ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
PERGI


__ADS_3

Faktanya, Marvin tidak tidur. Ia terus memikirkan keinginan mamanya untuk segera melepaskan Serena. Mama Syakilla adalah wanita yang sangat ia hormati dan cintai. Jujur, ia tidak ingin membuat mama Syakilla kecewa terhadapnya.


Tapi bagaimana dengan Serena? Keberadaan gadis ini ternyata telah banyak merubah kehidupannya. Marvin membuka matanya perlahan. Lalu memandangi wajah Serena. Perasaan yang tercipta setelah ia mengenal Serena sungguh di luar dugaan. Awalnya, ia memang hanya ingin menggunakan gadis ini sebagai sitaan agar pak Wandira tidak menipunya.


Namun apa yang terjadi? Saat ini, ia malah tidak ingin melepas Serena dan ingin memilikinya lebih lama lagi. Sampai kapan? Entahlah. Apa sampai dirinya merasa bosan? Mungkin.


"Serena, saya ada urusan, kamu tidak apa-apa 'kan tidur sendiri?" bisik Marvin.


Karena sedang tidur, Serena tentu saja tidak menanggapi perkataan Marvin. Setelah pamit pada Serena, Marvin berlalu. Ia akan menemui karyawannya yang saat ini terkurung di aula. Ia tidak bisa tidur dengan tenang sebelum menemukan pelakunya.


"Beraninya dia ikut campur dengan urusan pribadi saya! Padahal saya tidak pernah merugikan mereka! Justru dengan bekerja di sini kehidupan mereka jadi lebih baik!" rutuknya, kesal.


Lantas terburu-buru meninggalkan kamar setelah menyelimuti Serena.


...***...


"Bu Manda, ini ada apa 'sih sebenarnya? 'Kok pintu aulanya dikunci? Terus kenapa pak Hugo dan petugas keamanan yang berjaga di depan tidak ikut ke sini? Aneh sekali."


"Ya, Bu. Aneh sekali. Apa ada yang ulang tahun?"


"Sudahlah, berbaik sangka saja. Mungkin Pak Bos memang sengaja mengumpulkan kita di sini untuk memberikan penghargaan karyawan terbaik."


"Tapi 'kan caranya aneh. Bu Manda beri pendapat dong, Bu. Ibu pasti sudah tahu 'kan?"


Karyawan yang kebetulan duduk dekat Manda bertanya-tanya. Yang lainnya memilih melanjutkan tidur di kursi aula. Ada juga yang tidur di lantai. Kondisi aula ini memang nyaman. Jadi wajar kalau mereka merasa biasa-biasa saja saat Hugo mengunci seluruh akses pintu aula.


"Kita lihat nanti saja," jawab Manda yang berusaha tenang. Ia tidak ingin mereka tahu kalau dirinya juga tidak tahu-menahu.


Lalu salah satu pintu aula terbuka. Hugo masuk. Semuanya menatap Hugo. Berharap jika Hugo akan memberikan sedikit titik terang dengan menjelaskan tujuan mereka dikumpulkan di sini.


"Sebentar lagi ada Pak Bos," jelas Hugo. Sontak semuanya terkejut. Yang sedang tidurpun terbangun seketika.


Kemudian Marvin tiba dengan wajah muram durja. Walau tetap tampan, mamun auranya benar-benar menakutkan.


"Silahkan duduk Pak Bos," sapa Manda. Ia segera beranjak dan berdiri di samping Hugo. Ia sedang menunjukkan otoritasnya sebagai Kepala Pelayan.


Marvin duduk dan matanya segera menyisir seluruh pekerja. Ada sekitar 15 orang. Sebenarnya, jika dijumlah dengan petugas keamanan ada 20 orang. Itu belum termasuk Hugo, Edrick, Rian dan Boy.


"Dapat pekerjaan itu adalah anugerah! Apa lagi di jaman yang susah dalam mencari pekerjaan seperti ini! Tapi apa yang kalian lakukan?!" teriak Marvin sambil menggebrak meja dan membuat seluruh pekerja terperanjat kaget. Sebab, selama mereka bekerja di sini, Marvin tidak pernah semarah ini. Mereka saling memandang satu sama lain karena merasa tidak mengerti dan tidak melakukan kesalahan.


"Saya tidak pernah menuntut pada kalian untuk bersikap hormat dan santun pada saya! Saya hanya meminta pada kalian untuk saling menghargai sesama rekan kerja! Tapi itu bukan berarti kalian boleh mencampuri urusan pribadi saya! Paham?!" teriaknya lagi. Semuanya tertunduk tidak terkecuali Hugo dan Manda.


"Sekarang jawab dengan jujur! Siapa yang memberitahu Clara kalau Serena kembali ke apartemen?! Siapaaa?! Jawab!" Kali ini sambil menendang meja. Terdiam. Semuanya terdiam.


"Sebelum saya bertanya langsung pada Clara, saya ingin jawaban langsung dari pelakunya! Jika tidak ada yang mengaku, saya pastikan akan memecat kalian semua dan menggantinya dengan pegawai baru! Coba kalian pikirkan! Salah saya apa hingga berani mengkhianati saya?! Apa kalian pernah merasa dirugikan?! Saya telah menggaji kalian dengan nominal yang tinggi, belum lagi bonus, tunjangan keluarga, asuransi, dan lain-lain! Apa masih belum cukup?!"


"Am-ampun Pak Bos, demi Tuhan, aku tidak pernah menyebarkan kehidupan pribadi Pak Bos pada siapapun."


Seorang pekerja di barisan tengah mendekati Marvin dan bersimpuh sembari menangis. Sungguh, ia tidak ingin dipecat. Bekerja di sini telah merubah kehidupannya. Ia bisa membangun rumah yang layak untuk orang tuanya, dan menyekolahkan adik-adiknya.


"Huuu, ja-jangan memecatku, Pak Bos," pintanya.


"Pak Bos, aku juga tidak ikut campur, demi Tuhan."


Yang lain turut berkomentar. Disusul dengan yang lainnya. Mereka bersaksi atas nama Tuhan jika mereka tidak melaporkan keberadaan Serena pada siapun. Kesaksian itu membuat suasana di ruangan aula menjadi riuh dan berisik.


Manda masih tertunduk. Ia bingung harus bertindak apa. Awalnya, ia berusaha dekat dengan Clara karena meyakini jika Clara akan menjadi Nyonya di apartemen ini. Jika ia dekat dengan calon istri Marvin, ia berpikir akan mendapat keuntungan lebih karena mendapat kepercayaan dari dua pihak. Yaitu, dari Marvin dan Clara.


Ia tidak menyangka jika pada akhirnya hubungan Marvin dan Clara kandas dan posisi Clara saat ini telah tergantikan oleh Serena. Gadis yang jelas-jelas berasal dari keluarga yang tidak baik-baik. Latar belakang Serena 'lah yang membuatnya berani melangkah sejauh ini.


Manda tidak ingin Marvin bersatu dengan Serena karena menurutnya, Serena tidak pantas untuk Marvin. Ia melakukan ini selain untuk mendapatkan keuntungan, juga untuk menyelamatkan Marvin dari Serena. Jadi, Manda merasa jika apa yang dilakukannya adalah hal yang tepat dan merupakan bentuk kepeduliannya pada Marvin.


"Cukup! Jangan berisik!" sentak Marvin sembari menghela napas.


"Bu Manda, apa kamu tidak ada komentar?" tanya Hugo dengan suara pelan.


"Tidak ada. Aku bukan pelakunya," sangkal Manda dengan percaya diri.


"Jadi kalian tidak ada yang mengaku?! Bagus. Itu berarti kalian sudah siap dipecat! Saya beri waktu sampai jam lima pagi! Hugo, tolong urus!" lanjutnya.


Lantas Marvin berlalu sambil melirik sejenak pada Manda. Manda menganggukkan kepala dan bersikap seolah tidak bersalah. Wanita itu sangat yakin jika Clara dapat diandalkan dan bisa melindunginya.


"Kalian boleh kembali ke kamar masing-masing kecuali Bu Manda," kata Hugo setelah Marvin meninggalkan aula.


"Maksu kamu apa?!" sentak Manda. Matanya menatap tajam pada Hugo.


"Mari bicara empat mata setelah mereka pergi," bisik Hugo.


"Apa Pak Hugo menuduhku sebagai pelakunya?" tanya Manda setelah memastikan semua pekerja telah meninggalkan aula.

__ADS_1


"Aku tidak menuduh Anda Bu Manda, hanya ingin memberi saran pada Anda agar segera meminta maaf pada Pak Bos dan Nona Serena."


"Maksud kamu?!"


"Yang dekat dengan Nona Clara hanya Anda. Apa Anda berpikir kalau Pak Bos tidak mencurigai Anda? Ayolah Bu Manda, sebelum Anda malu karena aku permalukan, lebih baik jujur saja dan segera meminta maaf," tegas Hugo. Lantas meninggalkan Manda sambil menggedikkan bahunya.


"Pak Hugo! Anda jangan sembarangan menuduh ya! Silahkan konfirmasi langsung ke Nona Clara! Aku tidak takut! Aku tidak bersalah!" Manda sesumbar. Ia sudah terlanjur meyakini jika Clara akan melindunginya.


...***...


Marvin kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia curiga pada Manda. Tapi apa iya Manda yang telah ia beri kepercayaan lebih tega mengkhianatinya?


Sekarang, pria itu duduk di sisi tempat tidur sembari memegang tangan Serena. Lalu menatap Serena dan terciptalah bayangan Miranda yang sedang tertidur di kamarnya.


"Miranda," lirihnya.


Ia mengelus pipi Serena dan menyadari jika yang di hadapannya adalah Serena setelah mengerjapkan mata. Lalu teringat seseorang yang sebelumnya pernah menceritakan tentang kecelakaan itu.


Rio. Dia pernah membahas kecelakaan itu, batin Marvin.


Ia harus bertanya pada bocah cerdas itu. Lanjut naik kembali ke tempat tidur dan membelakangi Serena. Sengaja tidak memeluknya agar keinginan itu tidak terbesit kembali. Namun apa daya, beberapa menit kemudian, ia telah merasakan jika Serena memeluk punggungnya. Hangatnya tubuh Serena membuat Marvin harus mengatur napasnya untuk menenangkan diri.


Syukurlah, keinginan itu akhirnya terlupakan setelah ia merasakan kantuk.


...***...


"Pak Bos, bangun."


Serena terkejut saat mendapati Marvin masih tidur. Padahal, ini sudah jam 6 pagi dan Serena baru saja tiba dari kamar lamanya untuk mandi dan mengambil buku pelajaran.


"Pak Bos, sudah jam 6," menguncang bahu Marvin.


"Hmm," Marvin membuka mata, dan terkejut saat melihat jam di dinding.


"Kenapa kamu tidak membangunkan saya Serena?! Kamu sudah mandi?" Menendang selimut dan panik. Lalu berlari menuju kamar mandi sambil menggerutu.


Serena menghela napas, sekarang jadi bingung, apa yang harus ia lakukan? Mama Syakilla ada di sini. Serena tidak berani keluar kamar lagi. Padahal, ia sudah lapar dan ingin mengambil sesuatu dari dapur.


"Serena, apa kamu masih di sini?" Suara Marvin dari dalam kamar mandi.


"Ya, kenapa Pak Bos?" tanya Serena.


"Apa?! Tidak mau!" tolaknya. Dengan bodohnya Serena langsung membayangkan yang tidak-tidak.


"Serena! Cepat! Saya kedinginan!"


"Maaf Pak Bos. Anda ambil sendiri saja ya. Aku mau ke kamarku," jawabnya. Lalu ia terburu-buru keluar dari kamar Marvin.


"Serena?" Marvin masih memanggilnya. Lalu ia melongokan kepalanya dan mengintip ke dalam kamar.


"Ya ampun, haish," rutuk Marvin. Ia sedikit kesal karena Serena tidak mematuhi perintahnya.


...***...


Serena mengendap-endap. Ia berharap bisa segera tiba di kamarnya dan tidak bertemu sipapun. Apa lagi bertemu dengan Nyonya Syakilla. Tapi apa di kata, nasibnya berkata lain. Karena terlalu fokus mengendap-endap, ia malah menabrak seseorang yang sedang mengelap guci di sebuah ruangan yang berbentuk seperti lorong.


"Ma-maaf," ucap Serena. Segera memeluk guci agar tidak terjatuh.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Lalu keduanya bertemu pandang, dan seketika itu juga mereka terkejut secara bersamaan.


"K-kamu?"


"Nyo-Nyonya? Ma-maaf."


Ternyata, yang sedang mengelap guci adalah Nyonya Syakilla. Wanita itu menatap Serena dari ujung rambut hingga ke kakinya. Sementara Serena, ia langsung menunduk dan merematkan jemarinya.


"Saya sudah mengatakan tidak apa-apa. Kenapa harus minta maaf lagi?"


"Emm, a-aku Serena."


Gadis itu gugup. Akhirnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Namun sayang seribu sayang, entah apa alasannya, Nyonya Syakilla tidak menyambut uluran tangan Serena. Serena menarik kembali tangannya sambil menghela napas. Lalu ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di benaknya dan membuatnya sedikit sedih.


"Serena? Saya sudah mendengar tentang kamu dari anak saya. Kebetulan sekali kita bertemu. Mari ikut saya. Saya mau bicara," ajak Nyonya Syakilla sambil berlalu. Serena kebingungan. Namun ia tidak bisa menolak permintaan wanita itu.


...***...


"Duduk," ia membawa Serena ke ruang keluarga. Serena duduk dan tertunduk. Ia benar-benar tidak nyaman dengan kondisi ini.

__ADS_1


Pak Bos, aku berharap kamu berada di sini, batinnya berharap seperti itu. Serena merasa tidak sanggup menghadapi Nyonya Syakilla seorang diri.


"Saya minta maaf atas nama anak saya. Apa dia sering menyakiti kamu?"


"Emm, i-iya," Serena masih gugup. Ia belum bisa menebak akan di bawa ke mana arah pembicaraan ini.


"Semalam, saya sebenarnya pura-pura tidur. Bagaimana luka lebamnya?" Nyonya Syakilla menautkan alisnya. Sebab, lebam di wajah dan tangan Serena sudah tidak ada.


"A-aku melapisinya dengan makeup Nyonya. Jadi lebamnya tidak kelihatan," jelas Serena.


"Oh, bisa saya terima. Oiya, saya akan membantu kamu agar segera lepas dari Marvin. Saya sudah memohon pada suami saya agar tidak menggunakan kamu untuk balas dendam pada papa kamu. Saya berpikir sia-sia saja. Keberadaan kamu di sisi Marvin justru menjadi bantu ganjalan untuk saya. Serena, saya adalah wanita yang melahirkan Marvin. Dalam doa-doa saya, saya selalu berharap agar Marvin mendapat wanita yang baik dan sepadan dengan dia." Nada bicara Nyonya Syakilla melirih. Serena terus menunduk.


"Saya tidak menyangka Marvin akan seperti ini hanya karena patuh pada perintah papanya. Dia bahkan berani nikah di bawah tangan dan meniduri kamu. Serena, Marvin anak baik-baik, saya berharap kamu bisa bekerja sama dengan saya untuk segera pergi dari sisi Marvin."


Serena merematkan jemarinya pada sisi sofa. Entah kenapa, ucapan Nyonya Syakilla kembali membuatnya tidak nyaman. Anehnya, pada wanita ini ia tidak berani menentang dengan gaya bicara arogannya. Mungkin, karena sosok Nyonya Syakilla mengingatkan ia pada mamanya.


"Nyonya tenang saja. A-aku bisa pergi secepatnya. Bahkan detik ini juga. Tapi ... a-ku butuh uang untuk naik bus. Aku juga butuh pekerjaan untuk menghidupi keluargaku," terang Serena sambil terus menunduk.


"Benarkah kamu bisa pergi sekarang? Syukurlah, saya merasa lega. Tapi sebelum kamu pergi, saya ingin bertanya hal sensitif sama kamu. Tolong jawab dengan jujur."


"Si-silahkan Nyonya."


"Berapa kali putra saya meniduri kamu? Saya akan menggantinya dengan uang. Saya juga akan memberikan uang tambahan untuk kamu melakukan operasi. Maksud saya, operasi untuk mengembalikan keperawanan kamu. Tolong jangan tersinggung, karena hanya dengan cara itu saya bisa mengembalikan kehormatan kamu."


Serena mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Ia sedang menahan sesuatu yang seolah mendesak di pelupuk matanya.


"Kenapa diam saja? Baik, saya tidak akan memaksa kami untuk menjawabnya. Begini saja, kamu terima ini ya. Semalam saya sudah menyiapkannya untuk kamu. Passwordnya ada di belakang kartunya."


Nyonya Syakilla menyerahkan sebuah kartu ATM pada Serena. Tanpa mengatakan apapun, Serena mengambil kartu tersebut dengan tangan sedikit gemetar.


"Yang ini kartu nama saya."


"Ya, Nyonya."


"Untuk masalah pekerjaan, saya juga bisa mencarikannya untuk kamu. Keahlian kamu apa?"


"Makeup," jawabnya singkat.


"Makeup? Hmm, saya ada teman makeup artis, dia cukup terkenal di kalangan artis dan punya WO. Kamu bisa menjadi asistennya, saya juga punya saham di WO-nya. Kalau kamu sudah siap bekerja, kamu bisa menghubungi saya. Tapi saya mengajukan syarat untuk kamu."


"Syarat apa Nyonya?"


"Kamu harus menghindari Marvin, bukan hanya Marvin, kamu juga harus menghindari orang-orang kepercayaan Marvin. Kamu juga bisa menghubungi saya kalau ingin melakukan operasi. Serena," Nyonya Syakilla mendekati Serena dan memegang tangannya.


"Ya, Nyonya ...," tes, yang ditahan sedari tadi akhirnya menetes jua. Serena segera mengusapnya.


"Terima kasih karena kamu sudah mau bekerja sama dengan saya. Marvin anak saya satu-satunya, dia harus segera menikah dengan wanita terhormat yang berasal dari keluarga baik-baik. Saya memiliki tirah ningrat, kakek-buyut saya adalah raja, kamu paham maksud saya?"


"Pa-paham Nyonya," lirihnya.


"Jika kamu sudah paham, kamu boleh pergi selagi masih pagi," bujuknya sembari mengusap rambut Serena.


"Ba-baik Nyonya, ta-tapi ... apa aku bisa pamit dulu pada Pak Bos?"


"Jangan, saya khawatir dia belum siap dengan kepergian kamu. Sejauh ini, Marvin tidak pernah menentang saya, saya yakin dia juga akan menerima keputusan ini. Masalah Marvin, saya bisa menanganinya, saya ibunya."


"Ba-baiklah, a-aku pamit Nyonya."


Serena beranjak, saat kakinya melangkah, airmatanya berjatuhan. Ia sadar diri jika dirinya pantas terusir dari apartemen ini, ia tahu jika suatu saat Marvin akan melepas dan melupakannya. Tapi kenapa ia malah merasa sedih? Serena menghentikan langkahnya sejenak saat ia berada tepat di depan kamar Marvin.


"Pak Bos, a-aku pergi ya," gumamnya.


"Saya akan mengantar kamu sampai depan." Nyonya Syakilla menyusul. Ia tentu saja harus memastikan agar gadis ini berhasil keluar dari apartemen.


"Nona Serena? Nyonya?" Mereka berpapasan dengan Hugo.


"Yuk Serena," ajak Nyonya Syakilla. Ia menarik tangan Serena dan menjauh dari Hugo. Hugo hanya menautkan alisnya dan berpikir jika Nyonya Syakilla dan Serena telah akrab.


"Sejak kapan mereka akrab?" gumam Hugo.


...***...


Serena melamun di salah sudut gedung apartemen. Ia sedang memikirkan akan pergi ke mana. Jika Nyonya Syakilla memintanya untuk menghindari Marvin, itu berarti, ia harus pergi ke suatu tempat yang tidak bisa ditemukan oleh Marvin.


"Tapi aku harus sekolah. Yang penting aku menghindarinya, 'kan?"


Gadis itupun memutuskan untuk pergi ke sekolah barunya dan tinggal sementara waktu di rumah Tika.


_______

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2