
Setiap orang pasti pernah mengalami rasa jatuh cinta. Begitupun dengan Serena. Namun ia memaknai perasaannya saat ini hanya sesuatu yang cenderung membuatnya gila, sebab perasaannya kali ini, sering mengalahkan logikanya.
Karena dengan bodohnya, rasa itu membuatnya berubah menjadi gadis nakal yang dengan sadar dan tanpa paksaan rela menyerahkan tubuhnya pada pria asing yang sebelumnya tidak pernah ia sangka-sangka.
Serena ternyata terbangun saat Marvin merebahkannya. Jadi, ketika Marvin mengatakan ia dan Clara sudah putus dan tidak akan menikah, Serena bisa mendengarnya. Serena terkejut sekaligus bingung. Sebab, ia tentu saja tidak tahu alasan Marvin mengakhirinya. Gadis itupun memilih pura-pura tidur.
Setelah mengatakannya, Marvin merenung. Jujur, ia dilema. Pikirnya, Nabi Adam saja yang seorang Nabi, bisa terusir dari surga karena godaan cinta. Dia tidak mendengar perintah Tuhannya untuk tidak mendekati sebuah pohon. Tapi demi cinta, Nabi Adam melanggar perintah tersebut dan mempersembahkan buah dari pohon terlarang itu pada Siti Hawa.
Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa ia memang telah tergoda oleh kemolekan dan segenap hal yang dimiliki oleh Serena? Apa perasaannya ini hanyalah napsu belaka yang sifatnya sesaat?
Di antara perasaan bingung itu, Marvin juga merasakan ada gelora yang mirip dengan asmara, dan ada desir rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, ada juga keinginan untuk selalu berjumpa dan bersama dengan Serena.
Sebagai orang dewasa, Marvin jelas memahami tentang cinta, namun karena di antara ia dan Serena ada sebuah prahara, Marvin berusaha untuk tidak terperangkap lebih jauh lagi.
Lalu kenapa ia memutuskan Clara?
Marvin menanggapinya sebagai ungkapan kekecewaan pada Clara dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberadaan Serena. Ia menghela napas, lantas kembali memeluk Serena dan mulai memejamkan matanya.
"Jangan pernah tebar pesona pada teman-teman pria lagi ya. Saya khawatir mereka ada niat jahat sama kamu. Saya bukan menuduh mereka. Saya hanya waspada," terangnya.
...***...
Ternyata, pergerakan di depan rumah berasal dari dua orang pria yang saat ini telah berada di pekarangan rumah Serena. Benar kata Rio, mereka memasuki rumah Serena melalui sebuah pohon yang letaknya berada di sisi pagar.
"Siapa kalian?!"
Ternyata, Edrick menginap dan berjaga di ruang tamu. Ia menyadari kedatangan dua orang ke rumah tersebut dari bayangan yang melintasi jendela kaca.
Kedua orang tersebut langsung menyerang Edrick. Edrick yang belum siap karena baru bangun tidur terlonjak kaget. Kedua tangan Edrick dicekal dan satu orang lagi memiting leher Endrick hingga ia tak bisa berkutik.
"To-tolong," seru Edrick. Maksud hati ingin meminta tolong pada Marvin.
Sayang seribu sayang, suaranya tak cukup kuat untuk bisa membangunkan Marvin. Edrick sebenarnya menguasai bela diri, namun orang yang menyerangnya sepertinya memiliki kemampuan bela diri yang jauh lebih mumpuni daripada Edrick. Ia kini telah terikat di tiang rumah dan bibirnya dibekap lakban.
Setelah berhasil mengatasi Edrick, dua orang yang memakai penutup wajah itu dengan mudahnya masuk ke dalam rumah. Kamar yang pertama didatangi adalah kamar bu Putri karena letaknya berada paling depan.
Salah satu dari mereka mengendap dan mengintip ke dalam kamar, sementara yang satunya terlihat sedang memantau situasi. Matanya mengitari rumah tersebut.
Setelah mengintip ke dalam, ia memberi kode ke temannya dengan cara menggelengkan kepalanya. Yang artinya, sosok yang berada di dalam kamar tersebut bukan target mereka.
Siapakah yang mereka cari? Serenakah?
Lalu teman yang diberi kode tersebut memastikan kembali. Ia mengintip ke kamar bu Putri dan mengangguk. Kemudian menggerakkan tangannya agar segera beralih ke kamar yang lain. Mereka beraksi tanpa menimbulkan suara.
Kini, kedua orang tersebut telah berada di depan kamar yang ditempati oleh Rio dan Via. Kamar tersebut pintunya terbuka sedikit. Jadi, mereka dengan mudahnya bisa melihat langsung ke dalam kamar.
Setelah melihat, mereka saling memandang dan menggelengkan kepala. Yakin, target mereka pasti bukan Rio ataupun Via. Siapa lagi kalau bukan Serena? Ya, target mereka adalah Serena, dan ada satu kamar lagi yang belum mereka cek. Segera ke sana. Ke kamar yang diduga ditempati Serena.
Salah satunya menyilangkan tangan lantaran menyadari jika kamar tersebut terkuci dari dalam.
"Bagaimana ini?"
Seperti itulah kira-kira arti bahasa isyarat yang mereka katakan. Lalu salah satunya mengeluarkan benda kecil dari tasnya. Benda tersebut adalah drone super kecil yang dipastikan akan digunakan untuk memantau kondisi di dalam kamar.
Ternyata mereka menggunakan mikro drone. Benda tersebut kemudian terbang dan memasuki loster kamar Serena. Lalu hasil proyeksinya terhubung pada kamera ponsel yang saat ini sedang mereka amati.
"A-apa?!"
Sontak keduanya terkejut hingga memundurkan kakinya setelah melihat hasil rekaman dari dalam kamar. Mereka saling memandang, menutup mulutnya dan membelalakan mata. Tanpa menimbulkan suara, bibir keduanya berucap, "Pak Bos?!"
Ini benar-benar sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan.
"Cepat!" ajak salah satunya.
Mereka segera meninggalkan rumah Serena setelah berhasil mengambil kembali mikro drone.
Edrick yang kelelahan karena sedari tadi berusaha melepaskan diri, hanya bisa melongo saat melihat dua orang yang menyekapnya keluar dari rumah tanpa membawa apapun.
Mereka bahkan melepas ikatan dan plester di mulut Edrick. Namun saat Edrick hendak beteriak, salah satu dari mereka menodongkan senjata dan memelototinya.
Edrick pun bungkam dan membiarkan mereka pergi tanpa beteriak apa lagi melakukan perlawanan.
...***...
_______
"Kok bisa Pak Bos ada di sana?! Gila! Ini benar-benar tidak masuk akal!"
Setelah berhasil keluar dari rumah Serena dan berada di dalam mobil, mereka segera melakukan jejak pendapat tentang temuan tersebut.
"Sudahlah, ayo kita cepat laporkan pada Bos Besar," ajak temannya sambil melepas penutup wajahnya.
Ternyata, di balik penutup wajah tersebut, ada wajah-wajah sedap dipandang yang sama sekali tidak menakutkan.
"Yang tadi kita sekap itu siapa 'sih? Hugo apa Boy ya?"
"Aku yakin dia Rian," jawab temannya. Rupanya, mereka belum mengenali Edrick.
...***...
_______
"Apa katamu?! Marvin ada di dalam kamar?!"
Pak Jacob tidak memercayai laporan anak buahnya.
"Kami tidak salah lihat Bos Besar. Itu memang Pak Bos. Tapi kami mohon maaf karena belum sempat menyimpan rekamannya."
"Halah! Dasar bodoh!" sentak pak Jacob sambil melipat tangan di dadanya. Dugaannya selama ini ternyata tidak meleset. Putra semata wayangnya tidak bisa diandalkan.
"Bisa-bisanya dia membohongiku!" geramnya.
"Kami tidak mungkin membohongi Bos Besar. Lagi pula, kami sudah mengenal Pak Bos sejak lama. Jadi kami sangat yakin kalau pria yang di dalam kamar gadis itu adalah Pak Bos."
"Apa yang dia lakukan?! Kalian melihat mereka tidur bersama?! Maksudku apa mereka sedang ...?"
Pak Jacob melanjutkan kalimatnya dengan sebuah gerakan tangan, dan anak buahnya langsung memahami.
"Tidak Bos, Pak Bos hanya memeluknya. Hanya itu yang kami lihat."
"Baik, terima kasih informasinya. Kalian boleh pergi."
"Baik, terima kasih Bos Besar." Mereka undur diri.
Setelah anak buahnya pergi, pak Jacob segera menelepon Marvin untuk membuktikan ucapan anak buahnya sekaligus menguji kesetiaan putranya. Jika Marvin terbukti mengkhianatinya, ia berpikir tidak bisa memaafkan Marvin.
__ADS_1
Sekalipun Marvin adalah putranya, pengkhianat tetaplah pengkhianat!
Faktanya, prinsip hidup mafia masih tertanam di dalam jiwanya. Pak Jacob masih memegang erat peraturan yang harus dipegang oleh mafia. Karena menurutnya peraturan tersebut bernilai positif, ia lantas menerapkan peraturan tersebut pada Marvin.
Peraturan tersebut antara lain, tidak boleh menyentuh wanita milik rekan sesama mafia, tidak mengeksploitasi wanita bayaran, tidak membunuh kecuali memang diperlukan, tidak membocorkan informasi apapun kepada polisi, tidak bertengkar atau berkhianat satu sama lain, mempertahankan perilaku yang benar, dan setumpuk peraturan lainnya.
Sampai di dering keempat, Marvin belum menerima panggilannya.
"Marviiin," geramnya.
Ia mengakhiri panggilan, lalu menelepon ulang, dan putranya tersebut lagi-lagi tidak menerima panggilannya. Namun beberapa menit kemudian, Marvin menghubunginya.
"Hallo Papa, ada apa?" Suara Marvin terdengar khas bangun tidur.
"Kamu di mana?" To the point.
"Di rumah," jawabnya.
"Di rumah mana?" Sangat penasaran dengan jawaban putranya.
"Saya membeli rumah di daerah yang dekat dengan vila," jelasnya. Marvin ternyata tidak membohonginya.
"Untuk apa? Kenapa kamu tidak tinggal di vila saja?"
"Investasi," jawab Marvin singkat.
"Baik, boleh 'kan kalau Papa sesekali berkunjung ke sana?"
"Sering juga boleh Pa. Papa jujur saja. Kenapa menelepon malam-malam?"
"Papa baru saja bermimpi kalau kamu mengkhianati Papa."
Pak Jacob sengaja berkata demikian agar putranya berpikir. Ia berencana tidak akan menggertak Marvin secara langsung, pak Jacob akan melihat dulu seberapa jauh putranya itu mengkhianatinya.
"A-apa?"
Marvin seolah sedang menelaah penuturan pak Jacob.
"Ya sudah, ini masih jam tiga pagi. Silahkan kamu lanjutkan tidurnya. Maaf sudah ganggu kamu, dan semoga tidak mengganggu kesenangan kamu!"
Nada bicara pak Jacob terdengar tegas. Ya, faktanya ia memang sedang marah pada Marvin. Hal yang paling membuatnya marah adalah, kenapa Marvin bisa berada di dalam satu kamar bersama Serena? Bukankah putranya itu anak baik?
"Emm, Papa juga istirahat lagi ya. Sehat selalu Papa," timpal Marvin. Lalu mengakhir panggilan.
Pak Jacob menghela napas. Sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada putranya.
...***...
_______
"Pak Bos?"
Serena bangun saat menyadari Marvin sudah bangun dan duduk di sisi tempat tidur.
"Masih jam tiga pagi, tidur lagi," titah Marvin.
"Terus, Pak Bos kenapa bangun?"
"Tidak ada apa-apa."
"Saya tidak apa-apa." Sambil menoleh dan mencubit pipi Serena.
"Kenapa tidak tidur lagi?" Sambil menyandarkan kepalanya di bahu Marvin.
"Sebenarnya, saya mau pulang."
"A-apa? Pulang sekarang?"
"Kamu keberatan?"
"Ti-tidak. Silahkan," jawab Serena.
"Saya siap-siap dulu."
Marvin beranjak. Serena menatapnya dan merasa bingung. Tiba-tiba ada perasaan tidak ingin ditinggalkan. Tapi kenapa juga ada perasaan itu? Mau pulang sekarang atau tidak, itu 'kan haknya Marvin. Lantas Serena kembali ke balik selimut dan memerhatikan Marvin yang sedang bersiap.
"Saya sepertinya tidak akan sering-sering ke sini lagi."
"Kenapa? Mau mempersiapkan pernikahan?" tanya Serena.
"Sok tahu," sahut Marvin. Kali ini, pria itu terlihat tidak bersemangat.
"Saya pergi ya." Marvin telah selesai bersiap. Ia berdiri sejenak dan menatap Serena.
"Ya sudah, dah."
Hanya itu yang dikatakan Serena tanpa menghampiri Marvin. Marvin mengulum senyum. Bisa-bisanya ia baru saja berharap jika Serena akan bangun dan menyalaminya.
"Saya pergi." Marvin membalikan badan dan berlalu.
"Pak Bos," panggil Serena. Gadis itu ternyata menyusul.
"Ya." Marvin membalikan tubuhnya.
"Emm, ka-kapan ke sini lagi?" tanyanya, dan pipi Serena langsung merona setelah mengatakan kalimat tersebut.
"Kenapa? Apa kamu ingin saya ke sini tiap hari?"
"Ti-tidak." Jadi gugup. Bodoh! Serena merutuki dirinya. Kenapa ia harus bertanya begitu 'sih?
"Kalau kamu meminta saya ke sini, saya akan ke sini. Kalau tidak, ya ... saya pikir-pikir lagi." Marvin segera membuka kuci pintu, lalu ia dan Serena terkejut karena di depan pintu kamar sudah ada Edrick.
"Edrick?!" Marvin keheranan. Pun dengan Serena.
"Pak Bos, tadi ada yang ke sini dan menyekapku!"
"Apa?!" Serena dan Marvin terkejut.
"Ya Pak Bos! Aku baru melapor karena tidak berani mengganggu Anda! Lagi pula, penjahatnya sudah pergi!"
"Edrick! Tenangkan dirimu!" tegas Marvin sambil menarik tangan Edrick dan membawanya ke ruang tamu.
...***...
"Jelaskan dengan tenang kronologisnya! Kalau kamu lemah seperti ini, kamu tidak layak berjaga di sini! Lebih baik saya mengganti kamu dengan yang lain!" tandas Marvin.
__ADS_1
Sementara Serena, ia segera berlari untuk mengecek keadaan mama dan adik-adiknya. Serena merasa lega setelah mengetahui jika mereka baik-baik saja dan masih terlelap. Serena berlari kembali ke hadapan Marvin dengan tergopoh-gopoh.
"Kamu payah, Edrick!"
Marvin sedang mencengkram kerah baju Edrick dengan gigi gemeretak dan mata memerah. Sementara bibir Edrick terlihat sudah pecah dan mengeluarkan darah. Saat Serena pergi, Marvin ternyata menghajar Edrick.
"Maafkan aku Pak Bos."
"Kenapa Anda melukai dia?! Mama dan adik-adikku baik-baik saja! Pak Bos, aku merasa keberadaanku di sini bisa mengancam keselamatan mama dan adik-adikku! Aku ingin pergi dari sini!" Mata Serena berkaca-kaca.
"Karena dia tidak hati-hati Serena!" Marvin masih emosi.
"Baik, kita pergi dari sini." Sambil memeluk Serena.
"Ada apa ini?" Bu Putri datang.
"Mama," Serena beralih ke pelukan bu Putri.
"Kenapa sayang? Lho, Pak Edrick kenapa?" Bu Putri kaget melihat bibir Edrick berdarah.
"Mama, huks. Ta-tadi ada yang masuk ke rumah kita lagi. Tapi mereka tidak mengambil apapun. Hanya menyekap Edrick," jelas Serena. Bu Putri terkejut, tapi ia berpikir jika orang yang menyekap Edrick adalah orang-orang suaminya.
"Saya akan membawa Serena dari sini." Marvin menarik tangan Serena dari dekapan bu Putri.
"Saya mohon jangan Pak Bos, biarkan Serena tetap bersama saya. Saya ingin melihat perkembangan dia, dia masih kecil dan belum bisa apa-apa. Izinkan saya mendidiknya lebih lama lagi," pinta bu Putri dengan linangan air mata yang sudah mengaliri pipinya.
"Maafkan aku Mama, untuk sementara waktu, aku memang tidak bisa tinggal bersama Mama. Aku merasa mereka sedang mengincarku."
"Apa?! Mengincar kamu?! Pak Bos, kenapa Eren bisa berpikiran seperti itu?! Kalau Eren tidak aman, bagaimana bisa saya merelakan putri saya untuk Anda?! Tolong jelaskan, sebenarnya ada apa Pak Bos?!" teriak bu Putri.
"Ya ampun! Pagi-pagi buta sudah ribut! Ada apa 'sih?!" Rio tiba. Ia datang dengan wajah ditekuk. Pasti merasa terganggu dengan keributan tersebut.
"Rio, ini urusan orang dewasa. Kamu ke kamar lagi ya," bujuk bu Putri.
"Tidak bisa Ma. Rio harus andil. Rio juga punya tanggung jawab untuk keberlangsungan keluarga ini," serunya.
Marvin dan Edrick saling menatap. Edrick yang paling terkejut. Ya, ia belum tahu dengan karakter Rio yang pembawaannya seperti orang dewasa.
"Rio, Kakak harus pergi dari sini." Serena memegang bahu Rio.
"Bagus, pergi saja Kak. Dengan Kakak tidak di sini, Mama juga jadi tidak terlalu repot," ungkapnya.
"A-apa?!" Serena tidak menyangka Rio akan bicara demikian.
"Kalau sudah menikah, alangkah baiknya memang ikut suami, Kak. Rio izinkan Kakak pergi. Dan untuk Mama, tolong jangan mencegah Kak Eren pergi. Masih ada aku dan Via yang bisa Mama urus. Dari segi usia dan keadaan, Kak Eren memang bukan tanggung jawab Mama lagi. Dosa-dosa Kak Eren pun tidak akan dipertanyakan pada Mama lagi, melainkan pada suaminya," tegas Rio seraya menepis tangan Serena.
"Ri-Rio," Serena bengong, pun dengan yang lainnya.
"Rio masih ngantuk. Mau tidur lagi. Silahkan lanjutkan perdebatannya, tapi jangan sampai ada suara keributan dan membuat Via terbangun. Oiya, untuk Kak Marvin, tolong agar lebih peka dan lebih tegas lagi dalam memaknai hidup. Kak Marvin sejatinya punya tujuan hidup yang harus diperjuangkan bukan?" lanjut Rio seraya berlalu sambil melambaikan tangannya. Marvin tertegun.
"Ya sudah, kalau memang Anda akan membawa Eren lagi, si-silahkan," bu Putri akhirnya mengizinkan.
"Aku akan sering-sering menghubungi Mama." Serena merangkul bu Putri dan menangis. Jadilah keduanya menangis seraya berpelukan.
"Tolong jaga putriku Pak Bos. Eren, kamu juga harus bekerja keras supaya tidak menyulitkan Pak Bos. Mama tidak peduli akan seperti apa pernikahan kalian untuk ke depannya, tapi Mama selalu berharap agar Pak Bos dan kamu selalu dalam keadan sehat, aman dan baik-baik saja." Bu Putri mengusap rambut Serena, lalu meraih tangan Marvin dan dipertemukan dengan tangan Serena.
"Mama," lirih Serena.
"Pencapaian terbesar seorang ibu adalah mengantarkan anaknya menikah. Tapi Mama tidak menyangka jika pernikahan kamu akan seperti ini. Harusnya, setiap ibu pasti akan merasa bahagia atas pernikahan anak-anaknya. Namun yang Mama rasakan malah sebaliknya. Mama sedih dengan pernikahan ini karena pernikahan kalian dibayang-bayangi oleh perjanjian hutang-piutang dan konflik di masa lalu."
"Pernikahan anak harusnya menjadi puncak kesuksesan dari seorang ibu, tapi pernikahan ini malah menjadi salah satu pemicu kesepian dan kesedihan di hati saya, dan saya tidak ingin kesepian dan kesedihan itu turut dirasakan oleh Eren. Pak Bos ...." Bu Putri menangkup tangan Marvin dan Serena.
"Tolong bimbing Serena, tolong jaga Serena, dan tolong jangan menyakiti perasannya. Dia masih kecil dan belum banyak tahu tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Yang dia hanya tahu makan enak, belajar dan tidur," harapnya pada Marvin.
Marvin tidak mengiyakan, tidak pula memberi penolakan. Pria bertubuh proporsional dan berparas tampan itu hanya menanggapi pesan bu Putri dengan senyuman.
"Saya dan Serena akan pergi malam ini juga. Ibu tidak perlu khawatir," ucap Marvin.
Lalu ia menyalami bu Putri dan berlalu ke kamar Serena untuk merapikan barang-barang Serena. Serena dan bu Putri kembali berpelukan tanpa mengatakan kalimat apapun.
...***...
_______
"Kita akan ke mana?" tanya Serena saat ia dan Marvin telah berada di dalam mobil. Sementara Edrick tetap di rumah bersama bu Putri untuk berjaga jaga.
"Ke vila," jawab Marvin.
...***...
_______
"Pak Bos?! Nona Serena?!"
Indri yang berada di vila terkejut dengan kedatangan Marvin dan Serena.
"Indri, ada sia ---?"
Clara yang menyusul keluar langsung mematung seketika. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Marvin membawa Serena. Kekasihnya itu bahkan merangkul bahu Serena, dan Clara tahu benar jika jaket yang saat ini digunakan oleh Serena adalah jaket milik Marvin pemberian darinya saat Marvin berulang tahun yang ke-27.
Serena dan Marvinpun terkejut. Indri sebenarnya telah mengirim pesan pada Marvin kalau Clara ada di vila. Namun sepertinya, Marvin belum sempat membukanya.
"Dasar SAMPAH!"
Clara berlari dan menampar pipi Serena tanpa bisa dicegah karena gerakannya sangat cepat dan tidak diduga.
"Clara!"
"Nona Clara!
Seru Marvin dan Indri bersamaan.
Sementra Serena, gadis itu hanya bisa memegang pipinya dan menangis.
"Kamu tidak berhak menyakiti Serena!" teriak Marvin. Lantas meraih Serena dan mengelus pipinya yang memerah. Mata Clara mendelik. Ia tidak menyangka jika Marvin tega menyakiti dan meduakannya secara terang-terangan.
"Dasar tidak tahu diri!"
Clara akan menyerang Serena. Namun tangannya ditahan oleh Indri.
_______
Waduh, Marvin dan Serena terciduk.
...~Next~...
__ADS_1