
SAAT INI
_______
Saat Serena bangun, Marvin tidak berada di sisinya. Gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan lain sebagainya. Ia terkejut saat baru menyadari ada seragam sekolah baru di atas nakas.
"Wah, ini seragam sekolah baruku?"
Segera diambil dan dikenakan. Seragam kali ini modelnya lebih sopan. Roknya lebih panjang dari seragam sekolah sebelumnya. Kaus kakinyapun sangat panjang hingga ke bagian paha Serena. Gadis itu memutarkan badan di cermin setelah menggunakannya. Lalu ia bersolek seadanya. Hanya memakai bedak tabur dan lip balm. Kemudian menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tertentu.
"Serena." Pangil seseorang dari luar. Tentu saja itu suara Marvin.
"Ya." Serena berlari dan meraih tasnya. Pria itu pasti sudah menunggunya.
Marvin menatap penampilan Serena. Hidungnya mengendus sejenak.
"Jangan memakai parfum terlalu banyak! Jangan menguncir rambut ke atas! Jangan sok kenal dengan teman baru kamu! Kalau sudah kenalpun jangan terlalu akrab! Jangan menebar senyum pada pria! Paham?" ocehnya.
"Kenapa Pak Bos bawel sekali? Mau seperti apapun ya terserah aku dong. Asalkan tidak melanggar norma etika dan agama," tandas gadis itu sambil berlalu dengan percaya diri menuju meja makan. Marvin menyusul.
...***...
"Wah," ia berdecak kagum. Marvin ternyata telah menyiapkan menu sarapan. Entah jam pria itu bangun.
"Enak ya tinggal makan? Saya bangun dari jam empat pagi lho Serena." Marvin duduk di samping Serena sambil menyiapkan menu untuknya dan untuk Serena.
"Aku pernah 'kok masa mie instan. Jadi aku bisa makan mie tiap hari."
"Mie instan tiap hari katamu? Hmm, nanti siang Indri akan ke sini. Jadi, Indri yang akan memasak untuk kamu. Untuk yang bersih-bersih vila dan mencuci pakaian, mereka akan datang pertiga hari," jelas Marvin. Serena menghentikan kunyahannya. Pikirnya, bagaimana mungkin ia bisa mandiri jika Marvin selalu memfasilitasinya.
"Apa setelah ada Indri Anda tidak akan ke sini lagi?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya berharap kamu bisa belajar banyak dari Indri. Saat saya ke sini lagi, minimal, kamu harus sudah bisa memasak nasi, membuat salad buah, dan membuat ceplok telur."
"Gampang," sahut Serena.
"Saya baru akan ke sini sekitar sebulan lagi. Kamu sekolah yang benar, setelah lulus, kamu harus kuliah, bekerja, dan membantu papa kamu membayar hutang."
"Sebulan? Kenapa Anda enggak tahun depan saja ke sini laginya?" protesnya.
"Mau kapan saya ke sini, bukan urusan kamu. Cepat selesaikan makannya. Kita harus segera berangkat. Saya takut kesiangan ke kantor kalau kamu lambat seperti ini."
Walaupun kaya-raya, ternyata kehidupan Marvin tidak terlalu berlebihan. Pria itu tidak membawa asistennya kemanapun ia pergi. Buktinya, kemarin dan hari ini ia mau memasak serta menyiapkan keperluannya seorang diri. Serena menatap Marvin yang saat ini sedang mencuci piring. Lalu ia berjanji pada dirinya jika ia akan berubah.
"Aku berjanji akan belajar dengan baik dan hidup mandiri," ujarnya seraya menyodorkan jari kelingkingnya pada Marvin.
"Bagus," karena sedang mencuci. Marvin malah menggigit dan mengulum jari Serena.
"A-ah! Pak Bos!" sentaknya.
"Hahaha."
Pria itu tertawa. Lalu menarik tangan Serena agar mengikutinya.
"Cepat!" seru Marvin.
"Perutku sakit, Pak Bos. Setelah makan harusnya duduk dulu," protesnya. Marvin tidak berkomentar, tetap menuntun tangan Serena.
...***...
"Jangan banyak protes! Cepat masuk!" Tiba di parkiran, ia mendorong Serena ke dalam mobil.
Setelah mobil melaju, Marvin tidak lagi banyak bicara. Ia hanya fokus pada jalanan yang menurun. Namun saat jalanan tersebut datar, pria itu berulah. Tangannya tiba-tiba meraba pada tubuh Serena.
"Hei! Anda jangan tidak sopan ya!" sentak Serena. Ia berusaha menolak. Marvin diam saja, pria itu fokus pada jalanan dan tidak menghentikan aktivitasnya.
"A-Anda gila! A-Anda mesum!" Serena menarik tangan Marvin.
"Jangan protes! Ingat, posisimu!"
Marvin menepis tangan Serena yang dianggap menggangunya. Serena cemberut kesal. Ia membekap bibirnya saat tangan Marvin terus menelusup dan bermain-main dengan tubuhnya.
"A-Anda lagi nyetir! Bi-bisa 'kan kalau di lain waktu saja?!" bentak Serena.
"Tidak bisa," sahut Marvin sambil mengulum senyum. Tangan nakalnya baru berhenti saat ia melintasi jalur jalan yang menurun dan menikung. Serena merapikan bajunya dan mengatur napasnya.
"Maaf," ujar Marvin saat Serena terus memalingkan wajah dan hanya menatap jalanan di jalur kiri.
"Aku tidak akan memaafkan Anda!" Tetap memalingkan wajah.
"Sebenci apapun kamu terhadap saya, saya tetaplah suami kamu, dan semenarik apapun kamu, di mata saya, kamu tetaplah putri dari orang yang menyebabkan perusahaanku hampir bangkrut dan adikku meninggal dunia. Paham?"
"Ya, a-aku paham."
Gadis itu menunduk sambil merematkan kedua tangannya. Ucapan Marvin lagi-lagi membuatnya terluka.
...***...
"Itu sekolah kamu. Akan ada yang mengurus kamu selama di sana. Namanya bu Ermi. Jika kamu macam-macam, bu Ermi akan menjadi mata saya. Dia akan melaporkan semuanya. Cepat siap-siap dan beradaptasilah."
"Baik." Serena bersiap.
Saat mobil yang dikemudikan Marvin tepat di depan area sekolah, Marvin menahan tangan Serena.
"Ada apa lagi?" tanya Serena.
"Bisa saya mencium kamu dulu?" pinta pria itu. Benar-benar menyebalkan!
"Apa?! Kenapa Anda selalu begitu?! Kalau ada yang lihat bagaimana?!"
"Kaca mobil saya anti maling, sudahlah. Cepat kemari." Marvin menarik bahu Serena.
__ADS_1
"Aku tidak ma ---."
Serena hampir saja marah, namun tidak jadi karena ternyata, Marvin hanya mencium keningnya.
"Kamu pikir saya mau cium apa?" ledeknya sambil menyentil kening Serena.
"Aku tidak berpikir apa-apa! Jangan asal tuduh ya!" Ia segera berbalik untuk turun.
"Hei, salaman dulu." Marvin menyodorkan tangannya.
"Ya, ampun." Walau mengeluh, Serena tetap menyalaminya. Setelahnya, ia segera turun dan tidak menoleh lagi.
Marvin menatap Serena hingga gadis itu memasuki gerbang sekolah. Setelah Serena pergi, ia memukul setirnya.
"Kamu bodoh Marvin! Kenapa tidak pernah bisa tegas pada gadis itu?!" Lalu mencengkram kuat setirnya hingga buku tangannya memerah.
"Kenapa Tuhan! Kenapa perasaan saya jadi seperti ini?! Harusnya, saya membuatnya terluka dan membunuhnya secara perlahan-lahan! Tapi kenapa semakin kesini saya malah jadi lemah saat berhadapan dengan dia?! Arrhh, ini tidak bisa dibiarkan!" rutuknya.
Setelah memasygul rambutnya beberapa kali, barulah ia melajukan kemudinya.
"Ya Tuhan, saya lupa memberinya uang jajan." Marvin menepikan mobilnya sejenak.
"Oh iya, 'kan di sekolahnya dapat makan siang. Tapi kalau dia mau jajan bagaimana?" Marvin dilema.
"Apa saya harus kembali lagi?" Ia jadi kebingungan sendiri.
"Biarkan saja 'lah! Dia harus mulai belajar hidup susah!" Kembali melajukan kemudi. Namun hatinya tetap tidak tenang.
"Tapi 'kan, dia makannya banyak. Kalau makanan di kantin sekolah kurang disukainya bagaimana?" Dilema lagi.
"Haish! Gadis itu benar-benar merepotkan saya!" Ia akhirnya menyerah. Segera meraih ponselnya.
"Halo Ermi, saya mau minta tolong, kalau dia mau jajan, tolong pinjami dulu uangnya. Saya lupa memberinya uang jajan. Nanti saya bayar," pintanya.
Panggilan diakhiri. Ternyata, Marvin menelepon bu Ermi. Seorang pegawai tata usaha. Usut punya usut, dia adalah kekasihnya Edrick.
...***...
_______
Serena mematung di balik gerbang sekolah. Ia tidak tahu harus ke mana mencari bu Ermi. Ingin bertanya ke penjaga sekolah, namun penjaganya sedang tidak berada di tempat. Akhirnya memberanikan diri bertanya pada siswi yang kebetulan melintas. Dia adalah seorang siswi berkaca mata bulat tebal, berpakaian sangat rapi, dan memakai kawat gigi.
"Halo, aku murid baru di sini. Boleh aku bertanya?" Murid tersebut langsung melongo.
"Ka-kamu nanya aku?" Malah balik bertanya sambil menoleh ke sekelilingnya.
"Ya, aku nanya kamu," kata Serena.
"Ka-kamu cantik sekali." Sekarang malah memerhatikan penampilan Serena.
"Terima kasih. Hei, aku mau minta bantuan kamu. Bisakah?" Serena menepuk bahunya.
"Ka-kamu menyentuhku? Ka-kamu ti-tidak jijik menyentuhku?"
"Ka-kata teman-temanku, a-aku anak yang menjijikkan. Me-mereka mengatakan kalau aku jelek dan ba-bau." Ternyata, Serena bertanya pada siswi korban bullying.
"Ya ampun, kata siapa kamu jelek? Kamu cantik. Mau berteman denganku?" Serena mengulurkan tangan.
"K-kamu ma-mau ber-teman denganku?! Se-serius?" Ia tampak sumringah.
Mungkin, cara bicaranya yang gagap dan penampilan uniknya yang membuatnya jadi bahan bullyan. Serena berpikir seperti itu.
"Aku serius, mari berteman. Namaku Alsava Serena. Pangil saja Eren atau Serena. Aku murid pindahan dan sekarang mau bertemu dengan bu Ermi."
"Wah, ka-kamu pa-pasti murid pi-pindahan dari Pusat Kota. A-apa kamu anak artis? So-soalnya, ka-kamu cantik. Kamu pa-pasti akan jadi primadona di se-sekolah ini. Na-namaku Tika Aprillia Yahya, pa-panggil saja Ti-Tika," terangnya. Ia menyambut uluran tangan Serena.
"Baiklah, aku berharap kita satu kelas. Kamu kelas berapa?"
"A-aku kelas 3 A, ma-mau bertemu bu Ermi, 'kan? Ma-mari a-aku antar," ajaknya.
"Asyik, aku juga kelas 3. Tapi aku tidak tahu akan ditempatkan di kelas 3 apa. Makanya aku harus segera bertanya pada bu Ermi."
"Ya, a-aku antar. Bu E-Ermi adalah pegawai tata u-usaha. A-aku berharap kita sa-satu kelas," katanya.
Lalu mereka berjalan bergandengan menuju ruang tata usaha.
"Ja-jangan ke sana," larangnya.
"Kenapa?" tanya Serena.
"A-aku selalu me-menghindari keramaian. A-aku tidak percaya diri saat melewati siswa-siswi. A-aku mi-miskin Serena. A-aku diterima di se-sekolah ini ka-karena beasiswa prestasi."
"Tika, lihat aku." Serena memegang tangannya. Tika menatap Serena.
"Mari kita lewat ke sana saja. Mulai hari ini, kamu harus percaya diri. Jika ada yang merundungmu, aku siap pasang badan. Yuk lewat jalan yang paling ramai. Tegakkan badanmu, pegang tanganku, dan mari tunjukkan pada mereka kalau kamu istimewa. Ingat, kedudukan kita di sekolah ini sama. Kamu harusnya disanjung karena kecerdasanmu, bukannya malah diolok-olok. Ya, 'kan?"
"Emm, ta-tapi a-aku takut, Serena." Tangan Tika terasa dingin saat Serena memegangnya.
"Ssst, jika ada yang bertanya, katakan saja kalau aku ada keponakan kamu. Cepat. Aku adalah Alsava Serena, gadis pemikat nomor satu di negeri ini. Hehehe."
"A-apa?! Ta-tapi ---."
Walaupun ragu, Tika akhirnya mengikuti ajakan Serena. Ia memegang tangan Serena dan berjalan tegap. Mereka hendak melewati lorong sekolah yang saat ini tengah ramai oleh keberadaan siswa dan siswi.
"Siap? Pertunjukan akan segera dimulai," bisik Serena.
Serena menarik tangan Tika, lalu melangkah mantap ke sana.
Tak ayal, saat mereka melintas, seluruh mata langsung tertuju padanya. Ya, tentu saja bukan pada Tika. Tapi pada siswi asing yang penampilannya sangat aduhai. Mata mereka membelalak. Yang pria langsung mematung, bahkan ada yang tremor hingga menjatuhkan buku pelajaran yang sedang dipegangnya.
"Wah, cantik sekali." Mereka berdecak kagum.
__ADS_1
Tikapun terkesima dengan respon teman-temannya. Benar saja, Serena adalah gadis pemikat.
"Tunggu."
Seorang siswi yang sepertinya adalah anggota geng sekolah, tiba-tiba menghadang langkah Serena dan Tika di saat siswa dan siswi lain masih melongo karena terpukau.
"Maaf, Anda menghalangi jalan," tegas Serena.
Ia menepis bahu siswi tersebut dan kembali melanjutkan langkahnya. Siswi itu terbengong-bengong. Baru kali ini ia mendapat perlakuan seburuk itu. Padahal menurutnya, ia adalah siswi tercantik sekaligus paling kaya-raya.
"Hei tunggu. Tika! Dia siapa?!"
Ia mengejar Serena dan Tika. Serena segera mengentikan langkah dan berbalik badan. Lalu dengan lantang ia berkata, "Aku keponakannya Tika. Perkenalkan, namaku Alsava Serena, murid baru." Serena lantas menebar senyum pada semua siswa-siswi yang menatapnya.
"Apa? Ponakannya?"
"Kok mereka beda ya?"
Desas-desus bermunculan.
"Aku masih ada urusan, permisi."
Serena melanjutkan langkah seraya menarik ikatan rambut dan mengibaskan rambut indahnya yang kemilau bak rambut artis iklan shampo.
"Wit wiw." Bibit-bibit hidung belang bermunculan.
"Kurang ajar!"
Siswi yang merasa paling cantik dan populer mengepalkan tangannya. Jelas, ia tidak sudi tersaingi oleh pendatang baru.
"Kok bisa si Tika punya ponakan secantik itu?"
"Ya, sepatu dan tas gadis itu terlihat mahal. Aku juga yakin kalau yang dipakainya bukan barang palsu."
"Ya, ini sangat aneh! Kita harus selidiki!"
Teman-teman siswi yang merasa paling kaya itu langsung berasumsi. Sementara geng siswa, segera melapor kejadian ini pada seseorang. Seorang itu adalah siswa paling tampan dan paling kaya-raya di sekolah ini. Konon, ia adalah putra pemilik sekolah. Kononnya lagi, siswa itu terkenal dengan julukan 'play boy kelas kakap.'
...***...
"Ka-kamu hebat Serena, be-berada di sisimu, a-aku me-merasa jadi bintang," seru Tika. Gadis itu tampak sumringah. Mereka sudah berada di depan ruang tata usaha. Sedang menunggu kedatangan bu Ermi.
"Oya? Kamu berlebihan."
Sambil menghela napas. Pikirnya, di sekolah baru ini ia tidak akan banyak musuh, namun melihat tatapan gadis yang tadi menghadangnya, Serena yakin jika aktivitasnya di sekolah ini tidak akan beda jauh dengan sekolah lamanya.
"Ka-kamu satu-satunya siswi yang be-berani me-melawan Nona Iney."
"Namanya Iney?"
"Ya, i-itu na-nama panggilannya, na-nama lengkapnya Ma-Maheswari Ineyya Gu-Gumilar."
"Oh, aku sudah biasa bertemu dengan siswi-siswi seperti dia."
"A-aku kagum, se-semua ma-mata pria melihatmu, Serena."
"Hehehe. Seorang pria dewasa pernah memotong kukuku dan menyuapiku," jelas Serena.
"Hah? A-apa?!" Tika yang suci dan polos langsung kebingungan.
"Pria itu bahkan pernah menciumi kakiku."
"A-apa? Ke-kenapa dia melakukannya? A-apa dia menganggapmu se-bagai ibunya? Ka-kerena setahuku, ha-hanya ibu yang bo-boleh dici-cium ka-kakinya."
"Hahaha," Serena merasa lucu dengan celotehan Tika.
"Aku hanya bercanda," sanggah Serena.
Apa jadinya kalau Tika tahu jika dirinya pernah merasakan malam pertama dan tentu saja sudah merasakan sensasi bercinta yang rasanya sulit diungkap itu. Ia bahkan hampir mati gara-gara kegiatan tersebut.
"Oh, a-aku kira ka-kamu serius." Tika terkekeh.
Mengingat malam pertama, Serena jadi teringat pada pria itu. Pria yang semalaman mendekap tubuhnya. Pria egois yang sulit dipahami jalan pikirannya.
"Ka-kamu ke-kenapa?" Tika heran melihat Serena merenung.
"Tidak apa-apa, hanya teringat sama buaya peliharaanku."
"A-apa?! Ka-kamu memelihara bu-buaya?!"
"Ya." Lagi, Serena dibuat tertawa oleh Tika.
"Lu-luar biasa!" Mata Tika membulat.
"Buaya itu pernah memamah dagingku, hahaha."
"A-apa?! Da-daging yang ma-mana? A-apa aku boleh li-lihat be-bekas lu-lukanya?" Tika antusias.
"Hahaha. Buaya peliharaanku unik. Dia bahkan bisa memasak."
"A-apa i-itu bu-buaya ma-macam apa?!" Mata Tika kian membulat.
"Hahaha, buaya jenis langka. Dadanya berbulu, bibirnya merah, giginya putih dan rapi." Mengumpat Marvin dengan cara seperti ini membuat Serena bahagia hingga membuatnya tertawa lepas.
"Wah, bu-buayamu sangat luar biasa. Ka-kalau kulitnya dijadikan tas, a-apa lebih mahal dari bu-buaya albi-bino?"
"Ya, buayaku lebih mahal dari buaya jenis apapun di dunia ini. Kalau dia lagi tidur, dia terlihat manis dan baik."
"A-aku mau bertemu de-dengan bu-buayamu."
"Hahaha. Kamu polos sekali Tika." Serena mencubit pipi Tika.
__ADS_1
"Ssst, i-itu Bu Mi-Mira." Tawa Serena terhenti. Bu Mira telah tiba.
...~Next~...