bagus untuk kesehatan, 'kan? Bisa melancarkan pernapasan," ocehnya.
"Tapi aku masih menonton! Bukan mau tidur! Percuma saja Anda bayar mahal-mahal tapi tidak ditonton!" Sambil mengarahkan kepala Marvin agar menghadap ke layar.
Sialnya, adegan yang ditunjukkan saat ini malah adegan dua puluh satu plus. Ya, film-film luar dengan genre action memang selalu menyelipkan adegan itu agar tontonan yang mereka sajikan semakin menarik. Marvin bengong, pun dengan Serena.
Walaupun yang ditayangkan tidak vulgar, tapi orang dewasa sudah bisa menebak kalau mereka sedang melakukan adegan 'Praktik membuat bayi.'
"Serena." Marvin memegang tangan Serena.
"Ke-kenapa?"
"Pulang yuk!" ajaknya.
"Pulang?! Filmnya baru setengah jalan Pak Bos? Penjahatnya belum dibunuh."
"Saya mau melakukan adegan yang tadi," bisiknya.
"A-apa?!"
Serena terkejut. Fix, Marvin selalu mesum saat berada di dekatnya. Itu berarti, ini bukan cinta, melainkan nafsu.
"Apa Anda selalu ingin mesum saat bersamaku?"
"Hal yang seperti itu tidak pantas untuk ditanyakan," jawabnya, dan Marvin benar-benar membawa Serena keluar dari studio.
_______
Sebenarnya, yang dirasakan Pak Bos apa ya? Nafsu? Cinta? Atau keduanya?
__ADS_1
...~Next~...