
"Apa?! Kok bisa kaki kamu tertembak?!"
Bu Ghani kecewa. Misinya membawa Serena untuk Leon, gagal total.
"Maafkan kami, Bu. Kami juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Pak Bos. Kami kira dia sopir barunya Nona Serena," jelas Kevin.
Saat ini, Gerry sudah berada di rumah sakit dan biaya perawatannya sudah diurus oleh Hugo. Sementara Kevin, berada di rumah Leon untuk menjelaskan kejadian yang dialami pada bu Ghani.
"Ada hubungan apa antara Pak Bos dan Serena?" Bu Ghani penasaran.
"Katanya, Nona Serena adalah wanita simpanannya. Dia juga mengatakan sudah meniduri nona Serena."
"A-apa katamu?! Dia pasti berbohong! Dia tidak mungkin memiliki skandal buruk dengan gadis manapun!" Bu Ghani tidak memercayainya.
Lalu Leon tiba dari kamarnya. Ternyata, dia seorang pria yang tampan.
"Leon? Kamu mau ke mana sayang?" tanya bu Ghani. Terkejut karena mendapati Leon keluar dari kamarnya. Padahal, akhir-akhir ini putranya selalu mengurung diri.
"Leon mau mencari Eren, Ma. Menunggu Mama mencarinya kayaknya tidak ada kemajuan," jawabnya.
"Nak, kamu tenang dulu. Kevin membawa sebuah kabar. Mama berharap kabar ini membuatmu sadar bahwa Serena bukan satu-satunya wanita yang bisa kamu miliki. Kevin, cepat jelaskan duduk perkaranya."
"Tuan Leon, sebenarnya kami hampir berhasil membawa Nona Serena. Tapi Nona Serena ada bersama Bos Marvin."
"Marvin CEO Royal Bank?!"
"Ya Tuan. Dia mengatakan kalau Nona Serena adalah wanita simpanannya. Dia juga mengakui sudah meniduri Nona Serena."
"Apa?! Kurang ajar! Dia pasti berbohong! Dia dan Eren pasti bersekongkol untuk menghindariku. Ini semua gara-gara Papa! Yang penjudi itu papanya Eren, Ma. Bukan Erennya! Dia gadis baik!"
"Ya sayang, Mama tahu. Tapi apa kamu tidak bisa melupakan dia?" Bu Ghani merangkul bahu putra bungsunya.
"Tidak bisa, Ma. Leon tidak bisa!" tegasnya. Lalu kembali ke kamarnya setelah menendang vas bunga yang berada di ruang tamu.
...***...
_______
"Kamu cepat ke sana. Beli apapun yang kamu butuhkan. Ini uangnya." Marvin menyerahkan uang tunai pada Serena.
"Baik," Serena mengambil uang tersebut.
"Ingat, jangan coba-coba kabur ya. Atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Marvin.
"Baik."
"Oiya, hati-hati."
"Baik."
"Serena."
"Ya."
"Kenapa yang kamu katakan hanya baik, baik dan baik? Memangnya tidak ada kalimat lain?"
"Tidak ada," jawab Serena.
"Ya ampun. Ya sudah, cepat sana. Ingat, kalau kamu kabur, kamu akan kehilangan semuanya."
"Baik." Serena mengatakan baik, tapi ia belum juga turun dari mobil.
"Kenapa? Uangnya kurang?"
"Tidak," jawab Serena.
"Terus?" Marvin jadi bingung.
"Emm, aku tidak tahu uang segini cukup apa tidak. Aku hanya bingung karena ini adalah pengalaman pertamaku belanja seorang diri."
"Apa?! Ya Tuhan." Marvin garuk-garuk kepala. Baru sadar kalau gadis ini adalah mantan princes.
"Kamu harus belajar. Cepat pergi dan cobalah."
"Tapi, aku takut Pak Bos. Lihat, ini sudah malam. Mana akunya pakai seragam sekolah pula. Apa tidak akan ada yang curiga? Aku juga takut digoda pria-pria usil. Anda tahu sendiri 'kan kalau aku 'tuh cantik dan seksi?"
"A-apa?"
Mata Marvin sampai mengerjap setelah mendengar penuturan Serena. Gadis itu sangat percaya diri. Tapi, faktanya memang benar. Serena itu seksi, tubuhnya body goals.
"Lantas?" tanya Marvin.
"Bisakah Anda menemaniku belanja?"
"Menemani? Emm, saya tidak bisa. Saya khawatir ada yang mengenali saya," tolak Marvin.
"Baiklah. Aku pergi dulu ya."
Serena akhirnya turun dari mobil. Ia berjalan di parkiran sambil lirik sana-sini. Ya, ia memang tidak terbiasa pergi seorang diri. Marvin terus memperhatikan sampai sosok Serena luput dari pandangannya.
...***...
Serena. Ia memilih tangga darat untuk menuju lantai selanjutnya. Gadis itu ternyata kurang menyukai keramaian. Ia risih jika harus berdesak-desakan dengan orang lain di dalam lift. Serena tidak menyadari jika di jalur lain tangga darurat itu ada sekelompok pemuda yang melihatnya.
"Hei, lihat di sana. Gila, seksi sekali." Seorang pria memberi tahu temannya pada sosok Serena yang saat ini tengah menaiki tangga.
"Wah, kamu benar. Kita lihat yuk! Jarang-jarang lho ada cewek cantik melintas ke sini. Dari penampilannya 'sih kayak seragam sekolah elit. Sepertinya dia anak orang kaya. Kesempatan emas," ujar yang lainnya.
Mereka berjumlah empat orang, dan ternyata bukan orang baik-baik. Mereka lantas mengikuti Serena dari jarak yang aman agar tidak ada yang mencurigai.
Serena kikuk. Ia mencari cara agar bisa belanja dengan tenang. Akhirnya meminta bantuan pada petugas kemanan.
"Bu, bisa bantu aku?" tanyanya.
"Ya. Ada apa?"
"Aku tidak biasa belanja sendiri. Bisa ibu mengantarku?" Skuriti perempuan tersebut menatap Serena dari kepala hingga ke kaki.
"Bukannya saya menolak, Nona. Tapi kondisi saya sedang berjaga," terangnya.
"Atau, apa Ibu bisa menyuruh seseorang untuk membantuku?"
"Emm, sebentar ya." Ia berpikir.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku ada uang banyak." Serena menunjukkan uang pemberian dari Marvin.
"Oh, baiklah Nona. Tunggu ya. Saya akan memanggil teman dulu supaya bisa menggantikan saya."
Serena tersenyum. Pikirnya, hingga saat ini uang masih berkuasa. Setelah ada skuriti pengganti, Serenapun diantar belanja.
"Bisa pilihkan sepatu untukku? Aku tidak pernah memilih barang-barang. Selalu memakai apapun pemberian mama atau papaku. Aku tidak pernah protes," pinta Serena.
"A-apa? Kalau tidak cocok bagaimana, Nona? Lebih baik pilih saja sesuai dengan selera Nona."
"Aku bingung mau pakai yang mana. Ibu pilihkan saja. Aku memakai sepatu nomor 39. Kadang, nomor 38 pun cukup, 'kok," jelas Serena.
"Baiklah. Yang ini saja ya, Nona. Warna dan modelnya cocok untuk Nona."
"Ya sudah itu saja. Tolong pilihkan kaus kaki sama baju santai juga ya, Bu."
"A-apa? Oh, emm, baiklah, Nona." Walaupun merasa heran, skuriti tersebut tetap menuruti permintaan Serena.
"Oiya Bu, apa baju itu bagus?" Serena menunjuk pada baju tidur untuk pasangan.
"Bagus, untuk siapa, Nona? Menurut saya, kalau untuk mama dan papa Anda, modelnya kurang cocok. Baju itu lebih cocok untuk pasangan muda."
"Begitu ya? Aku mau itu Bu. Hehe." Serena antusias.
"Oh, ya sudah." Skuriti tersebut patuh. Ya, tugasnya memang hanya membantu.
"Bu, aku juga mau beli kembang api. Yang kecil saja. Yang bisa dipegang anak-anak itu lho, Bu. Ada di mana itu? Bisa mengantarku?"
"Bisa Nona. Tokonya ada di sana."
Setelah membeli keperluannya, Serena meletakkan seluruh barang belanjaan ke troli.
"Ini untuk Ibu. Terima kasih karena sudah mau membantuku."
"Wah, ini banyak sekali, Nona."
"Itu tidak banyak, ambil ya, Bu. Dadah Ibu, sampai jumpa lagi." Serena mendorong troli belanjaan.
"Terima kasih, Nona. Perlu saya antar?"
"Tidak perlu, Bu." Serena mendorong trolinya menuju lift barang."
Jangan melupakan empat orang pemuda yang sedari tadi menguntit Serena. Mereka berniat menunggu Serena di pintu keluar lift barang.
...***...
Karena tidak biasa berada di keramaian. Serena memilih menuju parkiran melalui jalur yang sepi. Pikirnya, di mall sebesar ini cukup aman.
"Hai seksi," sapa pria di belakangnya. Ia adalah bagian dari pemuda-pemuda itu.
"Hai juga."
Polosnya Serena. Malah melambaikan tangan dan tersenyum pada mereka. Ia berpikir kalau pemuda itu adalah pengunjung. Jelas saja mereka seperti mendapat angin segar.
"Siapa nama Nona? Nona cantik sekali. Bisa kami berkenalan?"
"Panggil saja Eren," jawabnya tanpa curiga.
"Nama yang cantik. Secantik orangnya. Biar kami membantu Nona membawa troli." Salah satunya langsung mendorong troli milik Serena. Dua orang lagi segera bertindak. Ia memegang tangan Serena kiri dan kanan. Yang satunya lagi memantau situasi.
"Cepat bawa ke sana! Di sana sepi!" kata pria yang bertugas memantau. Lalu temannya menyeret dan membekap Serena. Gadis itu dibawa ke area belakang basement mall yang kondisinya sepi dan penerangannya temaram.
"Lepas! Aku punya uang! Tapi tolong lepaskan aku!" teriak Serena.
"Ya ampun dia berisik sekali!" Lalu Serena dibekap menggunakan sapu tangan. Gadis itu meronta dan menangis.
Siapapun, tolong aku, batinnya.
"Aku tidak sabar. Dia seksi sekali."
Salah satu dari mereka mengelus-elus kaki Serena. Serena menendangkan kakinya sebisa mungkin. Air mata gadis itu mengalir saat salah satu dari mereka hendak menyentuh bagian tubuhnya.
"Lepaskan dia! Be-reng-sek!" Seseorang datang. Ia menabrak orang yang akan menyentuh Serena dengan troli belanjaan.
Marvin. Serena bahagia karena pria itu datang tepat waktu.
"Siapa kamu!" Keempat orang pemuda itu mengelilingi Marvin sambil tertawa sinis.
"Saya polisi!" teriak Marvin sambil mengeluarkan pistolnya.
"Apa?! Polisi? Wahhaha. Kamu pasti berbohong. Itu pistol mainan, 'kan?!" Mereka tidak percaya. Padahal dari segi penampilan, Marvin juga cocok jadi polisi. Tapi, lebih cocok lagi kalau pria itu jadi model majalah dewasa.
"Kurang ajar!" Sayangnya, karena ini di tempat umum, Marvin tidak bisa meletupkan senjatanya sembarangan. Ia yakin bisa melawan pemuda-pemuda ke-pa-rat itu dengan kemampuannya. Marvin pasang kuda-kuda.
"Seraaang!" teriak salah satu dari mereka. Lalu mereka menyerang Marvin beramai-ramai. Terjadilah perkelahian tidak seimbang. Serena panik. Segera berlari dan meminta pertolongan.
"Tolooong, tolooong."
Tiba-tiba, ada mobil patroli polisi yang melintasi area itu. Kebetulan sekali.
"Pak! Di sana ada yang berkelahi! Tolooong!" Serena menghadang mobil polisi.
"Di mana?!" Polisi turun sambil mengerutkan alisnya. Mungkin merasa aneh ada anak sekolah berkeliaran di jam semalam ini.
"Cepat Pak!" Serena yang mengkhawatirkan Marvin kembali lagi ke belakang. Mobil polisi menyusul.
Tiba di TKP, Serena dan polisi mendapati empat pemuda itu telah babak-belur. Marvin rupanya telah memenangkan perkelahian itu. Tapi, di mana pria itu? Serena mencari Marvin.
"Kalian berkelahi?!" Polisi langsung memborgol para pemduda yang tergeletak. Dua orang untuk satu borgol.
"Pak, tadi ada pria yang membawa pistol dan menyerang kami. Pria itu mengaku sebagai polisi!" Salah satu pemuda bersaksi.
"Bohong Pak! Mereka berempat ingin melecehkan aku!" teriak Serena.
"Bohong Pak! Gadis itu berbohong!"
"Mereka yang berbohong Pak! Mereka berkelahi karena memperebutkan aku!" tegas Serena.
Marvin yang bersembunyi di balik tembok tersenyum saat mendengar penjelasan Serena. Ada lebam di pipi Marvin. Mungkin, ia sempat terkena tonjokan.
"Baik, Nona. Terima kasih atas laporannya. Kami akan membawa mereka ka kantor polisi. Nona juga cepat pulang ya. Tidak baik anak sekolah berkeliaran malam-malam. Kalaupun ingin ke mall, mohon jangan memakai seragam sekolah," jelas polisi.
"Baik, Pak." Serena melambaikan tangan pada mobil polisi yang melaju membawa para pemuda usil.
__ADS_1
Setelah situasi kondusif, Marvin keluar dari persembunyiannya. Langsung memeluk Serena.
"Maaf tidak mengantar kamu, saya menyesal," ucapnya.
"Emm, ti-tidak masalah, aku baik-baik saja, 'kok." Sambil mendorong bahu Marvin.
"Ya sudah, kita harus cepat kembali." Marvin kemudian menuntun tangan Serena. Tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk mendorong troli.
...***...
_______
"Awh, sedikit sakit," keluh Marvin.
Ia membiarkan Serena mengobati pipinya yang lebam akibat perkelahian itu.
"Payah, ini 'kan lebamnya cuma sedikit," ledek Serena.
"Harusnya, kamu memuji saya karena saya menang melawan empat orang."
"Wah, Anda hebat. Horeee." Serena tepuk tangan.
"Kamu juga harusnya berterima kasih."
"Baiklah, terima kasih Pak Bos," Serena berdiri. Lalu membungkukkan badan di hadapan Marvin.
"Hahaha. Itu terlalu berlebihan."
"Issh," dengus Serena. Lalu duduk kembali di samping Marvin dan membantu mengobatinya.
"Oiya Pak Bos, kenapa aku tinggal di villa ini? Setelah kupikir-pikir, kalau aku di sini, nanti tiba ke sekolahnya bisa telat."
"Tidak akan telat, 'kan kamu sudah pindah sekolah. Maaf, saya baru sempat cerita."
"A-apa? Kenapa aku dipindahkan?" Serena tertegun.
"Kamu lebih baik sekolah di sini. Sekolahnya bagus 'kok. Saya sudah survey. Di sekolah lama kamu, banyak yang siswa dan siswi yang mengetahui identitas papa kamu. Apa kamu tetap nyaman setiap hari jadi bahan olok-olok teman kamu?"
Serena mengela napas. Ia merenung sesaat untuk mencerna penjelasan Marvin.
"Lagi pula, kamu sekolahnya juga tinggal beberapa bulan lagi, kan?"
"Emm, ya 'sih. Ya sudah 'deh. Aku setuju. Mulai kapan aku masuk sekolahnya?"
"Besok."
"Baiklah. Oiya Pak Bos, aku mau menunjukkan sesuatu. Tunggu dulu ya, aku mau mengambilnya." Gadis itu berlari penuh semangat menuju kamarnya. Marvin hanya menatap sambil mengulum senyum.
Beberapa saat kemudian, Serena kembali. Namun langkahnya terhenti karena melihat Marvin sedang menerima telepon.
"Apa?! Menikah?!"
Serena tertegun. Baju tidur couple yang tadinya ia peluk, segera disembunyikan ke belakang tubuhnya. Posisi Marvin yang membelakangi Serena, membuat pria itu tidak menyadari keberadaan Serena.
"Bukankah saya dan Clara baru akan menikah setelah ia lulus kuliah? Kenapa jadi dipercepat, Pa?"
"Tapi, Pa." Marvin membalikan tubuh. Serena segera berjongkok di balik nakas agar kehadirannya tidak dilihat oleh Marvin.
"Baik, tapi tolong beri saya waktu. Setidaknya dua atau tiga bulan lagi," kata Marvin.
Setelah mendengar itu, Serena tidak jadi menemui Marvin. Ia kembali kembali ke kamarnya sambil menyembunyikan baju tersebut.
Kenapa juga aku membeli baju ini? Jelas-jelas ini baju pasangan.
Serena menyesalinya. Di dalam kamar. Ia memandangi baju tersebut. Lalu melipat kembali baju tersebut dan memasukkannya ke dalam koper.
"Serena." Marvin memanggilnya.
"Ya tunggu."
Gadis itu becermin terlebih dahulu sebelum menemui Marvin. Ia harus memastikan jika di wajahnya tidak ada jejak-jejak kesedihan.
"Kenapa lama? Apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanya Marvin setelah Serena keluar dari kamarnya.
"Oh, i-ini. Tadaaa, sepatuku bagus, 'kan?" Ia menunjuk pada sepatu baru yang diletakkan di rak.
"Hmm, saya kira ada apa. Saya sudah melihat sepatunya." Marvin menghela napas.
"Pak Bos, inikan sudah jam sepuluh malam. Aku mau tidur ya."
"Tidur? Kamu sudah janji mau tidur jam 11 malam. Kenapa berubah? Kita mau barbequean dulu, 'kan?"
"Oh iya ya. Hehehe. Aku lupa. Let's go!" seru Serena. Ia berjalan cepat menuju area barbequean yang telah disiapkan oleh Marvin. Letaknya ada di samping kolam renang.
"Kamu duduk manis saja. Saya yang bakar-bakar," katanya.
"Baik," ucap Serena. Ia duduk di sofa.
Sementara Marvin, setelah memakai celemek, ia lanjut melumuri sosis dan olahan sea food yang akan dipanggang dengan bumbu-bumbu. Serena duduk di sofa dan melamun.
"Kenapa?" tanya Marvin saat ia menyajikan sosis yang telah selesai dibakar.
"Aku sedang membayangkan masa depan. Kuharap, di sekolah baru bisa menemukan pria baru yang bisa menerimaku apa adanya," jawabnya.
Seketika itu juga, Marvin langsung menghentikan aktivitasnya.
"Cepat makan sosisnya," titahnya. Mengalihkan pembicaraan.
"Terima kasih," Serena mengambilnya. Namun, ia seperti tidak berselera.
"Kenapa?" tanya Marvin. Ia duduk di samping Serena.
"Bolehkah tidak kalau aku seperti ini?" Serena begeser, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Marvin. Marvin terkejut. Namun ia tidak menolak.
"Bo-boleh."
"Pak Bos."
"Ya."
"Apa Anda menyukaiku?"
Pertanyaan Serena membuat Marvin mematung.
__ADS_1
...~Next~...