
"Ini pasti Nona Serena."
Ermi segera menghampiri Serena dan tampak ramah. Tika melongo karena heran atas sikap Ermi pada Serena.
"Panggil aku Serena atau Eren saja, Bu. Aku bukan Nona," pinta Serena. Bu Ermi masih muda. Berusia sekitar 24 atau 25 tahunan.
"Mari ikut ke ruangan saya," ajaknya.
"Bu, aku sudah berteman dengan Tika. Aku ingin satu kelas sama Tika, apa bisa?" tanya Serena. Ia ingin melindungi gadis itu.
"Kamu kelas 3 B. Jika ingin berteman ya berteman saja. Saya tidak akan melarang kamu berteman dengan siapapun."
Tika tampak sedih setelah mengetahui jika ia dan Serena beda kelas. Mereka lantas berjalan menuju ruang guru. Bu Ermi akan memperkenalkan Serena pada guru-guru. Tikapun turut serta. Hari ini, ia sangat bahagia karena memiliki teman yang begitu cantik dan pemberani.
Guru-gurupun terpukau melihat kecantikan Serena. Tika juga terkena imbasnya. Karena Serena memperkenalkan diri sebagai keponakannya Tika, jadilah banyak yang bertanya pada Tika tentang Serena. Asal sekolahnya, hobinya, sudah punya kekasih atau belum, dan lain sebagainya. Lalu Tika hanya menjawab, "Rahasia." Tentu saja jawaban itu atas perintah Serena.
Setelah berkenalan dengan guru, kini saatnya Serena memasuki kelas dan memperkenalkan dirinya pada murid-murid kelas 3 B.
"Nona Iney ada di kelas 3 B," bisik Tika.
"Bagus," kata Serena. Ia justru senang bisa sekelas dengan murid bernama Iney. Ia ingin tahu sejauh mana gadis itu bisa melawannya.
...***...
"Murid-murid, mohon tenang. Hari ini kita kedatangan murid baru dari Pusat Kota. Dia adalah keponakannya Tika. Silahkan memperkenalkan diri," seru Wali Kelas pada Serena. Semua mata spontan tertuju pada Serena. Termasuk Iney dan kawan-kawannya.
"Halo, salam kenal. Namaku Alsava Serena. Semoga kita bisa berteman dan saling membantu," kata Serena. Lanjut membungkukkan badan dan tersenyum.
"Asal sekolah?"
"Nama ayah? Nama ibu? Kenapa pindah ke sini?"
Beberapa orang siswa langsung melontarkan pertanyaan.
"Sst, tenang dulu. Jangan pada ribut. Ayo Serena, jawab pertanyaannya." Bu Wali Kelas berusaha menengahi.
"Asal sekolah The Expert School, nama ayah Dira, nama ibu Putri. Pindah ke sini karena ingin suasana baru," jelas Serena. Ia tidak mengatakan nama panjang papanya lantaran khawatir ada yang curiga.
"Baik, Ibu rasa perkenalannya sudah cukup. Serena, silahkan duduk di bangku itu, dan kita akan segera memulai pelajaran," jelas Wali Kelas.
"Baik, Bu." Mereka menjawab serempak.
Serena segera duduk di kursinya dan fokus pada slide layar yang ditampilkan oleh Wali Kelas. Sementara itu, Iney dan kawananya saling menatap. Mereka sepertinya sudah memiliki rencana untuk menghadapi Serena.
...***...
Sementara di kelas 3 A, Tika dicerca. Ia dianggap berbohong karena memiliki ponakan cantik. Lalu di jam istirahat, siswa paling popular alias putra pemilik sekolah, alias play boy kelas kakap, mendekati Tika yang merupakan teman sekelasnya.
"Apa benar dia cantik?" Dasar play boy! Ia langsung menanyakan kecantikan Serena.
"Tu-Tuan Ksatria li-lihat langsung sa-saja, dan si-silahkan ni-nilai sendiri," jawab Tika yang saat ini masih fokus membaca buku.
"Kamu sodaranya, 'kan? Cepat ajak dia kemari!" titahnya sambil menghentak dasi milik Tika.
"Ba-baik."
Tika patuh. Ia tentu saja tidak bisa malawan putra pemilik sekolah. Langsung berlari menuju kelas 3 B.
...***...
Tiba di kelas 3 B, ia tidak mendapati Serena. Kemanakah Serena?
"Mau kemana kamu culun? Mau cari saudaramu?" tanya seorang siswi.
"Ya di-di mana Se-Serena?" Ia panik. Apa lagi saat melihat jika Iney pun tidak ada di kelas. Ia takut Serena jadi bahan bulan-bulanan.
"Oh, tadi Serena diajak Nona Iney ke suatu tempat."
"A-apa?!" Tika sudah menduga.
"Hahaha." Mereka tertawa melihat kepanikan Tika.
Tika spontan berlari. Ia menuju tempat yang diduganya dijadikan oleh Iney untuk memperdaya Serena. Ia tahu benar jika tempat itu sering digunakan oleh Iney dan teman-temannya untuk membullynya atau memaksanya mengerjakan tugas.
...***...
Serena. Gadis itu sedang diikat ke sebuah pohon yang berada di taman belakang sekolah. Serena sengaja patuh pada perintah Iney untuk mengetahui sepak-terjang gadis tersebut. Pikirnya, Iney dan kawan-kawannya tidak mungkin membunuhnya, ia hanya perlu mendapatkan bukti untuk melaporkan perpeloncoan ini pada pihak sekolah.
"Hahaha. Ternyata kamu lemah!"
Iney menjambak rambut Serena. Lalu menempelkan permen karet bekas kunyahannya pada rambut Serena. Teman-teman Iney tertawa sambil melipat tangan di dada dan mengunyah permen karet.
__ADS_1
Mereka menuding Serena hanya membual saat mengatakan sebagai siswa pindahan dari The Expert School. Sebab, sekolah itu terlalu bonafit dan sulit dijangkau.
"Ahh!" teriak Serena saat temannya Iney menginjak sepatunya.
"Kamu pasti mendapatkan sepatu ini dari hasil menggoda om-om, kan? Hahaha," duga Iney sembari menarik kerah baju milik Serena dan gadis itu terkejut karena melihat ada tanda cinta di leher Serena.
Sial! Rutuk Serena dalam hati. Ya, tanda itu dibuat oleh buaya peliharannya. Tepatnya kemarin saat Marvin mengajarinya mencuci piring.
"Teman-teman! Lihat ini!" seru Iney. Lalu teman-temannyapun mengamati.
"A-apa?!" Mereka saling memandang sambil membelalakan mata.
"Itu bekas nyamuk yang aku garuk dan jadi alergi," kilah Serena. Serius, ia juga tidak menyangka jika tanda itu belum hilang sepenuhnya.
"Wah, wah, wah. Awalnya aku hanya menebak kalau kamu simpanan om-om. Ternyata, tebakanku benar. Ck ck ck, kamu menjijikkan Serena! Berarti lebih baik si Tika culun daripada kamu ya?! Cuih," Iney meludah di depan Serena.
Serena menahan emosinya. Permen karet yang ada di rambutnya akan ia dijadikan bukti.
"Sudah kubilang itu bekas nyamuk. Cepat lepaskan aku." Serena berusaha tenang. Ia sengaja tidak beteriak agar mereka semakin kesal dan tertantang.
"Baiklah, aku akan melepaskan kamu asalkan kamu berjanji tidak akan tebar pesona lagi! Di sekolah ini tidak boleh ada yang berpenampilan mencolok selain aku! Besok, kamu harus berpenampilan seperti saudaramu! Si Tika!" teriak Iney dan kembali menempelkan permen karet pada rambut Serena.
"Ingat! Jangan pernah melaporkan masalah ini pada siapapun. Atau kami akan menyebarkan bukti tanda cinta di leher kamu pada semua orang."
'Cekrek cekrek.' Mereka memotret leher Serena.
Ini gara-gara kamu Marsupilami! Serena kembali merutuki Marvin.
...***...
"Tika! Mau ke mana?! Aku menyuruh kamu membawa saudaramu yang katanya cantik itu! Kenapa kamu malah lari-lari?!" Ksatria tidak sengaja memergoki Tika yang sedang berlari ke belakang sekolah.
Tika yang terburu-buru, tidak memedulikan seruan Ksatria. Ia tetap berlari dan berharap bisa segera menemukan Serena. Karena penasaran, Ksatriapun menyusul Tika.
"Dasar culun! Mau ke mana dia ya?"
...***...
"Serena!" teriak Tika. Ia segera berlari memeluk Serena yang kepalanya baru saja diguyur oleh air kemasan.
"Hei culun! Kamu jangan sok jadi pahlawan ya!" Mereka terkejut dengan kedatangan Tika.
"Kamu tenang saja, aku sengaja tidak melawan agar mendapatkan barang bukti," bisik Serena saat Tika memeluknya sambil menangis.
Ksatria datang. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Tu-Tuan Ksatria?!" Iney dan gengnya terperanjat.
"Siapa siswa itu?" bisik Serena.
"Di-dia Tuan Ksatria, sis-siswa pa-paling berpe-pengaruh di se-sekolah ini. Dia anak pe-pemilik se-sekolah," jelas Tika dalam kedaan masih memeluk Serena.
"Nice," gumam Serena.
"Huks, huks." Serena segera melancarkan aktingnya. Ia mengibaskan rambut basahnya, lalu menatap Ksatria dengan tatapan mengiba.
"Lepaskan dia, Iney!"
"Ksatria! Aku melakukannya karena dia menghinaku!" tuduh Iney.
"Tu-Tuan Ksatria dan Nona I-Iney se-sepupuan," jelas Tika. Pantas saja Iney berani, ternyata, dia masih kerabat dekat pemilik sekolah ini.
"Huks, a-aku tidak pernah menghinanya." Kali ini, Serena menangis sambil menggigit bibirnya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Ksatria mendekat. Melihat sosok Serena untuk pertama kalinya, jantungnya langsung berdegup.
"Aku merasa terhina. Aku akan melaporkan perlakuan ini pada Kepala Sekolah," ancam Serena saat Ksatria melepas tali yang mengikat tangannya.
"Mari kita bicarakan secara baik-baik," bujuk Ksatria. Iney cemberut. Ia tidak suka sepupunya itu bersikap lembut pada Serena.
"Tidak mau! Aku akan tetap melapor," kata Serena. Ia yakin Ksatria melarangnya karena tidak mau nama baik sekolah miliknya tercemar.
"Baik, aku tidak akan melapor, tapi tolong bujuk siswi itu agar meminta maaf pada Tika dan ajak semua siswa-siswi yang ada di sekolah ini agar tidak memperolok Tika lagi," tegas Serena sambil menunjuk pada Iney dan gengnya.
"Apa?! Aku tidak sudi meminta maaf pada dia!" tolak Iney.
"Ney, cepat lakukan! Atau aku akan melaporkan kenakalan kamu pada papamu!" desak Ksatria.
Namun mata Ksatria terus mengerling untuk menatap Serena. Baju Serena yang basah, membuat jiwa remajanya yang serba ingin tahu dan ingin mencoba itu tiba-tiba meronta.
__ADS_1
"Terserah!" Iney berlalu. Disusul oleh teman-temannya.
"Jangan pegang-pegang!" sentak Serena saat Ksatria hendak menuntunnya. Ksatria terkejut. Murid baru itu berani menolak tangannya.
"Se-Serena, di rambut kamu a-ada permen ka-karetnya."
"Aku harus memotongnya. Pulang sekolah, antar aku ke salon ya. Aku tidak tahu salon terbaik di daerah ini."
"A-aku juga ti-tidak tahu, a-aku biasa di-dipotong rambut sa-sama i-ibuku."
"Mau aku antar? Kamu ke salon langgananku saja. Aku yang bayar," sahut Ksatria. Ia merasa memiliki celah untuk dekat dengan Serena.
"Tidak mau!" tolak Serena.
Lalu ia berjalan menuju ruang TU untuk meminta bantuan pada Ermi karena bajunya basah.
"Kamu tidak perlu ikut," kata Serena pada Tika.
"Ba-baik," Tika mengangguk.
...***...
"Nona kenapa?" Ermi panik. Ia tetap memanggil Nona walau Serena melarangnya.
"Aku jatuh, apa aku bisa ganti baju?" tanya Serena.
"Ya ampun Nona, 'kok bisa jatuh? Ada yang sakit?" Ermi memeriksa Serena.
"Tidak ada, Bu."
"Tunggu Nona, apa ini? Kenapa rambut Anda ada permen karetnya?"
"Aku jatuh menimpa permen karet," jawab Serena asal. Ermi menautkan alisnya.
"Ya sudah, begini saja, Nona pulang saja ya. Sekolah ini tidak menyediakan baju ganti. Biar nanti saya yang menjelaskan ke Wali Kelas. Lagi pula, agenda pelajarannya hanya les untuk persipan ujian kelulusan doang, 'kan?"
"Ya, sih. Ya sudah, deh. Aku pulang ya Bu Ermi. Oiya bagaimana caranya aku pulang?"
"Ada yang akan menjemput Anda. Nona juga pasti mengenalnya."
"Siapa?"
"Edrick. Dia kekasih saya, Nona."
"Oh, hahaha." Serena tertawa, sekarang langsung tersadar jika kebebasannya benar-benar telah dimonopoli oleh Marvin.
...***...
Setelah Serena pulang, Ermi segera memanggil Tika untuk menelisik kondisi Serena. Ia tidak percaya kalau Serena tiba-tiba jatuh. Permen karet di rambut Serenapun terasa janggal.
Dengan tangan gemetaran, Tika menjelaskannya.
"A-apa?! Kamu serius?!"
"Ya Bu, a-aku se-serius."
"Kamu boleh pergi. Terima kasih penjelasannya.
...***...
_______
"Nona Serena dan Indri pergi ke salon, Pak Bos."
"Ke salon?! Yang benar kamu, Edrick! Ini masih jam sekolah lho?! Masa Serena pergi ke salon?!"
Marvin sedang menelepon Edrick untuk menanyakan kondisi vila. Namun pada akhirnya, ia malah iseng bertanya tentang Serena. Padahal ia tahu di jam ini Serena masih berada di sekolah.
"Aku belum dapat info dari Ermi, Pak Bos. Intinya, tadi aku disuruh menjemput Nona Serena pulang ke vila karena bajunya basah dan di rambutnya ada permen karetnya."
"Apa katamu?!" Marvin sampai berdiri saat mendengar kabar tersebut..
"Oiya Pak Bos. Tangan Nona juga merah-merah. Tapi saat aku tanya, Nona Serena mengatakan, 'tidak apa-apa, hanya terbentur bangku kelas.' Begitu katanya Pak Bos."
"APA?!" Karena marah, Marvin langsung mengakhiri panggilan.
"Saya yakin ada yang tidak beres! Beraninya kalian mengganggu gadis saya! Kurang ajar!" Marvin mengepalkan tangannya, dan belum menyadari jika ia baru saja mengatakan, 'gadis saya.'
"Rambutnya terkena permen karet?! Tangannya merah?! Haish, saya tidak rela orang lain menyakitinya! Hanya saya yang boleh menyakitinya!" tegasnya. Lalu mengambil jasnya dan pergi.
_______
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Pak Bos? Apakah ia akan pergi ke vila? Bukankah Pak Bos akan ke vila pada bulan depan?
...~Next~...