
Belvina ternyata sangat ahli. Ia pandai melakukan manuver saat mengemudikan speed boat.
"Satu kilometer lagi kita sampai. Semoga istri Anda tertolong. Dia terlihat sangat muda. Seharusnya jangan hamil dulu. Usia minimal untuk hamil itu 20 tahun," ujar Belivina.
"Kamu tidak berhak menyalahkan kehamilannya! Kamu tidak tahu bagaimana dia bisa hamil dan bagaimana saya dan dia melewati semua ini!" Di tengah kepanikannya, Marvin protes pada Belvina. Pikirnya, Belvina tidak berhak melakukan penilaian sebelum mengetahui duduk perkaranya.
"Maaf. Kita sudah sampai."
Belvina menepikan speed boat, di sana sudah ada lima orang pria dan sebuah mobil mewah tipe SUV. Marvin sigap membopong Serena yang sepertinya telah kehilangan kesadarannya. Kemeja putih Marvin dipenuhi darah, dan lima orang pria yang menyambut langsung membulatkan mata setelah mengetahui jika pria yang sedang membawa seorang gadis berlumuran darah itu adalah sosok yang mereka kenali. Sayangnya, Marvin tidak mengenali mereka.
"Serena! Kamu akan segera ditolong!"
Marvin membawa Serena sambil berlari diikuti oleh Hendrik.
"Nona Vina, apa Nona tahu siapa pria itu?" tanya salah satu dari mereka dengan suara pelan sambil menatap pada Marvin dan Hendrik yang saat ini telah berada di dalam mobil.
"Siapapun dia, bahkan binatang sekalipun, kalau membutuhkan bantuan, pasti akan aku tolong," ketus Belvina sambil menyusul Marvin dan Hendrik.
"Nona mungkin belum mengenalinya, apa perlu kami jelaskan?" tanyanya lagi.
"Tidak perlu! Terima kasih atas bantuan kalian! Oiya, tolong bersihkan speed boatnya. Maksudnya pasti ingin membersihkan speed boat dari darah milik Serena.
"Baik Nona." Mereka jelas tidak bisa membantah.
"Harusnya kamu membawa mobil ambulance! Kenapa membawa mobil ini?!" protes Belvina pada sopirnya.
"Maaf Nona, kalau kami membawa ambulance, prosesnya akan lama karena harus izin pada Tuan Bill dulu," jelas pak sopir. Lagi-lagi nama Bill disebut. Hendrik kembali terkejut, sedangkan Marvin ia tetap tidak peduli. Saat ini, yang ia memperhatikan hanya Serena.
Beruntung, jalanan lenggang. Lagi pula, di daerah ini jarang terjadi kemacetan. Hingga akhirnya, merekapun sampai di rumah sakit yang dituju.
__ADS_1
Hendrik hanya bisa menghela napas saat ia menyadari jika rumah sakit tersebut adalah rumah sakit non pemerintah yang saham terbesarnya dikuasai oleh keluarga Marvin. Jika saja Marvin menyadari hal itu, ia pasti menolak dibawa ke rumah sakit ini. Namun untuk saat ini, keselamatan Serena lebih penting dari segalanya .
"Tolong selamatkan istri saya, Dokter!" pinta Marvin saat beberapa orang perawat unit gawat darurat dan dua orang dokter jaga menyambut kedatangan mereka.
"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Bapak tenang dulu, dan tolong tunggu di luar," jelas dokter. Sementara tangannya, sibuk memeriksa tanda-tanda vital Serena.
"Saya ingin mendampinginya, Dok!" teriak Marvin saat Serena telah berada di brankar dan didorong ke ruang IGD.
"Ya Pak, nanti kami kabari lagi setelah Anda atau wali pasien diperbolehkan masuk." Kali ini perawat yang menjelaskan. Dokter dan perawat tersebut sepertinya tidak tahu kalau pria yang sedang berkomunikasi dengan mereka adalah putra dari salah satu pemilik rumah sakit ini.
"Siapa nama pasiennya? Kami butuh kartu identitas milik pasien dan walinya."
"Serena, namanya Serena. Saya suaminya, nama saya Marvin. Pasiennya belum mengurus kartu identitas Bu, dia baru lulus sekolah," jelas Marvin pada petugas lain yang mendatangi mereka. Lalu Hendrik menyerahkan kartu identitas milik Marvin yang berada di dalam tasnya.
"Baik, Pak. Silahkan menunggu dulu," pinta petugas tersebut.
"Pak Bos, mari kita duduk di ruang tunggu," ajak Hendrik. Ia menggandeng Marvin menuju ruang tunggu.
"Pak Bos, Nona Serena pasti baik-baik saja." Hendrik kembali menenangkan.
"Aku tidak tahu kejadiannya seperti apa. Tapi alangkah baiknya kalau kalian tidak kabur bersama ibu hamil," timpal Belvina.
"Kamu?!" Marvin emosi. Namun ia menahan diri karena tahu jika saat ini mereka sedang berada di rumah sakit.
"Nona Belvina, baiknya Anda tidak berkomentar." Hendrik melakukan gerakan merisleting mulutnya. Belvina membalas ucapan Hendrik dengan senyuman kecut.
"Ya Tuhan. Oiya, minta nomor rekening Nona, aku mau kirim uang sebagai ucapan terima kasih karena Nona Vina sudah membantu kami," lanjut Hendrik.
"Tadinya aku mau minta bayaran seratus juta, tapi karena aku ikhlas menolong ibu hamil yang masih muda itu, aku tidak butuh imbalan apapun," jawab Belvina.
__ADS_1
"Terima kasih," sahut Marvin yang wajahnya kian murung. Ia beberapa kali bangkit dari tempat duduknya dan mondar-mondir kesana-kemari.
"Keluarga Nona Serena."
Karena masih muda, Serena tetap dipanggil nona. Padahal, sebelumnya Marvin telah menjelaskan jika ia adalah suaminya Serena.
"Sa-saya," sahut Marvin. Ia segera berlari menuju petugas yang memanggil disusul oleh Hendrik dan Belvina.
"Pak, Nona Serena membutuhkan transfusi darah segera. Kadar Hb-nya hanya 6 gram persen. Golongan darahnya AB dan kebetulan stock golongan darah AB di bank darah kami sedang kosong," jelas petugas tersebut.
"Apa?! Tolong usahakan ada Dok! Bagaimanapun caranya pokoknya harus ada! Masalah biaya, saya bisa membayar berapapun asalkan istri saya selamat!" ratap Marvin. Ia tampak putus asa.
"Ini bukan masalah biaya, Pak. Masalahnya adalah ketiadaan stock."
"Saya golongan darah A, Dok. Apa saya bisa tetap mendonor dan ditukar dengan golongan darah AB?" Marvin bahkan memegang tangan petugas tersebut.
"Bapak coba ke bank darah saja."
"Golongan darah aku A, tapi semalam aku kurang tidur Dok, apa masih mendonor?" tanya Hendrik.
"Maaf, kalau kurang istirahat tidak bisa Pak."
"Di mana letak bank darahnya? Darahku AB."
Ucapan Belvina membuat Marvin dan Hendrik terkejut sekaligus bahagia.
"Hallo, Kak Bill. Aku minta tolong agar karyawan kakak yang memiliki golongan darah AB segera datang ke rumah sakit Royal Family. Ada pasien yang sangat membutuhkan golongan darah AB," kata Belvina. Ia berlalu menuju bank darah sambil menelepon seseorang yang dipanggilnya kak Bill. Hendrik menyusul Belvina untuk mendampingi dan berterima kasih.
Sementara Marvin, setelah sadar jika ini adalah rumah sakit Royal Family, langsung mendudukkan dirinya. Ini adalah rumah sakit milik papanya. Cepat atau lambat, keberadaannya di rumah sakit ini pasti akan terendus jua. Marvin memijat keningnya. Dalam kondisi ini, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali pasrah menghadapi kemungkinan jika dirinya akan ditangkap oleh sang papa dan dipisahkan dari Serena.
__ADS_1
...~Next~...