ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
TERUCAP JUA


__ADS_3

"Apa kamu masih belum datang bulan?" Marvin bertanya lagi karena Serena hanya terdiam dan menautkan alisnya.


"Pertanyaan macam apa itu? Sangat tidak penting!" kilah Serena sembari memalingkan wajah.


Mulai hari ini, ia berjanji untuk tidak sering melihat wajah Marvin. Kenapa demikian? Tujuannya tentu saja untuk menghindarinya. Karena semakin sering melihatnya, Serena merasa jika dirinya semakin terikat dengan pria ini.


"Saya mau tahu. Tolong jawab dengan jujur," pintanya. Marvin memegang tangan Serena, namum segera ditepis.


"Aku sudah datang bulan, 'kok. Kenapa?! Takut ya kalau aku hamil?! Tenang saja, itu tidak akan pernah terjadi!"


"Benarkah? Apa kamu yakin?" Marvin belum percaya.


"Yakin! Anda kenapa sih?! Aneh sekali!" ketus Serena, dan ia beranggapan jika Marvin ingin memastikannya karena tidak ingin memiliki buah hati yang terlahir dari rahimnya.


"Baiklah kalau begitu."


Marvin menghela napas sembari mengusap dadanya. Ia merasa lega atas jawaban Serena. Jujur, ia berpikir Serena benar-benar hamil karena pada malam itu, ia tidak mengingat dengan baik berapa kali melakukannya pada Serena hingga gadis itu hampir kehilangan nyawanya. Yang jelas, Marvin yakin jika ia melakukannya lebih dari sekali karena pada saat itu, ia mabuk dan dibawah pengaruh obat.


"Aku mau pergi, tolong jangan mencariku lagi," ujar Serena seraya menatap ke luar yang hingga saat ini masih hujan lebat. Namun suara petirnya tidak terdengar lagi.


"Kamu tidak boleh pergi dari saya Serena."


"Aku tidak bisa bersama Anda terus Pak Bos." Serena menunduk. Tiba-tiba teringat lagi ucapan nyonya Syakilla yang melukainya.


"Saya sudah minta maaf atas perbuatan mama. Masalah kamu tinggal bersama saya, akan saya bicarakan lagi. Jadi, apapun yang terjadi, kamu harus tetap berada di samping saya," tegasnya.


"Tidak perlu Pak Bos, mulai hari ini, anggap saja kalau kita sudah tidak saling mengenal lagi. Masalah hutang, aku janji akan mencicilnya. Mungkin, aku akan mencicilnya seumur hidupku. Pak Bos tenang saja, aku tidak akan merepotkan Pak Bos lagi."


"Serena, tidak bisa begitu. Apa yang mama saya bicarakan sama kamu? Saya yakin kamu berubah seperti ini gara-gara mama, 'kan?"


"Kalaupun mama Anda tidak memintanya, aku memang akan pergi dari hidup Anda Pak Bos." Lalu saat mengambil ponselnya, Serena tidak sengaja menjatuhkan kartu ATM dari sakunya.


"Apa ini?" Marvin segera mengambilnya. Serena terdiam.


"Mama saya memberikan kartu ini sama kamu?" Kali ini sambil memegang kuat tangan Serena.


"Kalau ya memangnya kenapa? Aku miskin! Aku butuh uang! Dan kartu itu aku dapatkan secara cuma-cuma! Bukankah harus kumanfaatkan dengan baik?!"


"Apa?! Jadi, hanya karena kartu ini kamu berani meninggalkan saya, Serena?!"


"Ya!" tegasnya. Kembali menepis tangan Marvin dan memalingkan wajah.


"Serena, saya mohon, tolong ceritakan sejujurnya. Jujur, saya memang tidak bisa tegas pada Mama. Tapi saya berjanji akan memperjuangkan kebersamaan kita. Serena, apa kamu tidak pernah mau memahami perasaan saya? Sebelumnya, sudah saya bilang, 'kan? Kalau saya ingin bersama kamu bukan karena tubuh kamu saja. Lebih dari itu, saya mau serius sama kamu. Kamu paham maksud saya?"


"Hahaha." Serena malah tertawa sinis.


"Serena saya serius! Apa kamu memerlukan penjelasan yang lebih detail?"


"Tidak perlu!" tolaknya.


"Serena." Marvin kembali meraih tangan Serena.


"Sudahlah Pak Bos! Kalau Anda benar-benar peduli, tolong biarkan aku pergi!"


Serena bicara dengan lantang dan tegas. Namun dari pelupuk matanya, Marvin bisa melihat dengan jelas jika mata Serena berkaca-kaca. Akhirnya, Marvin pun berniat akan mengalah dan memberi kesempatan pada Serena untuk menenangkan diri.


"Baik, kamu mau ke mana? Biar saya antar."


"Tadinya aku mau pergi ke rumah Tika, tapi aku tidak ingin merepotkan Tika. Aku juga sempat terpikirkan untuk pergi ke rumah Mama, tapi aku khawatir jika keberadaanku bersama Mama akan menimbulkan masalah baru seperti yang terjadi kemarin-kemarin. Jadi, tolong antarkan aku ke ...."


Serena jadi bingung sendiri, ke mana ya? Ia tidak ada ide. Pikirnya, apa ia menyewa apartemen atau rumah kost saja? Tapi, jika tinggal di apartemen atau rumah sewa, mau tidak mau, ia pasti akan menggunakan kembali uang nyonya Syakilla untuk membayar sewa dan hutangnya pada keluarga Jacob akan semakin besar.


"Serena, saya punya unit apartemen yang biasa disewakan. Kalau tidak salah, ada dua unit lagi yang belum ada penyewanya. Bagaimana kalau ke sana saja?" tawarnya.


"Emm," gadis itu masih kebingungan.


"Gratis, kamu tidak perlu membayarnya."


"Tapi ...."


Mendengar kata 'gratis,' bibir Serena langsung merespon. Siapa 'sih yang tidak suka dengan gratisan?


"Aku tidak mau gratis, Anda juga 'kan perlu kembali modal. Bagaimana kalau harga sewanya didiskon saja?" Dalam keadaan sulitpun, gadis itu masih egois.

__ADS_1


"Baik, saya diskon seratus persen."


"Apa? Seratus persen? Berarti masih gratis dong?"


"Serena, biar bagaimanapun, saya masih suami kamu. Menyediakan tempat tinggal dan semua kebutuhan kamu, adalah tugas saya. Hujannya sudah reda. Kita pergi sekarang ya." Tanpa menunggu jawaban Serena, Marvin segera melajukan kemudinya.


"Ba-baiklah."


Serena patuh. Lalu sepanjang perjalanan ia terus memikirkan pertanyaan Marvin tentang 'datang bulan.' Kenapa ya Marvin bertanya demikian? Sebenarnya, hingga saat inipun, Serena belum datang bulan. Namun ia tidak jujur pada Marvin karena pikirnya, hal tersebut tidak begitu penting.


Cuasa yang dingin, ditambah semalam kurang tidur, membuat Serena terkantuk-kantuk. Beberapa menit kemudian, kepalanya terkulai dan terlelap. Marvin lantas memosisikan kursi mobil agar Serena lebih nyaman. Sejenak ia menghentikan mobilnya dan merapikan anak rambut yang menghiasi wajah Serena. Lalu menatap wajah jelita itu dalam-dalam.


...***...


Ternyata, apartemen yang dimaksud Marvin tidak terlalu jauh. Hanya berjarak sekitar lima belas kilometer dari apartemen yang biasa ditinggali oleh Marvin dan para pegawainya.


"Serena," bisiknya.


Ia membangunkan Serena dengan lembut. Seperti biasa, bukan hal yang mudah untuk membangunkan Serena. Akhirnya, Marvin pun langsung menggunakan cara ampuh untuk membangunkannya.


"Pak Bos!"


Serena terkesiap seraya mengusap bibirnya, pipinya merona seketika akibat ulah Marvin. Sementara sang pelaku, hanya senyum-senyum. Tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Kebiasaan!" teriak Serena.


"Hehe, kita sudah sampai. Mari," ajak Marvin. Ia tidak merespon kekesalan Serena. Malah turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Serena.


"Pak Bos!"


"Ssst, ada petugas," sela Marvin.


"Pak Bos?"


Seorang petugas keamanan mendekat sembari tersenyum pada Marvin dan melirik pada Serena.


"Penyewa baru," jelas Marvin sembari menarik tangan Serena.


"Kenapa ya?" gumamnya pelan saat Marvin dan Serena telah luput dari pandangannya. Lalu ia berbaik sangka jika gadis itu adalah sahabat dekat Pak Bos atau bisa jadi kerabat dekatnya Pak Bos yang ingin menyewa apartemen di daerah ini.


...***...


"Bagaimana?" tanya Marvin. Ia ingin mengetahui komentar Serena tentang apartemen ini.


"Bagus 'kok. Aku suka."


"Syukurlah kalau kamu suka. Jadi mulai hari ini, guru kamu akan datang ke sini. Oiya, selama kamu persiapan ujian akhir, saya akan mengambil cuti kerja dan menemani kamu," jelasnya sambil merapikan beberapa perlengkapan di unit tersebut.


"Cuti? Untuk apa? Aku yang mau ujian, bukan Pak Bos."


"Saya ingin mendukung kamu dan menemani kamu selama belajar."


"Aku tidak perlu kehadiran Anda untuk belajar. Aku yakin lulus 'kok. Lagi pula, targetku itu lulus, Pak Bos. Bukan menjadi yang terbaik."


"Serena, tidak boleh berprinsip seperti itu. Ya, kelulusan memang target kamu, tapi apa salahnya kalau kamu juga mentargetkan untuk jadi yang terbaik? Kamu harus ada usaha dulu untuk jadi yang terbaik sebisa kamu dan semaksimal mungkin, tapi jika hasilnya tidak sesuai harapan, kita kembali lagi pada kuasa Tuhan." Bicara sambil berusaha memeluk Serena.


"Jangan peluk-peluk!" tolak Serena. Entah ini penolakan yang keberapa kalinya. Marvin hanya bisa menghela napas dan bersabar. Lalu menatap Serena yang mengecek isi kulkas.


"Tidak ada makanan apapun?" Wajahnya menunjukkan kekesalan.


"Hei, mana saya tahu kalau kamu akan kabur dan tinggal di sini. Jangan marah, biar saya yang belanja. Kamu mau apa? Catat saja."


"Gratis?"


"Ya, saya suami kamu Serena. Kebutuhan kamu itu tanggung jawab saya. Cepat catat!"


"Baiklah, terima kasih. Hehehe."


Akhirnya menuliskan seluruh kebutuhannya sambil tersenyum. Selagi gratis, Serena berniat untuk belanja sebanyak-banyaknya. Marvin mengulum senyum. Melihat Serena antusias, ia jadi bahagia.


"Hanya ini?" Marvin membaca pesan yang dikirim Serena.


"Ya, itu saja."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu istirahat ya. Saya pergi dulu." Marvin berlalu dan ia meninggalkan tas kerja dan jasnya di unit tersebut. Ia hanya membawa dompet dan ponsel di sakunya.


...***...


Selepas Marvin pergi, Serena kembali merenung. Entah kenapa, pertanyaan Marvin tentang 'datang bulan' itu terlintas kembali di ingatannya.


"Tunggu, apa jangan-jangan ...."


Ia merematkan kedua tangannya dan gelisah. Serena juga mondar-mandir sambil sesekali memijat keningnya. Lalu becermin dan menatapi tubuhnya. Lalu memutar badan untuk menemukan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.


"Tidak mungkin! Sudah jelas-jelas dia mengatakan kalau aku disuntik! Kenapa aku harus takut? Aku tidak datang bulan ya karena efek hormonal," kilahnya. Mencoba meyakinkan dirinya.


"Ish! 'Tuh 'kan jadi penasaran." Ternyata, Serena belum bisa tenang. Ia pun kembali gelisah.


"Ya sudah, aku cek saja 'lah." Akhirnya, ia memutuskan untuk memesan alat cek kehamilan melalui aplikasi.


"Semoga alatnya cepat datang," harapnya.


Karena apotek berada dekat dengan unit, Serena yakin jika pesanannya tersebut akan tiba sebelum Marvin. Benar saja, tidak sampai sepuluh menit, kurir pun tiba. Serena segera membayar dan mengambilnya dengan tergesa-gesa.


"Terima kasih, Pak."


Pintu unitpun ditutupnya dengan tergesa-gesa jua. Lalu tangannya sedikit gemetar saat memegang alat tersebut. Lanjut memasuki kamar mandi sambil mengatur napas.


...***...


Saat ini, Serena sedang terduduk dan menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas. Alasan ia memastikan, salah satunya lantaran teringat dengan ucapan papanya yang mengatakan jika papanya akan bekerja keras untuk membuatnya mengandung.


Serena memejamkan mata saat tangannya menyentuh benda tersebut dan hendak melihat hasilnya. Ia berharap hasilnya 'negatif' karena Marvin dan keluarganya tidak pernah menginginkan anak yang terlahir dari rahimnya. Selain itu, Serena juga tidak mau memiliki anak dari Marvin karena di masa depan, ia khawatir jika anak tersebut akan dieksploitasi oleh papanya untuk mendapatkan keuntungan.


"Tuhan ... kumohon jangan positif," lirihnya sembari menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan desakan air mata yang pada akhirnya menetes jua dan tidak bisa dikendalikan.


Kemudian membuka matanya perlahan-lahan dan seketika itu juga benda kecil tersebut terjatuh dari tangannya.


"Serena."


Bersamaan dengan itu, Marvin memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi. Dengan tangan gemetar dan jantung berdegup, Serena mengambil alat tersebut dan segera membuangnya ke dalam toilet. Lalu membuang bekas kemasannya ke dalam tong sampah.


"Serena! Kamu baik-baik saja, kan?" Marvin sepertinya panik karena tidak mendapat sahutan.


"Aku baik-baik saja," jawab Serena lantang.


Padahal, setelah menjawab Marvin, tubuh Serena terpuruk di lantai. Lalu ia membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar. Serena menangis sejadi-jadinya. Kepalanya menggeleng berulang-ulang. Serena sedang menyangkal sebuah fakta yang tidak pernah ia duga.


"Serena."


Marvin kembali memanggilnya. Namun Serena sulit menjawab karena penglihatannya tiba-tiba kabur dan gelap. Fakta itu membuatnya lemah dan tertekan secara psikis. Hingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya dan jatuh pingsan.


"Serena!"


Marvin menggedor pintu kamar mandi. Perasaannya tidak tenang dan ia merasa jika Serena tidak baik-baik saja. Marvin berusaha mendobrak pintu kamar mandi namun tidak berhasil. Setelah bahunya kesakitan, barulah ia tersadar pada kunci kamar mandi yang bisa ia gunakan untuk membukanya. Segera dicarinya dan pria itu tampak panik.


Marvin lega saat menemukan kunci tersebut. Karena panik, ia berulang kali menjatuhkan kunci dan gagal memasukkan kunci pada lubangnya.


"Serena!" teriaknya saat berhasil membuka pintu dan mendapati Serena tergeletak di lantai kamar mandi.


Marvin memboyong tubuh Serena dengan wajah yang memucat karena panik. Kepanikannya bertambah saat menyadari jika tubuh Serena terasa dingin.


"Serena! Serena! Bangun Serena! Kamu kenapa?!" Berusaha mengguncang tubuh Serena sambil memeluknya.


"Serena, saya mencintai kamu," ungkapnya spontanitas.


Akhirnya, kata 'cinta' itu terucap jua. Apakah Serena mendengarnya?


...~Next~...


_______


Taqabbalallahu minna wa minkum minal aidin wal faizin. Aamiin.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena nyai baru bisa up lagi setelah beberapa pekan. Jujur, nyai sangat rindu dan sebenarnya ingin mengintai setiap hari. Namun apa daya, nyai belum bisa karena berbagai alasan yang tidak bisa dijelaskan di sini. Semoga bisa mengobati kerinduan dan mohon doanya agar nyai bisa segera menyelesaikan studi nyai dengan hasil yang terbaik. Aamiin.


Salam sayang dan salam ukhuwah dari nyai untuk semuanya. Dalam suasana lebaran ini, nyai juga mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan. Semoga kisah pena yang sederhana ini bisa menjadi wasilah silaturahim di antara kita. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2