
Marvin berjalan cepat menguntit pelayan yang akan menunjukkan kamar Serena. Suasana menegang seketika. Para pelayan khawatir dengan keadaan pelayan baru tersebut.
"Ma-maaf Pak Bos, biar saya saja yang menanganinya." Manda mendahului dan berdiri di depan pintu kamar yang ditempati Serena.
"Saya harus tahu alasannya tidur di jam segini. Apa benar kamu yang menyuruhnya tidur? Atau dia memang pemalas," tegas Marvin.
Ia bersikukuh. Pikirnya, tidak mungkin Manda menyuruh pelayan baru tidur di jam delapan malam. Sebab jika merujuk pada aturan, jam tidur pelayan adalah jam sepuluh.
"Serena!"
Manda memanggilnya. Saat ini, kamar Serena telah dikelilingi para pelayan. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Serena! Cepat buka pintunya. Ada Pak Bos," Manda beteriak lagi. Ia meminta Serena membuka pintu kamar. Padahal, Serena dikunci dari luar. Tetap tidak ada jawaban.
Apa dia tidur seperti mayat? Batin Marvin. Kali ini, ia menduga jika Serena sedang tidur.
"Maaf Pak Bos, Serena sepertinya sudah tidur. Saran saya, Anda lanjutkan makan malamnya," ujar Manda sambil menunduk karena tidak ingin aura kebohongannya diketahui oleh Marvin. Marvin terdiam sejenak.
"Serena," pria itu mencoba memanggil Serena. Apa yang dilakukan Marvin membuat para pelayan tercengang.
"Serena! Buka pintunya! Atau pintunya akan saya dobrak!" teriak Marvin saat sadar jika cara ia memanggil Serena terdengar lembut. Manda menyembunyikan senyum sinisnya, ia yakin Marvin ada di pihaknya dan tidak akan membela Serena.
"Dia pemalas, Pak Bos. Dia juga tidak bisa diandalkan," tambah Manda.
"Ya sudah, suruh dia menghadap saya besok pagi." Marvin berbalik badan.
"Hufth." Para pelayan merasa lega. Mereka berbalik badan sambil mengusap dada. Namun ....
'Buk-buk.'
Terdengar suara pintu kamar ditendang sebanyak dua kali. Marvin berbalik. Begitupun dengan yang lain.
"Suara apa itu?!" Marvin menatap pintu kamar.
"Mu-mungkin ada sesuatu yang terjatuh Pak Bos," jawab Manda gugup. Karena ia pribadi sangat yakin jika suara itu berasal dari dalam kamar Serena.
'Buk.'
Terdengar lagi. Kali ini jelas tidak bisa dibantah. Marvinpun yakin jika suara itu berasal dari dalam kamar.
"Cepat ambil kunci duplikatnya!" titah Marvin.
"Ta-tapi Pak Bos ---."
"Manda!" teriak Marvin. Ia jelas marah saat perintahnya dibantah.
"Ba-baik Pak Bos."
Manda berlari mengambil kunci duplikat. Padahal, kunci kamar Serena ada di saku Ratih yang saat ini sedang menenangkan diri agar tidak terlihat panik di hadapan Marvin.
"I-ini kuncinya Pak Bos."
Manda tiba dengan wajah sedikit memucat. Ia takut perundungannya pada Serena diketahui Marvin dan Pak Bos Marvin akan murka.
Tidak! Pak Bos Marvin tidak akan murka. Sebab, sikap Serena memang keterlaluan. Manda akhirnya memiliki alibi kuat yang nantinya akan digunakan untuk membela diri.
"Cepat!" Marvin tidak sabaran. Ingin segera membuka kamar Serena.
'Klak,' pintu terbuka. Semua mata tertuju pada sosok di balik pintu dengan perasaannya masing-masing.
"Serena!"
Marvin spontan masuk ke dalam kamar dan memeriksa Serena yang tergeletak lemas di lantai. Wajah Serena memucat dan bekeringat. Pipinya memerah, dan ada tetesan darah yang mengering di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Serena?!"
Marvin nyaris merangkul Serena, namun ia sadar diri jika gadis itu hanyalah gadis sitaan, putri dari seorang pria serakah yang telah membuat perusahaannya hampir bangkrut.
"Cepat bawa dia ke klinik! Kenapa kalian diam saja?!" teriak Marvin.
"Ba-baik, Pak Bos."
Tiga orang pelayan segera membopong tubuh Serena, mereka akan membawa Serena ke klinik pribadi milik Marvin yang letaknya bersampingan dengan unit apartemen Marvin.
"Pak Bos," lirih Serena.
Ia menatap Marvin sekilas saat tubuhnya dibopong pelayan. Untung saja gadis itu masih memiliki kekuatan untuk menendang pintu, jika tidak, nasibnya mungkin lebih buruk lagi.
Tadi, saat Serena menyadari ada orang yang mendatangi kamarnya, ia berusaha beteriak meminta tolong. Namun kondisinya yang dehidrasi, membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara.
Lalu Serena mencari akal agar mendapat pertolongan. Hingga tercetuslah ide menendang pintu. Dengan susah-payah, gadis itu mencapai pintu dan berhasil. Sekarang, tubuhnya benar-benar lemas. Sosok Marvin yang tengah menatapnya perlahan memudar. Tergantikan oleh kegelapan. Serena, gadis itu kembali pingsan untuk yang kedua kalinya.
...***...
Fathir, dia adalah sahabat Marvin yang bekerja di klinik milik Marvin. Dokter yang usianya sama dengan Marvin itu sedang meminum kopi saat tiba-tiba ponselnya menyala.
"Ada apa, Pak Bos? Tidak biasanya telepon jam segini? Jangan bilang kalau Anda butuh obat tidur lagi," kata Fathir sambil cengengesan dan memperlihatkan gigi kelincinya.
"Ada pekerja baru yang pingsan! Tangani dengan baik!" jelas Marvin. Suara Marvin yang kencang membuat Fathir harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Eh, kencang benar. Bos, aku tidak tuli. Tidak perlu teriak-teriak," protes Fathir.
"Pak Bos? Ya ampun."
Fathir kesal sendiri karena Marvin mengakhiri panggilan secara sepihak. Lalu menggaruk kepalanya lantaran merasa janggal dengan sikap Marvin. Pikirnya, tidak biasanya Marvin memedulikan seorang pelayan.
Fathir hendak menelepon Marvin, namun pintu klinik terbuka. Mata Fathir langsung tertuju pada sosok yang dibopong tiga orang pelayan.
"Baik."
Fathir bergegas, ia segera menjalankan tugasnya sebagai dokter. Karena asistennya sedang keluar, ia menangani Serena seorang diri. Serena diinfus, bibirnya yang berdarah dibersihkan, dan pipinya yang memerah diolesi salep anti memar.
Pantas saja Marvin peduli. Pelayan muda ini sangat cantik. Dia tidak seperti pelayan pada umumnya. Siapa gadis ini?
Fathir menatap wajah Serena yang menurutnya sangat elok. Jantung Fathir bahkan berdebar saat ia memeriksa detak jantung dan pernapasan Serena.
"Apa ada kartu identitasnya? Aku butuh kartu identitasnya untuk data," pinta Fathir pada Ratih.
"Aku tidak tahu, Dok. Mungkin harus meminta pada bu Manda."
"Ya sudah, datanya bisa menyusul. Oiya, siapa namanya? Sejak kapan dia bekerja untuk Pak Bos?" Fathir jadi penasaran pada sosok Serena.
"Namanya Serena, Dok. Dia direkrut langsung oleh Pak Bos. Baru bekerja hari ini," jelas Ratih.
"Direkrut langsung?"
"Ya Dok."
"Oh, begitu rupanya. Emm, kenapa dia bisa pingsan? Maksudku, kenapa dia pingsan dan dehidarasi? Aku juga menemukan ada bekas kekerasan fisik di bibir dan pipinya. Apa kalian tahu kenapa?"
"Kami tidak tahu Dok," sahut Ratih. Lalu ia mengajak kedua temannya untuk keluar dari klinik.
"Eh, tunggu. Siapa yang akan menemaninya?"
"Tidak ada, Dok. Permisi."
Mereka benar-benar pergi. Fathir melongo. Karena masih baru, ia menyimpulkan jika gadis bernama Serena itu belum memiliki teman. Tapi kenapa pelayan cantik itu bisa seperti ini? Pertanyaan itu membuat Fathir segera menelepon Marvin untuk menanyakan hal-hal yang ingin ia ketahui.
__ADS_1
Namun Marvin sudah terlebih dahulu meneleponnya.
"Halo Fathir."
"Ya, Pak Bos."
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia sedang tidur. Sudah aku infus. Lukanya juga sudah diobati."
"Syukurlah."
"Pantas saja Pak Bos peduli. Ternyata dia sangat cantik, hehehe." Fathir bicara pelan agar Serena tidak mendengarnya.
"Apa katamu?!"
"Dia sangat cantik, mulus, berkilau, dan seksi," bisin Fathir.
"Dasar dokter gadungan!"
"Tapi Pak Bos, faktanya memang seperti itu."
"Cukup, Fathir! Saya tidak suka kamu memuji dia! Aku menelepon karena ingin tahu keadaannya! Cepat jelaskan!"
"Baiklah, akan kujelaskan. Serena mengalami dehidrasi. Aku juga menemukan ada tanda-tanda kekerasan fisik di pipi dan bibirnya," jelas Fathir.
"Apa?! Kamu bilang kekerasan fisik? Apa kamu tidak salah mendiagnosa?!"
"Aku yakin Pak Bos. Kalau aku boleh memberi saran, Pak Bos harus menyelidikinya. Aku khawatir gadis itu dirundung. Perasaan, baru kali ini ada kasus pegawai baru jatuh pingsan karena dehidrasi. Aku juga tidak mendengar bising ususnya. Itu berarti Serena tidak mendapatkan makanan apapun dalam waktu lebih dari 12 jam. Ya pantas saja kalau dia pingsan."
"A-apa?!"
"Ya Pak Bos. Aku dokter. Aku tidak mungkin mengada-ada hasil pemeriksaan." Lalu Fathir melihat Serena menggerakan tubuhnya.
"Pak Bos, kita akhiri panggilannya ya. Serena sudah bangun. Aku harus menyapanya."
"Menyapa katamu?! Untuk apa kamu menyapa dia?! Jika dia sudah baikan, suruh dia agar cepat kembali kamarnya!"
"Pak Bos, dia tidak ada yang menemani. Pelayan yang membawanya sudah pergi sedari tadi. Izinkan aku menemaninya." Saat Serena melirik pada Fathir, Fathir spontan menutup telepon.
...***...
"Fathir! Kurang ajar! Beraninya dia menutup telepon dari saya!" Marvin kesal. Di kamarnya, ia mondar-mondar dan gelisah.
"Serena mengalami dehidrasi. Aku juga menemukan ada tanda-tanda kekerasan fisik di pipi dan bibirnya."
Penjelasan Fathir membuat Marvin memijat keningnya. Lalu bayangan tubuh Serena yang basah kuyup muncul di kepalanya. Terbayang jua saat ia membawa Serena ke kamar mandi.
"Serenaaa! Beraninya kamu memengaruhi otakku!" Ia menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Jangan dipikirkan lagi! Dia sudah sehat karena dokter Fathir sudah merawatnya," katanya sambil naik ke tempat tidur dan menarik selimut untuk mengurung tubuhnya.
Namun, bayangan saat ia dan Serena jatuh bersama ke dalam bathup, kembali mengusik pikiran Marvin.
"Aaarrgghh! Siaaal!" teriaknya. Segera menendang selimut dan beranjak ke lemari super besar yang ada di kamarnya.
Lalu Marvin mengambil hoodie, masker, kaca mata dan topi. Penampilan Marvin laksana seorang dedektif yang akan melakukan misi rahasia.
Wajah tampannya benar-benar tertutup masker. Sosoknya semakin tidak dikenali saat ia memakai kaca mata, topi, dan penutup kepala yang berasal dari hoodienya. Setelah siap, Marvin kemudian meninggalkan kamarnya dengan cara berjalan mengendap-endap.
Kemanakah Marvin akan pergi?
...~Next~...
__ADS_1